
...◦•●◉✿+✿◉●•◦...
Dinginnya malam begitu menyapa setiap orang yang ada di desa tempat bu Yun tinggal. Bahkan itu bisa di rasakan dari orang yang ada di dalam rumah dengan kehangatan yang sudah di persiapkan.
Tak sedikit yang sudah berselimut tebal dan berbaring di tempat tidur mereka masing-masing, ada juga yang masih melihat televisi di temani dengan kopi dengan beberapa cemilan.
Ada juga yang hanya sekedar mengobrol dengan keluarga dengan menikmati rokok di ruang tengah dan saling bergurau di tengah-tengah dingin yang semakin terasa menyakitkan.
Suara burung malam juga terus bersahut-sahutan menguasai semua ruang. Suaranya begitu menguasai langit desa sehingga semua warga mendengar dan tak ada yang terlewatkan.
Tiga orang laki-laki memberanikan diri duduk di emperan salah satu rumah, di temani kopi juga pisang goreng. Bukan itu saja, tapi juga di temani rokok yang mereka racik sendiri.
Rokok yang mereka racik dengan tembakau kering, kemenyan juga berbagai bumbu yang lain yang bisa memanjakan lidah mereka.
Asap mulai mengepul saat salah satu dari mereka selesai meracik dan menggulung nya, menyalakan korek dan mulai di bakar ujungnya.
Perlahan di hisab-hisap lagi di nikmati dan rasanya sungguh pas di lidahnya. Asap putih mengepul lagi setelah dia hembuskan keluar dari mulutnya sendiri. Ah... sungguh terlihat sangat nikmat.
Dengan kopi panas di tambah dengan menghisap rokok itu akan sangat membantu untuk menghangatkan tubuh mereka dari dingin yang sangat aneh malam ini.
Bukan hanya itu saja, tapi ada papan catur yang baru mereka mainkan.
"Mas, ini ada apa ya? malam ini sungguh aneh, tidak seperti biasanya?" tanya salah satu dari mereka yang paling muda kepada pada yang lain.
"Aku juga tidak tau, tapi malam ini memang sangat berbeda," jawab yang satunya. Matanya menatap sekitar, melihat angin yang mulai mengombang-ambingkan pohon yang ada di depan rumah.
Angin terasa semakin kencang dan juga kabut hitam mulai memadati ruang yang mulanya cerah.
"Apa mau hujan?" wajahnya mendongak melihat langit yang perlahan juga mulai tertutup.
Tidak terkejut jika burung malam begitu berisik karena mereka sudah terbiasa, tapi kalau hawa dingin saat ini? ini sungguh tidak biasa, ini sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Tapi entahlah, mereka juga baru kali ini kembali duduk-duduk di depan rumah setelah ada pocong yang selalu berkeliaran di desa. Bukan berarti saat ini mereka juga penuh keberanian, mereka sangat takut tapi sampai kapan ketakutan itu akan menjadi racun untuk mereka semua.
"Skak mat!" seru satunya.
__ADS_1
"Yah, aku kalah lagi. Sekarang kamu yang main!" ujar satunya, menyuruh laki-laki ketiga untuk bergantian memainkan bidak catur.
"Siap, lihat saja ya. Aku pasti menang," jawabnya dengan percaya diri. Dengan tangan yang mulai mengembalikan bidak catur ke tempat semestinya.
Kak kak kak...
Kuk kuk kuk...
Suara burung gagak juga burung hantu terus bersahut-sahutan, berebut ruang untuk menjadi penguasa malam yang begitu mencekam.
Semakin malam suasana semakin tak karuan. Ketiga orang itu hanya terus bertahan dalam kedinginan dan hanya berselimut sarung kotak-kotak yang mereka pakai.
Angin berhembus semakin kencang seolah ingin menerbangkan semua yang ada. Bahkan ketiga laki-laki itu juga seolah ingin terbang karena begitu kuat kekuatan angin itu.
"Ini kenapa?" suaranya terdengar gemetar.
"Entahlah, sepertinya ini tanda-tanda yang tidak baik," jawab satunya lagi, dengan mata yang terus mengamati semua sudut.
Kabut hitam terlihat semakin tebal bahkan mata tak bisa melihat dengan jarak yang begitu dekat. Bulu kuduk sudah berjajar rapi, tengkuk sudah semakin tebal juga memanas begitu juga tubuh yang semakin merinding.
Lampu jalan juga terus berkedip menambah suasana yang berbeda membuat mereka begitu bergidik ngeri.
Pergerakannya pelan namun pasti, semakin dekat dan semakin jelas.
"Mas mas, itu apa ya?" jari telunjuk salah satu dari mereka menunjuk ke arah sosok yang semakin dekat.
"Tidak tau, tapi dari bentuknya...?" mata mereka bertiga semakin membulat saat sosok itu semakin dekat dan semakin jelas bagaimana bentuk dan wajahnya.
"Po_pocong," pekiknya.
Ketiga laki-laki itu kalang-kabut untuk beranjak, bahkan mereka juga bertubrukan karena begitu ketakutan.
Bukannya bisa terbebas dan melarikan diri dengan cepat tapi mereka malah terjatuh bersama-sama di lantai, mereka meringis karena sakit tapi juga bergetar karena takut.
"Dia semakin dekat, dia semakin dekat!" teriak salah satu dari mereka.
__ADS_1
Nafas begitu gak karuan, jantung mereka berdetak hebat dengan segenap usaha mereka untuk lari dari tempat itu.
"Lari lari lari!" mereka kembali beranjak dengan cepat, berlari kocar-kacir meninggalkan tempat itu, meninggalkan kopi juga pisang goreng yang sudah dingin, meninggalkan racikan rokok yang belum jadi.
Brakk...
Terdengar pintu tertutup dengan sangat keras, salah satu dari mereka yang melakukannya.
...◦•●◉✿"✿◉●•◦...
Hingga larut malam Salman belum juga bisa tidur, matanya terasa sangat susah untuk terpejam. Pikirannya terus berkelana dengan sangat tidak tenang.
Pikirannya bukan tentang dirinya melainkan tentang Bu Yun yang ada di rumah sakit.
Salman mengingat lagi senyumnya yang begitu manis, senyum yang sangat berbeda dan sangat begitu indah dari sebelumnya. Bahkan selama mengenal Bu Yun Salman belum pernah melihat senyum Bu Yun yang seperti tadi.
Semua teman-teman sudah pulas, tapi tidak dengan dirinya. Dia hanya terus bolak-balik di atas kasurnya.
"Kenapa aku tak bisa tidur, ish..." keluhnya.
Sudah berjam-jam Salman berusaha untuk menutup matanya untuk bisa tidur tapi itu tak berhasil sejauh ini.
"Sebenarnya apa yang ingin Ibu katakan, Ibu seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia sudah tidak bisa. Sebenarnya apa?" Salman begitu bingung.
Cukup jelas di mata Salman kalau Bu Yun ingin mengatakan sesuatu padanya tadi, tapi apa?
"Apakah ada hubungannya dengan sakitnya Ibu?" tanya Salman pada dirinya sendiri.
Matanya hanya bisa melihat langit-langit dengan pikiran yang terus berangan-angan dengan apa yang terjadi pada Bu Yun.
"Bagaimana aku bisa membuat Ibu bicara?" berpikir untuk bisa membuat Bu Yun bercerita tapi Salman juga merasa itu sangat mustahil.
"Seandainya aku tau, apakah aku juga bisa membantunya?" dan pertanyaan itu muncul di benaknya, dia ingin bisa membantu Bu Yun.
Lama berkelana dengan pikirannya akhirnya Salman bisa memejamkan matanya setelah dia benar-benar merasa sangat lelah membawa harapan akan jawaban yang dia inginkan, membawa harapan kalau esok Bu Yun akan menceritakan semua kepadanya apa yang terjadi.
__ADS_1
Bersambung....