Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Selamat Jalan Bu Yun


__ADS_3

Happy Reading....


Begitu serius Salman membantu membuat nisan dari kayu untuk ibu angkatnya itu. Sebenarnya dia juga sudah datang dari tadi sebelum jenazah datang dari rumah sakit tapi Salman sudah langsung fokus di sana.


Sebagai anak angkat yang pernah di limpahi kasih sayang Salman juga tak bisa tinggal diam begitu saja, dia ikut membantu-bantu di sana dan melakukan apapun yang dia bisa.


"Rasanya, aku masih tak percaya jika ibu sudah tiada," gumam nya.


Benar, Salman tidak percaya. Padahal kemarin di rumah sakit Salman melihat semua baik-baik saja meski bu Yun sudah gak dapat berbicara. Tapi senyum Bu Yun itu membuat dia yakin kalau beliau akan kembali membaik dan sembuh tak taunya itu adalah senyuman terakhir untuknya.


"Heh, jangan melamun terus, udah selesai belum," salah satu orang di sana mengejutkan lamunan Salman.


Tangannya juga langsung menyentuh bahu Salman dan membuatnya langsung tersadar.


"Sudah kok, Pak." jawab Salman dengan sedikit meringis semakin meyakinkan bahwa yang dia lakukan memang sudah beres.


"Alhamdulillah," jawab orang itu dengan senang juga begitu berterima kasih. Padahal itu bukan apa-apa bagi Salman itu hanya pekerjaan kecil saja yang bisa dia lakukan untuk bu Yun.


Kasih sayangnya yang begitu besar untuknya. Perhatian yang selalu dia limpahkan tak bisa di gantikan dengan cara apapun, dan Salman akan selalu mengingat itu sampai kapanpun.

__ADS_1


...****************...


Semua upacara sudah berlangsung dengan baik dan juga gak ada halangan apapun. Dan bu Yun juga sudah di kebumikan dengan cara yang pantas dan juga seharusnya.


Satu persatu pelayat mulai melangkah pergi dan kembali ke rumah masing-masing, sementara keluarga inti, masih saja berada di makam sejenak.


Tentu, masih sangat berat untuk pergi meninggalkannya. Orang yang bertahun-tahun menemani dan membina rumah tangga yang harmonis juga memberikan anak-anak yang luar biasa bagi koh Fei.


Juga seorang ibu yang selalu memperhatikan semua kebaikan dan berusaha terus untuk membuat bahagia semua anak-anaknya yang kini sudah tumbuh menjadi anak-anak yang tangguh dan tentu akan menjadi kebanggaan kedua orang tua.


Semua masih sangat enggan untuk pergi apalagi di tambah dengan anak bungsu yang masih begitu berduka dengan kepergian Ibunya.


Doa terus di sematkan dari mereka untuk bu Yun yang kini sudah tenang menurut mereka. Doa-doa kebaikan juga di ampuni semua dosa-dosanya juga di terima di sisi-Nya.


"Kita pulang yuk," ajak Koh Fei kepada si bungsu yang masih sangat enggan untuk beranjak.


"Tapi, Pak. Fatimah masih ingin di sini sama Ibu. Ibu hanya sendiri, Pak." jawabnya.


Anak gadisnya yang akan menjadi kebanggaannya. Dan semoga bisa mendoakan bu Yun dan kelak bisa mengantarkan hingga ke tempat yang terbaik dengan semua doa-doanya.

__ADS_1


"Tidak, Nak. Kita harus pulang sekarang. Ini sudah sore." ajak koh Fei tetap bersikeras.


Semua kakak-kakaknya juga mengangguk mengiyakan apa yang di katakan koh Fei. Hari sudah berganti sore dan mereka lebih baik untuk segera pulang.


"Iya, Dek. Kita pulang sekarang. Jangan seperti ini nanti ibu akan sedih di sana. Lebih baik kamu doakan Ibu ya," kata Deri.


"Tapi, Kak?" Fatimah masih merasa berat untuk beranjak.


"Yuk," Bukan hanya koh Fei saja yang mengajak untuk pulang dan membantu berdiri tapi semua kakaknya.


Selamat tinggal bu Yun, selamat jalan. Semoga bu Yun bisa damai dan tenang di alam sana. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa mu dan juga menempatkan bu Yun di tempat terbaik di sisi-Nya.


Al-fatihah untuk Bu Yun....


🙏🙏🙏🙏🙏


...****************...


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2