PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.28


__ADS_3

"So sweet, penganten anyar kemana-mana selalu mesra," goda Utari saat melihat Aldo datang membopong Cindy.


"Ri, tolong ambilkan air hangat plester dan obat merah ya," pinta Aldo tanpa menjawab Utari yang menyambut mereka dengan senyuman.


Utari bergidig ngeri, kelingking Cindy kukunya hampir copot dari pangkalnya. Ngilu membayangkan sakit yang dirasa.


Dengan berlari Utari mengambil yang diminta. Kembali secepatnya. Cindy duduk di kursi, matanya memandang pilu Ayu dan Yudistira. Mereka tersenyum sumringah. Bergandeng tangan mesra. Hatinya sakit bukan kepalang. Teriris menghujam kalbu.


Aldo membersihkan luka. Wajah Cindy datar, tak nampak sakit akibat luka itu. Matanya masih menatap mempelai. Sakit kaki tak sesakit hati. Air mata akhirnya tak dapat di tahan. Mengalir di ujung netra.


Sesak napasnya menahan sebak di dada. Air mata deras berubah menjadi isakan yang tertahan. Utari dan Aldo berpandangan. Mereka memaklumi bagaimana perasaan Cindy. Belum juga Yudistira terganti. Luka mantan gadis sampul berhijab lebar itu kian berdarah dan nanah.


"Jika ingin menangis, menangislah sekuatnya. Aku ada di sini menyediakan bahu untukmu bersandar. Jangan menahannya, Dy. Menangis sekencang-kencangnya jika itu bisa membuatmu baikan."


Aldo menghampiri dan memeluk kepala Cindy. Gadis berhijab itu bergetar hebat. Pertanda tangisan yang memilukan. Perlahan memeluk Aldo dan membiarkan bahu Aldo untuk tempat bersandar.


Utari berlalu pergi setelah sukses menyeka air mata yang tak ijin membanjiri pipinya. Ikut merasakan sakit hati Cindy. Lebih baik tak melihat daripada ikut berderai dan kian membuat Cindy senggukan.


Cindy merasa nyaman membenamkan wajahnya di dada Aldo. Merasa ada tempat bersandar.


"Maafkan aku, Dy. Semua salahku, jika aku tak berbuat buruk padamu malam itu, mungkin kamu bersanding dengan Yudistira di pelaminan. Maafkan aku," lirih Aldo dengan perasaan bersalah.


Cindy terhenyak. Bukan karena Aldo Yudis pergi, bukan pula karena Ayu. Yudis pergi setelah lelah membuatnya berubah. Yudis juga telah berusaha membuat Cindy menjadi gadis impiannya. Menjadi wanita yang pandai menjaga kehormatan diri.


Suratan takdir yang memisahkan Cindy dan Yudistira. Sebuah teguran pula yang menyatukan dengan hidupnya bersama Aldo.


"Bukan salahmu, Do. Jangan berkata begitu. Maafkan aku, seharusnya aku memikirkan juga perasaanmu. Tidak egois dan memikirkan diri sendiri. Maaf, belum bisa membalas cinta dan perhatian kamu."


"Jangan berusaha mencintai, berusahalah menerimaku, itu sudah cukup. Semoga kamu akan terbiasa dengan keberadaanku. Sehingga suatu hari akan merasa kehilangan jika aku tak ada, lalu jatuh cinta. In syaa Allah. Allah yang bisa menautkan hati kita nanti." Aldo menatap Cindy yang tersenyum dan menyeka air matanya.


"Jika kamu sudah siap kita temui kedua mempelai, janji tidak menangis di depan mereka. Jangan bebani hari bahagia mereka dengan air matamu."


Cindy mengangguk dan tersenyum. Aldo memakaikan sendal pemberian Utari. Tampak tenang dan sudah menguasai diri. Merapikan hijab dan menyapu air matanya.


"Ya Allah, Dy. Alhamdulillah, kalian bisa hadir di sini. Apa kabarmu?" Sambut Ayu saat melihat Cindy dan Aldo menghampiri.


"Alhamdulillah sehat, Yu. Selamat semoga samawa."


Hanya itu yang sanggup terucap. Kelu lidahnya mengucap kata yang lain. Sebisa mungkin menahan air mata di ujung netra.


Ayu memeluk Cindy.


"Maafkan aku, Dy. Allah telah menyatukan kami. Tak ada yang tahu suratan takdir. Semoga kita bahagia dengan pilihan dan takdir-Nya."


Ayu terharu. Bagaimana pun juga gadis mantan model itu adalah orang yang begitu berarti dalam hidup Yudis. Ayu tahu bagaimana sakit hati Cindy.


Cindy menatap tajam Yudis. Seolah berkata mengapa. 'Maafkan aku, Dy. Kita tak berjodoh. Namamu tak tertulis di buku catatan kehidupanku. Aku tak bisa mencintaimu sebesar cinta Aldo padamu. Alhamdulillah kau dapatkan cinta yang sempurna dari Aldo. Kita hanya bisa merangkai kisah tanpa bisa bersama. Terima kasih sudah mampir meski tak menjadi takdir. Dia yang terbaik. Bukan aku. Semoga kita dapat bahagia meski tanpa bersama. Meniti takdir yang berbeda.'


"Silahkan mencicipi hidangan alakadarnya, ibu hamil makan yang banyak ya, ingat! Kamu harus makan buat berdua." Yudis mencairkan suasana.


Aldo memeluk Yudis. Tersenyum.


"Semoga bahagia selalu, Dis," ujarnya.


"Aamiin, semoga kalian juga bahagia"


Cindy dan Aldo berlalu pergi, mereka menikmati hidangan pesta.


\*\*\*\*\*


Matahari sudah meninggi, tamu undangan tak kunjung surut. Meski jauh, kolega dan sahabat seprofesi Yudis, hadir dengan Antusias. Mereka datang seolah ingin refreshing dari kebisingan kota. Menjalani perjalanan yang menantang.


Tetangga dan handai taulan Ayu juga tak terlewat datang. Berbondong-bondong tiba dengan suka hati.


"Awas matamu itu, kang. Jangan melotot begitu. Ingat sudah punya istri dan anak," ketus Nia, istri Hadi.


Hadi terdiam. Fokusnya masih saja pada Ayu. Matanya kagum melihat wajah Ayu yang begitu cantik. Menyesal karena salah langkah memetik bunga sebelum waktunya. Nia hamil sebelum menikah. Kini sudah menjadi istri dan ibu anaknya.


Nia selalu cemburu pada Ayu. Bagaimana tidak, semua orang tahu jika Hadi masih juga menyimpan hati pada si bunga desa.


"Ya, Nia. Ayu sudah menikah, aku juga. Apa yang kau takutkan?" bisik Hadi.

__ADS_1


Nia bungkam, sebenarnya untuk apa cemburu pada Ayu. Dia sudah tahu kalau Hadi hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi, perhatian Hadi membuatnya emosi. Masih saja memperhatikan setiap gerak-gerik Ayu.


"Selamat, pak dokter, semoga langgeng selamanya," ujar Hadi menyalami.


"Ini istri dan anakmu ya, Hadi?"


"Ya, dok. Alhamdulillah sudah buntut satu," jawab Hadi tersenyum. Matanya tak lepas dari Ayu.


Yudis hanya nyengir saat kaki Hadi di injak istrinya. Hadi mengaduh dan beranjak pergi.


"Sudah aku katakan jangan melihat Ayu, awas kamu ya," ujar Nia geram.


"Aku kira kamu sudah menikah dengan Hadi dan punya anak, dulu dia mati-matian mengejar kamu," bisik Yudis menggoda istrinya.


"Dia sudah menikah sebelum saya lulus sekolah. Mereka MBA. Saya malah mengira kakak sudah menikah sama Cindy, eh malah diam-diam mencintai gadis gunung."


"Kata siapa menunggu kamu, malah kamu yang jatuh cinta pada pandangan pertama, ayo ngaku."


"Siapa yang memberi sepatu skets ya? Selalu memandang ke jendela tepat di depan jalan yang kulalui setiap hari. Selalu menghawatirkan si ANAK GUNUNG?"


Yudis nyengir, ya rasa itu telah ada jauh sebelum Yudis menyadarinya. Maaf terlambat untuk mengakui karena ego diri. Sehingga hampir kehilanganmu dan pergi ke pelaminan bersama Yoga Haditama.


"Dih, mengaku juga akhirnya," ledek Ayu.


Yudis mencubit gemas hidung istrinya.


"Maaf, pak dokter. Saatnya ganti baju. Ayu kita ganti baju dulu ya," tutur Bu Nur


Ayu menghampiri, Yudis menguntit di belakang.


"Ayu yang ganti pak dokter. Bukan semuanya, jika semua ganti baju lantas siapa yang akan menjamu tamu undangan yang datang?"


Yudis mesem. Ih, Bu Nur kok nggak peka. Sudah tak sabar melihat Ayu tanpa hijab. Ingin melihat rambut indahnya.


"Sabar dulu, pak dokter. Nanti malam juga tak ada yang ganggu," goda Bu Nur seraya pergi menyusul Ayu.


Dih, tahu aja si Ibu. Yudis menggaruk tak gatal. Mesem membayangkan cantiknya Ayu tanpa hijab.


"Maa syaa Allah, Dis. Itu Ayu ? Cantik dan begitu anggun. Kamu tak mengundang saat pertunangan, juga tak pernah mengajaknya jalan. Sekarang melihatnya, sungguh beruntung mendapatkan dia." ujar Gendis yang takjub saat Ayu datang menghampiri.


"Perkenalkan ini Ayu, istri Yudistira. Yu, ini sahabat satu profesi."


Ayu tersenyum dan rengkuh memberi hormat dengan menangkup tangan di dada.


"Assalamualaikum, Alhamdulillah. Terima kasih sudah hadir. Silahkan menikmati hidangan alakadarnya. Maaf seadanya,"


Semua mata menatap takjub akan indahnya paras Ayu. Juga terpesona pada wajah lembut nan santun dan suara lembutnya.


Nah loh, lu pada sudah terkesan pada pandangan pertama. Apalagi gua yang mengenalnya sudah lama.


Sahabat Yudis menikmati hidangan sederhana dengan lahap. Mereka menikmati makanan khas pedesaan.


"Mama Ayu!" suara gadis kecil memanggil.


"Sisil, kemari Nak!" Ayu merengkuh gadis kecil itu setelah mendekat. Memangku di dadanya.


Yudis melihat kesal atas kemesraan yang tercipta. Yoga mematung dengan sesak dada. Seandainya jika yang bersanding itu bukan Yudistira, melainkan dirinya. Sisil akan punya ibu pengganti yang begitu mencintai dan menyayanginya. Sayang, semua hanya angan.


"Pak Yoga! Apa kabar?"


"Alhamdulillah baik, Dok. Selamat menempuh hidup baru. Semoga bahagia selamanya."


Yudis dan yoga saling menatap tajam. Masih juga terasa aroma persaingan.


"Kapan menyusul? Jangan lupa undang kami, pak dosen."


"In syaa Allah. Nanti jika saya temukan gadis secantik dan sebaik Ayu lestari. Saya akan mengundang kalian." bisik yoga dengan merangkul Yudis.


Eitdah, masih juga memendam harapan ini orang. Cuy, lihat gue sudah mengantongi ijin bersamanya dunia akhirat. Lihat ada surat nikah dengan photo kami berdampingan.


Seolah hanya Ayu di dunia. Lupakan dia, Ayu hanya untuk gue seorang. Batin Yudistira.

__ADS_1


Yoga menatap Ayu. Perih hatinya melihat begitu cantik gadis yang hampir menjadi mempelainya. Sayang kita tak pernah bisa berjodoh. Selamat Ayu, semoga bahagia selalu.


Ayu menunduk. Ada luka yang di torehkan saat Yoga melempar pandangan. Bagaimana juga pria tampan nan gagah itu pernah membuat impian bersamanya. Menitip asa bersama bahagia bersama si kecil.


Wajah polos Sisil yang masih saja memanggil Mama, membuatnya teriris perih. Betapa pilunya menjadi piatu. Tak terbayangkan jika hidup tanpa ibu. Sedari kecil harus hidup tanpa kasih sayang.


Yoga juga harus susah payah membesarkan anak tanpa pendamping. Membuatnya harus ekstra kerja keras demi membagi waktu bekerja dan perhatian pada Cecilia.


"Sisil lapar ?" tanya yudis


Gadis kecil itu mengangguk.


"Pak dosen silahkan nikmati hidangan yang kami sajikan. Anaknya kasihan sudah lapar," usir Yudis halus.


Yoga mengerti kode. Langsung beranjak pergi dengan dongkol di hati.


"Kak, kalian itu kenapa sih ? Selalu saja tercium aroma persaingan jika bertemu, heran saya"


"Ah, perasaan kamu saja, kami ini memang lelaki tak bisa sok akrab kayak kaum perempuan."


Ayu diam. Entah mengapa meragukan jawaban Yudis. Ayu tahu Yoga belum bisa melupakan dirinya. Masih terjebak pada rasa yang sama. Yudis tahu itu dan terpantik rasa cemburu.


Terima kasih untuk cinta besar kalian pada gadis desa seperti aku. Padahal banyak di luar sana yang mengantri simpati. Jangan mencintaiku dengan berlebihan. Itu membuatku sesak.


Pak dosen semoga kamu bisa menemukan cinta sempurna pelengkap separuh imanmu, meski bukan aku.


Tamu undangan mulai surut. Matahari kian meredup. Jam di tangan menunjuk pukul empat sore. Ayu dan Yudis sudah bisa beristirahat setelah lelah seharian menjadi pajangan di pesta pernikahan.


"Aku kapok jadi pengantin, Yu. Cukup sekali menjadi manekin seumur hidupku. Ogah, di ulang lagi." Yudis nyengir merasakan pegal di tubuhnya.


"Emang ada niatan kakak jadi mempelai lagi, ya ?" goda Ayu merenggut.


"Aih, kucing manisku merajuk. Enggak, sayang. Cukup aku bersanding denganmu di pelaminan. Tak ada yang lain. Hanya wajah ini yang akan ku temui sepanjang hayat, bukan yang lain. Tangan ini yang akan kugenggam hingga akhir napas."


"Semoga semua nyata adanya, kak. Jangan bosan melihat wajah ini, meski nanti kakak melihat kerutan di sana-sini. Tak lelah kakak genggam erat tangan ini. Mungkin suatu hari sudah gemetar tiada tenaga. Kita bergandengan tangan selamanya. Aamiin ya rabbal alamiin"


Yudis memeluk istrinya dan mengecup puncak kepala. Tak perduli orang menelan ludah, iri akan kemesraan pengantin baru.


******


Malam kian larut. Pesta telah usai. Yudis menunggu Ayu mandi dan membersihkan diri. Tamu masih juga datang. Meski jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Yudis sebenarnya lelah. Tapi, tamu masih saja berdatangan, terpaksa bergantian menemui dengan Ayu.


"Kakak, mandi gih. Bau kecut." bisik Ayu di kuping Yudistira. Aroma segar shampoo dan sabun menyeruak ke hidung. Yudis dongkol. Ah, kapan ini waktu berdua dengan pengantinku.


"Mandiin ! Please" rajuknya.


"Dih, emang bayi. Gih habis ini kita makan bersama. Ini peralatan mandinya"


Yudis nyengir melihat Ayu bergidig dan tersipu malu. Bahagianya bisa menggoda istrinya.


Malam merambat. Yudis menyelesaikan shalat isya yang tertunda karena tamu. Ayu duduk di tepi ranjang dengan deg degan.


"Kok masih tak mau buka hijabnya, sayang. Aku ingin melihatmu tanpa penutup kepala. Boleh ?"


Ayu ketakutan saat Yudis mendekat. Tatapannya seumpama kucing pemangsa. Liar dan nakal.


Yudis tersenyum. Getaran halus terlihat di tangan, Ayu. Masih juga sama. Inilah yang membuatku kian jatuh cinta padamu. Polos, lugu dan benar-benar suci tanpa terjamah.


Yudis perlahan membuka hijab Ayu. Tampak rambut panjangnya tergerai indah. Ayu menunduk kian malu. Yudis memegang dagu istrinya. Cantik, wajahnya begitu lembut tanpa riasan.


"Kenapa ? Malu ? Kita sudah halal, jangan ketakutan gitu."


Ayu hanya menunduk. Yudis memeluknya erat.


"I love you, Ayu" bisik Yudis.


"I love you too, kak Yudistira."


Malam merayap. Suara orkes malam menemani rehat. Raga yang lelah akhirnya bisa rebah. Seiring detik waktu yang berdetak beraturan. Hanya decitan ranjang tua yang tahu apa yang terjadi malam itu. Dua insan dalam satu satu ikatan suci nan halal.


To be continue~

__ADS_1


__ADS_2