
...******••°°••******...
Pukul 23:00 WIB...
Semilir angin malam begitu menusuk kulit, rasa dinginnya mampu membuat kulit seolah di kuliti dan tak mampu merasakan rasa lain lagi.
Suara hewan malam begitu bersahut-sahutan, berebut ruang untuk menjadi penguasa malam yang kian mencekam tanpa bulan juga bintang. Malam yang hanya di selimuti dengan kabut hitam yang merebut penerangan akan lampu-lampu yang berjajar di sepanjang jalan.
Gesekan demi gesekan pohon semakin membawa kearah suasana yang semakin hori dan sangat menakutkan.
Ruang yang sangat luas tapi begitu sepi seolah hanya sebuah hamparan tanah tak berpenghuni. Semua penduduk sudah masuk di rumah mereka masing-masing dan menjadikan tempat yang sepi sunyi seperti desa mati.
Bulu kuduk mulai menantang, berdiri dengan tegak berani seolah ingin berperang dan melawan ketakutan.
Langkah dua pemuda terus melaju seiring dan begitu seirama karena mereka berjalan dengan saling bersisian. Ya, mereka berdua adalah Salman juga Febri yang kembali melakukan uji nyali di desa yang kian hari kian horor.
Mata keduanya terus celingukan, mencari sesuatu yang mungkin akan datang dan bisa mereka lihat.
Keyakinan mereka berdua sudah kuat, kali ini mereka pasti akan melihat makhluk itu dengan mata mereka sendiri.
"Kamu kenapa, Feb?" Salman menoleh, di lihatlah Febri yang sudah terlihat sangat berbeda. Wajahnya terlihat pucat pasi, dengan bibir yang gemetar naik turun. Bukan itu saja, bahkan Febri sudah mengikatkan kedua tangannya di lengan Salman.
"Su-sudah deh, ja-jangan sok-sokan nggak tau," suara Febri pun juga sudah terdengar ada dua.
Salman menghela nafas panjang, meski dia sangat susah bergerak juga berjalan tetapi dia lebih memilih membiarkan Febri melakukan itu.
"Katanya berani?"
"Siapa yang bilang, saya nggak bilang kalau berani. Saya hanya bilang kalau saya hanya penasaran," Febri mulai bersungut-sungut.
__ADS_1
"Oh," Salman kembali melangkah begitu juga dengan Febri yang sontak mengikutinya.
Suara burung gagak lagi-lagi terdengar sangat jelas, burung yang jumlahnya tidak hanya satu atau dua tapi sangat banyak. Seolah-olah tengah mendapatkan mangsa dan saling berebut untuk memakannya.
Bukan takut jika melihat makhluk itu tetapi Salman lebih takut dengan begitu banyaknya gagak itu. Hewan yang selalu datang membawa berita buruk. Datangnya memang tidak bisa di pastikan, tetapi sekali mereka datang pasti akan membawa sesuatu yang menjadi incaran mereka.
"Kita istirahat dulu di sini," pinta Salman. Febri hanya mengangguk sebagai jawaban dengan tangan terus memegangi lengan Salman. Febri sangat trauma jika dia akan kembali di tinggal lagi seperti hari sebelumnya.
Lelah berjalan membuat Salman memutuskan untuk duduk di tepi jalan, menunggu yang mungkin muncul atau mungkin juga tidak. Semuanya tidak pasti karena Salman juga tidak tau kapan dan darimana makhluk itu akan muncul.
Angin berhembus semakin liar, semakin membuat Salman juga Febri kedinginan dalam kesunyian malam. Keduanya seakan membeku di terpa badai kabut yang begitu tebal.
"S...Sa- Sal-man... i-ini a-ada apa...?" mata Febri tak mampu untuk terbuka dengan lebar, bahkan dia juga sudah mulai menyembunyikan wajahnya di balik lengan Salman.
Lampu jalan yang terus berkedip dengan kompak lah yang membuat Febri begitu ketakutan. Kejadian saat ini bukanlah pertanda baik bukan?
"S-Sal-man..." kini Febri benar-benar menyembunyikan seluruh wajahnya di balik lengan Salman. Bukan itu saja, tetapi Febri juga menutup kepalanya menggunakan sarung yang dia bawa.
Dengan semua tanda-tanda yang muncul Salman yakin kalau makhluk itu pasti benar akan datang. Tapi entah waktunya kapan, sekarang nanti atau memang sudah dari tadi tapi mereka berdua tidak mengetahuinya.
Salman mendongak, memandangi satu persatu lampu yang terus berkedip tanpa henti. Di tambah dengan suara-suara burung malam membuat suasana semakin tak karuan.
Tengkuk Salman benar-benar sudah tebal sekarang, hawa dingin tadi kini berubah menjadi hawa panas yang seolah membakar tubuh mereka berdua.
"Salman, kok aku gerah ya," ucap Febri yang sudah menyadari perubahan udara yang telah terjadi.
Bukan hanya Febri, tapi Salman juga merasakannya. Keringat juga sudah mulai keluar dari pori-pori, membasahi semua yang ada.
"Kamu benar, Feb," jawab Salman.
__ADS_1
Keduanya tetap duduk di tempat, sama sekali bergeming tak mau berpindah tempat.
Dilihatnya jam tangan yang Salman pakai, jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan sebelah kiri.
"Jam dua belas kurang seperempat," ucapnya.
"Pulang saja yuk, Sal. Sudah empat puluh lima menit kita di sini tapi belum juga melihat makhluk itu muncul. Aku jadi tidak yakin kalau dia akan muncul sekarang," Febri sedikit membuka sarung yang menutupi wajahnya.
"Sebentar lagi, Feb. Sampai jam dua belas. Kalau sampai jam dua belas dia tidak muncul baru kita pulang," tandas Salman dengan suara mengharuskan.
"Yah, kamu ini nggak asyik banget sih. Mana aku udah kebelet lagi. Mau buang di mana coba," Febri celingukan tapi dengan mata yang terbuka sangat kecil. Febri takut saja kalau tiba-tiba makhluk itu nongol di depan matanya bisa-bisa dia langsung membuang hajatnya di sana.
"Terserah kamu lah, mau buang di mana juga silahkan. Tapi kamu ingat kan? desa ini sudah menjadi desa angker, jangan sampai kamu sembarangan buang hajat dan para penunggu lain muncul juga," ujar Salman.
"Nah kan mulai lagi. Udah lah, pulang saja yuk! ini sudah nggak enak banget. Sudah nggak kuat nahan," Febri terus membujuk Salman, tetapi yang di bujuk sama sekali bergeming dan tetap kokoh dalam pendiriannya.
Terlihat dari mata Salman. Begitu sangat jelas saat dari ujung jalan ada putih-putih yang bergerak dengan cara melompat-lompat. Mata Salman sama sekali tak berkedip, memastikan kalau makhluk itu benar telah datang.
"Feb, dia datang," tangan Salman menepuk-nepuk punggung tangan Febri yang masih melingkar di lengannya.
Jelas saja Febri langsung menoleh dan cepat melihat makhluk itu yang terus melompat-lompat dan semakin dekat.
"S-Sa-Sal-Man..." Febri bukan hanya gemetaran, tapi dia ingin meringsek di lengan Salman begitu saja. Febri benar-benar ketakutan padahal dia juga belum melihatnya dengan jelas, hanya putih-putih yang semakin mendekat dengan cara melompat-lompat saja sih.
Tapi berbeda dengan Salman, dia terus fokus memastikan sendiri makhluk itu yang semakin mendekat. Mata merahnya benar-benar mencorong menyala, sama persis seperti mata harimau yang menyala saat berada di kegelapan.
"Dia semakin dekat, Feb. Kamu nggak jadi melihatnya? katanya penasaran?" Salman melirik sekejap.
__ADS_1
Bersambung.....