PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.22


__ADS_3

l


Ponsel sudah berdebu. Telah lama menunggu pesan dan panggilan datang, tak kunjung tiba. Ponsel tergeletak begitu saja. Sudah tiga hari tak pernah di sentuh. Lelah menunggu kabar. Enggan memegang.


Tingggg


Notifikasi masuk. Secepat kilat tangan Ayu meraihnya. Lesu, lemas, tak sesuai harapan. Hanya SMS operator yang meminta mengisi pulsa. Ponsel di lempar ke bantal sekenanya.


Mengapa tak memberi kabar, Kak? aku menunggu pesanmu. Masih juga hati tak bisa kompromi. Kau belum halal kurindukan. Kita belum boleh bersama.


Andai saja waktu bisa ku putar cepat semoga tiga bulan lagi adalah hari ini. Kita menghalalkan hubungan. Agar rindu menjadi pengabdian. Cinta menjadi menjadi ibadah.


Tingggg


Notifikasi kedua masuk. Ayu mencoba tak perduli. Tapi, mata genit mencoba mengintip. Senyum tersungging seketika. Yudistira mengirimkan pesan.


[Assalamu'alaikum, cinta. Maaf Baru sempat mengirim pesan. Apa kabarmu ? I Miss you. Maaf belum sempat menemui kamu. Semoga kau sehat di sana]


Ponsel di dekap di dada. I Miss you too. Hanya di bibir, tangan lincah membalas pesan dengan kata yang lain.


[waa'alikumumus salam. Tidak mengapa, Kak. Aku baik baik saja. Alhamdulillah Ayu baik-baik saja. Jaga dirimu di sana. Semoga kakak juga sehat selalu]


Pesan di kirim tanpa kata "Miss you too". Ayu tersipu. Cukup simpan di hati kata itu, akan Ayu ucapkan jika semua sudah halal.


Yudis tersenyum bahagia melihat pesan balasan. Pikirannya yang kusut bak lukisan abstrak di galeri hilang sudah, saat melihat pesan Ayu. Beban di hati sedikit berkurang melihat tulisan. Sungguh kau obat ajaib buatku. Penyemangat hidupku, Ayu.


*****


Hari sudah sore. Waktu untuk kembali ke rumah bagi Cindy, tinggal menunggu pemeriksaan terakhir dan boleh melenggang pulang. Meski enggan tapi tak bisa menolak. Tubuh Cindy sudah segar bugar. Semua kembali normal.


Mata Cindy menatap ponsel Yudis yang tertinggal. Membaca chat terbaru Ayu dan Yudistira, bara api memantik di dada.


Panas menjalar. Kata cinta dan sayang itu dulu untuknya. Kini hanya sebatas memori. Cinta Yudis tak lagi bermuara. Ada Ayu yang telah menggantikan posisi. Cindy menyimpan nomor Ayu dengan niat tak benar.


Pranggggg.


Suara benda pipih yang dibanting kuat membahana di ruang VIP rumah sakit. Suara nyaring itu membuat semua yang mendengar heran. Ada apa gerangan?


Tak terkecuali Yudistira. Berlari takut terjadi apa-apa dengan pasiennya. Terlebih asal suara dari kamar Cindy yang tengah intensif dipantau kondisi fisik dan jiwanya.


Ponsel hancur berkeping di lantai. Senyum kemenangan tergambar di wajah Cindy. Puas melampiaskan amarahnya. Semoga hubungan antara Yudis dan Ayu juga akan hancur senasib dengan ponsel itu. Harapnya.


"Cindy!" teriak Yudistira.


Meski sudah hancur berkeping. Yudis masih mengenali ponsel kesayangannya. Sudah seharian bingung mencari, kini hanya menjadi serpihan kecil. Yudis memungut serpihan. Amarahnya memuncak. Apa salah ponselnya sehingga jadi pelampiasan amarah?


"Kamu keterlaluan, Dy. Kenapa kamu rusak ponsel aku?"


"Aku lihat chat mesra kamu sama dia. Please tinggalkan dia, Dis. Kembali sama aku. Kenapa melotot, marah ponselnya rusak. Aku ganti dengan yang lebih baik," ucapnya ketus.


Tak ada raut perasaan bersalah melihat Yudis sedih sekaligus marah padanya. Rasa puas malah tergambar melihat ponsel yang hancur.


"Bukan masalah harga ponsel. Aku bisa membeli ratusan. Sopan santun, tatakrama dan kepatutan kamu sudah hilang. Tak punya aturan. Kamu sungguh tak sopan."


Cindy tak ada ekspresi. Wajahnya datar, tak ada ekspresi apapun. Tatapan matanya kosong


"Kenapa, Dis. Ya Allah ponsel siapa yang hancur begini?"


Mira yang baru tiba melihat dengan heran. Ada apa gerangan Yudis sampai membentak Cindy dengan garang.


"Ini punya saya Tante, Cindy memang keterlaluan."


"Maafkan dia, Dis. Tante ganti ponselnya nanti. Maafkan anak Tante. Dy ... ayo minta maaf sama Yudis," pinta Mira.


"Never!"


Cindy tak bergeming.


"Maaf, sus tolong beri obat pada Cindy. Mama sama dokter Yudistira bisa ikut saya sebentar, ada yang harus kita bicarakan." Dokter Eka tergopoh datang menjadi penengah.


Suster menyuntikan obat. Mata Cindy yang semula menatap kosong berubah beringas. Namun, setelah beberapa saat kemudian tenang.


Yudis dan Mira duduk di depan dokter Eka. Dokter itu menarik napas dalam. Seolah ada hal yang begitu enggan di sebutkan. Merasa sesak sendiri. Membayangkan jika menjadi keluarga pasien.


"Mohon maaf sebelumnya. Ada berita kurang menyenangkan. Kondisi Cindy kurang baik. Menurut rekap medis ternyata Cindy, memiliki ketergantungan pada Narkoba. Hal itu juga membuatnya menderita gangguan kejiwaan. Jadi saya mohon kerja sama diantara kalian untuk membantu dalam proses penyembuhan. Gejala kejiwaannya tidak akut. Tapi, perlu penanganan yang lebih. Pengobatan teratur akan menyembuhkan."

__ADS_1


Mira menunduk lemas. Pantas saja emosi Cindy tak terkontrol. Ternyata ini jawabannya. Keberhasilan meraih karir dan pencapaian harta seolah tak berguna. Semua tak bersisa. Merasa diri paling berhasil ternyata menjadi orang paling gagal. Mira terisak.


Yudis menepuk kepalanya. Tuhan kaki ini ingin berlari menjauh tapi jika kondisi Cindy demikian, maka mau tak mau harus membantu.


"Ada kabar lain juga. Tolong jaga Cindy dengan baik. Kini Cindy tengah berbadan dua. Tengah hamil empat Minggu."


"Ya, Allah. Cobaan apalagi ini. Dis apakah itu benih kamu?"


"Saya sudah putus komunikasi lama dengan Cindy, Tante. Mana mungkin saya menjamahnya. Pertemuan kami setelah sekian lama di sini, saat Cindy masuk rumah sakit. Saya turut prihatin."


"Bantu Tante, Dis. Tolong jangan tinggalkan Cindy. Bantu penyembuhannya. Tante mohon," pinta Mira memelas. Perempuan berbadan sintal layaknya anak remaja itu percaya semua kata Yudistira. Dia tahu benar bagaimana Yudis. Tak mungkin mau menodai anak gadis.


"In syaa Allah," jawab Yudis.


"Kerja sama kalian akan mempercepat proses penyembuhan Cindy. In syaa Allah," tutur dokter Eka.


Cindy akhirnya pulang. Mira sudah berjanji akan menjaga permata berharga. Takan ingin kehilangan lagi. Tak ada guna semua harta dan jabatan jika Cindy sang buah hati tak lagi di sisi.


Mira baru merasakan kegagalan besar dalam kehidupan. Semua pencapaian dunia. Harta, karir dan jabatan hanyalah semu di banding keberhasilan membimbing putrinya.


******


Kringgggg


Dering ponsel menghentikan Ayu membaca novel kesukaan. Beberapa novel baru di terima dari pak pos. Yudis mengirimkan, sudah tahu kado paling berharga buat ayu bukan seperti yang di inginkan gadis lainnya.


Jika yang lain hadiah terindah baju dan aksesoris, lain buat Ayu. Buku adalah kado terindah.


Nomor tak di kenal. Panggilan terlewat.


Kringgggg


Ayu menerima panggilan kedua. Siapa tahu panggilan penting.


"Hallo, assalamu'alaikum"


"Hallo, ini Ayu lestari ?" jawab seorang perempuan dari sebrang.


"Ya saya sendiri, maaf ini siapa ? Ada perlu apa ya ?"


Deg. Ayu terhenyak. Cindy sang super model terkenal itu. Si pemilik hati Yudistira, dulu. Bukankah mereka sudah lama putus. Bahkan dengan jelas Yudis melamarku di khalayak ramai.


"Maaf, jika kamu pacar Yudis. Maka, perkenalkan saya Ayu, tunangan Yudistira." jawab Ayu tenang.


"Huh, tinggalkan Yudistira. Dia tak sepadan denganmu. Sadar diri, siapa kamu dan siapa dia. Kamu tak pantas untuknya."


"Maaf, soal pantas atau tidak bukan kamu yang mengukur dan menakar. Toh, Alhamdulillah papa sudah merestui kami. Pilihan hati tidak selalu soal materi dan paras rupa. Jika harta ukuran apakah seorang yang tak berpunya tak pantas punya cinta. Merasa hartamu begitu sakti, silahkan tebus hati dengan rupiah. Jika paras begitu hebat, silahkan ambil dengan cepat. Tak perlu memintaku untuk menjauhi, mengharap untuk meninggalkan. Kamu juga bisa lakukan tanpa bantuan," jawab Ayu mantap. Percaya jika hati Yudis miliknya tanpa memandang strata dan rupa.


Cindy mendengus kesal. Semua ucapan Ayu mempercundangi. Pintar bermain kata gadis ini. Retorika juara.


"Kamu benar, aku mohon lakukan bukan untukku. Lakukanlah demi bayi kami"


Dada Ayu sesak. Napasnya seolah berhenti. Semoga Indra pendengaran salah. Apa Yudis sebejad itu. Terbayang Cindy yang agresif menyosor meluk dan cium Ayu. Yudis


hanya diam tanpa penolakan. Ah, laki-laki semua sama, akan luruh dengan godaan cewek bergincu, apalagi ceweknya secantik Cindy.


Cindy tersenyum. Membayangkan reaksi Ayu. Tak ada suara di sebrang sana. Mungkin tengah mencerna kenyataan yang ada. Semoga kau menyerah.


"Kami melakukan tanpa sadar. Jika kamu tanya padanya dia Takan merasa pernah melakukan hubungan denganku"


Ayu tak lagi mampu berkata, air matanya luruh tak berhenti. Mendadak bisu. Ponsel di tangan jatuh ke lantai. Otot seolah lemas tiada tenaga. Semua energi hilang entah kemana.


Membanting tubuhnya ke ranjang tua. Suara bedecit mengganggu telinga. Ranjang besi itu seolah saksi luka hati. Ikut menjerit seiring hati yang meronta-ronta.


Bantal sudah basah dengan air mata. Mengapa ini terjadi di saat harapan telah melangit tinggi. Jika saja semua belum terlanjur. Andai pertunangan belum terjadi. Semua sudah tahu tanggal pernikahan.


Apa kata orang jika semua batal. Tega kau, kak. Mengapa melakukan kebodohan yang menghancurkan asa serta harapan kita. Memupus musnah kebahagiaan keluarga kami yang telah tercipta.


Isakan Ayu kian kencang. Hatinya hancur lebur. Bayangan pelaminan kini memudar. Hanya bayangan kesedihan keluarga karena pernikahan yang gagal menari dalam benak.


******


Yudis pergi dengan wajah sumringah. Sudah sebulan tak berjumpa sang pujaan. Rindu melihat wajah teduh nan menentramkan.


Setumpuk buku sebagai oleh-oleh sudah di bungkus rapi. Penat setelah bertugas seolah lenyap membayangkan pertemuan dengan Ayu.

__ADS_1


Mobil Yudis berhenti di lapangan tempat melamar Ayu. Senyumnya kian lebar. Melihat Ayu tengah berjalan diantara ilalang, asyik bermain di antara bunganya yang menjulang tinggi, sehingga menutup hingga ke dadanya. Hembusan angin memainkan gamis dan hijab lebarnya.


Yudis mengendap mendekati. Ingin memeluk dari belakang. Tidak, Dis. Jangan lakukan. Ayu akan marah besar. Belum halal, belum waktunya. Langkah Yudis terhenti oleh isakan Ayu yang tertahan. Tangis yang memendam lara.


"Assalamualaikum, cinta. Ada apa ? kenapa kau menangis," tanya Yudis Yang tak bisa menahan tangan menarik Ayu mendekat.


Ayu kaget, tak menyangka jika Yudis sudah berada tepat di depannya. Angannya tengah melamunkan sang pujaan. Kini berdiri tepat di hadapan.


"Kak, Yudis ?"


"Ya, ini Kakak. Kenapa Ayu menangis. Siapa yang membuat air matamu terurai ?"


Kau, karena kak Yudis aku menangis. Kau yang membuat air mataku tumpah. Hanya di hati tanpa terucap.


"Tell me ! Please," bujuk Yudis.


Ayu menghela napas panjang. Semua harus diperjelas. Jika harus berakhir tak apa. Jangan menggantung perasaanku. Biarlah mungkin semua berakhir di sini, hari ini.


"Ayu mendapat telpon dari calon ibu anakmu, kak. Selamat, semoga kalian bahagia. Ayu hanya berharap kakak jujur atas semuanya. Jangan biarkan dia sendiri ketika berjuang melahirkan buah hati kalian. Pergilah, tinggalkan Ayu sendiri," ujar Ayu. Sebutir air mata kembali jatuh di pipinya.


"Cindy menelpon Ayu ? "


Ayu mengangguk.


"Percaya padanya begitu saja tanpa tabayyun padaku ? Kita duduk dulu. Sengaja Kakak datang ke sini ingin banyak bercerita padamu."


Yudis mengajak Ayu duduk. Perlahan di ceritakan tentang Cindy, bagaimana kondisinya kini semua tanpa ada yang terlewat satupun.


"Sekarang Ayu percaya kakak ?"


Mata Ayu menatap mata Yudis. Tak ada dusta di mata itu, bukankah mata adalah jendela hati. Kejujuran tergambar di mata Yudis. Tapi, bukankah semua bisa di rekayasa.


"Ayu akan percaya pada bukti. Buktikan jika kakak benar."


"Baiklah, aku bisa tes DNA. Semua tak sulit. Aku mohon tunggu semua akan terjawab seiring waktu. Benar dan salah takan tertukar. Percayalah sebejad apapun aku di masa lalu tak pernah berjinah. Tak pernah menodai siapapun. Apalagi sekarang sudah punya kamu, Yu. Segenap rasa hanya untukmu. Tak pernah ada yang lain lagi selamanya. Aku pulang. Salam untuk keluarga di rumah. Maaf tak bisa mampir. Ingin segera membuktikan jika aku tak pernah menjamahnya"


Yudis berlalu, tanpa menunggu jawaban. Ayu hanya diam sepeninggal. Mata itu jujur berkata tapi mengapa masih ragu menghinggapi. Tuhan bantu kami melewati masa sulit ini. Do'anya di hati.


*****


Cindy tersenyum sendiri. Semoga langkahnya sukses besar. Terima kasih bayiku. Tadinya hadirmu ku sesali, sekarang malah akan menjadi alasan untuk menyatukan aku dan Yudis.


Sejurus kemudian tangis menghampiri. Terbayang malam durjana itu. Saat makhota berharga terenggut dalam keadaan pengaruh alkohol dan narkoba.


Cindy menghabiskan satu paket sabu. Beberapa gelas whisky. Menghabiskan berjam-jam untuk bergoyang di diskotik. Dunia hingar bingar yang di benci Yudistira.


Yudis selalu mengajak Cindy meninggalkan dunia showbiz. Ingin kekasihnya berubah. Mbok Darmi juga berulang mengingatkan untuk menghentikan. Takut jika bertemu seseorang yang bejad dan memanfaatkan kesempatan.


Semua suara ibarat angin lalu. Cindy tak bergeming. Dunia malam baginya adalah dunia yang bisa mengerti hasrat dan keinginan. Semua kepuasan di dapati. Meski kadang dalam sendiri hidupnya masih jua hampa.


Naluri terdalam masih juga mencari definisi bahagia. Apa yang kurang dalam diri. Harta, popularitas, kesempurnaan fisik dalam genggaman tangan. Namun, semua kadang tak bisa mengukir senyum bahagia di hati. Semua selalu terasa kurang.


"Dy, kamu baik-baik saja ? Maaf tak bisa membesuk ke rumah sakit. Aku baru pulang dari luar negeri. Begitu sampai langsung ke sini. Demi kamu, demi anak kita" Aldo mengagetkan Cindy.


"Ini bukan anak Lu. Ini anak Yudistira," bantah Cindy.


"Ayolah Dy, lu jangan gitu. Kenapa Yudis yang harus bertanggung jawab. Ini bukan benihnya. Kita yang melakukan, maka kita akan menanggung konsekuensi bersama. Kasihanilah Yudis yang sebentar lagi akan menikah"


"Gue nggak perduli. Gue ingin Yudis menjadi Papa anak ini, bukan lu. Siapa yang mau punya papa bejad kayak Lu. Pergi !!! Gue benci Lu, enyah dari hadapan sekarang juga !!! Pergi !!!!"


Cindy mulai menjerit-jerit. Meronta, mencakar, membanting benda di dekatnya. Matanya mulai liar. Mendelik, memukuli dirinya sendiri. Mengacak rambutnya. Menangis sejadinya.


Aldo dengan sigap menahan tangan Cindy yang ingin memukul perutnya. Cindy meronta. Aldo yang berperawakan tinggi besar hampir terbanting tak kuasa menahan Cindy yang kesetanan.


Setelah seisi rumah mendekat dan membantu Aldo akhirnya Cindy terdiam lemas. Naas tubuhnya membiru, lebam di sana-sini. Ada juga beberapa bekas cakaran di tangan dan kaki. Untuk kesekian kali Cindy masuk rumah sakit.


Sungguh khamer atau minuman memabukkan adalah umul khabaits. Induk kejahatan.


Agama manapun juga tak memperkenankan hal yang merusak kewarasan otak dan menghancurkan kejernihan pikiran.


Sungguh NARKOBA atau minuman keras di larang karena banyak efek negatif di banding efek positifnya.


Seorang alim dan shaleh bahkan bisa melakukan semua dosa besar hanya karena khamer. Mencuri, memerkosa dan membunuh ibunya karena pengaruhnya. Di sampaikan dalam satu cerita. Wallahu 'alam bi sawab.


To be continue~

__ADS_1


__ADS_2