
Hasil ujian Ayu sungguh memuaskan. Nilainya yang terbaik di antara semua murid. Bahkan juara umum dalam satu kabupaten. Semua sekolah favorit menerima dengan terbuka. Madrasah tetap jadi pilihan. Meski tak keren tapi Ayu tahu jika madrasah memberinya nilai lebih. Tak hanya tahu pengetahuan umum juga bekal pendidikan agama.
Hari ini Ayu pergi sekolah dengan seragam putih Abu. Wajahnya sumringah. Senyum di kulum di bibirnya. Alhamdulillah akhirnya bisa memakai baju seragam impian.
Wajah Ayu kian teduh. Auranya terpancar. Setiap orang yang memandang akan merasakan tenang. Senyum selalu tersungging di bibirnya. Sapa lembut dan santun tak lepas dari lisannya.
Setiap orang tua yang memiliki anak bujang akan tertawan untuk meminang. Para pemuda bukan enggan tapi segan. Mereka tak ada yang mau menjamah dan mengusik Ayu. Ayu seumpama mawar berduri di tepian jurang. Tidak punya nyali besar maka akan hilang harapan untuk memetik dan menggenggam.
Hujan rintik tak menyurutkan semangat Ayu. Dengan senyum melangkah. Turunan tajam dengan tepian jurang kiri dan kanan bukan halangan.
Empat puluh lima menit kemudian Ayu sampai di jalan raya. Jam di tangan menunjukkan waktu pukul 06.00 WIB. Lama menanti angkot selalu sarat penumpang. Beginilah nasib jika tinggal di daerah yang minim kendaraan dengan penumpang yang berjibun. Kalah dengan penumpang yang terdekat ke kota.
"Assalamualaikum, Ayu ?" Seorang pemuda dengan dandanan norak ala kota menghampiri Ayu dengan motor bebek kesayangannya.
Ayu menyebutnya norak karena tidak sesuai dengan adat istiadat setempat. Baju compang camping dengan sobekan sana-sini. Rambut bercat warna merah merona. Kumal. Memasang muka ingin di perhatikan. Lumayan tampan. Bisik hatinya ketika melihat dari dekat.
"Waalaikumus salam."
Ayu menjawab dengan menunduk. Takut ingin tertawa dengan potongan rambut seperti ayam ketawa kesayangannya. Si Rintit, Ayu menyebutnya. Bulunya jegrak ke atas tampak lucu jika di pandang. Sama dengan potongan rambut Hadi. Jegrak karena jel di rambutnya plus warna merah menyala.
"Mobilnya penuh terus, ya? boleh aku antar?" Hadi menawarkan jasa.
"Tidak,vterima kasih. Alhamdulillah sudah ada angkot yang lewat. Kosong lagi. Terima kasih atas penawarannya," jawab Ayu sembari tersenyum.
Busyet senyuman itu sungguh manis. Desir hati Hadi tertawan si empunya lesung pipi. Ayu masuk angkutan kota. Meninggalkan sang pemuda yang terpana.
Gadis manis itu membuat debar tak karuan di dada. Pelangi dengan warna-warni menghiasi dinding hati. Membuat dunia begitu indah bagi Hadi.
Hadi menonjok gemas motor kesayangan. Ah ... gagal kali ini. Usahaku tak sampai sini, Yu. Aku akan mengejar dan mendapatkanmu.
Bermodal kekayaan orang tua, andalan Hadi untuk memikat sang pujaan. Terlebih orang tua Ayu yang akan bangga mendapatkan menantu yang beruang.
\*
Ayu membuka buku kesayangannya. Entah mengapa sedari dulu selalu asyik dengan lembaran kertas penuh tulisan itu. Menunggu rasanya tak sia-sia jika di pakai untuk membaca. Angkot berjalan dengan kecepatan sedang. Alunan suara musik pop Sunda mengalun lembut.
Kota Sumedang. Kota kecil dengan alam dan sejarah budaya yang mempesona. Kelokan tajam dengan tebing curam menjadi saksi perjuangan sejarah bangsa. Kebesaran nama Pangeran Kornel saat berjuang melawan penjajahan Belanda di tandai patung sejarah yang gagah menjulang.
Kota tempat pengasingan Cut nyak Dien hingga wafat dan di makamkan. Tempat tahu melegenda dan sang ubi naik tahta.
"Kiri Pak," pinta Ayu pada sopir.
Gadis berkulit coklat agak menghitam itu, turun di sebuah gerbang sekolah. Suasana hiruk pikuk, senyum kembali tersungging. Teringat seminggu yang lalu saat MOS. Sangat lelah tapi mengesankan.
Ayu memakai pakaian putih biru dengan tambahan pin dari permen di dada layaknya sebuah tanda jasa kemiliteran. Topi kerucut dari koran juga menghias kepala.
Terlihat konyol. Namun, sungguh itu kelak akan jadi kenangan. Perkenalan guru dan lingkungan sekolah juga organisasi membuat acara MOS kian berarti.
"Assalamualaikum, Ayu ?"
"Eva ...?"
Ayu membalas sapaan sahabatnya. Mata mereka terbelalak lebar. Bagai mimpi berjumpa dengan teman masa kecil di satu sekolah yang sama. Bertahun sudah tak berjumpa.
"Maa Syaa Allah. Sekolah di sini juga?"
"Ya, saya mondok di dekat alun-alun sana. Senangnya akhirnya bertemu lagi. Bagaimana kabar keluargamu?"
"Alhamdulillah sehat semua. Qadarullah bisa bersua lagi. Serasa mimpi,Va."
Mereka berpelukan. Hampir enam tahun Eva pindah ke Subang. Kini bertemu di satu sekolah yang sama. Sungguh bahagia.
Senyum Ayu kian mengembang. Kini tak sendiri lagi. Ada orang yang di kenalnya lama dalam sekolah barunya.
__ADS_1
Mereka melangkah dengan pasti menuju satu ruangan yang menjadi kelasnya.
\*
Semilir angin menerpa wajah Ayu. Sebuah pohon rindang yang tumbuh di tanjakan selalu menjadi tempat rehat baginya. Pohon besar mengangkasa. Akarnya mengular menjadikannya kian perkasa. Kokoh berdiri di tengah tanjakan yang setiap hari di lalui.
Jika duduk di bawahnya dan menyapukan pandangan. Nampak jalan setapak berkelok. Hamparan persawahan menghijau nun jauh di sana. Samar suara kendaraan akan menghias telinga. Kokohnya Jalan cadas pangeran akan indah mengusik mata. Deretan kendaraan mengular akan terlihat begitu kecil di bawah sana.
Ayu kembali duduk dan asyik dengan buku bacaannya. Seteguk air minum bekal melewati tenggorokan. Cuaca memang begitu terik. Waktu menunjukkan pukul dua sore itu. Tapi, kemarau sedang melanda. Berasa tengah hari rasanya.
"Ehmm ... boleh aku temani, Ayu?"
Suara deheman seseorang membuat Ayu terlonjak. Air minum di tangan menerobos masuk ke hidungnya. Perih terasa hidung dan tenggorokan.
"Hadi!"
"Ya, ini aku, apa kamu kira syetan penunggu pohon beringin," jawabnya sembari duduk di samping Ayu.
Astaghfirullah. Mahluk konyol ini lagi. Setelah tadi pagi tak berhasil menggoda. Siangnya menghadang di perjalanan.
"Kemana motormu? Kenapa ada di sini?"
"Hai cantik, ini jalan setapak buat umum apa tak boleh aku lewat sini. Mana bisa motor kesayangan juga aku bawa. Kenapa ingin naik motorku?"
Glek. Ayu menelan ludahnya sendiri. Kepedean nih orang. Mentang-mentang hanya dirinya yang punya motor se kampung.
"Bukan itu, hanya kamu tak pernah kemanapun tanpa motormu jadi aku bertanya."
"Aku menunggu kamu" senyum kuda di perlihatkan.
"Aku?"
Ayu tambah ingin tertawa lebar melihat gaya pemuda norak itu. Wajahnya memang tampan. Hanya saja gayanya yang terbawa orang kota membuat Ayu terpingkal.
"Dih senangnya bertemu aku ya. Senyum sendiri."
"Siapa yang senyum, ih"
Gadis berpeluh berputih abu itu malu saat Hadi tahu bibirnya menahan tawa. Segera berdiri dan memulai melangkah lagi.
"Woi ... jangan pergi dulu dong! kita ngobrol santai dulu di sini."
Jadi terlonjak melihat mangsanya malah berlalu tanpa menoleh lagi.
Ayu tetap berjalan. Hadi menguntit dan memperhatikan Ayu berjalan.
"Tidak gerah dengan jilbabnya, Yu?"
"Alhamdulillah, nggak. Ini nyaman bagi saya."
Langkah Ayu kian cepat. Risih ada yang mengikuti. Ingin beranjak pergi.
"Padahal kamu terlihat lebih cantik tanpa penutup kepala."
Hadi mengimbangi seakan berlari. Heran dengan langkah Ayu yang begitu cepat. Susah mengikuti, seakan mengejar burung puyuh yang takut dimangsa. Kalah langkah karena terbiasa naik kendaraan roda dua.
"Kata siapa? Pernah kamu melihat saya tanpa jilbab?"
"Dalam bayanganku."
"Astaghfirullah ... " Ayu istighfar. Sarap ini orang.
Ayu mempercepat langkah. Tak ingin meladeni lagi ucapan orang di belakangnya.
__ADS_1
"Ternyata kalau orang sekolah itu di ajarkan untuk sombong pada orang lain, ya," ucap Hadi yang omongannya tak di respon mulai kesal.
Langkah Ayu terhenti. Membalikan tubuhnya. Matanya membulat sempurna. Ayu marah.
"Bukan di ajarkan sombong tapi di ajarkan untuk tidak banyak bicara tanpa makna. Tidak bicara berdua dengan lawan jenis tanpa mahram. Juga tidak berimajinasi tinggi tanpa arti. Maaf saya permisi."
Ayu meninggalkan Hadi dan mempercepat langkahnya. Hadi tampak kaget dengan jawaban Ayu. Galak benar ternyata gadis ini. Padahal selalu tersenyum pada siapapun. Selalu ramah dan menjadi gadis yang sangat santun. Tak dinyana jika marah mengalahkan letupan kawah candradimuka.
Dalam hati getaran rasa cinta kian meraja rela. Sungguh gadis yang berbeda. Tadi di sebut cantik bukan senang malah ngamuk. Hadeuh.
"Kalau tidak boleh bicara berdua kita bicara bersama satu meja, aku akan datang sepasukan melamar," teriak Hadi.
Ayu tak menggubris kini malah berjalan kian kencang, setengah berlari. Padahal di tanjakan sangat curam. Nafasnya tersengal. Ya Allah, semoga hanya ucapan semata. Usia Hadi juga masih belasan. Tapi, jika di kampung anak laki-laki juga banyak yang sudah menikah. Ayu sampai rumah dengan terengah-engah.
\*
Mentari telah pulang ke peraduannya. Hari menjadi gelap. Binatang malam kini menjadi aktor utama. Suara kodok di kolam dekat rumah bersahutan dengan jangkrik yang tak kalah eksis. Gemericik air kian membuat syahdu malam.
Ayu menikmati santapan malam sederhana. Hanya sepiring nasi, tempe goreng, ikan asin, lalap serta sambel. Mereka berlima tampak menikmati hidangan yang ada.
Menggelar tikar pandan di dapur. Perapian masih menyala. Letupan air nira tampak begitu mendidih belum lagi kental menjadi gula. Sudah berjam lamanya di atas tungku kayu bakar.
"Ayu, kalau lulus sekolah nanti dan tidak kuliah. Ada yang datang melamar bagaimana? Apa ayu mau kiranya menerima."
Tangan Ayu tengah menyuapkan nasi terhenti. Perasaanya tidak enak. Ayu kehilangan nafsu makan seketika. Tanya bapak mengusik jiwanya.
"Ayu baru sekolah seminggu lebih, Pak. Urusan masa depan Ayu belum memikirkannya. Ayu ingin sekolah sekarang. Ingin memanfaatkan waktu yang ada dengan sebaik baiknya," ucapnya pelan. Bayangan si rambut ayam ketawa melintas di benaknya. Apa gara-gara dia?
Bapak menarik nafas panjang. Harus bagaimana ini? Lamaran keluarga Hadi datang tadi siang. Sekedar berbincang di surau tapi keseriusannya tak di ragukan.
Siapa yang tak kenal dengan Pak Herman. Bos kios di kota dengan serius ingin menjadikan mantu putrinya. Lamaran bagus. Masa depan Ayu sudah tentu cemerlang. Hadi anak semata wayangnya mengatakan ingin meminang. Mau menunggu meski tiga tahun lagi. Malah dengan senang hati membiayai sekolah Ayu. Penawaran langka. Sayang jika di lewatkan
Bapak sudah tahu pasti jawaban Ayu. Tapi, menolak keluarga Hadi seolah membuang emas dalam genggaman. Enggan.
"Kalau tunangan sembari sekolah nggak apa -apa kan Yu?" ujar Emak.
"Apa !!!"
Ayu kaget dengan apa yang di dengarnya. Bukankah beberapa waktu lalu dengan lantang Emak bilang, "kalau Ayu terdengar punya pacar harus berhenti sekolah dan menikah."
"Ya Allah, Mak, belum lama Ayu dengar larangan pacaran dan harus keluar sekolah jika malakukannya. Sekarang Emak malah pengen Ayu tunangan. Ada apa Mak, Bapak?"
"Keluarga Pak Herman ingin melamarmu. Hadi berhasrat memperistri kamu. Mereka tak akan melarangmu untuk sekolah, bahkan katanya ingin membantu biayanya. Jika nanti keluar sekolah kalian bisa segera menikah."
Ternyata benar gara-gara rambut Ayam ketawa. Ayu menghela nafas panjang.
"Tiga tahun itu bukan waktu yang sebentar. Bagaimana jika di tengah jalan keluarga Hadi mengajak menikah. Bapak sudah menerima kebaikan mereka dengan membiayai sekolah? Apa bisa menolak mereka? Kita akan terpaksa mengiyakan karena merasa mereka menyimpan jasa. Nasib Ayu akan sama seperti yang lainnya. Menjadi anak putus sekolah karena menikah."
Kedua orang tua Ayu terdiam. Membenarkan semua ucapan putrinya.
"Apakah yakin Hadi jodoh Ayu? Bagaimana jika tidak? Kelak akan ada ucapan tak enak dari mereka pada keluarga kita. Apa keluarga kita sangat tidak mampu sampai harus menerima bantuan dari mereka dana pendidikan?"
Emak yang biasanya selalu santer berbicara seumpama petasan mercon tahun baru, kini hanya menunduk.
"Bukankah kita memilih pasangan hidup harus karena nasabnya, mal atau hartanya, dien atau agamanya. Nasab atau keturunan Hadi memang baik, ekonominya bagus itu jaminan nyaman masa depan, tapi agamanya sangat di ragukan. Akan ada seseorang yang datang dengan akhlak baik, dari keluarga yang baik serta bekal harta yang cukup untuk hidup Ayu suatu hari nanti. Bukan sekarang. Sekarang Ayu ingin menimba ilmu bukan jadi menantu."
Bapak memeluk putrinya. Usianya baru 15 tahun tapi sungguh berbeda dengan pemikiran anak seusianya. Wawasan dan pemikirannya luas. Benarlah jika dewasa tidak tergantung dari pada usia.
"Kejarlah harapan dan cita -cita Ayu, setidaknya sampai SMA jika kuliah Bapak belum tentu ada biaya. Ayu juga punya adik yang semakin hari semakin besar dan butuh biaya pendidikan. Mungkin setelah lulus SMA nanti harus mengalah."
Bapak mengelus rambut panjang putrinya yang tak berhijab kala di rumah.
Ayu tersenyum. Terima kasih, Pak. Jangan biarkan bunga mawarmu layu sebelum berkembang. Biarkan tetap ranum dan harum menghias rumah ini. Bukan di petik dan di jadikan hiasan di jambangan orang.
__ADS_1
To be continue~