
...◦•●◉✿-✿◉●•◦...
Salman melangkah dengan cepat bahkan dia sedikit berlari karena ingin cepat sampai ke ruangan bu Yun. Dengan botol di tangannya dia terus melangkah dia tersenyum karena yakin dengan air yang diberikan oleh Pak Kyai bisa membantu menyembuhkan atau meringankan penyakit dari ibu angkatnya.
"Aku sangat yakin, Ibu pasti bisa sembuh," wajahnya berbinar senyum mengembang seiring dengan harapan yang dia bawa di dalam harapannya.
Ternyata tidak semudah itu untuk Salman bisa membantu ibu angkatnya, dari awal dia sudah mendapatkan gangguan dari pocong bermata merah dan sekarang sepertinya alam pun tidak mengizinkan untuk dia bisa menolong bu Yun.
Kakinya tergelincir sehingga membuat botol yang terbuat dari kaca itu terjatuh dan pecah berkeping membuat air di dalamnya juga tumpah. Musnah sudah harapan Salman untuk bisa membantu ibunya sembuh.
"Astaghfirullah hal 'azim," Salman terlihat lesu, tubuhnya seketika lemas saat mata melihat botol itu pecah dan airnya sudah menggenang di lantai yang memiliki ubin berwarna putih.
Seketika matanya mengeluarkan air penyesalan yang begitu besar karena dia tidak bisa menjaga air doa dari Pak Kyai. Amanah yang seharusnya dia jaga ini tidak sampai ke tempat yang semestinya.
Ingin Salman meraung sekuat-kuatnya menyesali semua yang sudah terjadi tapi dia tidak bisa hingga akhirnya hanya air mata air bisa jatuh dan membasahi pipinya yang semula kering.
"Maafkan Salman, Bu," ucapan dalam sesal.
Salman beranjak kakinya mulai melangkah kembali mendekati botol yang sudah pecah, Dia hanya bisa menatap dan tak bisa melakukan apapun lagi. Salman terduduk lemas di hadapan botol itu dan terus memandangnya dengan tatapan kosong.
"Salman, Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Anton yang kebetulan baru sampai.
Salman hanya menoleh kecil hanya sekedar memastikan siapa yang datang dan menyapanya. Setelah melihat yang datang adalah Anton Salman kembali menoleh memandangi arah yang tadi.
Anton dibuat bingung dengan tingkah laku Salman saat ini. Anton juga mengikuti arah pandang Salman dan hanya bisa melihat air yang berceceran juga botol yang sudah pecah.
"Itu apa?" tanya Anton kepada Salman.
"Itu adalah air berdoa yang saya minta dari Pak Kyai. Saya berniat untuk membantu ibu saya pikir dengan air itu Ibu bisa sembuh, paling gak sakitnya berkurang. Tapi ternyata aku tak bisa menjaganya hingga botol itu jatuh dan airnya tumpah."
Jawaban Salman tercemar sangat lesu, tersirat begitu besar penyesalan karena dia tidak bisa menjaganya dengan baik.
"Maafkan aku Salman, karena ibuku yang sakit kamu jadi ikut merasa susah seperti ini. Terima kasih karena kamu sudah mempunyai niat yang baik untuk ibu meskipun semua itu tidak bisa sampai ke tangan ibu semoga saja Allah tetap mencatat kebaikanmu."
__ADS_1
Anton berdiri di belakang Salman berusaha membantu sahabat beranjak. Tidak seharusnya Salman begitu menyesali karena tidak bisa menjaganya dengan baik biar bagaimanapun itu bukan kesalahannya karena Anton yakin sangat memang memiliki niat yang baik.
Salman benar-benar berdiri, dan kini dia menghadap Anton. direngkuhnya tubuh sahabat sekaligus saudara bagi Salman dan dia dekap dengan erat hingga mereka berdua saling berpelukan selayaknya saudara kandung.
"Maafkan aku, aku tidak bisa melakukan yang terbaik. Bahkan sekedar untuk menjaga botol saja aku tidak bisa, aku minta maaf," ucap Salman.
"Sudahlah, semua ini bukan kesalahanmu lebih baik kita menjenguk ibu dan lihat Bagaimana keadaannya sekarang. Untuk sekarang kita hanya bisa berdoa dan menyerahkan semua kesembuhan ibu kepada dokter," ucapan Anton, Anton begitu memahami bagaimana Salman sekarang dia yakin Salman begitu sedih sama seperti dirinya
"Hem," Salman mengangguk seraya melepaskan pelukan dari Anton dan mereka berdua secepatnya bergegas menuju ruang di mana bu Yun dirawat.
keduanya melangkah saling beriringan bahkan mereka juga saling berangkulan pundak.
sementara di depan ruangan bu Yun koh Fei juga Deri masih duduk menunggu dokter keluar dari ruangan bu Yun. Dokter yang masih memeriksa keadaan bu Yun setelah tadi mendapatkan serangan yang begitu menakutkan dari makhluk yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
"Pak, kenapa dokter begitu lama memeriksa keadaan ibu, apakah ada hal yang serius yang terjadi kepada ibu?" tanya Deri.
Deri begitu khawatir akan keadaan ibunya yang sama sekali belum dia ketahui karena dokter yang memeriksa juga belum keluar dari ruangan.
Deri kembali beranjak, melangkah mondar-mandir dengan pikiran yang tidak tenang. Deri beralih berjalan menuju pintu kamar ruangan ibunya dan mencoba untuk melihat dengan mengintip dari celah-celah kaca.
Deri kembali membalik, dia terlihat begitu gelisah terlihat dari kedua tangan yang saling bertaut satu sama lain dan terus saling memijat satu sama lain.
"Tenanglah, Der. Jangan bikin Bapak semakin tambah pusing karena melihat mu yang gak bisa diam seperti ini," ucap Koh Fei menegur.
Siapapun pasti akan bertambah pusing saat melihat orang yang terus mondar-mandir di hadapannya meskipun itu adalah anaknya sendiri.
"Bagaimana Deri bisa tenang, Pak. Deri sangat khawatir. Deri sangat takut, Pak," jawab Deri yang memang terlihat seperti itu.
"Bapak juga sangat khawatir dengan keadaan Ibu, Der. Tapi tidak benni juga kan? Kamu ya terus mondar-mandir seperti itu akan menambah bapak pusing," ucap koh Fei yang mulai kesal.
"Maaf, Pak," Deri kembali duduk setelah ditegur oleh ayahnya. Kini Deri Hanya duduk dengan sesekali menghentakkan kakinya di lantai juga dengan kepala yang terus menoleh ke arah pintu ruangan ibunya.
"Bapak, Bang," Panggil Anton yang baru datang dengan berjalan bersama dengan Salman dari arah pintu keluar.
__ADS_1
keduanya menoleh melihat kedatangan Salman juga Anton yang berjalan dan semakin dekat dengan mereka berdua.
"Kalian," ucap koh Fei.
"Sal, Anton. Kalian dari mana?" tanya Deri.
Keduanya menyapa tapi tetap tak beranjak dari tempat mereka duduk, mereka hanya beralih duduk tegak saja dengan menoleh.
"Bagaimana keadaan ibu, Bang?" tanya Anton dengan gelisah.
"Belum tau, tadi ada kejadian yang tidak enak dan membuat ibu pingsan. Dan sekarang dokter masih memeriksanya," jawab Deri.
"Kejadian? kejadian apa, Bang?" Anton langsung penasaran dengan kejadian yang di maksud oleh kakaknya. Dia ingin tau juga apa yang membuat ibunya sampai pingsan. Pastilah bukan kejadian yang biasa kan?
"Tadi..."
Ucapan Deri terhenti karena pundaknya di sentuh oleh koh Fei. Seketika Deri menoleh dan melihat koh Fei yang menggeleng.
"Kenapa, Pak. Kenapa tidak boleh di ceritain ada Anton. Anton sangat penasaran, Pak. Anton juga pengen tau apa yang terjadi dengan ibu!" Anton berjalan menghampiri koh Fei, dia sepertinya tidak akan terima jika kejadian itu di rahasiakan darinya.
"Tapi, Anton?"
"Pak, Anton juga anak Ibu kan? kenapa Anton tidak boleh tau, kenapa?"
"Ya, bapak akan ceritakan......"
Anton juga Salman terperangah setelah mendengar semua apa yang telah terjadi kepada Bu Yun. Salman sadar, ternyata bukan hanya dirinya saja yang di ganggu. Tapi sasaran utamanya adalah Bu Yun. Itu artinya, apapun yang Salman lakukan tidak di inginkan, pocong itu sangat mengincar nyawa dari bu Yun.
"Kepada bisa? sebenarnya apa yang Ibu lakukan. Apakah Ibu benar-benar melakukan kesalahan? tidak mungkin kalau Ibu hanya mendapat kiriman guna-guna dari orang lain, pastilah Ibu sendiri yang melakukan kesalahan."
Salman hanya bisa membatin cara tak bisa mengeluarkan kata-kata itu.
◦•●◉✿-✿◉●•◦
__ADS_1
Bersambung..,