PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.10


__ADS_3

Siang itu panas terik begitu menyiksa. Tanjakan tajam belum banyak di daki. Belum seperempat perjalanan. Ayu mesem melihat ganknya kepayahan. Itulah hukuman buat kalian. Kepo sih. Segala pengen tahu Yudistira. Di belain menginap di rumah segala. Nah loh kerasa emang enak jadi ANAK GUNUNG.


"Yakin, kalian sanggup meneruskan?" tanya Ayu


Tak ada jawaban, napas mereka terengah. Malah memilih memejamkan mata. Indra pendengaran menangkap suara elang yang terbang rendah mencari mangsa. Hembusan angin membuat musik alam yang merdu. Samar suara burung tengah bertengger di pepohonan bersahutan.


Mata mereka di buka. Hamparan pesawahan nun jauh di mata, menguning ranum siap di panen. Kelokan jalan setapak bak ular melingkar menambah elok. Gemericik air sungai kian memukau.


"Jika saja pemandangan alam tidak seindah ini, menyesal harus ikut Ayu. Tapi, sungguh salut denganmu, setiap hari pulang dan pergi melewati jalan ini." nada kagum tergambar dari suara Nurasiah Jamilah.


"Bisa karena biasa," jawab Ayu tersenyum.


"Sebenarnya kita juga kuat, kok, hanya hari ini sangat letih sehabis olah raga maka kami kehabisan tenaga, " kilah Irniaty nyengir kuda.


"Hayu, ah, cepetan. Awan mendung sudah mulai datang. Rasanya tak sanggup jika jalan dalam keadaan hujan." pinta Eva yang melihat mendung membayangi.


Thien hanya terdiam. Angannya seketika teringat Ayu yang sering datang dengan pakaian kotor karena terjatuh. Pantas saja. Jalanan begitu curam. Tanah merah juga sangat licin jika hujan menerjang. Sungguh Yu, ingin sekolah adalah perjuangan berat. Teramat susah. Apalagi sendiri dari sini. Salut.


Mereka melangkah dengan tanpa mengeluh lagi. Ini hanya sekali jalan. Bayangkan sahabatnya pulang pergi setiap hari. Malu mengeluh. Ayu selalu semangat tanpa pantang menyerah. Malu sendiri.


\*\*\*\*\*


Langkah lima gadis hijaber itu terhenti di depan rumah singgah Yudistira. Yudis tengah menunggu Ayu dengan setumpuk lembaran kertas di tangan.


Penampilan pria berhidung bangir dengan senyum menawan itu, mampu menghentikan langkah lima hijaber yang tergesa ingin sampai tujuan. Mereka mematung dan terpesona elok rupa Yudistira.


"Alhamdulillah ada teman kamu sekarang. Teman sekolah, ya?"


Geng hijaber jadi baper. Pantesan Ayu yang hatinya bagai batu kok lumer kayak eskrim mencair di terpa panas matahari. Kece badai ini makhluk Tuhan.


Kulit putih, hidung bangir, mata yang tatapannya sedemikian tajam. Bibir memerah, rambut klimis dengan gaya terkini. Posturnya tinggi dan proforsional.


Untung itu eces nggak ngeces. Batin Ayu. Serasa hadir di dalam cerita nabi Yusuf. Mengumpulkan para petinggi dan bangsawan agar semua terpana akan pesonanya.


Ayu tersenyum. Yudis baru pertama kalinya melihat senyum manis Ayu. Sejenak terdiam, sungguh manis senyuman itu. Getaran aneh kian terasa, mengapa rasa ini hadir. Bukankah cintanya setengah mati untuk Cindy. Apakah ini juga cinta atau hanya sekedar merasakan simpati semata.


"Ya, kak, ini sahabat saya."

__ADS_1


"Salam kenal saya Yudistira, oh, ya, ini materi buat temu wicara besok ya Ayu. Jangan lupa baca. In sya Allah kita adakan acara jam sembilan. Tolong hadir sebelum jam sembilan! Ok." ucap Yudistira memberikan sebuah makalah.


Empat gadis masih bengong kayak kambing ompong. Dih, pantesan Ayu kesengsem. Yudis kok seperti menaruh rasa juga pada Ayu. Tuturnya begitu lembut. Gimana Ayu tak klepek-klepek jika di kasih perhatian bahkan kado mahal.


"Aku pergi, jika kalian masih betah boleh berhenti di sini" kata Ayu.


The geng langsung ngibrit mengikuti Ayu.


"So cute," ucap Irniaty. Sofyan sang pacar lewat sudah.


"Kinclong," samber Eva


"Aje gile, itu mah limited edition," pekik Thien seraya menepok pipinya.


"Pokoknya caem pisan. Pasti serasa terbang melayang jika dapet perhatian dia." Nurasiah Jamilah tak kalah komentar.


"Itu dia makanya kok bisa di selalu care sama aku coba. Orang cakep gitu selalu saja menyapa dan memperhatikan. Bagaimana aku tak jatuh cinta. Upsss"


Ayu menutup mulutnya. Reflek menggampar pipi. Aduh, kenapa harus bilang sama mereka.


Padahal bisa jadi bahan ejekan dan bully.


"Normal lah, Yu, sudah waktunya kamu tahu rasanya cinta," ujar Nurasiah Jamilah


Ayu menarik napas ternyata mereka juga tidak mengolok perasaannya. Mungkin karena pesona Yudis juga sudah membius mereka.


"Mana mungkin dia suka sama aku. Kami berbeda. Bagaikan langit dan bumi. Tak ada alasan baginya untuk melabuhkan hati."


"Kenapa tidak, rasa tak pernah memilah jika datang. Bukan hanya milik sang kaya juga punya sang papa. Tak ada yang tak mungkin jika Allah berkehendak." Eva menepuk pundak Ayu menguatkan.


Selain soal rupa aku juga tak punya paras rupa. Lantas apa yang bisa aku banggakan di depan Yudistira? Batin Ayu.


Ayu membenarkan dengan hati. Cinta itu buta. Tak memandang paras rupa, harta, tahta, jabatan. Jika datang bak badai menerjang. Tak ada yang kuasa melarang. Tak ada larangan mencinta, bukan? Biarlah rasa itu tumbuh dalam sanubari tanpa harus diketahui dan terbalaskan. Karena sejatinya cinta bukanlah kesalahan.


\*\*\*\*\*


Suasana balai desa hiruk pikuk. Antusiasme masyarakat desa memang patut di acungi jempol. Jika ada acara selalu aktif sampai rela meninggalkan pekerjaan di sawah atau ladang mereka.

__ADS_1


Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Bangku dan kursi sudah penuh dengan hadirin. Di muka, sebuah bangku yang di susun memanjang sudah terisi oleh Ayu dan beberapa orang anak SMP. Kelas jauh yang setahun ini didirikan di SD tempat Ayu dulu.


SD Ayu di pakai untuk belajar seusai bubaran. Meski hanya sedikit Ayu senang ada yang mengikuti jejaknya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih baik.


Selain sekolah Ayu juga mengajar mengaji anak-anak. Kesempatan itu tak pernah di sia-siakan. Ayu memotivasi dan mempengaruhi anak didiknya untuk meneruskan sekolah. Saat ini masih SMP terbuka. Ayu harap kelak akan banyak anak yang sekolah juga ke kota.


Yudis memberi kode untuk memulai acara. Gadis bergamis dengan kerudung warna senada itu, mengangguk. Sengaja Yudis membiarkan Ayu mengendalikan tanpa bantuan. Yudis percaya Ayu bisa.


"Lu yakin gadis gunung itu mampu, Dis. Sudah gua saja. Bisa kacau ini acara."


Bagas tampak meragukan kemampuan Ayu. Ah, hanya gadis gunung sederhana mana mungkin bisa. Langkahnya di hentikan Yudis. Kepalanya menggeleng.


"Kita lihat, feeling gua yang bener apa, Lu. Ayu itu pasti bisa. Jika nggak gua mau, Lu hukum apa saja."


Bagas senyum sinis. Kapan lagi bisa mempercundangi Yudistira. Ingin sesekali membuatnya kalah dan pasrah. Ini pertaruhan yang menyenangkan. Bagas merasa yakin menang di atas angin.


Muka Yudistira tegang. Rasa takutnya menerjang. Bagaimana jika Ayu tak bisa. Dia menarik napas panjang. Khawatir jika gadis itu salah dan tak bisa.


"Assalamualaikum ... BLA BLA BLA ...."


Acara temu wicara sekaligus penyuluhan pagi itu berjalan sesuai harapan. Ayu memukau yang hadir. Rangkaian kata terucap mengalir bak air. Hebatnya tanpa naskah pula.


Banyak materi yang sangat melengkapi di ungkap Ayu. Materi yang bahkan tidak semua mahasiswa UNPAD ketahui. Hanya beberapa orang yang menguasai. Itupun sang kutu buku sejati.


Bagas ciut Dengan kemampuan retorika sang ANAK GUNUNG. Diam. Bungkam. Rasanya tak percaya jika gadis manis itu bahkan pengetahuan umum lebih di atasnya.


"Jangan lihat hanya cover. Jilid boleh tak menarik tapi lihat isinya. Bagaimana Bagas?"


Utari puas melihat Bagas di percundangi gadis desa.


"Itu mah super, Dis, aku saja belum sampai ke sana." Panji tak kalah terpesona.


"Aku yakin kemampuan Ayu. Aku dengar dia seorang kutu buku dan selalu juara di setiap prestasi akademiknya." Utari menimpali.


"Kita boleh menebak isi dompet seseorang dari tampilan. Tapi kadang itu juga salah. Paling sulit itu menebak isi dalam benak dan kemampuan otak. Jangan mencibir! Siapa tahu isi kepalanya tidak amatir? Jangan mengolok siapa tahu isi otak mencolok!" ujar Yudis yang kini bernapas lega.


Bapak Ayu tanpa sadar meneteskan air mata. Tak sia-sia kamu sekolah, Nak. Semua sudah lihat kemampuanmu. Cibiran orang akan guna sekolah musnah sudah. Alhamdulillah, Bapak bisa mewariskan ilmu tanpa harus kau berat membawa ke mana-mana. Jika Bapak wariskan tanah belum tentu kamu jadi bulu tanah( Petani ). Semoga ilmumu berguna bagi sesama. Aamiin.

__ADS_1


To be continue~


__ADS_2