
...◦•●◉✿"✿◉●•◦...
Motor berhenti di depan rumah sakit Cahya Medika, Salman juga Anton langsung turun dari motor dengan tangan bergerak untuk melepaskan helm yang mereka pakai.
"Yuk," ajak Anton dan melangkah lebih dulu di depan Salman. Anton adalah anak kandungnya jadi dia berhak atas ibunya.
Tapi sebenarnya gak masalah sih, Anton atau siapapun tidak mempermasalahkan semua itu. Mereka ataupun Salman sama saja karena bagi Bu Yun mereka sama-sama anaknya.
"Hem," Salman mengangguk dia cepat melangkah mengejar Anton.
Langkah mereka berdua tidak terlalu cepat, tapi pasti. Menuju ruangan Bu Yun di rawat.
Ada hal yang berbeda yang Salman alami saat berada di depan pintu masuk ruangan. Auranya sudah sangat berbeda dari kemarin membuat Salman bingung tapi dia tetap masuk untuk memastikan.
"Assalamu'alaikum," uluk salam Salman ucapkan, dia juga tersenyum tapi tidak bisa selepas biasanya. Seolah ada yang menahan bibirnya yang ingin semakin lebar.
Koh Fei juga Deri langsung menoleh, mereka menyambut baik kedatangan Salman bahkan mereka juga beranjak dari duduk untuk menghampiri Salman yang sudah semakin dekat.
"Wa'alaikumsalam," jawab koh Fei juga Deri persamaan.
Tak lupa Salman menyalami koh Fei dengan sangat hormat, dia begitu menghormati koh Fei sama seperti dia menghormati orang tuanya sendiri.
"Bagaimana keadaan ibu, Pak?" tanya Salman yang belum menoleh ke arah Bu Yun.
"Kamu lihat sendiri keadaannya," tangan koh Fei mengayun ke arah Bu Yun, menginginkan Salman sendiri melihat keadaan Bu Yun yang sangat parah. Seolah tak lagi ada harapan lagi untuk hidup.
Salman menoleh, melangkah perlahan ke arah Bu Yun.
Iba, sedih, ingin sekali menangis melihat keadaan Bu Yun sekarang. Dia begitu kurus kering, wajahnya sangat pucat bahkan bibirnya sudah membiru.
__ADS_1
Ingin mendekat tapi Salman sangat ragu, dia sangat tak tega melihat keadaan Bu Yun saat ini. Kenapa bisa menjadi seperti sekarang ini, bukannya semakin membaik tapi Bu Yun semakin parah.
"Bu," tangan kecilnya tak mampu untuk terangkat menyambut uluran tangan Salman membuat Salman sendiri ya berinisiatif untuk mendekat dan meraih tangannya untuk memberikan salam takzim.
"Hem," bibirnya juga terasa kelu untuk berbicara bahkan hanya sepatah kata saja dia sangat kesusahan.
Sungguh miris keadaan Bu Yun sekarang. Penyakitnya begitu cepat menggerogoti dirinya bahkan tangannya seolah hanya tinggal tulang-belulang yang tertutup kulit yang berkeriput.
Urat-uratnya bahkan terlihat jelas begitu menonjol keluar dari kulit membuat Salman semakin tidak tega untuk melihatnya.
Ada rasa menyesal karena tak bisa melakukan banyak hal, tapi Salman bisa apa? dia sudah berusaha untuk meminta pertolongan kepada pak Kyai tapi alam seolah tak mengizinkannya.
"Ibu yang sabar ya, Salman yakin semua akan baik-baik saja," Salman sedikit membungkuk di samping Bu Yun, membesarkan hatinya yang mungkin sudah terlanjur pasrah dengan keadaan.
Bu Yun juga tak bisa melakukan apapun, dia hanya bisa menyesali semua yang sudah dia lakukan. Kebodohannya yang telah membawanya menjadi seperti sekarang. Jika dia tidak terlalu terobsesi dengan harta pasti dia akan sehat hingga sekarang, tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur.
Mungkin Bu Yun ingin bercerita tentang semuanya tapi keadaan sudah tidak memungkinkan hingga akhirnya dia hanya bisa diam dan memberikan senyuman untuk Salman.
Senyum yang begitu manis, senyum yang terlihat jelas ada semburat harapan juga rasa terimakasih.
Tangannya sama sekali tak mau melepaskan tangan Salman, menggenggam begitu kuat dan tak ingin melepaskan.
Bu Yun menginginkan Salman tetap ada di sisinya membuat Salman merasa tak enak hati karena di sana juga ada anak-anak kandungnya juga suaminya. Tapi Bu Yun seolah lebih memilih dirinya untuk menemani.
Begitu besar penyesalan Bu Yun hingga saat itu sudut matanya berhasil mengeluarkan air mata yang begitu bening. Mungkinkah Bu Yun ingin bertaubat? tapi Salman harus bagaimana?
Diusapnya air mata itu dari mata Bu Yun, Salman juga menggeleng tak memperbolehkan Bu Yun untuk menangis.
"Ibu ya sabar, jangan menangis dan beristighfarlah kepada Allah. Mohon pada-Nya untuk di angkat semua penyakit ibu," ucap Salman begitu lirih.
__ADS_1
Bu Yun hanya kembali tersenyum, mungkin dia bahagia karena bisa mengenal Salman, bisa menganggapnya seperti anaknya sendiri dan selalu memberikan limpahan kasih sayang kepadanya.
Salman membalasnya dengan sama, tersenyum semanis mungkin untuk membuat Bu Yun semakin bahagia.
Cukup lama Salman juga Bu Yun saling berhadapan, Bu Yun hanya bisa terus mengatakan dengan isyarat dan tak bisa mengungkapkan semuanya dengan jelas.
Salman tau, ada sesuatu yang ingin Bu Yun katakan padanya. Tapi Salman tidak mau memaksa karena Bu Yun tidak bisa lagi melakukan itu.
Sekali lagi Bu Yun tersenyum begitu manis kepada Salman hingga membuat Salman sendiri menarik ujung bibir dengan sendirinya.
Perlahan-lahan mata Bu Yun tertutup rapat, senyum juga mulai pudar hingga akhirnya hilang semuanya dan tak dapat terlihat lagi.
Salman tak berpikir yang aneh-aneh, dia hanya berpikir mungkin Bu Yun lelah dan ingin istirahat, mungkin kali ini Bu Yun tengah tertidur karena nafasnya juga teratur.
Sudah sangat lama Salman berada di sana. Bahkan sekarang sudah menandakan pukul delapan malam. tak enak karena merasa mengganggu Salman berpamitan untuk pulang. Lagian Bu Yun juga tengah tertidur.
Salman juga yang lain tak pernah tau, mereka tak berpikir jauh kalau senyuman Bu Yun yang sangat manis tadi adalah senyuman yang terakhir, senyum yang akan selalu menjadi kenangan untuk mereka semua.
"Pak, saya pamit dulu. Ini sudah sangat malam," pamit Salman.
"Hem, hati-hati di jalan, dan terimakasih sudah mau menjenguk Ibumu," jawab Koh Fei.
"Hem. Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
◦•●◉✿;✿◉●•◦
Bersambung....
__ADS_1