
Tak ada yang sempurna di dunia. Kebahagiaan tak hakiki karena hidup tak di syurga. Tak ada kesedihan yang abadi, karena tak menjadi penghuni neraka.
Wajah berbinar itu sekejap redup. Setelah semua tamu pulang, Bapak memberi Ayu sebuah paper bag. Yoga si pemberi telah pergi. Enggan melihat wajah bahagia Ayu. Tanpa kata melenggang membawa luka.
Yoga datang ke rumah. Memberi paper bag dan pamit pulang pada keluarga Ayu. Berlalu tanpa menanyakan jawaban. Tak perlu, nggak usah. Toh, netranya menjadi saksi bisu sebuah jawaban.
Raut bahagia Ayu saat menerima sebuket bunga dan cincin adalah jawaban yang telah ditetapkan. Bukan dia yang jadi pilihan, tapi dokter muda nan tampan yang mengisi ruang hampa dalam jiwa orang yang dicintainya.
Yoga sadar telah kalah. Lebih baik pergi menghindar. Berharap kelak dapat penawar. Seseorang yang bisa mengukir senyum di lengkung wajahnya. Mengisi ruang hampa untuk putri tercinta. Semoga.
Perlahan Ayu membuka, sebuah kotak perhiasan, apik, cantik dan klasik. Kotak bludru yang warnanya sudah memudar. Isinya satu set perhiasan lengkap. Giwang, gelang, kalung,dan sepasang cincin indah dengan inisal nama Ayu dan yoga. Sebuah surat juga terdapat di dalamnya.
Dengan tangan gemetar Ayu surat. Deretan hurup terlihat begitu tak rapi. Si penulis tergesa menggoyangkan pena. Ada beberapa kertas yang terlihat bekas air menggenang. Ayu yakin membandingkan dengan kertas lain yang masih mulus. Ayu tahu itu mungkin berasal dari tetesan air mata kecewa si empunya surat.
'Maaf, Pak. Aku menoreh luka. Membuatmu kecewa. Semoga kamu bisa memaafkan diri ini yang hina.'
Assalamu'alaikum
Teruntuk melatiku
Aku datang dari jauh hendak mencari dan menagih janji jawaban hati. Tanpa perlu bersua dan bertatap muka. Netraku sudah mendapatkan jawaban.
Tanganmu sudah menerima sebentuk cincin, bukan dariku. Dia yang sudah kau terima. Dia ... kisah usang yang tertunda. Buket bunga juga sudah kau dekap di dada. Bukan milikku. Tapi ... dia.
Dengan nyata aku simpulkan jika dia adalah pilihanmu. Aku mundur dengan hancur, kubiarkan harapanku terkubur. Biarlah, aku harus pergi karena tak guna lagi menanti. Maaf, jadi penyusup di antara kisah kalian. Seharusnya aku tahu jika kepingan dalam dadamu bukan milikku. Tapi, dia. Yudistira Hadi Wijaya.
Usaikan kisah dengan sepucuk undangan di tangan. Aku akan bersamamu nanti di pelaminan, meski sebatas tamu undangan.
Selamat, aku turut berbahagia. Aku sertakan satu set perhiasan, jangan menolak. Itu peninggalan almarhum istriku. Cincinnya aku pesan dan baru. Inisial nama A dan Y. Bukan Yoga dan Ayu, tapi Yudis dan Ayu.
Tolong jangan kembalikan. Simpanlah! Sebagai bukti pernah ada Yoga Haditama yang hampir bersanding denganmu di pelaminan. Mungkin bagimu tak berarti. Namun, bagiku itulah simbol hati yang telah aku serahkan padamu, Ayu.
Selamat berbahagia. Semoga cinta kalian abadi selamanya. Hingga nanti ke Jannah-Nya. Aamiin.
Wassalam
Yoga Haditama.
Surat itu tanpa terasa sudah basah. Air mata mengalir tiada henti. Ayu tahu benar sakitnya perpisahan dan harapan yang kandas. Lima tahun lalu, luka tak berdarah. Saat di tinggal yoga bersama Cindy.
Maaf, Yoga. Hatiku hanya satu. Itu juga telah kuberikan pada Yudistira. Jika saja hatiku sepotong roti, maka akan ku sobek dan bagi rata untukmu dan Yudistira.
Ayu menghabiskan malam dengan isakan. Hatinya bahagia di satu sisi, juga hancur di sisi yang lain, saat tahu, ada air mata di atas tawanya.
\*\*\*\*\*
Ayu termangu menatap pantulan bayangannya di cermin. Bingung, apa harus berangkat. Enggan berdua lagi dengan Yudistira. Membawa adiknya sebagai teman juga bukan solusi.
Ayu harus pergi ke rumah sakit. Yudis menjemputnya. Papa Yudis masuk rumah sakit sepulang Yudis mengantar Ayu. Itu alasan Yudis tak datang. Untungnya tak terlambat. Ayu belum di pinang Yoga.
"Ayu, Nak Yudis sudah datang. Ayo cepat berangkat." Panggil Emak.
Yudis tak masuk. Menunggu di halaman. Ayu menghampiri dengan ragu.
"Ayu ajak Ratna, ya, Kak," ucapnya lirih.
"Lah, kan sudah di bahas. Kita bukan mau jalan-jalan. Kita pergi ke rumah sakit. Nggak boleh bawa anak di bawah usia dua belas tahun."
"Kalian kok belum berangkat, sana cepetan nanti pulangnya kemalaman. Apa ayu mau nginap lagi di sana?" teriak Emak.
Nginap. OMG. Tidak !Ayu ngacir masuk mobil. Segera masuk tanpa di minta.
"Ayu berangkat, Mak. Assalamu'alaikum."
"Ya, Nak. Hati-hati"
Yudis tertawa. Tumben masuk tanpa di paksa. Jok depan pula. Tidak jadi supir pribadi lagi.
"Alhamdulillah, akhirnya bisa berdua. Pensiun jadi supir pribadi. Gini dong, duduk di depan. Jangan duduk di belakang mulu. Orang ganteng dan kece kayak saya hanya pantas jadi supir hati bukan sopir pribadi, jihaa," ledeknya pada Ayu.
Dih, gombalan basi. Ya Allah, kok di depan sih. Emak nih, jadi nggak konsentrasi. Salah posisi harusnya jok belakang.
__ADS_1
"Nggak baca buku kebalik lagi, aku pengen denger, baca yang kenceng."
Ayu merona, lagi Yudis mempercundangi. Tak lelah membuat Ayu terlihat bodoh. Ayu hanya diam, sesekali menata jantungnya yang berdegup kencang.
Yudis mencuri pandang. Tambah manis. Jika saja pakaian kamu lebih bagus maka aura cantikmu kian terpancar. Yudis melihat baju Ayu yang begitu sederhana. Berbahan katun dengan desain jauh dari kata modern. Baju jahitan Emak. Sang tailor kebanggaan desa.
Jahitan memang rapi, tak kalah dengan desainer ternama. Hanya bahannya begitu murah. Ya, keluarga mereka jarang membeli tapi membuat sendiri. Lebih ekonomis.
Yudis mengelus dada, tak pernah membayangkan jika ada di posisi Ayu. Hidupnya begitu sempurna. Sejak kecil di asuh dengan harta. Tak pernah susah buat makan. Tak perlu galau memikirkan biaya sekolah. Namun, sekolah ogah-ogahan. Baginya bangku sekolah hanya rutinitas untuk eksistensi.
Mencari popularitas. Beruntung punya IQ di atas rata-rata. Hanya sekali membaca atau mendengar pelajaran maka dengan mudah masuk kepala. Nilai akademik selalu unggul meski sekolah tak pernah menjadi prioritas.
Salut buat kamu Ayu. Tak sia-sia belajar susah payah demi ijazah SMA. Sekarang hasil belajar sudah berguna membantu sesama. Mengajar sebagai guru honorer.
Banyak yang bergelar sarjana, tapi ogah turun ke lapangan mengabdikan diri demi sebuah gensi. Tak sudi terjun ke masyarakat karena profesi tak sesuai dengan ekspektasi.
Ayu seolah tahu jika Yudis tengah memperhatikan. Menoleh. Mereka beradu pandang. Getar rasa yang sama mempersatukan mereka.
Ayu menunduk. Mengapa memilih gadis desa seperti aku, kak. Ada banyak perempuan di kolong langit ini. Mengapa memilih gadis desa yang jauh berbeda denganmu segalanya. Kenapa juga hati ini hanya mencintai kamu. Seorang yang seratus delapan puluh derajat terbalik dengan kondisiku. Seolah lupa aku siapa dan kamu siapa.
Kita umpama langit dan bumi. Ada ruang udara yang jadi pemisah. Akankah kita bisa dipersatukan. Semoga.
\*\*\*\*\*
Lorong rumah sakit sangat Ramai. Hilir mudik pasien masuk dan keluar. Pembesuk beramai-ramai masuk. Ini waktunya besuk.
Ayu berjalan berjauhan dengan Yudis. Gemas, Yudis ingin sekedar menggandeng tangan. Gagal. Ayu melenggang dengan kencang.
"Mau ke mana?" tanya Yudis.
"Naik tangga," ujar Ayu polos.
"Ya Allah, Papa di lantai sembilan, Sayang. Kita punya lift. Naik tangga kalau sakit kaki bagaimana?"
Sayang. Aduh, mengapa gombalan keluar lagi. Panggil nama sudah cukup. Hati ayu rasanya melompat dari posisi.
"Nggak akan, Ayu biasa jalan naik bukit kok. Mungkin kakak yang pingsan" jawab Ayu tak kalah.
"Mau coba? Saya mengambil sendiri bunga edelweis yang kamu dekap di dada saat melamar dulu. Masih ragu jika kaki ini sangat kuat?"
Yudis tertawa. Liar benar merpati putihku. Susah menyentuh ragamu meski menggenggam hati dan jiwamu.
Mereka berdesakan. Lift penuh dengan pengunjung rumah sakit. Tanpa sengaja tubuh Ayu merapat dengan dada Yudis. Ayu dapat mendengar detak jantung kekasihnya.
Yudis terdiam. Mencoba melindungi Ayu yang hampir terjepit dengan tubuhnya.
Lift terbuka. Ayu terdorong dan hampir terjatuh. Yudis mendekap tubuh Ayu yang limbung. Sesaat mereka berpelukan.
Ayu mendorong tubuh Yudis kasar. Wajahnya merona. Panas dingin sekujur badan. Astaghfirullah. Ayu berjalan tergesa meninggalkan Yudis yang mematung. Akhirnya dapat pelukan juga walau kecelakaan.
"Ayu tunggu," teriaknya.
"Yudis!" panggil seorang gadis
"Cindy?" Yudis kaget melihat mantan kekasihnya di hadapan.
Cindy tersenyum tanpa ba bi bu memeluk dan mencium pipi kanan kiri. Yudis mematung. Kaget. Mendorong kasar Cindy.
"Maaf, Dy, saya ada keperluan lain," ujarnya seraya berlari mengejar Ayu yang melihat Yudis di peluk cium Cindy.
"Gawat. Bisa manyun satu tahun ini. Kenapa harus bertemu Cindy di saat seperti ini."
Dasar lelaki. Kenapa tidak menolak malah menikmati. Huh, dasar. Ayu kian cepat melangkah. Kesal, marah dan benci melihat Yudis di peluk dan sosor sang mantan.
"Mau ke mana?"
Yudis memegang tangan Ayu yang hendak berlari. Menghentikan langkahnya.
"Mau ke kamar Om Hadiwijaya. Ke mana lagi?"
"Ruangan Papa sudah terlewat. Marah? Cemburu? Mau juga di peluk dan cium seperti Cindy tadi?" Yudis merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Mata Ayu mendelik. Bodoh! Siapa yang mau. Aku ingin nanti jika sudah halal bukan sekarang. Nanti akan aku beri semua bukan saat ini.
"Kita sudah sampai, ayo masuk!" Yudis membuka pintu kamar perawatan.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam, " jawab Om Wijaya dan suara seorang perempuan dari dalam.
"Ayu! Alhamdulillah. Akhirnya datang juga. Papa menunggu dari tadi. Silahkan masuk, Nak."
Papa, ucapan itu mengagetkan Ayu dan perempuan yang tengah bersama Om Wijaya.
"Papa? Ini siapa, Dis?"
Perempuan berbaju longdres warna marun dengan dandanan menor membelalakan mata. Tak salah sang kakak menyebut dirinya papa pada gadis kumal yang baru tiba bersama ponakan?
"Calon istri Yudis, calon mantuku, " jawab Om Wijaya.
"Hah! ini?" pekiknya dengan kaget.
Gadis kuno dan berpenampilan kampungan ini calon Yudis. Siska menatap Ayu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bapak sama anak seleranya rendah.
Dulu Suci, Mama Yudis juga gadis desa dengan penampilan sederhana. Kampungan, norak dan tidak stylish. Kini menular pada putranya. Memilih calon istripun tak becus.
Apa istimewanya gadis ini. Dokter bodoh. Deretan gadis mantan Yudis berkelas semua, tak pernah Kang Jaya memperkenalkan sebagai calon istri putranya. Sekarang gadis desa ini dengan lantang di sebut calon mantu.
"Ini Ayu lestari, Tante. Insyaa Allah segera mungkin kami bertunangan. Menunggu papa baikan," ujar Yudis yang lebih menegaskan siapa Ayu.
Yudis jengah, marah. Melihat tatapan Siska yang seolah merendahkan kekasihnya. Jangan pandang tampilan, Tante. Lihat kemampuan. Tante akan bungkam jika lihat kualitas Ayu yang sebenarnya.
Ayu mengulur tangan mengajak salaman. Dengan sinis Sisca menepis tangan itu. Tak sudi punya calon ponakan yang tak berkualitas. Om Wijaya mendelik. Yudis menggeleng. Ayu hanya termangu. Merasa tak nyaman.
"Aku pulang, Kang. Nanti aku jenguk lagi besok. Dis, tolong kamu pakai kaca mata. Mungkin matamu ada masalah. Tante pergi, jaga Papamu baik-baik."
Sisca bicara seraya melirik Ayu. Astaghfirullah. Ayu istigfar. Ini sudah pasti akan di temui. Baru sedikit sudah menoreh perih. Mungkin akan ada banyak cibiran atas statusku. Sabarkan, tabahkan, kuatkan ya, Rabb. Ayu menarik nafas. Dada serasa sesak
Siska pergi. Mereka sejenak. Hening.
"Maafkan Tante, Yu."
Ayu hanya mengangguk. Berusaha bersikap biasa padahal sungguh perbuatan dan perkataan perempuan paruh baya tadi membuatnya luka.
"Dis, ajak Ayu untuk melihat galeri lukis kita, sebelum opening. Ayu harus tahu tempat bersejarah itu. Kalau suruh mampir ke rumah Sepertinya Ayu ogah. Tak jauh ini. Nanti ajak sehabis pulang dari sini." Om Wijaya mencairkan suasana.
Yudis mengangguk. Ingin rasanya memeluk dan menenangkan Ayu yang tak nyaman. Sabar, sayang. Tak penting pandangan orang lain. Cukup Papa mendukung kita. Aku sanggup menantang dunia yang mencibir hubungan kita.
Ayu menjadi pendiam. Di sadari atau tidak sikap Siska membuatnya tertekan. Sungguh kejadian itu sudah ada dalam bayangan. Namun, ketika benar terjadi. Sakit luar biasa.
Manusia bukankah setara di hadapan sang pencipta. Tapi, harta, tahta, dan jabatan selalu jadi takaran derajat di mata manusia.
\*\*\*\*\*
"Ini adalah galeri seni lukis milik keluarga kami. Semua kenangan papa di simpan di sini. Sedari remaja, menikah, berdinas dan pensiun semua tergambar di sini. Memuat koleksi pelukis terkenal dan beberapa karya Papa sendiri. In syaa Allah, sepuluh hari lagi akan opening."
Ayu tak berkomentar. Matanya asyik di manjakan koleksi lukisan dari berbagai aliran. Ayu tak mengerti hal ihwal seni lukis. Tapi, anteng menikmati indahnya karya dari goresan tinta di atas kanvas.
"Papa mengundang kalian untuk menghadiri. Datanglah sekeluarga. Sekalian tasyakuran papa pulang dari rumah Sakit. Pak Agus nanti menjemput. Kalian harus datang di moment istimewa Papa."
"Apakah kami harus hadir ? Kami tak memahami seni lukis. Nanti malah mengganggu," jawab Ayu
"Kalian bagian istimewa keluarga kami. Sudah tentu harus hadir. Kalian special guest pada acara ini. Oh, ya, tolong baca ini. Semua mencakup sejarah tentang galeri dan cerita di balik koleksi. Pelajari! Nanti tolong bantu menjamu tamu. Mungkin mereka akan banyak bertanya. Kamu pasti bisa kan, Yu?"
Ayu terdiam. Bingung. Takut dengan pandangan orang terhadap statusnya. Perlakuan Sisca membuatnya merasa rendah diri.
Ayolah ANAK GUNUNG, tunjukan keberanianmu. Mengapa harus menghindar, hadapi apapun dengan tegar dan percaya diri. Lari menghindar bukan solusi.
Saatnya tunjukan kemampuan. Jangan minder karena status sosial. Toh, Tuhan menciptakan manusia dengan derajat yang sama. Tamu yang hadir mungkin orang berkelas, tapi Ayu lestari juga punya kualitas.
"In Syaa Allah, kami akan datang."
Yudis tersenyum, buku panduan galeri di serahkan. Ayu menggenggam dengan satu keyakinan, jika dia akan tampil dengan berani menghadapi apapun dan siapapun. Mungkin cibiran akan datang tapi Ayu tak pernah takut.
__ADS_1
Aku akan tunjukan jika gadis desa juga berharkat dan bermartabat. Punya kualitas meski terlahir dalam keterbatasan ekonomi dan Fasilitas.
To be continue~.