
Happy Reading...
Rasa penasaran yang sangat besar membuat Salman memutuskan untuk tidak mengikuti acara doa untuk bu Yun di malam ke tiga hatinya. Dia ingin bisa memastikan sendiri akan kebenaran dari desas-desus berita yang dia dengar.
Apakah semua itu adalah hal yang nyata atau hanya kabar kosong saja yang tak nyata akan kebenaran.
"Feb, nanti kita nggak usah ikutan doa gimana. Kita coba selidiki berita dari sepasang pocong itu. Apakah itu benar atau hanya kabar saja yang tidak benar," kata Salman.
Di tengah-tengah istirahatnya dia memiiki ide tersebut, karena biasanya Febri yang ikut dalam acara doa jadi dia hanya berbicara padanya. Siapa tau sarannya akan diterima. Tapi kalau Febri tidak takut sih?
Febri kan nggak jelas orangnya kadang mengatakan berani tapi kenyataannya dia takut luar dalam. Tapi kadang dia bicara tidak mau ikut karena ketakutan nyatanya suka ikut juga. Aneh kan tuh orang.
"Gila kamu, Sal! kamu mau ajak aku uji nyali lagi? kamu mau ajakin aku gangguin dedemit yang lagi kasmaran? ogah!" jawabnya dengan cepat.
Tuh kan benar, Febri akan menolak tapi entah apa sebenarnya alasannya kalau sekedar karena itu sepertinya tidak.
"Halah, bilang saja kamu takut. Benar begitu kan?" tebak Salman setelah menyeruput segelas teh yang ada digenggaman tangannya.
"Si_siapa yang takut? aku berani. Hanya saja aku tidak mau saja jadi pengganggu. Mereka kan baru saja beberapa e bertemu pastilah baru kangen-kangenan, kalau di ganggu kalau mereka marah bagaimana?" asumsi yang sangat tidak masuk akal nih Febri.
Selalu saja bermacam-macam alasannya. Yang inilah itulah begitu banyak padahal sebenarnya dia sangat ketakutan. Dasar.
__ADS_1
"Sudah deh, jangan ngada-ngada kalau ngomong ya. Intinya kamu mau ikutan apa tidak? kalau tidak nanti aku mau ngajak Ilyas daja atau mungkin Doni. Mereka kan juga sangat penasaran."
"Ye, udah langsung duain aku aja gitu ya. Baru saja mau berpaling sebentar udah mau cari gebetan baru," ucap Febri nyinyir.
Sangat senang Febri menggoda Salman seperti sekarang ini, itu semua karena Salman yang masih jomblo selama ini. Entah kenapa dia tak berniat mencari pacar seperti yang lain padahal yang tertarik padanya juga tidak sedikit.
"Makin ngelantur kalau ngomong kamu ya, aku masih normal kali Feb," sedikit kesal nada bicara Salman.
"Masak sih, kenapa aku ragu ya. Buktinya kamu masih jomblo belum laku juga."
"Emang kamu udah laku?" Salman mengernyit.
"Pasangan belum halal sama saja bohong," semakin nyinyir kata-kata Salman.
Tapi benar juga kan, pasangan hanya pasangan pacaran bukan pasangan halal kan masih sama saja. Belum tentu yang menjadi pacarnya adalah jodohnya, juga belum tentu yang memiliki pacar belum tentu menikah duluan. Iya kan?
"Bisa jadi jodohnya aku yang lebih dulu di persatukan," ucap Salman penuh harap.
"Iya deh aku ngalah. Semoga kamu yang lebih dulu naik ke pelaminan."
Tak akan ada habisnya kalau berbicara tentang hal yang seperti ini. Pembicaraan mereka sudah belok begitu jauh.
__ADS_1
"Sekarang jawab, kamu mau ikut ucap nanti malam tidak? kalau tidak aku akurat mengajak yang lain," Salman menegaskan.
"Tapi, Sal. A_aku?"
"Kamu takut?" tebak Salman.
Salman benar-benar kebal sepertinya tak ada takut-takutnya sama sekali. Padahal yang akan mereka selidiki bukanlah manusia makhluk yang dapat di lihat oleh mata tapi sebaliknya. Makhluk yang gak dia tau akan kedatangannya dan tidak bisa di pastikan untuk kepergiannya.
"Bagaimana, Feb. Jadi ikut apa nggak?" Salman bersiap untuk beranjak.
"Hem, boleh deh," akhirnya Febri mengangguk tapi itu dengan sang malas.
Senang akhirnya hati Salman, akhir Febri mau ikut dengannya untuk mencari tau apa yang selama ini telah dia dengar.
Berharap semua yang dia dengar hanyalah kabar saja dan bukan hal yang benar.
Semua itu terlihat sangat aneh bukan. Kenapa makhluk itu kini menjadi dua setelah kepergian bu Yun. Semuanya tidak ada sangkut pautnya hal ini kan..
...*****************...
Bersambung....
__ADS_1