
Hawa dingin menusuk kulit. Suhu udara pegunungan memang lebih rendah beberapa derajat Celcius di banding daerah lainnya. Di saat orang menarik selimut rapat ke tubuhnya, Ayu terjaga. Lingkaran di dinding menunjuk angka dua.
Ayu tersenyum melihat wajah Yudis yang begitu polos ketika terlelap. Tangannya menyapu lembut wajah yang kini telah halal baginya. Anak rambut yang menghalang mata di singkirkan. Mata yang tajam dengan bulu lentik menghiasi. Menggoda tangan Ayu sekedar mengelus lembut.
Yudis menggeliat. Ayu pura pura menutup mata. Aih, seperti bayi. Lucu. Kalau terjaga mengapa begitu menyebalkan dan pandai menggoda.
Ayu berlalu setelah menutup rapat selimut di raga suaminya. Membersihkan diri dan menghadap sang pencipta. Bersujud menghamba pada Tuhannya.
Larut dalam sujud dalam dan lama. Rembesan air bening perlahan jatuh. Terbayang perjalanan kisah indah yang hanya mampu gadis gunung itu rangkai dalam mimpi, hari ini menjadi nyata dan penuh bahagia. Maka nikmat mana lagi yang harus didustakannya.
"Nggak ngajak beli tiket ke surga sama-sama?"
Suara Yudis di kuping mengagetkan Ayu yang tengah tengadah. Lilitan tangan kekarnya membelit pinggang. Sehingga susah pergerakan. Hembusan napasnya yang panas di pipi membuatnya merona merah.
"Kakak kecapean mana tega Ayu bangunkan. Di sini dingin, Kak, ini masih jam tiga malam. Nanti kalau shalat wajib Ayu bangunkan."
"Shalat wajib kakak harus ke mesjid, berjamaah di sana. Tapi, kalau shalat sunah bisa bersamamu, sayang."
Kembali kecupan mendarat di pucuk kepala Ayu.
"Besok Ayu janji akan bangunkan kakak untuk shalat tahajud. Ayu janji."
Ayu tersenyum melihat bayi besarnya rebahan di pangkuannya. Masih juga merasa mimpi jika Yudistira Hadi Wijaya telah sah menjadi suaminya.
Dalam mimpi serta nyata semoga langgeng selamanya.
\*\*\*\*\*
Tungku perapian sudah menyala sejak pukul empat pagi. Ayu cekatan menghangatkan sisa makanan kenduri semalam. Nasi sudah tanak dan siap di angkat.
Yudistira dan bapak sudah kembali ke rumah setelah shalat subuh berjamaah. Bapak dan seluruh anggota keluarga seolah di komando meninggalkan dua sejoli di depan perapian. Mereka membiarkan keduanya asyik dalam dunia barunya.
"Wah apinya mati, tenang aku bisa nyalain Yu, santai saja."
Yudis berlagak bak pahlawan. Menggulung kemeja panjangnya serta memasang muka siap perang dan menerjang. Sabit melengkung indah di sudut bibir Ayu. Lucu.
Yudis mengambil potongan bambu panjang khusus untuk menyalakan api tungku. Di desa di sebut song-song. Meniup benda itu dengan sekuat tenaga. Bukan api yang menyala. Abu pembakaran kayu bakar beterbangan kemana-mana. Wajah, rambut dan tubuh Yudis memutih penuh abu semua.
Ayu terpingkal. Penampakan suaminya ibarat ubi Cilembu yang di bakar di benamkan di abu panas perapian. Tebal dengan abu. Membuat wajah tampan sang suami tampak lucu.
"Aih, bahagia melihatku menderita. Toge kamu." Yudis cemberut.
"Kakak lucu, pengen lihat seperti apa muka kamu?"
Ayu memberi cermin kecil yang tersimpan di meja. Yudis melotot, tak percaya. Wajah tampannya hilang sudah. Hanya wajah penuh abu yang nampak di sana. Seketika tawanya renyah. Lucu sendiri.
Ayu terharu melihatnya. Maaf kamu harus menikmati kesederhanaan kami. Harus sejenak meninggalkan fasilitas mewah di rumah megah. Menghabiskan malam di ranjang reyot dan tua. Menikmati hidangan alakadarnya. Tinggal di gubuk kami.
"Lah, kok, masam benar wajahmu, kenapa, Sayang?"
"Kita pulang saja ke Bandung besok ya, kak," ajak Ayu.
"Nggak ah, masih betah di sini."
"Kakak tak bohong kan?"
"Kenapa bohong, ini rumahmu dan sudah menjadi rumahku juga. Tak perduli di manapun juga, aku betah. Asal ada kamu bersamaku." Yudis menatap Ayu.
"Ayu kasihan melihat kakak, di sini hanya tidur di ranjang besi tua, makan seadanya. Kalau di Bandung kakak terbiasa di manjakan fasilitas mewah. Maaf."
"Sttttt ... Kamu itu ngomong apa, sayang. Saya sudah terbiasa hidup di tempat seperti apapun. Tidur hanya beralaskan tikar dan langit sebagai atap juga biasa. Bukan hal yang pertamakali. Jangan selalu merasa rendah begitu." Yudis memeluk istrinya. Ayu terisak.
Hidup dalam rumah tangga yang tak sekufu memang kadang sulit. Ada saja cibiran dan ucapan sumir orang. Semoga dengan cinta maka akan dengan mudah menghadapi semuanya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*
Seminggu berlalu. Yudis dan Ayu kembali ke Bandung. Pagi buta mobil mereka sudah membelah keramaian kota. Yudis melirik manja sang istri. Tangannya sesekali memegang tangan Ayu. Senangnya Yudis, si kucing galak sekarang jadi sangat penurut. Ayu malah membalas genggaman tangan Yudistira.
"Sudah jinak kucing galakku sekarang. Alhamdulillah. Coba dari dulu manis seperti ini. Dulu mah kayak singa buas. Serem," goda Yudis
"Sekarang sudah halal, Kak. Makanya singanya menjadi kucing manis. Kakak juga tidak seseram makhluk pemangsa." jawab Ayu tersipu.
Yudis malah jadi kangen galaknya Ayu saat dia mencoba mendekati dan mengambil kesempatan.
"Alhamdulillah sudah sampai, Kak," ujar Ayu saat mobil masuk pekarangan rumah.
Mak Inah sang asisten keluarga datang menyambut. Tersenyum lebar bersama pak Agus suaminya. Om Wijaya tampak juga tengah duduk di kursi rotan kesayangannya.
"Assalamu'alaikum," ujar Ayu dan Yudis kompak mengucap salam.
"Wa'alaikum salam," jawab semua.
"Bagaimana perjalanan kalian?"
"Alhamdulillah, melelahkan tapi menyenangkan, Pah" jawab Ayu.
"Selamat datang, Ayu. Jangan lagi sungkan. Ini sekarang jadi rumahmu. Maka jangan pernah berlaku sebagai tamu. Semoga kamu betah, Nak" sambut Om Wijaya.
Ayu takjim menyalami semuanya. Yudis memeluk papa dan Mak Inah. Baginya mereka adalah keluarga meski Mak tua itu bukan siapa siapa Menurut nasab, tapi bagi Yudis adalah pengganti ibu.
"Mak seneng neng Ayu di sini. Sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Jadi selalu kangen," ujar Mak tua itu dengan mengelus pipi Ayu.
"Ayu juga seneng punya Emak, pengganti Emak Ayu yang jauh di desa. Jangan panggil saya Neng Mak, panggil Ayu saja." Ayu mencium pipi keriput Mak Inah.
Mak Inah berkaca. Sungguh bahagia di anggap orang tua gadis manis itu.
"Den Yudis Emak punya anak sekarang, anak ketemu gede. Biar Emak nggak melahirkan atau membesarkan," serunya.
Sebutir air jernih mengalir di ujung mata. Mak Inah tak pernah bisa menimang buah hati. Puluhan tahun menanti namun tak kunjung juga datang seorang bayi dalam dekapan.
"Mak ... kok nangis? Jangan sedih, Mak. Ayu ada di sini, jangan anggap orang lain. Anggap Ayu anak Emak sendiri ya. Jangan sungkan," hibur Ayu.
Mak Inah tersenyum. Yudis hanya diam. Sudah sedari dulu Ayu memang favoritnya Emak-emak. Om Wijaya hanya tersenyum. Jika pada pembantu sudah sedemikian baiknya pasti sikap pada mertua lebih dari itu.
\*\*\*\*\*
Ayu orang yang sangat supel. Dalam waktu sebentar saja sudah menyita perhatian para tetangga. Sikapnya yang sopan dan sederhana sudah membuatnya terkenal di lingkungan sekitar.
Para tetangga yang dulu sungkan berkunjung ke rumah sang Jendral kini banyak bertamu meski hanya mengucap salam atau mengambil anaknya yang bermain di rumah Ayu.
Rumah itu sudah seperti rumah singgah bagi para tetangga. Anak kecil lingkungan sekitar belajar mengaji di malam hari.
Om Wijaya tak pernah keberatan. Justeru merasa bahagia jika rumahnya kini berguna bagi masyarakat sekitar.
Ayu memang sangat pandai beradaptasi. Hidup sederhana baginya biasa, ketika di hadapkan dengan fasilitas mewah dan wah juga sangat mudah. Tapi, Ayu masih juga sangat merindukan segarnya hawa sejuk pegunungan dengan simponi alam yang memanjakan. Wangi nasi panas yang di masak di atas tungku dengan kipas bambu, semerbak mewangi di hidung.
Aroma ikan asin bakar dan lalapan sederhana yang memanjakan lidah. Sekarang masak nasi tak usah capek bermandi asap di tungku. Tinggal pencet sudah sedia nasi di rice cooker. Mandi air panas tinggal keran di puter. Semua serba instan. Namun, Ayu tetap Ayu. Sosok sederhana nan bersahaja. Selalu suka hal yang biasa ditengah fasilitas yang luar biasa.
Setelah lama berdiam di rumah, Ayu tak dapat menyembunyikan rasa jenuhnya juga. Kadang merenung sendiri. Semua Ayu sembunyikan.
Hasrat untuk kembali menimba ilmu hadir lagi. Ayu enggan meminta pada Yudistira. Jangankan meminta sesuatu, bersamanya juga kadang masih risih dan malu.
Pernikahan tanpa pacaran dan saling mengenal lama. Semua karakter seolah berbeda. Alhamdulillah Yudis dan keluarga adalah sosok yang sangat baik. Tak jauh dari ekspektasi.
Om Wijaya yang sudah makan asam garam kehidupan mengerti gundah gulana. Tanpa harus berkata. Dia mengerti sang menantu tengah memikirkan sesuatu.
"Dis, kalian bertengkar, ya?"
__ADS_1
"Nggak, Pah, Alhamdulillah kami baik-baik saja. Kenapa?"
"Jangan terlalu sibuk dengan aktivitas luar. Ajak istrimu bicara. Dia seolah sedang memendam keinginan. Sesekali jika seorang diri, Papa lihat suka melamun. Berikan perhatian lebih padanya, Dis," ujar sepuh itu satu hari.
Yudis memang juga telah lama memperhatikan. Ayu tengah memendam hasrat. Apakah itu?
\*\*\*\*\*
Malam telah tiba. Ayu berdiri di balkon lantai tiga. Matanya menerawang jauh ke depan. Hanya tembokan beton yang terlihat.
Jika punya rumah tingkat tiga di desa, tentu akan melihat pemandangan hamparan pesawahan nun jauh. Kelokan jalan setapak juga tampak di mata. Tapi, ini adalah kota besar. Ayu tinggal di komplek perumahan elite. Semua hanya beton semata.
"Jangan melamun, kesambet nanti," bisik Yudis.
Tangannya mengulur brosur beberapa Universitas ternama di Bandung. Ayu menatap manik indah di depannya.
Yudis mengangguk.
"Ambillah! Pilih mana yang kamu suka. Kakak yakin Ayu akan mudah menghadapi ujian masuk di universitas manapun. Ini yang menjadi beban hati Ayu selama ini 'kan?" tanya Yudis yang terharu melihat mata Ayu mengembun.
"Terima kasih, Kak. Mengapa Kakak tahu apa yang di pikirkan Ayu?"
"Ayu selalu mengelus photo kakak saat wisuda. Wajahmu begitu berkaca, bagaimana kakak tak tahu, apa mau Ayu?"
Ayu tersipu.
"Bagaimana dengan Papa?"
Yudis tak membalas lewat kata. Hanya merangkul pinggang Ayu dan mendekap erat.
"Apa papa tak berkeberatan?"
"Justru papa yang lebih peka pada keadaan kamu, Sayang. Maaf jika tak bisa lebih perhatian dan kasih sayang padamu. Ayu tahu jika kakak sekarang tengah mengejar gelar master dan sibuk dengan program spesialis."
"Jangan bilang begitu, kakak selalu perhatian pada Ayu. Terima kasih sudah menginjinkan Ayu kuliah, kak."
"Everything for you, my sweet heart. Jangankan hanya kuliah. Dunia dan isinya juga akan aku berikan padamu," ujar Yudis merengkuh tubuh istrinya kian dalam.
"Gombal, kamu," Ayu memukul dada Yudis.
Manis madu cinta memang tengah indah di teguk. Pahitnya kehidupan kadang membumbui juga.
\*\*\*\*\*
Rangkaian tes Ayu jalani. Hasilnya bisa di tebak. Gadis gunung itu melenggang tanpa hambatan meraih nilai terbaik saat tes masuk universitas pilihan.
"Alhamdulillah, Kak. Akhirnya Ayu bisa kuliah. Ayu masuk UPI. Sejak lama bercita-cita ingin jadi seorang pengajar. Tapi .... "
"Tapi kenapa, Yu ?" tanya Yudis heran.
"Apa Ayu tidak terlambat kuliah, kak?"
Yudis menatap istrinya. Tersenyum mendengar ucapan Ayu.
"Ayu akan lihat ada Oma dan Opa yang akan jadi teman kuliahmu. Usia bukan halangan menimba ilmu. Maka saya suka sedih dengan anak muda yang menyia-nyiakan kesempatan. Orang uzur saja masih semangat empat lima. Anak muda malah leha-leha."
Ayu mengangguk setuju. Menyayangkan. Pilu, teringat perjuangannya ingin bersekolah hingga harus mogok makan segala. Menangis berdemo demi merobohkan keangkuhan tradisi yang membelitnya.
"Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Bukankah itu hadits populer ya, Ayu."
"Ya, kak. Tak ada batas kadaluarsa ketika menyangkut ilmu. Tak ada batasan wilayah ketika mengejarnya. Membawa harta mungkin berat. Tapi, membawa ilmu justru membuat kita ringan melangkah."
"So, jangan menyerah dan bilang sudah terlambat, Sayang. Raihlah impianmu yang tertunda. Sempurnakan baktimu. Kakak tahu, Ayu rindu anak-anak didik yang di tinggalkan di desa. Kejarlah cita-cita Ayu. Bantulah anak negeri ini menjadi sepintar dan berkualitas seperti dirimu. Satu orang bisa merubah peradaban. Semoga itu kamu, istriku."
__ADS_1
Yudis tersenyum. Ayu mengangguk. Jika tak ada yang berani maju maka semua akan mundur dengan teratur. Perubahan itu pasti. Hanya usaha yang akan mengubahnya menjadi lebih baik atau sebaliknya
To be continue~.