PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.37


__ADS_3

Matahari sudah meninggi saat mobil Ayu mulai memasuki area jalan beraspal sederhana. Sungguh berasa mimpi bisa membawa mobil mewah masuk area tersebut. Mengendarai sendiri. Mobil masuk juga dulu seakan tak mungkin.


Jalan itu bagaikan sungai kering yang berbatu. Batu besar hingga kecil menghiasi setiap inci jalan itu. Tak layak di lewati kendaraan. Jangankan untuk mobil mewah, mobil pick up pun kesulitan.


Masih rindu sensasi sport jantung saat naik ojeg dalam keadaan hujan. Motor akan terseok karena jalan berbatu yang bercampur tanah begitu licin ketika di pijak.


Anak-anak kecil acap kali membantu mobil yang kesusahan melalui jalan ini. Menaiki dan meloncat-loncat diatasnya. Sampai saat ini Ayu tak bisa memahami maksud sopir dan kernet meminta melakukan demikian. Namun Ayu kecil selalu bahagia jika melakukan itu.


Mobil masuk kian dalam. Deretan pohon menyambut di Kanan dan kiri jalan. Jalanan yang di lalui redup karena sinar matahari terhalang oleh rimbunnya dedaunan.


Mobil Ayu melaju dengan pelan. Rinai menyambut dengan riang. Tetesannya tersapu kipas di depan kaca. Tergambar jelas dalam ingatan kala Yudis membonceng di malam buta. Keduanya hanya terdiam tanpa kata. Padahal hati berkicau bagai burung tengah mencari simpati pasangan.


Bertahun sudah di lewati. Jalanan kini juga sudah tampak rapi. Jika Yudis membonceng lagi maka takan ada jalan licin menjadi rintangan. Yoga juga memboncengnya sekali, saat Ayu hendak pergi perpisahan sekolah.


Mengapa Ayu kini selalu teringat akan Yoga? Pria itu harus Ayu temui beberapa kali dalam seminggu. Masih juga dengan tatapan yang sama. Kecurigaan Ayu nyata adanya. Yoga masih juga belum berumah tangga. Masih nyata binar cinta dalam setiap tatapannya.


Di tengah konflik yang kini sedang mendera, kadang datang tanya di jiwa. Apakah salah jika memilih Yudis? Nyatanya sekarang masalah satu persatu datang tanpa di undang. Mengusik hidupnya yang tenang. Mungkinkah jika memilih Yoga semua tak sama. Takan ada lagi problema yang seolah tiada henti.


Mobil masuk perkampungan. Anak kecil bersorak melihat mobil mewah masuk kampung mereka. Orang tua juga mematung mengagumi keindahan kereta besi itu.


Itulah mengapa Ayu tak mau membawa mobil sendiri. Hanya mau naik mobil Yudis jika mudik. Enggan di katakan pamer oleh orang.


Mobil terhenti di depan rumah Ayu. Bilik bambu yang sederhana yang selalu Ayu rindu. Sangat penuh cinta dan kedamaian. Tempat raganya di lahirkan dan di besarkan. Bermandi kasih sayang dan cinta meski tanpa limpahan harta.


Bapak mematung di halaman. Mencoba menerka, siapa tamu yang datang? Emak tergopoh membuka pintu. Juga bingung siapa yang memakai mobil merah itu.


Kaca mobil Ayu di desain sedemikian rupa supaya tidak tembus pandang. Makanya mereka tak dapat melihat si empunya.


Ayu membuka pintu mobil dan berdiri menatap bapak. Sudah tiga bulan tak pulang, rindu membuncah di dada.


Bapak dan Emak terkesima. Seolah tak percaya pada netranya. Si putri cantik kesayangannya memakai mobil mewah dan mengendarai sendiri.


Putrinya yang bersekolah pulang dan pergi ke kota, telanjang kaki sekarang menunggangi kuda besi. Begitu gagah berdiri memproklamirkan diri sebagai orang dengan strata yang tinggi.


"Assalamu'alaikum."


"Teteh .... " Tiga kurcaci memeluk kakaknya erat. Mereka terisak bahagia.


"Si teteh punya mobil, ayo main di dalamnya," pekik Ratna.


Ayu membuka mobil dan ketiganya berhambur masuk dengan bahagia. Sudah biasa mereka masuk mobil Yudis. Tapi, melihat mobil milik Ayu ada sensasi tersendiri.


Bapak merentangkan tangannya. Menyambut sang putri. Ayu berlari membenamkan tubuhnya pada lelaki yang menjadi cinta pertamanya. Menangis haru. Bapak mengelus lembut pucuk kepala.


Emak tergopoh mendekati. Ayu berganti memeluknya. Perempuan tua yang selalu menyayangi tanpa tapi itu sukses menambah tangisan.


"Masuk, Neng. Mana Yudis? Mengapa kamu pulang sendiri? Ada apa?"


"Sttt, Ayu masih capek kok langsung di tanya banyak begitu. Ajak Ayu masuk," cegah bapak mendengar celoteh emak.


Ayu kian kikuk. Ini kali pertama, pulang tanpa suaminya. Sungguh darah memang lebih kental dari air. Tanpa harus mengucap sesuatu orang tuanya sudah tahu ada sesuatu yang terjadi padanya.


Ayu berusaha menahan air mata yang akhirnya luruh membasahi pipi. Ingin bercerita pada mereka tentang gundah hati yang di pendam sendiri. Namun, Ayu sedari kecil bukan orang cengeng yang selalu mengeluh akan suatu masalah. Setiap kali ada problematika hidup berusaha menyelesaikannya dengan tanpa berkeluh kesah atau meminta bantuan orang lain.


"Pak, Ayu membawa oleh-oleh di bagasi. Tolong bagikan pada tetangga. Ratna bisa buka bagasinya. Ayu mau menyimpan tas dulu di kamar.


Bapak mengambil buah tangan yang di bawa Ayu. Tersenyum melihat belasan kotak Pizza dan donat dari merk ternama. Makanan pavorit yang di nanti oleh tetangga saat Ayu berkunjung.

__ADS_1


Itulah orang desa. Mereka hanya punya pizza dari parutan singkong yang di goreng dengan sedikit minyak. Makanan yang bagi mereka lebih lezat setara pizza Itali.


Sudah biasa Ayu membawa buah tangan untuk di bagikan. Ayu ingin tetangganya juga bisa merasakan makanan modern khas kota.


Beberapa buah cake juga Ayu beli sebagai oleh-oleh. Bagasi penuh dengan makanan saat datang dan pulang juga demikian. Semua tetangga membawakan Ayu hasil bumi.


Ayu menyalami tetangga yang rumahnya dekat satu persatu datang menyapa. Mereka berkumpul di rumah Ayu. Rindu pada Ayu yang merupakan panutan bagi mereka.


Gadis kebanggaan kampung halaman. Selalu berkontribusi dalam pembangunan akhlak penduduk setempat. Mengajar ngaji anak tetangga, menjadi anggota karang taruna, sukses mengajak pemuda pemudi aktif dalam kegiatan lingkungan.


Sungguh mereka kehilangan sosok panutan ketika Ayu menikah dan tinggal di kota.


Mak sibuk menata belasan piring yang di isi buah tangan. Walau sedikit tetangga sekitar akan mendapat jatah.


Ratna dan dua adik Ayu yang lain sibuk mengantar ke sana kemari. Ayu menyunggingkan senyuman. Dulu tugas itu dilaksanakan olehnya. Kadang suka mengomel jika Mak menyuruh berbagi di sore atau malam hari.


"Kalau makanan di simpan bisa basi. Nanti mubadzir jadi dosa. Jangan malas, ayo bagikan pada semua tetangga. Ingat ini akan menjadi pahala sedekah."


Ayu akan membagikan makanan itu meski sudah malam. Piring itu juga kadang pulang tidak kosong. Tetangga juga mengembalikan dengan makanan yang ada di rumah mereka.


Pizza dan donat Mak bawa sebagai suguhan. Senyum tersungging di bibir Ayu. Mereka berebut memakannya. Sungguh Ayu merasa bahagia kala bisa melihat semua orang lahap memakan makanan asing bagi mereka.


"Ayu, Nini mah pengen ayam chicken. Itu yang pake tepung di TV. Nanti kalau ada bawa pulang ke sini ya."Nini Ratmi meminta Ayu membawakan ayam kesukaannya.


Ayu tersenyum. Giginya sudah ompong tapi meminta makanan yang krispi. Ayu melihat mulut tuanya tengah mengunyah dengan susah payah. Gusinya harus bekerja keras mengunyah makanan, menggantikan fungsi gigi yang hampir semua sudah tanggal.


Mimik muka Mak Ratmi begitu lucu. Kerja keras ******* makanan sungguh menguras tenaga.


"Nini harus panjang umur, insyaa Allah. Nanti jika Ayu kesini lagi akan di bawakan pesanannya."


"Insyaa Allah, Nini akan panjang umur. Pengen gendong buyut dari Ayu. Semoga secepatnya ya, Ayu," ujarnya seraya menepuk paha Ayu.


Hidup berbekal belas kasihan saudara dan tetangga. Keluarga Ayu adalah kerabat Nini Ratmi, maka ketika sakit Ayu dan keluarga yang merawatnya.


"Semoga secepatnya, Nini," ujar Ayu memeluk Nini tua itu dengan haru.


******


Rumah kembali hening. Hanya desiran angin kencang yang mengembus rumpun bambu, serta suara binatang malam sedang berpentas riang. Alunan musik orkestra yang mengalun indah, seirama suara gemericik air pancuran di samping rumah. Memanjakan Indra pendengaran.


Orkestra yang senantiasa Ayu rindukan di tengah rimbunan pohon beton.


Ayu menatap kamarnya berkeliling. Ruangan 3 × 4 meter itu adalah tempat peraduan yang menjadi saksi senyum bahagia Ayu mendapat kado sepatu dari Yudistira, merana dan sedih menanggung rindu, pada mahasiswa KKN terkece sepasukan.


Kamar ini pula yang menjadi saksi penyatuan raga atas nama cinta. Berharap jika penyatuan itu bisa membuat Ayu dan Yudis segera punya buah cinta. Kapankah itu, Tuhan? Anak tetangga yang menikah belakangan, bahkan anaknya sudah pandai berjalan.


"Ayu, makan dulu, Nak," ajak Mak di daun pintu. Kepalanya menyembul sedikit kedalam kamar, mengintip anaknya.


"Alhamdulillah, ini yang Ayu tunggu. Kangen masakan rumah, Mak," jawab Ayu menghampiri dan menggandeng mesra ibunya.


"Makan yang banyak, badanmu kurus sekali. Padahal banyak makanan yang enak di sana."


Mak menatap putrinya yang kurusan. Padahal tiga bulan yang lalu tampak padat berisi. Entah mengapa hatinya gelisah. Merasa Ayu tengah di rundung beban masalah.


"Kalah enak sama masakan Emak, kalau setiap hari makan kayak gini, Ayu pasti akan gendut, " ujar Ayu


Ayu makan dengan lahap. Setelah ucapan bismillah. Dua piring nasi seta ikan asin, sambal, lalapan daun singkong rebus, kerupuk singkong, sukses mengenyangkan perutnya.

__ADS_1


Emak terharu. Anaknya seperti sudah berbulan tak makan. Lahap benar. Ada apa denganmu, sayang? Bapak hanya menggelengkan kepala saat Emak menangis. Seolah berkata. Jangan menangis kasihan Ayu.


Malam kian larut. Ayu duduk di kursi rotan di tengah rumah. Ketiga adiknya sudah terlelap.


"Neng, kamu baik-baik saja?"


Bapak menatap lekat wajah Ayu yang berubah saat orang tuanya bertanya demikian.


Sebenarnya Ayu paling enggan berbagi pada orang tua atas masalah yang membelitnya. Urusan Risma juga kelar tanpa bantuan orang ketiga. Tak pernah siapapun tahu. Tapi, Yudis meminta untuk mohon restu pada orang tuanya. Haruskah kini bungkam? Setegar apapun Atau tetaplah menginginkan dukungan terutama dari Emak dan Bapak.


Ayu menghela napas panjang.


"Pak, doakan Ayu dan kak Yudis. Hari Senin ingin memeriksa kandungan kami. Sudah tiga tahun kami menikah tapi .... "


Ayu tak sanggup meneruskan ucapannya. Hatinya lara. Air mata yang di tahan semenjak datang akhirnya tumpah juga. Emak datang memeluk. Tangisan Ayu kian menjadi.


Bapak terduduk lesu. Pertanyaan kapan punya cucu? Selalu mengganggu, tetangga, saudara selalu bertanya itu. Bapak sampai enggan menjawabnya. Hanya Tuhan saja yang tahu kapan itu akan terjadi.


"Tanpa harus di minta. Emak sama bapak selalu meminta yang terbaik untukmu, dalam setiap sujud dan helaan napas, memohon kamu bahagia selalu, Neng. Alhamdulillah jika akan di periksa. Semoga hasilnya baik-baik saja. Andai ada masalah kalian bisa secepatnya mengobati. Bukankah teknologi sudah mutakhir. Bahkan ada bayi tabung segala."


Suara bapak yang lembut selalu menjadi pengobat hati Ayu yang lara. Menentramkan.


"Bayi tabung? Aya wae si bapak mah. Gimana bikinnya. Bikin orok pake tabung segala. Kayak bikin adonan kue apa."


"Ini salah satu cara pembuahan sel ****** laki-laki dan perempuan yang tidak seperti yang normal. Pembuahan selnya dengan bantuan ahli bukan alami. Jadi tidak seperti bikin bayi dalam tabung menggunakan adonan," jelas Ayu yang berusaha menyederhanakan kata agar ibunya mengerti.


Mak yang super lugu dan polos kian bingung.


"Pokoknya nanti bapak jelaskan. Pelan-pelan. Jangan di pikirkan nanti bingung sendiri."


Suasana tegang dan haru menjadi mencair akibat keluguan dan kepolosan emak.


"Kenapa Ayu jadi pesimis, Sayang. Ayu bukan orang yang mudah menyerah. Bukan orang yang kalah sebelum bertanding. Qadarullah yang terbaik untukmu. Allah memberi yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan, bersabar dan ikhtiar."


Ayu menarik napas lega. Bapak benar. Mana Ayu seorang yang tangguh dan pantang menyerah. Tak pernah takut dengan apapun dan siapapun. Ayu akan melangkah pasti dan menata diri bukan terdiam dan menyesali keadaan. Hidup terlalu indah jika di jalani dengan takut dan pesimistis.


******


Proses demi proses tes Ayu dan Yudis jalani. Wajah Ayu dan Yudis tegang. Badan Ayu lemas, sedari pagi tak ada satupun asupan makanan. Nafsu makannya hilang sama sekali.


Wajah Ayu sedikit pucat, cacing di perut tak bisa di bohongi, bernyanyi sedari pagi.


"Kita makan dulu, Sayang. Perut kamu belum di isi sedari pagi," ajak Yudis.


Ayu hanya diam saat tangannya di genggam erat. Mengekor Yudis menuju tempat pavorit di seberang rumah sakit.


"Bagaimana jika hasilnya Kita tak bisa punya anak?" ujar Ayu pelan. Sakit hatinya jika itu terjadi.


"Kita akan hadapi bersama. Aku selalu bersama kamu selamanya. Seperti Mak Inah dan pak Agus. Tak terpisahkan. Mereka bisa bahagia tanpa buah cinta. Hanya maut yang akan memisahkan," tegas Yudis.


"Kakak harus menikah lagi!"


Kata itu mulus meluncur di bibir tapi begitu sakit dan menyesakan dada. Jangankan harus berbagi waktu dan cinta. Melihat tatapan kagum kaum hawa memandang sang suami sudah membuat Ayu terluka. Sukar membayangkan harus hidup berbagi kasih sayang.


"Sttt, jangan berpikiran pesimis. Kita akan mempunyai banyak anak. Mereka akan mewakili cantik dan tampan paras kita. Pintar dan nakalnya Ayu dan Yudistira. Insyaa Allah saat itu akan tiba. Kita harus yakin akan hal itu."


Yudis memeluk Ayu. Mencoba menguatkan istrinya yang rapuh. Menepis ragu Ayu, namun tak jua mengobati air mata hatinya. Sesak dadanya antara tak ingin membagi hati dan tuntutan keturunan dari papa tersayang. Sukses membuatnya menangis dalam diam.

__ADS_1


Tuhan, ijinkanlah cinta kami seperti cinta Ali dan Fatimah. Cinta utuh tanpa pernah terbagi. Jangan hadirkan orang ketiga dalam singgasana cinta.


...Bersambung~...


__ADS_2