Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Mengulur Waktu


__ADS_3

Happy Reading....


Sengaja Salman dan Febri pergi setelah waktu biasanya untuk berangkat ke tempat koh Fei telah tiba. Sengaja mereka pergi ke tempat lain sekedar untuk menghabiskan waktu supaya tidak merasa jenuh.


Kalau mereka hanya menunggu di rumah saja pastilah akan sangat terasa sangat lama tapi kalau mereka pergi ke tempat lain dan melakukan sesuatu pasti tidak akan terasa. Benar begitu kan?


Dengan motornya Febri mereka berdua pergi dari tempat Koh Atong. Entah kemana tujuan yang sebenarnya yang terpenting mereka harus keluar, ya hitung-hitung mencari angin.


Motor Febri akhirnya berhenti di salah satu warung. Keduanya turun dan berniat untuk singgah di warung tersebut.


"Kita ngopi-ngopi dulu di sini, Feb," ucap Salman seraya mengamati warung di pinggir jalan yang juga sudah mulai ramai akan pengunjung.


"Beneran di sini?" tanya Febri ragu, namun dia tetap turun dari motor dan juga melihat kearah warung.


"Iya di sini, emang mau di mana lagi apa kamu ada tempat yang lebih baik?" Salman mulai melangkah setelah Febri sudah turun.


Bergegas Febri mengikuti Salman, Febri begitu buru-buru seolah dia begitu takut tidak kebagian tempat duduk. Benar-benar seperti anak TK yang berebut bangku saja si Febri.


Dan benar saja, setelah sampai dalam Febri langsung nyelonong meninggalkan Salman, berjalan lebih dulu juga duduk dengan cepat.


Apa yang Febri lakukan jelas membuat Salman geleng-geleng kepala ada-ada saja si Febri padahal Salman sangat yakin kalau Febri sudah mulai takut makanya dia tidak mau berjalan dibelakang.

__ADS_1


"Sini saja, Sal!" seru Febri yang begitu sangat antusias. Senyumnya sangat lebar dia sangat senang karena sudah mendapatkan bangku juga sudah duduk lebih dulu daripada Salman.


"Hem," hanya singkat Salman menjawab itupun tak ada anggukan sama sekali.


Tuk tuk tuk...


Tangan Febri juga langsung bergerak, menjentikan jarinya pada meja hingga menghasilkan bunyi yang mampu di dengar oleh orang-orang sekitar.


"Kenapa, Febri. Kamu sudah mulai takut?" tebak Salman.


"Takut? tidak!" elaknya.


Padahal Salman tau jari-jari Febri yang terus bergerak itu sudah menjadi tanda bahwa dia tengah menahan takut dan dengan cara seperti itulah dia menyembunyikannya.


"Beneran, Salman," Febri begitu menegaskan.


"Kamu sudah pesan kopinya?" Tanya Febri, namun Febri langsung menggeleng karena dengan bersamaan tangan Salman terangkat untuk memanggil pelayan, "kebiasaan," gerutunya.


"Mas, kopi dua," ucap Salman menghiraukan keluhan Febri padanya. Itu kan memang sudah seperti biasanya jadi tidak akan terkejut lagi lah menghadap Febri.


"Kopi apa ya, Mas? mau kopi hitam atau kopi..." ucapan pelayan terhenti.

__ADS_1


"Kopi hitam saja," Salman sudah langsung menyela pertanyaan pelayan tersebut.


"Baik, Mas. Di tunggu sebentar ya,"jawab pelayan. Salman mengangguk setelah sang pelayan itu menjawabnya juga setelahnya sang pelayan pergi dari hadapan mereka berdua.


" Sal, kamu merasa aneh apa tidak sih dengan kedatangan dua pocong itu? Kemarin hanya satu tapi setelah bu Yun meninggal kenapa jadi dua? atau jangan-jangan..."


"Hus! jangan bicara sembarangan, Feb. Kita tidak tau kebenarannya. Iya dan tidaknya kita juga tidak tau kan. Tapi semoga saja tidak," kini Salman menyela pembicaraan Febri sepertinya Salman begitu suka banget menyela pembicaraan orang malam ini.


"Ih, kamu tuh ya! seneng banget nyela pembicaraan orang lain. Aku belum selesai bicara loh udah di penggal begitu saja, sadis!" tentu Febri sangat kesal karena ulah Salman.


"Lagian kamu kalau ngomong tidak pernah di saring jadinya ya begitu kan yang kamu dapat. Emang letak sadisnya dimana juga. Apakah lebih sakit daripada patah hati?" tanya Salman.


Eh, tumben Salman bisa bicara tentang masalah hati biasanya kan dia selalu menyingkir pelan kalau pembicaraan menjurus ke masalah hati.


"Mulai pinter kamu ya, Sal," Febri menyungging sinis juga tak percaya.


"Kan belajar sama kamu," jawab Salman kilat.


"Hilih, aku juga di bawa-bawa, padahal situ saja yang sebenarnya lebih parah dari pada aku. Ngaku aja deh kamu," semakin bersungut-sungut si Febri seolah ingin tumbuh tanduknya.


Menanggapi keluhan Febri Salman hanya tersenyum saja sangat menyenangkan memang membuat Febri kesal seperti ini.

__ADS_1


...****************...


Bersambung...


__ADS_2