Perjanjian Hitam

Perjanjian Hitam
Jangan Ceritakan


__ADS_3

...◦•●◉✿-✿◉●•◦...


Begitu yakin si Salman akan mendapatkan jawaban dari pak Kyai yang dia datangi sekarang. Dengan langkahnya yang dia percepat setelah dia selesai melaksanakan shalat maghrib di masjid.


Dia yang memang datang terlambat kini juga harus pulang akhir dan Pak Kyai juga sudah pulang lebih dulu. Cepat Salman mengejarnya karena dia tak mau sampai Pak Kyai pergi lagi dan kedatangannya akan sia-sia.


"Assalamu'alaikum..." uluk salam Salman ucapkan sebagai tanda menghormati tuan rumah.


Salman juga masih terus menunggu di depan pintu tapi sedikit menggeser ke sebelah kanan. Dan pas pintu terbuka dia akan langsung terlihat oleh penghuni yang membukakannya.


Belum juga ada jawaban Salman kembali mengucapkan salam lagi sembari mengetuk pintu.


Tok tok tok..


"Assalamu'alaikum...!" uluknya untuk yang kedua kali.


"Wa'alaikumsalam...!" terdengar jelas kali ini salamnya telah di jawab oleh tuan rumah. Salman tersenyum dia senang karena pak kyai ada di rumah dan dia pasti akan mendapatkan jawaban dari apa yang ada di dalam pikirannya.


Belum juga Salman masuk tiba-tiba tengkuknya kembali terasa panas dan terasa tebal. Bulu kuduknya juga langsung berjajar rapi dengan hembusan angin yang tak seperti biasanya.


Salman tau ada hal yang tidak beres. Mungkin makhluk yang tadi sempat mengganggunya kembali datang dan tak rela jika Salman datang ke pak Kyai, apalagi jika dia sampai meminta bantuan untuk kesembuhan bu Yun.


Ta'awudz kembali Salman ucapkan berkali-kali, yakin bahwa dengan itu dia akan di jauhkan dari bahaya jin dan sejenisnya yang sekedar mengganggu atau mungkin akan mencelakainya.


Salman terus menoleh sekedar memastikan, apakah mungkin ada makhluk lain yang mengikutinya tapi dia takkan melihat apapun. Hanya pohon saja yang terus bergoyang karena hembusan angin.


Tak lama Salman dalam perasaan tak karuan pintu telah terbuka, memperlihatkan pak Kyai yang keluar dan menyambut kedatangan Salman.


"Kamu, Sal. Sini masuk," ajak Pak Kyai.


Begitu ramah pak Kyai menyambut Salman, bahkan senyumnya juga terlihat sangat ramah. Menandakan kalau dia senang dengan kedatangan Salman.

__ADS_1


"Terimakasih, Pak Kyai," Salman masuk setelah mendapatkan izin dari Pak Kyai.


Salman sedikit heran karena Pak Kyai tak kunjung masuk juga berhenti di pintu seolah melihat atau mengawasi sesuatu, apakah mungkin pak Kyai bisa melihat makhluk kasat mata yang terus mengikuti Salman? Mungkin sih.


Salman hanya sedikit menoleh melihat Pak Kyai yang masih terdiam. Salman juga sedikit melihat luar tapi dia sama sekali tak melihat apapun kecuali hanya pohon yang ada di depan rumah pak Kyai.


"Silahkan duduk," Pak Kyai mengejutkan Salman yang masih terdiam. Padahal tadi dia lihat pak Kyai juga masih anteng saja mengamati pekarangan rumahnya tak taunya sekarang dia sudah menutupnya dan berjalan mendekati Salman.


"I-iya, Pak Kyai," Salman sedikit tergagap karena dia sangat terkejut tadi. Namun Salman juga langsung mengikuti apa yang pak Kyai katakan dan dia duduk.


Setelah Salman duduk Pak Kyai juga duduk di kursi depan Salman. Terlihat dia tersenyum ke arah Salman tapi entah dia tersenyum karena apa alasannya. Salman tidak tau.


Melihat raut wajah Salman yang gelisah membuat pak Kyai berinisiatif bertanya lebih dulu.


"Kenapa, apa masalah ibu angkat mu lagi?" tebakan yang sangat benar sekali dari Pak Kyai. Salman memang tengah memikirkan bu Yun ibu angkatnya yang sakit dan sekarang ada di rumah sakit.


Salman mengangkat wajahnya, dia juga mengangguk pelan karena itu memang sangat benar.


Pak Kyai diam sejenak terlihat dia berpikir sesuatu tapi entah apa yang dia pikirkan.


Lama diam membuat Salman menunggu, dia akan sabar demi bisa mendengar semua masalah yang terjadi. Masalah yang menimpa bu Yun yang membuat khawatir semua keluarga.


"Sebelum beliau sakit saya juga melihat ada pocong yang memutari rumahnya, Pak Kyai. Dan paginya saya datang ke sana ibu sudah mulai tidak enak badan. Malamnya saya datang lagi untuk melihat, dan pocong bermata merah kembali datang lagi dan malah masuk ke dalam rumahnya. Apakah ada orang yang berniat buruk atau bagaimana ya, Pak Kyai?"


Pak Kyai semakin mengangguk, seolah memahami apa yang Salman ceritakan barusan padanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Pak Kyai? Saya benar-benar tidak mengerti," Salman sedikit mendesak supaya pak Kyai mau bercerita kepadanya tapi sepertinya tidak. Pak Kyai hanya tersenyum menanggapi dengan wajah yang begitu santai.


"Kamu tidak perlu tau, Sal. Kamu doakan saja yang terbaik untuk bu Yun. Dan ya! Jangan sampai salah satu dari keluarganya tau tentang kejadian yang kamu lihat," ucapan pak Kyai terhenti membuat Salman semakin bingung.


"Memangnya kenapa, Pak Kyai?" Salman mengernyit. Bagaimana bisa keluarganya tidak di perbolehkan tau hal yang sebesar ini. Meski mereka akan sedih bukankah mereka harus tetap tau kan?

__ADS_1


"Jangan kasih tau mereka, Sal. Kasian mereka semua. Pasti pikirannya akan macam-macam," jawab Pak Kyai.


Benar juga apa yang di katakan Pak Kyai tidak seharusnya keluarganya tau apa yang terjadi.


"Terus apa yang harus saya lakukan, Pak Kyai?" Salman masih sangat bingung. Tidak mungkin kan dia tidak melakukan apapun dan hanya melihat penderitaan bu Yun yang melawan penyakitnya.


"Doakan bu Yun, dan bilang kepadanya untuk bertaubat kepada Allah dengan sungguh-sungguh. Mungkin dengan itu Allah akan memberinya kesempatan atau Allah akan meringankan penyakitnya," jawab Pak Kyai.


Semakin besar tanda tanya yang ada di kepala Salman. Kata-kata pak Kyai sungguh bisa di tebak kalau bu Yun memang melakukan kesalahan. Tapi apa? Tidak mungkin kan bu Yun melakukan hal yang sangat di benci Allah? Tidak mungkin kan bu Yun melakukan syirik?


Bu Yun terkenal sangat baik. Dia juga tak eman untuk bersedekah dan juga melakukan kebaikan yang lainnya, bahkan dia juga memasukan anaknya ke pesantren jadi mana mungkin dia bisa melakukan dosa besar seperti itu.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Lakukan saja apa yang saya katakan barusan" ucap pak Kyai mengejutkan Salman.


"I-iya, Pak Kyai."


Salman tergagap dengan membawa pernyataan besar di kepalanya dan Salman putuskan untuk pamit pulang. Penjelasan pak Kyai masih mengambang untuknya dia belum bisa mendapatkan jawaban yang di inginkan. Tapi memang ada sedikit penjelasan yang sedikit membuka masalah yang ada.


"Saya permisi, Pak Kyai."


"Sebentar, tunggulah di sini."


Pak Kyai masuk, entah apa yang akan dia lakukan dan akan dia berikan padanya. Tapi tak lama pak Kyai keluar lagi.


"Bawa ini, dan minta bu Yun untuk meminumnya. Semoga ini bisa sedikit membantu," Pak Kyai menyerahkan botol air putih untuk Salman.


"Terimakasih Pak Kyai, saya akan berikan pada ibu," jawab Salman seraya menerima botol dari Pak Kyai, "kalau begitu saya permisi dulu Pak Kyai, assalamualaikum.." Salman benar-benar pamit pulang.


"Wa'alaikumsalam.."


◦•●◉✿-✿◉●•◦

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2