
...◦•●◉✿_✿◉●•◦...
Salman menjadi tak bisa konsentrasi dalam pekerjaannya, dia lebih sering terdiam bahkan melamun di tengah-tengah tangan yang masih bergerak dia atas pahatan kayu.
Bagaimana mungkin dia akan bisa tenang begitu saja saat dia mengingat akan keadaan Bu Yun yang keadaannya semakin parah saja. Sudah dari kemarin di bawa ke rumah sakit tapi belum ada tanda-tanda akan kesembuhannya. Tapi malah sebaliknya, Bu Yun semakin parah.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa Pak Kyai tidak mau bercerita terus terang padaku. Bahkan ibu juga tidak mau menceritakan semuanya. Bagaimana aku akan membantunya?" gumamnya.
Salman yang sangat awam dalam hal-hal mistis pasti hanya bisa bingung tanpa bisa melakukan apapun, seandainya dia memiliki sedikit saja ilmu untuk mengetahui kebenarannya mungkin dia bisa membantu Bu Yun. Tapi tidak, dia tidak mengetahui apapun.
"Sal, kamu kenapa? dari tadi aku lihat kamu menjadi lebih pendiam dari biasanya. Kamu juga terus melamun, ada apa?" Febri pun langsung bertanya setelah dia mendekati Salman dan berhasil sampai di hadapannya.
Bukan hanya Febri saja, tapi semua teman-teman Salman juga sangat curiga, mereka sangat penasaran dengan apa yang di pikirkan Salman sekarang ini.
"Tidak ada apapun," jawab Salman berbohong. Salman juga cepat memalingkan diri untuk pergi menjauh dari Febri berusaha menjauh dari semua pertanyaan yang mungkin akan di lontarkan padanya.
"Kenapa?" Ilyas mendekat, berhenti sejenak dari pekerjaannya karena dia juga sangat penasaran dengan perubahan Salman saat ini.
Febri hanya menaikan kedua bahunya acuh sekaligus juga menyunggingkan bibir tidak tau, "tau?" ucapnya dengan begitu singkat.
Para sahabat hanya bisa terus memandangi pergerakan Salman yang terlihat sangat loyo sama sekali tidak semangat.
"Apa yang Salman pikirkan mengenai orang tua angkatnya, maksud saya ibunya yang tengah sakit. Siapa itu namanya? hem.." Ilyas berpikir sejenak, Dia melupakan nama dari ibu angkatnya Salman. Lagian dia juga tidak pernah bertemu jadi sulit untuk mengingat.
"Namanya Bu Yun," Febri menoleh mengatakan siapa nama Ibu angkat Salman. Kalau Febri sangat mengingat betul bahkan semua anggota keluarga koh Fei Febri juga mengenalnya, ya meskipun tidak terlalu dekat.
__ADS_1
"Ya! Bu Yun. Hadeh, belum juga tua sudah pikun saja aku," ucap Ilyas seraya menggeleng kasar.
"Baru nyadar kalau situ udah pikun!" sungut Febri, "dasar!" imbuhnya lalu melangkah pergi meninggalkan Ilyas yang langsung melongo.
"Kenapa aku merasa memang ada yang aneh ya? apakah mungkin Bu Yun itu melakukan semacam pesugihan, tapi masak iya sih?! tapi kalau di pikir-pikir tak ada yang tidak mungkin, seraya kemarin usahanya ancur banget tapi bisa langsung naik begitu saja. Apa coba kalau tidak melakukan pesugihan?" gumam Ilyas dengan segudang pikirannya.
"Seandainya aku bisa bantu? sayangnya aku tidak bisa melakukan apapun. Aku ini Nol kalau masalah kayak gituan, nggak ngerti sama sekali," imbuhnya lagi.
Tak menghiraukan Salman lagi Ilyas langsung bergegas kembali bekerja. Memikirkan hal yang tidak pasti tidak akan ada habis-habisnya kalau tidak dipupus dan ditinggal pergi saja.
...◦•●◉✿_✿◉●•◦...
Sampai sore Salman terus bekerja dan dia juga baru berhenti dan istirahat setelah hampir menjelang Maghrib. Karena terus kepikiran dengan ibu angkatnya Salman berniat untuk pergi ke rumah nya untuk menanyakan bagaimana keadaannya.
Bersih-bersih Salman lakukan sebelum dia berangkat, dia juga menjalankan salat magrib terlebih dahulu karena itu adalah kewajiban kepada sang Tuhan yang tidak bisa ditinggalkan meski dalam keadaan apapun juga.
"Aku berangkat dulu," ucap Salman begitu singkat.
"Ya, hati-hati di jalan. Dan jangan malam-malam pulangnya," jawab Febri mewakili dari semuanya.
"Hem," Salman mengangguk tersenyum kecil juga tangan menepuk bahu Febri.
Meskipun mau tapi Febri tidak akan ikut kecuali Salman mengajaknya sendiri dan kebetulan kali ini Salman juga tidak mengajaknya jadi dia hanya diam dan tidak berani untuk mengatakan kalau dia ingin ikut. Febri tidak mau sampai menambah pikiran sahabat yang sepertinya begitu berat.
Para sahabatnya hanya bisa melihat kepergian Salman seorang diri dan hanya bisa mendoakan semoga permasalahannya cepat selesai jadi sahabat mereka akan kembali seperti sedia kala.
__ADS_1
"Kasian ya si Salman. Niatnya datang ke sini untuk bekerja tapi malah ada-ada saja," celetuk Doni.
"Ya mau bagaimana lagi, dia yang menjalani saja tidak mengeluh, kenapa jadi kita yang repot," seloroh Ilyas menjawab.
"Sudah lah, aku mau istirahat saja," Febri langsung berlalu.
"Aku juga," susul Doni.
"Begitu juga diriku. Aku juga sangat lelah," Ilyas pun gak mau kalah.
...◦•●◉✿•✿◉●•◦...
Tibalah Salman di rumah koh Fei dan saat dia hendak masuk kebetulan anaknya ada yang sedang melangkah untuk keluar. Dia adalah Anton, Anton sudah begitu rapi dan sepertinya akan pergi tapi Salman belum tahu dia akan pergi ke mana.
"Mau kemana?" tanya Salman, menghadang langkah Anton dan kini tepat berada di hadapannya.
"Mau ke rumah sakit," jawab Anton dengan sangat jelas membuat Salman langsung mengerti.
"Kalau begitu saya boleh ikut? saya juga ingin mengetahui keadaan ibu sekarang," ucap Salman yang seketika di angguk-i oleh Anton.
Keduanya pergi bersama-sama menuju rumah sakit untuk memastikan keadaan Bu Yun. semoga saja kali ini sudah ada perubahan dan Bu Yun bisa secepatnya dan kembali beraktivitas seperti biasa.
"Amin..."
◦•●◉✿*✿◉●•◦
__ADS_1
Bersambung...