PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.14


__ADS_3

Waktu merayap lambat, mengalahkan leletnya siput. Detik berlalu dengan lambat. Jam berputar enggan. Sangat tersiksa harus terbaring dengan suhu badan hampir empat puluh derajat dari ukuran Celcius.


Obat memang sedikit mengurangi demam. Tapi, obat rindu hanyalah pertemuan dengan sang pujaan. Sayangnya, itu tidak di dapati. Yudis tersiksa tak melihat Ayu selama lima hari.


Malam kian kelam. Rembulan mengintip malu di sela rimbunan rumpun bambu. Yudis mengintip dari jendela. Mengapa semua datang menjenguk? Tapi, jangankan Ayu datang, salam darinya juga tak mampir di telinga. Siang tadi untuk kali kesekian Bapaknya datang menjenguk. Tak ada kata titipan salam dari kamu, Ayu.


Rembulan. Apakah Ayu menghindar? Aku ingin berlari, menghampiri. Tapi, mau di taruh harga diri, jika menyapa dan menghampirinya. Bukankah Ayu sama sekali jauh dari standar idealnya. Tak satupun masuk dalam listnya. Apa kata dunia jika Yudis mengakui rasa?


Ayu juga tengah melihat rembulan yang tampak malu menatapnya di atas awan. Dibawah langit yang satu dalam rindu yang seirama memandang rembulan hendak menyampaikan salam. Jendela di buka lebar. Bagaimana kabarmu, pujaan hati? Ingin aku sampaikan salam rindu dan menanyakan kabarmu. Sayang, aku bahkan tak punya lagi muka untuk bersua. Memilih menghindar agar rasa yang baru debar tak harus membakar hangus rasa yang kini kian menjalar. Semua tak mungkin maka harus ditepis meski dengan sebuah tangis.


Aku titipkan rindu pada sang malam yang setia menemani. Biarlah aku simpan semua di hati. Aku kunci rindu dan rasa cinta ini. Takan biarkan siapapun tahu. Kecuali, empat genk centilku. Hanya mereka yang akan setia menyimpan rahasia bersama.


\*\*\*\*\*


Hari berlalu. Ayu menepati janji. Tak lagi menemui Yudis. Tak pernah lewat di depan rumah tinggal Yudis lagi. Meski, harus memutar jalan. Harus menjauh. Ayu lakukan agar tak bersua dengan Yudistira.


Berat memang ketika hati telah terpaut. Ketika rasa telah bermuara. Angan selalu terbayang. Tapi, Ayu sadar diri. Siapa dirinya. Hanya, seorang gadis gunung suram tanpa masa depan.


Jangan berangan. Tak usah bermimpi. Orang kecil seperti dirinya. Bahkan tak boleh merajut asa. Yudis hanya angan hampa tanpa harapan.


Kembali di tatapnya majalah ternama dengan Cover Cindy di depan. Tampak cover story tengah menyoroti kisah cinta, si gadis sampul dengan calon dokter. Utami tahu itu adalah Yudistira.


Ayu tersenyum ketir, selamat, Kak. Ayu akan menghilang. Rasanya takan bisa melupakanmu jika selalu bertemu. Tak lama lagi kau akan pergi. Baiknya memang kita tak bersua lagi untuk selamanya.


"Yu, kenapa ?" tanya Thien yang melihat sahabatnya bermuram durja


"Tak apa-apa. Aku hanya sedang mencoba melupakan seseorang."

__ADS_1


"Yudis ?"


Ayu mengangguk.


"Lupakanlah semua yang hanya membuat kita luka, sebelum semua kian tak bisa kau kendalikan. Perasaan yang sama pernah terjadi padaku. Sampai kini belum juga mampu aku buang. Tapi, jika tak melihatnya, aku bisa kendalikan diri"


"Aku menghindar, karena sadar. Siapalah dia dan siapa aku Thien. Ibarat bumi dan langit. Mana mungkin rembulan di langit akan Sudi singgah merendah turun ke Bumi. Tak mungkinbukan, tanah tempat rembulan berpijak tapi langit tempat rembulan mengangkasa. Aku melihat pacar Yudistira, Cindy. Si gadis sampul dengan sejuta pesona. Lalu, siapa diri ini. Hanya, seorang gadis tak punya apa-apa."


"Jodoh takan kemana, tak ada yang tak mungkin. Jika Allah berkehendak maka semua akan terjadi karena kuasa-Nya." Thien mengelus pundak Ayu. Berusaha menguatkan.


Ayu tersenyum. Aku gadis gunung yang kuat. Kehilangan takan membuatku tumbang. Boleh kalah dalam cinta. Takan membuat putus asa. Aku terjatuh dalam satu sisi tapi aku akan melangkah maju dalam prestasi.


Akan aku tunjukan sisi kuat dalam sisi lemahku. Ku gapai prestasi dalam frustasi. Ayu membulatkan tekad.


\*\*\*\*\*


Yudis kecewa karena tidak ada Ayu menampakkan batang hidungnya. Sudah lama tak melihat si putih abu. Lima belas hari lamanya tak bersua.


Hari ini ingin sekali berjumpa untuk terakhir kali. Mungkin memang sudah takdir harus berpisah. Hanya, Yudis berharap akan melihatnya sebelum pergi. Terakhir kali.


Diantara kerumunan orang Yudis tak juga menemukan si putih abu. Kemana kau pergi? Mengapa menghilang? Tak inginkah melihatku untuk terakhir kali?


Padahal nyata, jika Ayu juga punya rasa. Yudis yang sangat berpengalaman menghadapi seorang perempuan, sudah tahu mimik dan gerak-gerik seorang yang menyukainya. Ah, apa memang aku salah menebak? Sungguh sulit menebak perasaan kamu, Ayu.


"Aku kangen kamu, Kak, " ujar manja Cindy yang menggelayuti tangan Yudis.


Yudis merasa tak enak hati kali ini. Perlahan melepaskan tangan Cindy. Entah mengapa risih mendapat perlakuan manja Cindy. Padahal biasanya akan segera merangkul atau mengelus pipi mulus kekasihnya.

__ADS_1


Bagaimana jika Ayu melihat itu. Yudis tak rela jika si putih abu terluka melihatnya bersama gadis lain. Ah, mengapa memikirkan perasaan Ayu. Mungkin Ayu memang tak menganggap dirinya ada. Buktinya belasan hari tak ingin tahu kabarnya. Jangankan menengok bertanya kabar pun enggak.


Cindy bagaikan magnet penyedot perhatian. Semua anak-anak gadis yang melek informasi antusias melihatnya. Potonya memang seliweran menjadi cover majalah remaja. Menjadi pusat perhatian dan dikerumuni banyak orang.


Yudis hanya menepi dan sesekali mencari gadis putih abu yang menghilang dari pandangan.


Semua takjub melihat serasinya pasangan Yudis dan Cindy. Satu cantik rupawan. Satunya ganteng tak terelakan. Siapa yang tidak iri dengan rupa mereka. Keduanya tercipta dengan sempurnanya penciptaan.


Dari pojokan Ayu hanya mengelus dada. Rasa sakit membuatnya bangkit. Perlahan meninggalkan keriuhan. Biarkan aku menangis hari ini. Agar sadar di mana posisiku. Menjauh dan tak menyapa walau rindu menerpa. Menghindar meski hati berdebar ingin sekadar mengucap, 'Hai'.


Ayu menaiki bukit. Dari sana tampak jelas rombongan itu akan lewat. Biar melihat dari jauh. Tak ingin lagi menampakkan wajah. Cukup melihat rombongan itu menjauh. Semoga rasanya juga perlahan menghilang seiring laju kendaraan yang pergi meninggalkan.


Rombongan mobil perlahan berjalan. Lesu Yudis pergi. Hanya empat puluh hari. Namun, takan pernah sirna semua kenangan di sini. Terukir indah. Seindah panorama alam. Mengukir sebuah nama yang takan terlupa.


Bunga gunungku. Mungkin suatu saat telah di petik orang. Tak harus menunggu, mungkin nasibmu akan sama dengan bunga lainnya. Jika sudah ranum lantas di petik di jadikan jambangan di meja mertua.


Yudis nanar melihat jalan yang di lalui, berbatu besar. Jalan yang lebih layak di sebut sungai itu perlahan di lalui dengan guncangan di badan. Terkenang saat rintik hujan membonceng Ayu pulang. Terbayang wajah tegangnya yang kuyup kedinginan. Ingin rasanya menarik, memeluk di dadanya. Akankah kenangan itu terulang?


Entah, satu hari nanti, jika berkunjung kembali akan menjadi aspal hitam tanda suksesnya pembangunan atau tetap mangkrak karena perencanaan yang tersedia di godog tanpa realisasi nyata.


Ayu dari jauh melambaikan tangan. Selamat jalan Yudistira Hadi Wijaya. Terima kasih telah singgah dan membuat kisah. Hatur nuhun telah mengukir senyum. Semoga seiring waktu akan menghapus kisah. Mengubah cerita. Menjadi sejarah dalam buku kehidupan.


Kau telah sudi hadir meski sekedar mampir. Pergilah! Biarkan aku sendiri dan sesaat mengenang. Jangan tinggalkan kesan yang tak bisa aku lupakan. Karena sungguh berat sebagai beban.


Setetes air mata mengalir di pipinya. Seiring kepergian rombongan yang turut juga menghilang dari pandangan.


To be continue~

__ADS_1


__ADS_2