PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.6


__ADS_3

******


Emak sibuk mengaduk Nira yang mengental dan meletup-letup di atas wajan di perapian kayu bakar. Sedikit senyum tersungging di bibirnya. Setelah sekian lama Emak tak bisa tertawa. Kabar hari ini membuatnya lega.


"Pak, untung anak kita tidak menerima lamaran keluarga Hadi. Emak lihat sendiri kelakuan Hadi. Tadi mabuk dan di seret Pak Herman. Asalnya Emak kesal sama Ayu menolak Hadi. Mana kuping panas, tetangga mengatakan kita keluarga tak tahu di untung, menolak kebaikan keluarga Herman," ujarnya.


"Ya Mak, Ayu memang pandangannya ke depan. Kita hanya memikirkan kenyamanan ekonomi saja. Kita lupa bahwa agama seseorang itu lebih penting dari kriteria apapun. Bapak ngeri membayangkan Ayu bersuamikan orang pemabuk. Bukan tak mungkin Hadi juga doyan judi. Bapak dengar selentingan kalau Pak Herman juga sering judi.


Alhamdulillah, tidak kita titipkan pada keluarga yang salah. Diamnya Ayu dan ketabahannya mendengar segala caci maki Allah beri ganjaran. Tanpa menunggu waktu kita lihat Allah beri jawaban."


"Sekarang Ayunya ke mana Pak ?"


"Mahasiswa UNPAD datang hari ini, pasti membantu Pak RW menyambut kedatangan mereka."


"Mahasiswa kedokteran katanya, Pak. Seandainya Ayu punya suami seorang dokter kita pasti bahagia. Derajat kita tak lagi di anggap hina ya, Pak."


"Kenapa tidak? Jodohnya presiden juga bisa, Mak. Tak ada yang tak mungkin. Semoga kelak Ayu akan berjodoh dengan seseorang yang bernasab baik, berakhlak baik dan berparas rupawan. Aamiin."


"Aamiin,pak. "


Napas lega di embuskan kedua orang tua Ayu, ternyata langkah mereka menolak pinangan adalah benar. Meski, sakit hati atas gunjingan dan kata-kata tak enak di dengar belakangan di tujukan pada keluarga. Hari ini, Allah bukakan mata mereka atas kelakuan bejad sang calon mantu dan keluarganya. Mereka yang mencibir kini juga bungkam seribu bahasa.


\*


Rombongan mahasiswa kedokteran itu mengular. Ada kurang lebih sepuluh kendaraan datang pagi itu. Bagi orang kampung, kehadirannya bagaikan sebuah tontonan istimewa. Anak kecil berlari mengekor di belakang rombongan mobil. Mereka terlalu senang dengan banyaknya kendaraan yang datang.


Cuaca sangat bersahabat. Langit sangat cerah. Padahal seminggu hujan tak henti mengguyur belakangan. Matahari seolah riang mengucap selamat datang. Menyambut kawanan pasukan mahasiswa dari Bandung.


Yudistira tampak berjalan memasuki bale desa. Seluruh warga terpesona dengan penampilannya. Menjadi fokus perhatian. Orang yang paling keren di antara semua pasukan yang datang.


Ayu yang membantu di sana sekilas melihat Yudistira. Sungguh Ayu terpesona dengannya. Makhluk ini berbeda dengan yang lainnya. Paling tampan dan berkharisma. Astaghfirullah, ternyata aku normal juga, bisa merasakan ketertarikan pada lawan jenis. Apalagi makhluk Tuhan ini Allah berikan kesempurnaan penciptaan. Ayu senyum sendiri.


Yudistira mengedar pandangan. Mengapa tak menemukan gadis putih abu di antara kerumunan warga. Tak susah mencarinya. Hanya dia yang menggunakan penutup kepala di kampung ini. Tapi, mengapa tak kelihatan batang hidungnya. Entah mengapa begitu terpesona dan penasaran. Padahal tak sekalipun melihat seperti apa rupa gadis itu.


Ayu memang bertugas di belakang. Segera pergi pamit pulang setelah tugas selesai. Tak mau kampungan menyambut mahasiswa seperti menyambut dewa.


"Lu celingukan nyari apa, Dis?" suara Utari mengagetkannya.


"Enggak, hanya sedikit heran dengan sambutan meriah mereka pada kita. Serasa jadi artis"


"Hooh, sayang red carpet nggak di gelar ya," tukas Yudha.


"Inilah penghormatan orang desa pada tamu. Kalau di kota mah tamu itu tak banyak di hargai. Kearipan lokalnya di sini masih di junjung tinggi. Kalian akan kagum dengan warga sini."


Husna si alim dan pendiam angkat suara. Hijaber satu-satunya dalam pasukan. Yudis kadang alergi dengan penampilannya yang berbeda. Baju gombrong dan hijab lebar menjadi identitasnya. Penampilan seperti gadis putih abu. Ih, kenapa selalu menggangu. Sungguh ingin tahu rupa gadis itu.


Semua barang bawaan sudah di keluarkan. Mobil sudah pergi, meninggalkan mahasiswa yang harus bersahabat dengan alam dan meninggalkan kehidupan dengan pasilitas nyaman di kota. Mereka harus bersahabat dengan kesederhanaan di sini.


\*


Matahari masih enggan menampakan pendar cahayanya. Kabut menyelimuti pagi. Rintik hujan jatuh perlahan. Hujan mengguyur sedari sore berhenti di penghujung malam. Kemudian rintik mengganti hingga kini tiada henti.


Lereng pegunungan di selimuti kabut tebal. Udara dingin seakan membuat tubuh membeku. Sebagian besar orang sudah terjaga hendak memulai aktivitas. Bagi yang malas selimut masih rapat menutup tubuhnya.

__ADS_1


Yudistira tengah berolah raga pagi. Kawannya ada yang masih terlelap. Sebagian sudah melaksanakan shalat dan memasak. Hari ini tugasnya belanja keperluan ke kota.


Dari jauh tampak seorang gadis putih abu berjalan tertatih. Dengan tas punggung di tutup kantong kresek hitam besar. Di tangannya ada tentengan kantong kresek juga. Tangan yang satu lagi menyingkap rok panjang sehingga tidak mengganggunya berjalan.


Ya Allah, berjalan di tengah koral yang belum juga di sulap jadi aspal dengan tanpa alas kaki. Heran, apa sepatunya lebih berharga daripada kakinya. Katanya hampir tiga tahun pembangunan jalan itu terbengkalai.


"Kagum?"


Tanya Utari yang mengagetkan. Yudis tersenyum.


"Gadis putih abu itu namanya Ayu lestari. Putrinya pak Rahmat. Rumahnya persis di sebelah rumah Pak RW. Kamu akan tambah berdecak kagum atas perjuangannya untuk bisa bersekolah."


"Maksudnya?" tanya Yudis tanpa menoleh. Matanya asyik melihat si putih abu yang tengah berjalan di hadapannya. Seolah tak ingin kehilangan jejak.


"Ayu sampai harus mogok makan untuk meluluhkan hati orang tuanya. Hanya dia yang bersekolah ke kota dari kampung ini."


"Maa syaa Allah. Sampai segitunya."


Yudistira tidak bisa membayangkan jika berada di posisi Ayu. Dia kadang melalaikan segala tugas karena enggan. Sekolah dan kuliah ogah-ogahan padahal segala kemudahan dan fasilitas telah tersedia.


"Gua kalah sama ANAK GUNUNG. Hebat. Lu tahu dari mana ?" tanya Yudistira


"Nur sahabat Ayu yang cerita. Aku kagum dari pertama kali melihatnya. Jadi, kemarin bertanya pada Nur tentang gadis putih abu."


"Gua ngobrol mulu jatahnya belanja. Gua cabut ya Tari"


Yudis bergegas masuk. Tugas memanggilnya. Bukan itu sebenarnya. Ingin melihat wajah gadis gunung itu dari dekat. Penasaran seperti apa rupa gadis luar biasa. Yudistira segera menyusulnya.


\*


Langkah Ayu tak bisa di percepat. Tanah yang licin menghambat perjalanan. Turunan tajam dalam rintik hujan menambah licin tanah merah. Salah langkah maka akan jatuh terguling ke jurang kiri dan kanan.


"Aduh ...." pekiknya


Ayu merintih menahan sakit. Jari kelingking kaki terluka. Darahnya memang tak seberapa. Sakitnya luar biasa. Kukunya hampir copot separuh. Langkahnya tertatih. Untung anak sungai sudah di hadapannya.


Ayu membersihkan kakinya. Memijit keras supaya sedikit mengurangi ngilu. Entah kali ke berapa dia mengalaminya.


Sepasang mata melihat dengan kasihan. Tahu benar rasa sakit yang di derita gadis di hadapannya. Tidak pakai sepatu, sih. Sepatu lebih berharga dari pada kakinya.


"Jangan pakai kaos kaki dulu, " cegahnya.


Ayu menoleh sumber suara. Deg. Desir halus hinggap di hatinya. Makhluk ganteng yang di kagumi dari pandangan pertama itu, kini di hadapannya, mengulurkan gunting kuku dan plester.


"Terima kasih, Kak."


Rona merah di wajah membersamai tangan Ayu menerima pemberian Yudistira.


"Gunting dulu kuku yang hampir copot itu! lalu pasang plesternya."


Yudis menatap intens wajah Ayu. Lumayan cantik. Kulitnya agak hitam tapi manis. Ada rasa nyaman melihat wajah itu. Wajahnya teduh dan menentramkan. Akhirnya bisa melihat dari dekat wajah yang membuatnya penasaran.


"Terima kasih. Ini gunting kukunya."

__ADS_1


Ayu mengulurkannya dengan menundukkan wajah. Ah hati, kenapa dag dig dug begini. Mahkluk di hadapannya memang super keren. Berperawakan tinggi dengan kulit putih mulus. Mengukir senyum yang teramat manis.


Tubuh tinggi atletis disertai kulit putih bersih dan hidung mancung yang menarik bibir membentuk senyum menawan itu membius sang perawan.


Ayu memakai kaos kaki dan sepatu pantofel kesayangannya. Merapikan pakaian dan kerudung. Penampilan yang lumayan acak-acakan. Membuatnya harus merapikan letak kerudung yang tak beraturan.


"Kenapa tidak memakai alas kaki? Sudah tahu batu koral tajam sepanjang jalan besar, selesai itu turunan tajam tanah merah yang licin."


Ayu hanya tersenyum mendengar pertanyaan lelaki berkaus biru dan celana jeans dihadapan. Pertanyaan yang aneh. Orang kampung sudah biasa melepas alas kaki jika musim penghujan ketika musim hujan tiba saat perjalanan menuju kota.


"Kalau pake sendal jepit sehari pakai langsung putus, Kak. Sepatu seminggu bisa bertahan. Peraturan sekolah saya tak boleh memakai sepatu sport kecuali jika pelajaran olahraga. Saya tak cukup banyak uang jika harus selalu mengganti sepatu tiap Minggu."


Jawaban Ayu menonjok ulu hati Yudis. Perjuangan meraih ilmu yang tak mudah. Kenapa dirinya yang di manja segala fasilitas malah ogah. Malu dengan ANAK GUNUNG.


"Saya pamit duluan. Terima kasih plesternya."


Ayu pergi meninggalkan Yudis sendiri. Masih terpana dengan kegigihan gadis di hadapannya. Yudis jadi ngilu melihat langkah Ayu yang sedikit pincang. Pasti perih kukunya. Memakai kaos kaki dan sepatu kulit akan membuat luka itu kian parah.


\*


Pagi itu Ayu mendapatkan angkutan kota dengan mudah. Alhamdulillah tidak akan mendapatkan hukuman upacara kali ini, bisik hatinya.


Sepuluh menit kemudian mobil mulai berjalan perlahan. Kemacetan mengular panjang. Sisi satu jalan tampak lengang.


"Ada mobil terguling di depan, Kang "


Sopir angkot dari arah lain memberi tahu alasan kemacetan.


Ya Allah, kena lagi hukuman. Dasar nasib. Ayu mulai tertunduk lesu. Kakinya terasa cenut-cenut. Kepalanya juga berdenyut. Membayangkan hukuman yang akan menghadang. Jika di tambah hukuman pasti luka kian parah.


Hampir empat puluh lima menit berlalu. Kini mobil bisa berjalan dengan normal. Sebuah truk derek berhasil menyingkirkan truk yang melintang.


Ayu bisa melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah. Senyum sedikit terkembang di wajahnya. Alhamdulillah ternyata tak sendiri. Ada puluhan siswa bernasib sama. Mereka tak di perkenankan masuk ke dalam sekolah karena kesiangan. Tertahan di depan gerbang. Ayu turun dan menyebrang.


"Ayu kesiangan juga?" sapa Eva menyambut dengan senyuman.


"Orang Subang pasti habis mudik ya?"


"Ya, siap-siap jadi bebek kita." Suara tawa kecil terdengar.


"Saya hampir setiap hari jadi bebek. Sudah capek. Sekarang tumben banyakan."


Krek ... Suara kang Ismail membuka kunci gerbang.


"Ayo bebek kesayangan. Cepat masuk! jalan biasa. Sampai lapangan jongkok dan lakukan seperti biasa." suaranya menahan tawa. Terbayangkan olehnya suara bebek membahana.


Pasukan bebek masuk lapangan upacara. Tatapan mesem anggota pasukan upacara menjadi tawa tertahan setelah suara pak Abdurrahman Ali memerintahkan bebek berjalan lima putaran dengan suara wek-wek di bibir mereka.


Kaki Ayu yang luka tambah sakit rasanya. Lima putaran di lapangan luas sangat menyiksa. Pasukan upacara yang lain sudah bubar dan meninggalkan lapangan. Sisanya tinggal pasukan bebek berjemur siap menerima pidato panjang lebar Pak Ali.


Mereka menundukkan kepala. Entah karena malu atau kepanasan dan silau terkena sinar matahari yang mulai tinggi menerpa mata mereka.


Ayu tertatih masuk kelas bersama Eva dengan kaki pincang. Luka kelingkingnya mungkin kini mulai berdarah lagi. Andai saja Emak mengijinkan untuk kost atau mondok. Ah, tak mungkin mau melepas gadisnya jauh dari dekapan mereka.

__ADS_1


To be continue~


__ADS_2