
Madu tak selalu manis rasanya. Kadang madu juga ada yang berasa kecut dan pahit. Begitu juga kehidupan. Tak ada kebahagiaan sempurna. Jika menelisik keadaan sudah barang tentu kebahagiaan seharusnya Ayu si empunya.
Limpahan materi dan semua fasilitas yang di dapatkan adalah impian semua orang.
Setahun pernikahan berlalu lolos tanpa ujian berarti. Semua terasa indah bak hidup di surga.
Siang itu kala mentari dengan pendar cahayanya menunjukan kekuasaannya. Bersinar terang benderang tanpa sedikitpun diliputi awan.
Dengan langkah tertatih dan dipapah oleh Yudis, Ayu berjalan perlahan. Matanya ditutup oleh kain hitam. Menurut saja meski merasa seolah menjadi terpidana yang akan di giring ke tempat eksekusi.
Disaksikan semua anggota keluarga yang hanya tertawa. Pasangan muda itu memang selalu membuat iri saja. Nyaris tak ada pertengkaran selama menjalani hidup berumah tangga. Mereka sungguh menjadi idola.
"Surprise." Yudis membuka penutup mata Ayu sesaat setelah sampai di halaman rumah.
Sebuah mobil merah terparkir di hadapannya. Lengkap dengan pita. Apakah ini untuknya? Sebuah benda yang begitu mahal menjadi persembahan dari suami atas angka satu di hari pernikahan. Hari ini genap sudah satu tahun Yudis dan Ayu menikah.
"Mobil? Ini buat Ayu? Jangan bercanda, Kak. Mengapa harus mobil? Makan malam atau nonton juga cukup. Ini terlalu mewah buat Ayu," jawab Ayu.
Wajahnya tak sesumringah yang di bayangkan. Yudis sedikit kecewa. Jika saja perempuan lain. Pasti sudah berjingkrak dan tertawa lebar. Koprol mungkin. Ini malah bertanya mengapa. Yudis menggaruk tak gatal.
"Ini hanya hadiah kecil, honey. Jangan menolak ini bukan sekedar buat gaya hidup semata. Kamu membutuhkan ini untuk pergi ke mana saja. Pak Agus tak selamanya bisa mengantar. Dia juga harus membantu Papa. Makanya kamu perlu ini."
Yudis heran dengan istrinya. Mengapa selalu menolak fasilitas mewah. Padahal di luar sana, banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan. Ini malah enggan.
Ayu memang selalu sederhana. Masih lebih nyaman memakai pakaian buatan Emak daripada butik langganan. Tak salah, tapi jika bisa hidup layak dengan barang branded, so why? Entah kuno atau bodoh. Gemas Yudis di buatnya.
"Ayu lebih suka jika pakai kendaraan umum. Bisa lebih banyak berinteraksi dengan orang. Jika pakai kendaraan pribadi maka akan individualistis. Merasa paling gimana gitu, Kak. Ayu sangat suka bisa merakyat. Bercengkrama dengan banyak orang di kendaraan umum."
"Inal amalu bi niyatin, semua tergantung niatnya. Jika niatnya lurus, maka mobil bisa jadi fasilitas yang bermanfaat tak hanya bagi pemiliknya juga bagi orang sekitar. Apalagi kalau di kampung. Tidak banyak orang punya mobil, maka. Bisa membantu orang untuk sekedar memudahkan mobilisasi ke kota. Tidak selalu negatif, Sayang."
"Tapi .... Ayu tak bisa mengendarainya. Bagaimana?"
"Akan kakak ajarkan. Ok! Upahnya tak mahal, kok. Stay here with me forever. Jangan beranjak meski lelah. Jangan pergi meski sakit. Berjalanlah berdampingan menghadapi badai. Ok!"
Ayu tersenyum. Selalu rayuan maut itu yang membuatnya meleleh dan kalah. Semoga tak hanya indah kata-kata, tapi indah dalam nyata sampai menutup usia.
*****
Ayu menatap nanar sang mertua. Begitu asyik bermain dan bercanda dengan Gendis, anak dari Utari. Gadis kecil itu bisa membuat senyum merekah di wajah tuanya. Andai bocah itu adalah anak Ayu dan Yudistira. Sudah barang tentu senyum itu akan lebih terpancar.
Mata Ayu mengembun. Tak sanggup membayangkan hidup seperti Mak Inah. Sepanjang usia selalu sendiri tanpa anak di sisi. Sejuta dusta bisa Mak Inah semai. Tertawa dan tersenyum di khalayak ramai. Namun, menangis dan meratap sendiri saat tak ada yang menemani.
Hidup tanpa buah cinta adalah siksa. Betapa banyak limpahan harta juga tak bahagia. Suara tangis dan tawa si kecil adalah penyempurna kebahagiaan.
"Dis, apa kalian menunda punya momongan? Papa ingin segera menimang cucu." Masih terngiang pinta sang mertua tadi malam.
Nikmatnya makanan yang tengah di kunyah menjadi hambar rasanya. Ayu menelan dengan enggan. Rasanya makanan itu menyangkut di tenggorokan. Seret. Segelas air putih di teguk habis. Masih juga merasakan sakit.
"Kami tidak menunda, Pah, baru juga setahun kami menikah. Ayu sedang sibuk kuliah. Saya juga sibuk dengan tesis. Tenang saja, setelah beres tesis papa akan segera menimang cucu. Yudis kasih kembar Lima, ya, kan, Ayu?" Tangan kekar sang dokter menggenggam erat Ayu.
Ayu hanya mengangguk. Seenaknya menjawab kembar Lima. Satu juga tak ada tanda-tanda bakal muncul. Kembar dua juga terbayang sulitnya ini kembar Lima.
"Apa sebaiknya kalian periksa kondisi kesehatan kandungan kalian? Ini hanya untuk mencegah hal yang tak di inginkan, Dis."
"Siap, Papa. Tenang saja. Kami ingin berbulan madu dulu. In sya Allah secepatnya memberi cucu pada papa."
Yudis berusaha senormal mungkin. Ada luka di hatinya. Ada tanya saat sang istri tidak juga tanda akan berisi. Namun, tak ingin membebani Ayu. Yudis tak ingin Ayu menyalahkan diri.
__ADS_1
"Kami hanya menikmati masa pacaran, Pah. Tak ingin di ganggu suara tangisan bocah, ya,kan, Sayang." Yudis meremas tangan Ayu. Meminta persetujuan.
Ayu tersenyum paksa. Hatinya lara. Sabit di bibir ditarik paksa. Enggan membuat lelaki yang menghalalkan setahun silam menjadi cemas.
"Ya, Dis. Padahal papa ingin segera menimang cucu. Baiklah. Terserah kamu saja," ujar Om Wijaya pasrah.
"Santai, Pah, nanti juga kami segera memberikan kado cucu sama papa."
Percakapan memang selesai malam itu. Tapi, tidak bagi Ayu. Keinginan mertuanya adalah bom waktu yang siap meledak sewaktu-waktu. Akan mengguncang keras kedamaian rumah tangganya.
Andai saja papa Yudis tahu. Jika Ayulah yang paling mengharap buah cinta. Setiap hari Gendis, anak Utari selalu bersamanya. Itu memantik emosi dan kesedihan yang mendalam. Ayu simpan rapat semua dalam dasar hati. Lara sendiri.
*****
Ayu merapikan pakaian Yudistira. Hari ini suaminya harus pergi ke Surabaya. Seminggu harus pergi dinas ke luar kota. Ucapan sang mertua selalu membebani Ayu. Masih terngiang harapan sesegera menimang cucu.
"Haruskah kakak pergi dengan bekal muka sedihmu? Katakan apa yang mencuri senyum di wajahmu, sayang."
Ayu menghentikan aktivitasnya. Duduk di ranjang king size. Menatap kosong ke hadapan. Yudis duduk di sebelahnya.
"Kenapa kita tidak menurut pada keinginan Papa. Kita periksa kesehatan kandungan. Ayu tak KB, kak. Tapi, tanda-tanda Ayu akan isi rasanya jauh sekali. Ayu takut jika nanti bernasib seperti Mak Inah. Sepanjang hayat tak bisa punya keturunan," ujarnya dengan pilu.
Yudis menarik napas dalam. Sebenarnya hatinya juga memiliki ketakutan yang sama. Tapi, bersembunyi di balik status sebagai lelaki yang harus kuat menopang istrinya yang lemah hati. Yudis tampak kuat di luar meski rapuh di dalam.
"Kita baru satu tahun menikah, jangan terlalu ketakutan begitu. Mungkin Allah ingin kita lama pacaran dulu tanpa gangguan rengekan si kecil. Nanti kamu akan care sama si bayi mungil lalu lupa big baby. Ayolah jangan merenggut begitu. Nanti jika tesisku selesai baru kita pikirkan. Senyumlah, sayang. Aku tak mau kepikiran saat jauh darimu mengingat sedihmu."
"Kakak janji. Kita akan melakukan tes setelah tesis selesai?"
"Ya, Sayang. Apapun nanti hasilnya akan kita hadapi bersama. Jika nanti seumur hidup harus tanpa buah hati juga tak mengapa. Kamu lihat Mak Inah dan pak Agus juga bisa bahagia dan bersama hingga tua. Semua orang memang di takdirkan menjadi seorang anak, tapi tidak semua di takdirkan menjadi orang tua. Punya atau tidak itu semata adalah ujian."
"In syaa Allah, Ayu siap kak. Qadarullah yang terbaik." Ayu menyunggingkan senyum meski terpaksa. Tak ingin Yudis pergi dengan memikirkan keadaannya.
******
Hari sudah petang ketika sebuah taksi terjebak di kemacetan. Suara gaduh terdengar. Yudis hanya diam. Malas ikut campur urusan orang. Paling juga orang bertengkar karena saling senggol di jalanan.
"Perempuan kena tusuk, tolong ada petugas medis nggak di sini. Biar bisa memberi pertolongan pertama. Pasien kritis" teriak seseorang di depan sana.
Yudis terhenyak. Secepatnya berlari. Menghampiri sumber suara yang tak begitu jauh dari taxi yang di tumpanginya.
Seorang perempuan seusia Ayu bersimbah darah. Sebuah pisau menghujam punggungnya. Tampak lemas tiada berdaya.
"Jangan cabut pisaunya, ini jadi bukti pada polisi juga bisa menghambat aliran darah. Saya dokter. Tolong bantu masukan ke taxi yang saya tumpangi. Dia harus segera mendapatkan penanganan medis."
Beberapa orang membantu memasukan perempuan itu pada taxi. Mobil melaju dengan kencang menuju Rumah sakit terdekat.
Yudis menelpon Rumah sakit terdekat agar bisa melakukan penanganan cepat. Mobil yang masuk segera di sambut beberapa petugas medis. Tanpa tanya ini itu semua langsung bergerak cepat. Yudis merupakan salah satu dokter magang di sini, dulu ketika kuliah. Jadi dengan mudah bisa memiliki akses masuk. Sekarang juga masih dinas di rumah sakit ini.
Yudis terkulai lemas. Cemas memikirkan nasib perempuan itu. Berdebar menanti nasib wanita yang menyedihkan itu.
Seorang bapak tua yang bersama mengantar menjabarkan siapa perempuan itu.
Risma namanya. Perempuan cantik itu korban kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya pemabuk dan suka menyiksa. Pencemburu juga berperangai sangat kasar. Selalu memukul jika ada yang tak berkenan di hati.
"Kasihan dia, pak dokter. Selalu di siksa tapi tetap bertahan. Entah apa alasannya. Padahal kami sudah sering mendengar pertengkaran dan luka akibat siksaan suaminya," tegas pak tua itu.
Cih, cinta. Apa alasan itu yang mendasari diam dan bungkam? Cinta itu menjaga bukan menyakiti. Melindungi bukan menyiksa. Terlebih lagi tanpa kehadiran buah cinta. Bodoh sekali Risma. Bertahan pada orang yang memberi luka bukan cinta konyol namanya.
__ADS_1
"Dok, pasien sudah melewati masa kritis. Alhamdulillah. Terima kasih sudah membawa pasien secepatnya. Kalau terlambat sedikit saja kemungkinan pasien akan lewat," dokter Husna menghampiri dan tersenyum. Bahagia satu lagi nyawa bisa di selamatkan.
Yudis menarik napas lega. Jika nyawa Risma lewat maka semua ilmu yang di dapatkan selama ini akan terasa sia -sia. Selalu Yudis menyalahkan diri jika ada pasien yang meregang nyawa di hadapannya.
******
Ayu mulai gelisah. Beberapa jam suaminya terlambat. Seharusnya sudah sampai rumah sejak lama.
Tuhan, tolong jaga dia. Entah mengapa telat begini. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Ponselnya juga tak bisa di hubungi. Di mana kamu sekarang, kak Yudistira.
"Assalamualaikum, my sweet heart. Kangen aku, ya?"
Sebuah tangan membelit pinggang. Yudis memeluk istrinya dari belakang. Kecupan di pucuk kepala menyusul mengagetkan Ayu.
"Wa'alaikum salam, Alhamdulillah. Akhirnya kakak pulang. Ayu khawatir kak. Takut terjadi apa-apa," jawab Ayu membalik badan.
Mata Ayu seolah loncat dari pangkalnya. Bercak darah tampak di baju suami. Ayu menangis. Memeluk Yudis dengan ketakutan.
"Aih, kok nangis. Kenapa, Sayang?"
"Kakak terluka tapi masih bilang baik saja. Ini darah di mana-mana. Ayu meraba tubuh suaminya yang malah kegelian.
"Ini bukan darahku, ini darah pasien KDRT yang kutemukan di jalanan tadi. Alhamdulillah aku baik baik saja."
Ayu menelisik setiap inci raga lelaki berwajah letih di hadapannya. Dari ujung kepala hingga kaki. Mencari setitik luka. Tak dijumpainya. Senyum lega tergambar di wajah manisnya.
"Alhamdulillah, Ayu ketakutan, Kak. Takut kakak kenapa-kenapa. Bagus jika sehat dan tak kurang satu apapun." Wajah Ayu tampak lega.
"Hanya seminggu tak bertemu rasanya lama sekali. I Miss you so, my sweet heart. Padahal tiap hari telponan. Selalu saja ingin waktu bergulir cepat. Apakah kau juga merindukan aku, Sayang?"
"I Miss you too," jawab Ayu tersipu.
Mereka akhirnya berangkulan. Ada baiknya belum ada buah hati. Perasaan dan perhatian mereka, masih utuh tanpa terbagi. Pacaran setelah halal begitu menyenangkan.
*****
Yudistira memeriksa intens Risma, pasien korban penusukan suaminya. Tubuhnya masih juga terkulai lemas. Wajahnya pucat. Beberapa labu infus dan darah telah habis di pakai. Tak ada seorangpun yang menunggunya.
Menurut kabar, keluarganya tinggal jauh di kota Jember, Jawa timur. Entah alasan apa yang membuatnya enggan memberi tahu kejadian yang menimpa pada keluarga.
Risma menatap Yudistira. Pria yang samar dalam ingatan cekatan memberi pertolongan pertama saat nyawanya di ujung tanduk. Jika saja pria itu tak datang tepat waktu, mungkin raganya sudah terbaring di tanah pekuburan.
Dokter muda nan tampan, ramah dan telaten merawat semua pasien. Begitu lembut dan murah senyum pada siapapun yang di temuinya.
Sosok yang berbeda dengan Angga suaminya. Selalu kasar dan menyakiti hati. Angga pria yang begitu di cintai hingga memberi makhota suci, sebelum akad terjadi. Mengubur masa depan ketika harus menikah sebelum lulus SMA. Entah mengapa begitu mencintai pria kasar dan pencemburu itu.
"Alhamdulillah, teteh baik-baik saja. Paling tak sampai seminggu sudah bisa pulang ke rumah," ujar Yudis usai memeriksa.
Alangkah bahagianya jika punya suami selembut itu. Ada desir aneh yang hinggap di relung jiwa. Wajah tampan itu telah mengusik hatinya yang lelah dengan kata cinta. Entah mengapa harus berangan lagi. Padahal asa akan cinta telah terkubur seiring siksa yang mendera.
Yudis berlalu pergi setelah selesai memeriksa seluruh pasien di ruangan tersebut. Mata Risma tak berkedip menguntit. Walau sosok Yudis menghilang di telan tembok rumah sakit.
"Bahagianya jadi istri dokter Yudistira. Seorang yang tampan dan lembut. Andai saja belum punya istri aku juga mau di lamar." Seorang perawat berbisik pada kawannya.
"Siapa yang tak mau, aku juga mau say, ah sayang sudah milik orang. Sttt, belum kelar. Ayo kita ke ruangan melati." jawab yang satunya.
Ternyata sudah menikah. Tak apa dokter. Aku mau jika di jadikan yang kedua. Lirih hati Risma.
__ADS_1
...Siapakah Risma? Sosok yang akan saya jadikan tokoh CB berikutnya....
...Penasaran. Nantikan part depan yaa,😊✨...