
Happy Reading....
Tak mau berlama-lama Salman juga Febri berada di rumah kekasihnya, karena sudah malam juga mereka harus pulang. Tak enak juga kan kalau sampai ada yang tau dan yang jelas aja menjadi pembicaraan orang banyak.
Setelah pamit Salman juga Febri bergegas untuk pergi tapi sebenarnya mereka tidak langsung pulang karena niat utama bukan untuk pulang.
Waktu sudah menandakan pukul Sembilan, jelas masih sangat lama untuk sampai jam dia belas. Mereka masih ada waktu lagi tapi mau kemana lagi mereka sekarang?
Di dalam perjalanan sampai desa mereka berdua memang merasa sangat aneh, hari yang biasanya masih banyak para orang-orang yang terus lalu lalang dan juga terdapat para penjual angkringan kali ini benar-benar sepi. Tak ada seorang pun yang terlihat.
"Malam ini aneh banget nggak sih menurut mu, Sal?" tanya Febri yang merasa sangat aneh.
Bukan hanya Febri saja, tetapi Salman juga sama. Bukan hanya tak ada orang yang terlihat saja tapi desa itu benar-benar sangat sulit sepi seperti tak berpenghuni. Semua pintu-pintu tertutup tak ada suara kehidupan dari manusia. Hanya hewan-hewan malam saja yang terus berbunyi.
"Iya, menurutku juga memang sangat aneh, Feb. Semua orang sudah pada masuk kandang mereka masing-masing, entah karena memang lelah karena seharian terus beraktivitas atau mungkin karena memang ada suatu hal yang tidak kita ketahui. Semoga saja kita bisa mendapatkan jawabannya," jawab Salman panjang kali lebar.
Sejenak memang motor berhenti karena ingin melihat lebih jelas keadaan desa. Semua lampu memang menyala tetapi meski sebenarnya terang tapi kenapa auranya sangat gelap?
Angin juga terus berhembus dengan sangat dingin mencekam tak enak pokoknya saat di rasakan. Sangat kuat energi negatifnya dan mampu membuat bulu kuduk seketika merinding. Tapi merinding bukan karena kedinginan, tapi ada hal lain yang lebih sekedar dingin.
"Sekarang kita mau kemana, Sal?" tanya Febri seraya menoleh ke arah Salman yang masih terlihat fokus dengan beberapa tempat di sekitar.
"Kemana ya, waktunya masih lama, masih ada tiga jam lagi. Apa yang harus kita lakukan?" Bahkan Salman sendiri juga merasa sangat bingung, apa yang harus mereka lakukan sekarang.
__ADS_1
"Kita ngopi lagi saja lah, Feb," ajak Salman.
"Lagi?" Febri tersentak tadi sudah ngopi masak iya mau ngopi lagi? Tapi kalau tidak juga mau apa, tidak mungkin kan mereka terus berada di sana dan menunggu sampai jam dua belas. Apalagi, tak mungkin juga mereka pulang karena kalau di rumah mereka pasti akan mengantuk dan akan gagal apa yang sudah mereka rencanakan.
"Hem, mau ngapain lagi emangnya," jawab Salman yakin.
"Baiklah," kembali Febri menurut apa yang Salman katakan padanya. Motor kembali berjalan menuju tempat yang akan mereka datangi untuk ngopi.
...****************...
23:55 WIB
Hingga waktunya tiba Salman dan Febri kembali ke desa yang tadi. Keadaan semakin terasa mencekam. Semakin bertambah sunyi bahkan suara hewan-hewan malam juga seolah hilang tertelan bumi.
Kabut-kabut hitam perlahan mulai menyapa, datang bersamaan dengan angin yang terasa sangat mencekam dan membuat bulu kuduk berdiri.
"Sal, kok jadi seperti ini ya rasanya. Nggak enak banget," ucap Febri dengan suara yang bergetar.
Bergetar antara takut juga dingin tapi rasa takut yang lebih mendominasi perasaan Febri sekarang.
Jantungnya terasa semakin cepat berdetak, tubuhnya semakin merinding dengan sesuatu yang belum jelas dan juga belum terlihat. Benarkah semua itu benar dan kedua makhluk itu akan datang?
"Iya, sangat berbeda dari biasanya. Ada apa ya, apak benar?" Mata Salman kembali menerawang jauh, menerawang setiap penjuru yang bisa di jangkau oleh mata.
__ADS_1
Tak ada yang mencurigakan semuanya terlihat sama saja tapi rasanya semakin malam semakin menegangkan. Energi negatif semakin kuat mereka rasakan.
Hembusan angin semakin kuat menggoyangkan pepohonan yang ada, bahkan rumput-rumput kecil di bawahnya juga daun-daun yang berjatuhan ikut berterbangan. Se_mencekam itulah malam itu?
Jauh arah mata Salman memandang, ada sosok yang mulai mendekat. Tak seperti biasanya tak ada rasa takut atau apapun kini Salman merasa merinding.
Ya, Salman merasa takut. Jelas ini hal yang tak biasa karena Salman selalu baik-baik saja meski melihat apapun, tapi kali ini? bahkan sosok itu saja belum dekat.
Dua pocong bermata merah menyala semakin jelas dan semakin nyata terlihat oleh mata. Begitu sangat menakutkan bagi Salman maupun Febri yang juga sudah melihat.
"Sal, ini tidak salah lihat kan? i_itu benar-benar pocongnya kan?" suara Febri terdengar gemeteran bahkan bukan hanya suaranya saja tapi semuanya.
Semakin dekat dan dekat dia sosok itu pada mereka berdua, tentu akan semakin jelas.
"Feb, kabur Febri. Kabur!" benar-benar gak biasa bahkan Salman benar-benar takut dan mengajak Febri kabur sebelum dua sosok itu benar-benar dekat dengan mereka berdua.
Febri juga Salman begitu buru-buru untuk segera pergi dari sana tak ingin melihat lagi dua sosok yang sangat menakutkan.
Motor melaju dengan sangat cepat bagai kilat yang menyambar
...****************...
Bersambung....
__ADS_1