PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.2


__ADS_3

Hujan kian deras mengguyur, semua anak murid SD malah kian asyik dengan berlarian kian kemari. Hujan adalah kebahagiaan mereka, keceriaan, dan dunia indah mereka. Seluncuran diantara tanah basah dan becek lebih asyik dari seluncuran salju milik negeri empat musim.


Mereka tertawa dan saling berkejaran dalam bahagia dan berteriak riang. Tidak bagi Ayu lestari. Air mata yang bercampur kucuran air hujan membuatnya kian bungkam. Hanya sesekali terdengar senggukan.


Perjalanan pulang bukan perjalanan yang mudah dengan jalan aspal dan kendaraan yang selalu sedia untuk mengantar. Jalan setapak dengan tanah merah yang licin ketika hujan tiba. Menjadi debu yang menganggu hidung dan mata adalah pemandangan biasa ketika kemarau tiba.


Pohon dan semak belukar mengapit jalan setapak yang kadang di lalui ular berbisa atau **** hutan. Tak ada satu orang tua pun yang mengantarkan, meski anak mereka baru kelas satu SD. Mereka menjadi pribadi mandiri meski usia belia. Orang tua mereka terlalu sibuk dengan sawah dan ladang tanpa punya waktu mengantar sekolah.


Hanya hari pertama sekolah jadi ceremony penting untuk mengantar ke bangku sekolah. Selanjutnya mereka akan pergi dan pulang tanpa di antar. Itulah warga desa yang mendidik anak kecil juga tak pandai merengek tapi pandai mandiri sedari kecil.


Waktu tempuh 45 menit yang seharusnya untuk sampai di rumah tapi telat hari ini bagi Ayu. Gadis berkulit coklat bahkan cenderung hitam karena paparan sang mentari itu membiarkan hujan dengan deras mengguyur tubuhnya. Berharap semoga akan mendinginkan pikirannya.


Masih terngiang jelas asa Bu Tias agar dirinya bisa menjadi srikandi yang menggapai mimpi dengan bersekolah tinggi. Sayang hanya sebatas mimpi dan tak mungkin terjadi.


Diseret langkah yang kian goyah. Asa dan impian membuat isak kian menjadi. Rinai dipipi menganak sungai bersama derasnya pasukan langit yang seolah mengerti kecamuk perasaannya.


"Ya Allah, Ayu, kamu ini kenapa hujan- hujanan? Tuh liat! Badanmu sampai membiru, sana mandi dan simpan tasnya.! suara Emak menyambut kedatangan. Perempuan berbadan ceking dengan garis wajah penuh perjuangan itu jengkel. Suaranya mengalahkan suara guntur yang sedari tadi saling bersahutan beserta kilatnya.


Tangan Emak mengulur handuk dan mengambil kantong kresek berisi pakaian dan tas Ayu. Emak segera membuka dan menyimpannya.


Ayu mandi di pancuran di samping rumah. Pancuran itu selain sebagai tempat mencuci pakaian dan mandi juga sebagai pengairan kolam ikan milik keluarganya. Ayu tak kebasahan air hujan lagi. Pancuran itu tertutup, di buat seperti rumah kecil sederhana, dengan atap dan dinding anyaman bambu di samping kanan kirinya.


Dalam balutan handuk yang menutup raganya, Ayu duduk bersama Bapak dengan berdempetan di depan tungku perapian. Tangannya yang membiru dan keriput terasa hangat ketika di dekatkan dengan api yang menyala- nyala. Sebuah kuali besar berisi air nira di atas tungku tampak mendidih. Meletup dengan kepulan asap yang membumbung tinggi. Bapak adalah seorang pembuat gula aren. Pemandangan ini adalah hal biasa.


Hening. Hanya suara rintik pasukan langit samar terdengar di atap seng. Bersahutan dengan letupan air nira yang hampir mengental. Siap diaduk menjadi gula aren.


Bapak mengecilkan api takut air nira itu menjadi gosong.


"Mulai besok Ayu nggak mau berangkat sekolah lagi," ucap Ayu pelan tapi Bapak masih bisa mendengar dengan jelas.


"Kenapa, Neng?" tanya bapak keheranan.


"Ih, si teteh mah malu-maluin, masa nggak punya ijazah. Teteh itu juara umum tiap tahun masa putus sekolah? Malu sama orang atuh." Nia adik ayu berkomentar.


"Buat apa sekolah, Nia? Untuk menjadi seorang babu atau penjaga toko cukup bisa baca tulis dan hitung saja bukan ijazah. Sekolah itu mahal, kasihan Bapak harus capek mencari uang. Kalau teteh nggak sekolah. Teteh bisa mencari uang buat jajan Nia dan adek." jawab Ayu dengan tatapan kosong. Menatap api yang seolah membakar seluruh harapan dan asanya akan masa depan.


Bapak menarik napas berat. Beban di dada menghimpit. Lelaki berbaju hitam khas pasundan itu menghentikan tangannya yang tengah mengaduk nira di atas perapian.


"Kamu harus sekolah, Neng, sebentar lagi ujian. Minimal punya ijazah, nak. Nggak ketinggalan zaman. Betul kata Nia, masa anak pintar sampai nggak punya Ijazah SD. Besok sekolah lagi ya, sayang," bujuknya lembut.


"Nggak Pak, Ayu nggak akan sekolah lagi. Ayu ingin sekolah ke SMP juga Bapak bilang nggak usah. Buat apa sekolah. Jadi Ayu tak harus menunggu sampai lulus ujian. Mulai besok Bapak akan lihat Ayu akan membantu pekerjaan rumah dan sawah Bapak. Biar Nia yang sekolah. Ayu malah ingin bekerja dan bisa membuat Nia sekolah tanpa merepotkan Bapak sama Emak lagi. Insyaallah Ayu ingin melihat Nia bersekolah yang tinggi."


"Ayu mah selalu gitu, mulai lagi pengen sekolah yang tinggi. Padahal lihat Emak nggak punya ijazah juga pandai mengurus keluarga. Anak - anak tidak terlantar. Sudah Yu jangan terus bicara tentang sekolah. Apa tidak capek." Emak bicara sembari menggendong Ratih adek Ayu yang lain yang berusia balita. Si mungil itu menangis dalam pelukan.


"Makanya, Ayu bilang mulai besok Ayu akan berhenti sekolah, Mak," jawab Ayu sembari berjalan menuju kamarnya. Membanting tubuhnya ke ranjang besi. Terdengar suara decitan dari ranjang tua itu. Untung saja tidak rubuh. Ayu membenamkan wajahnya di bantal dan memeluk guling. Hanya bantal dan guling yang mengerti perasaannya selama ini.


Bapak menghela nafas. Sebenarnya sangat ingin melihat Ayu sekolah yang tinggi tapi untuk apa? Ayu hanya anak perempuan yang kodratnya hanya mengurus rumah, anak dan suami. Yang penting Ayu harus pandai masak, mencuci itu cukup untuk bekal hidupnya.

__ADS_1


\*\*\*\*\*


Seminggu sudah Ayu tak bersekolah. hanya membantu pekerjaan rumah, mengurus adiknya serta pergi ke ladang dan sawah. Anak sekecil itu sudah bekerja seperti orang dewasa meski dengan tenaga lemahnya. Tanpa keluh kesah. Hatinya sudah mencoba menerima kodrat diri tanpa tapi lagi. Harapan dan asa tentang masa depan telah di bungkam dan di kubur beserta hujan dalam tangis siang itu.


"Assalamu'alaikum ... ?" suara tamu siang itu mengganggu konsentrasi Bapak yang tengah mengasuh Ratih.


"Wa'alaikum salam" tergopoh membuka pintu dengan lebar.


"Ohh, Bu guru. Silahkan masuk, Bu," jawab Bapak pada tamunya.


Bu Tias, tamu siang itu masuk. Duduk di kursi rotan sembari mengedar pandangan mencari sesuatu. Kemana anak itu. Pikirnya.


"Maaf, Bu guru ada keperluan apa datang kemari?" tanya Bapak basa-basi. Padahal tahu benar apa maksud kedatangan guru Anaknya.


"Pak, maaf saya menggangu. Saya bisa bertemu dengan Ayu? Sudah seminggu Ayu tidak masuk sekolah. Saya tanya pada teman-temannya. Ayu mau berhenti sekolah. Saya hanya ingin bertemu dan bertanya langsung padanya."


Raut wajah Bapak seketika di selimuti mendung. Perihal Ayu yang tak mau sekolah selalu jadi beban pikirannya. Berulang membujuk Ayu tetap menolak sekolah lagi. Bapak sampai bingung di buatnya.


"Assalamu'alaikum." suara Ayu yang datang membuat Bu Tias sangat girang. Alhamdulillah akhirnya yang di carinya datang.


"Wa'alaikum salam. Neng, Bu guru datang. Duduk sini," ucap Bapak melambai tangan. Sebagai kode Ayu untuk mendekat.


Mata Ayu membulat sempurna melihat kehadiran guru kesayangannya. Dengan enggan Ayu mendekat. Langkah kakinya diseret paksa. Baju Ayu penuh lumpur yang kini telah mengering. Seharian membantu mamangnya menandur padi di sawah. Wajahnya pun penuh lumpur.


Bu Tias hampir saja menangis melihat murid kesayangannya seperti itu. Gadis pintar sang juara kelas bukan berjibaku dengan buku tapi tanah becek di sawah.


Ayu duduk dengan kikuk. Tak nyaman dengan pandangan Bu Tias yang terlihat nanar.


Ayu menggigit bibir bawahnya. Melirik bapak yang mengangguk pelan. Kode agar Ayu menjawab pertanyaan.


"Ya, Bu guru. Ayu sudah memutuskan untuk tidak sekolah lagi. Ayu mau membantu Emak sama Bapak saja." Ayu menjawab tanpa menatap wajah gurunya.


Bu Tias berusaha menahan linangan air mata yang hampir lolos dari ujung netranya. Hatinya hancur mendengar jawaban murid kebanggaan.


"Bukannya Ayu mau menjadi guru? Kalau Ayu tak sekolah, bagaimana bisa jadi guru?"


"Ayu tidak akan jadi guru, Bu, masa ada seorang guru lulusan SD. Kata Bapak Ayu hanya boleh sekolah sampai SD saja. Jadi lebih baik Ayu tak usah sekolah mulai dari sekarang."


Bu Tias menatap tajam Bapak. Geram mendengar jawaban Ayu. Orang tua ternyata penyebab Ayu mogok sekolah.


"Pak, mohon maaf sebelumnya. Kenapa Ayu tak boleh melanjutkan sekolahnya?" Bu Tias menatap tajam pada Bapak yang menunduk. Jawaban Ayu bak belati yang menancap di hati. Melukai.


"Ayu itu hanya seorang perempuan, Bu, cukup bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ayu sudah pintar itu. Perempuan itu sekolah setinggi apapun kodratnya hanya di rumah. Saya juga tak punya biaya buat Ayu sekolah." jawab Bapak.


Bu Tias menarik nafas panjang. Rasanya sesak di dada jika selalu mendengar alasan yang sama dari bibir orang-orang desa. Entah kapan pemahaman mereka bisa berubah.


"Pak, mohon maaf jika saya lancang. Bukan menggurui, apa bapak percaya Allah sang maha pengatur rejeki?"

__ADS_1


" Ya tentu, Bu guru. Apa hubungannya dengan sekolah Ayu?"


"Ketika Bapak mempunyai anak satu apa rejeki bapa segitu? Lantas bertambah lagi anak yang lainnya juga Allah tetap mencukupi. Jangan takut tak bisa membiayai. Allah telah menjamin rejeki setiap makhluk di bumi ini. Bukankah seekor burung yang meninggalkan sarangnya di pagi hari dalam keadaan lapar tak pernah Allah biarkan pulang ke sarang dalam keadaan lapar. Kenapa? Karena Allah telah menjamin rejekinya asal mau menjemputnya. Tidak hanya diam dalam sarang. Tak usah ragu akan jaminan rejeki Allah."


Bapak terdiam.


"Jika karena Ayu seorang perempuan, maka apakah tak boleh perempuan juga memperoleh pendidikan? Perempuan adalah tiang negara. Bagaimana bisa jadi penyangga jika perempuan itu bodoh dan tak berpendidikan. Jika ibunya pintar maka akan menghasilkan generasi yang berkualitas dan menjadi generasi cemerlang di masa yang akan datang.


Ibu adalah madrasah pertama bagi anak -anaknya. Maka, apa jadinya jika ibu seorang anak Pandir. Jangan harapkan generasi yang di hasilkan akan menjadi generasi penuh harapan." suara Bu Tias gemetar.


Pengalaman berjuang demi pendidikan memang menyesakkan. Bukan kata orang. Dulu pernah mengalami sendiri. Bukan karena alasan ekonomi tapi mendobrak tradisi itu yang membuatnya harus memutar otak menjelaskan pada orang tuanya.


Bapak diam seribu bahasa.


"Apa Bapak tahu apa yang di lakukan Ayu di sekolah? Jika kawannya bermain, Ayu hanya akan menulis atau membaca. Ini hasil tulisan Ayu. Bu Tias memberikan setumpuk kertas pada Bapak. Tolong Bapak baca! ini harapan dan impian Ayu. Semoga menjadi bahan pertimbangan. Maaf, jika saya lancang mengganggu. Saya tak bisa berlama - lama. Saya harus pamit Pak."


Bu Tias berdiri dan segera pamit pulang.


Bapak dan Ayu mengantar di ambang pintu. Bu Tias memeluk Ayu, tak perduli bajunya harus kotor terkena lumpur di badan dan pakaian Ayu. Rasanya ingin menjerit kencang saat melihat bocah itu harus kehilangan masa depan. Aset negara harus sirna karena pemahaman keliru orang tua. Kapan negara ini bisa maju, jika pemikiran selalu mundur teratur.


"Seharusnya bukan lumpur di bajumu Nak, harusnya noda tinta ketika kau belajar. Bukan bau tanah tapi bau buku di tanganmu," gumamnya.


"Ibu tunggu kamu di sekolah besok ya, Nak," Bu Tias pamit mengucap salam dan pergi dengan setetes air mata menemani.


Ayu hanya diam. Tak ada lagi air mata. Hanya luka jiwanya yang kian menganga.


"Ayu pokoknya nggak mau sekolah lagi, pak, Ayu tak mau jadi beban Bapak lagi. Ayu janji akan rajin menabung. Nanti jika Nia ingin sekolah ke SMP tabungan Ayu sudah banyak. Bapak jangan memikirkan biaya sekolah Nia. Ayu mau mandi dulu ya, Pak."


Ayu meninggalkan Bapak yang harga dirinya terkoyak. Tuhan, anakku bahkan telah jauh memikirkan masa depan adiknya. Tetapi, aku malah merancang menikahkannya di usia belia setelah datang lamaran pada keluarga. Aib besar jika usia bertambah tapi tak ada lamaran tiba.


Kamu bukan beban Bapak, Sayang. Kewajiban setiap orang tua mencukupi kebutuhan sandang pangan dan papanmu. Maaf, Bapak membuatmu berpikir demikian. Bapak meremas gemas setumpuk tulisan Ayu di kertas polio itu.


\*\*\*\*\*\*


Jam sudah menunjukkan waktu 07. 30 WIB. Semua murid sudah masuk kelas. Semua sudah membaca do'a dan bersiap mendengarkan penjelasan pelajaran sejarah Indonesia pagi itu.


Bu Tias menghela nafas. Bangku di depannya sudah sepuluh hari ini kosong. Sia-sia ternyata datang ke rumah Ayu. Ayu tetap pada pendiriannya. Padahal selalu rindu dengan lantangnya gadis kecil itu bertanya tentang pelajaran sekolah atau menjawab pertanyaan darinya.


"Assalamu'alaikum." suara Ayu di ambang pintu


"Wa'alaikum salam," jawab serentak penghuni kelas.


"Ayu? Maa sya Allah. Masuk Nak! Alhamdulillah." suara bahagia Bu Tias menyambut Ayu yang malu-malu datang dengan terlambat.


"Ayu boleh masuk, Bu?" tanyanya dengan tersipu.


"Tentu saja. Ayo masuk dan kita belajar lagi. Masuklah, seminggu lagi kita ujian. Hari ini kita belajar simulasi ujian, agar hasil ujian kalian memuaskan" Bu Tias menuntun tangan Ayu dan mempersilakan duduk di bangkunya.

__ADS_1


Terima kasih, Ya Allah. Semoga ini awal dari hari bahagia Ayu dalam meniti asa dan harapan di masa depan. Pinta seorang pahlawan tanpa tanda jasa. Semoga saja semua harapannya menjadi nyata. Bukan hanya untuk Ayu seorang. Tetapi, untuk setiap anak didiknya.


To be continue~


__ADS_2