
Happy Reading....
Begitu indah dunia malam saat ini, bintang-bintang juga rembulan seakan tersenyum memperlihatkan keramahannya untuk menyapa bumi.
Nyanyian hewan-hewan malam juga tak kalau indah dan terdengar sangat merdu dengan saling bersahut-sahutan memenuhi ruang yang begitu luas di penuhi oleh angin-angin.
Salman berinisiatif untuk mengajak Febri pergi menemui kekasihnya. Kasihan juga kan yang lain pada senang ngapelin ceweknya sementara Febri malah jalan berdua bersama Salman.
"Kita benar-benar mau ke sana, Sal? ini sudah malam loh. Bagaimana kalau sampai di marahin sama orang tuanya," mata Febri membulat mengatakan itu pada Salman. Ya antara setuju juga tidak sih, tapi dalam hatinya dia sangat girang. Salma, tau saja isi hatinya.
"Kenapa, kamu tidak mau? kalau tidak mau ya sudah kita ke tempat lain saja," sedikit memancing amarah Febri akan menyenangkan bagi Salman. Dia juga tidak enak sebenarnya tapi melihat Febri yang dari tadi murung sepertinya sangat senang jika di kasih sedikit kejutan.
"Eh, jangan dong. Jangan ngambek gitu napa ayolah kalau mau ke sana. Lumayan, lagi kangen juga nih," akhirnya meringis juga kan si Febri, pakai sok-sokan mau menolak padahal yang sebenarnya.
__ADS_1
Salman yang kini geleng-geleng karena Febri yang tidak sinkron tadi bilang begini sekarang beda lagi jangan-jangan nanti akan berubah lagi kali.
"Tadi saja sok nolak, lah sekarang? dasar!"
Ucapan dari Salman hanya seperti angin lalu saja bagi Febri dia hanya tetap meringis dengan semangat empat lima naik lebih dulu ke motornya.
"Nih, jangan lupa di pakai," helm Febri sodorkan pada Salman tentu langsung di terimanya.
Tak menjawab Salman langsung memakainya dan juga cepat naik di belakang Febri. Meski sudah malam tapi juga tidak malam-malam banget sih jadi jika mereka hanya sekedar main saja rasanya juga tidak masalah. Apalagi mereka juga hanya datang dan mengobrol di rumahnya bukannya mengajaknya pergi keluar.
"Sal, kamu kedinginan nggak sih?" tanya Febri dengan terus fokus ke depan.
"Dingin. Kenapa, apakah kamu merasa panas?" tanya Salman.
__ADS_1
Kalau Febri sama merasakan dingin uty adalah hal yang wajar karena Salman juga seperti itu. Tetapi, kalau Febri merasakan panas itu baru aneh dan tak biasa. Benar begitu kan.
"Tidak, aku juga merasa sangat dingin. Dingin banget malah."
Mereka tak lagi bicara dan saling fokus dengan apa yang ingin mereka lihat masing-masing. Febri dengan pandangan jalan raya di hadapannya sementara Salman di sebelah kanan dan terkadang ke sebelah kiri jalan.
Semua tampak indah di lihat, semua terlihat rapi pokoknya sangat enak jika di pandang.
Salman begitu menikmati, meskipun niatnya mereka melakukan ini bukan hanya karena ingin jalan-jalan tetapi ingin menghabiskan waktu supaya terasa berjalan begitu cepat.
Pikiran Salman semakin tak menentu tapi dia juga tak mau mengada-ada atau membenarkan kebenaran yang belum dia sendiri pastikan. Tidak mungkin itu nyata kan? bisa saja semua itu hanya sebuah kebetulan saja, iya kan?
Salman sangat percaya kalau keluarga bu Yun tidak akan mungkin melakukan hal itu. Tetapi kebetulan.
__ADS_1
...****************...
Bersambung...