PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.17


__ADS_3

Pintu gerbang sekolah di buka lebar. Tampak lengang. Semua sudah masuk di Aula sekolah. Dengan tergesa dan tertatih Ayu melangkah. Kain panjang membuat langkahnya susah. Apalah daya ini hari istimewa. Hanya datang sekali. Walau ribet harus aku lakukan.


"Sampai lupa, terima kasih, Pak Yoga, " ucap Ayu. Tubuhnya rengkuh sebagai tanda hormat dan terima kasih.


"Sama-sama, hati-hati." jawab Yoga tersenyum. Lucu melihat si telanjang kaki, susah payah berjalan memakai higheel. Samping yang di pakai menambah susah melangkah.


Yoga menatap Ayu dengan kagum. Sudah banyak mendengar ukiran prestasi gadis manis itu semenjak kecil. Bagaimana perjuangan ingin bersekolah. Sungguh kagum di buatnya. Luar biasa. Limited edition.


Yoga pergi dengan tersenyum. Semoga bisa memetik bunga mawar putih dari lereng gunung. Masih putih, murni dan alami. Belum terjamah dan ternoda. Tanpa terkontaminasi paparan polusi.


"Ya Allah, Ayu! Bagaimana bisa datang terlambat. Ini harimu, kamu bintangnya hari ini. Masak kesiangan juga," teriak Irniaty bak geledek menyambut sahabatnya.


"Emang sudah mulai?"


"Belom, cuma takut saja acaranya akan redup tanpa sang bintang" jawab Eva.


"Kalian itu kenapa, selalu bilang bintang. Apanya yang bintang?Aku hanya purnama yang terkena gerhana. Redup tiada cahaya."


"Aiih ... merendah. Kamu itu juara satu kabupaten. Hebat selalu begitu sedari SD ya kan?" Nurasiah Jamilah menepuk pundak Ayu.


Ayu menarik napas panjang. Betapa sesaknya dada.


"Hanya tertulis di kertas. Pada kenyataannya. Aku hanya seorang pejuang tanpa peruntungan. Langkahku hanya bisa sampai di sini. Tidak seperti kalian yang masih bisa lanjut pendidikan."


"Bener, nggak lanjut kuliah, Yu?" Thien kaget mendengar ucapan Ayu.


"Kan dapet beasiswa. Masak nggak lanjut kuliah. Sayang beasiswanya. Bahkan ada yang jauh-jauh dari UGM, segala. Ambil Ayu! hanya kamu yang dapet beasiswa itu." Nurasiah tampak merasa sedih.


"Biaya kuliah Alhamdulillah beasiswa. Tapi, buat sehari-hari makan sama ongkos dari mana. Aku sudah merasa kasihan melihat bapak harus putar otak membiayai biaya sekolah sekarang. Belum adik saya yang tiga sudah mulai besar dan harus sekolah. Dari mana bapak bisa membiayai? Kuliah itu butuh biaya banyak, tak hanya bayaran bulanan atau semester. Butuh biaya harian yang tak sedikit. Aku tak mungkin mogok makan lagi untuk demo pada orang tua. Sekarang tinggal terima nasib saja. Alhamdulillah, akhirnya bisa wisuda jadi sarjana SMA," ujar Ayu tersenyum kecut.


Jadi sarjana SMA. Ya lulus sekolah setingkat SMA seperti jadi sarjana. Sudah lulus jadi alumnus SMA juga sangat bahagia. Sudah cukup, setidaknya jadi orang pertama di kampungnya dapat ijazah SMA. Harapan memakai baju toga hanya impian semata.


Empat sahabatnya merangkul Ayu erat. Sungguh di sayangkan jika gadis sepintar Ayu tidak bisa melanjutkan pendidikan. Apa hendak di kata, sudah suratan, jika Ayu harus menelan pil pahit kenyataan. Mereka


berangkulan bersama. Terisak. Memeluk Ayu erat.


Sebuah panggilan terdengar menyebut nama Ayu. Saatnya penerimaan piagam penghargaan siswa terbaik. Ayu maju terdepan sebagai kebanggaan sekolah. Prestasinya membuat harum almamater. Dengan bangga Bapak kepala sekolah memberikan piagam dan piala, juga sebuah bingkisan tanda penghargaan.


Ayu melangkah dengan pasti. Podium menjadi saksi si gadis gunung menjadi juara untuk kesekian kalinya. Tepukan tangan mengiringi langkahnya. Bukan bahagia dan sumringah di wajah. Mendung menggelayut, lara menerpa. Setitik air mata menyertai uluran selamat yang di berikan padanya. Ini kali terakhir piagam dia genggam. Penghargaan mampir di tangan.


Ayu berdiri di depan menatap tepukan hadirin. Seolah tepukan itu bukan tanda ucapan selamat atas Raihan prestasi tapi tepukan cibiran atas nasib malang yang menimpa. Hatinya lara.


Acara demi acara lancar terlaksana. Semua tampak bahagia. Giliran band sekolah pentas unjuk gigi. Haris Hendra Gunawan asyik menggebuk drum, Jejen membetot bass, Oleh memetik gitar sekaligus menjadi vokalis terlaris. Eva Fitria sejenak melupakan lagu kasidah. Bernyanyi merdu tentang lagu kisah klasik untuk masa depan karya Sheila on 7.


Semua larut, merasa kalut. Lagu itu menggambarkan keadaan mereka. Hari ini akan mereka kenang. Menjadi sebuah kisah klasik yang takan terlupa di hari nanti.


Pentas budaya sunda tak juga ketinggalan. Senandung degung mengalun merdu. Siswa-siswi mementaskan kemampuan. Rancak gendang juga memeriahkan suasana. Semua tampak begitu meriah.


Kini tiba saat semua siswa kelas tiga tampil di depan. Rampak Sekar. Paduan suara menyanyikan beberapa lagu perpisahan.


Hymne guru menghipnotis habis. Menusuk kalbu. Lirih lagu pileuleuyan membuat semua terharu biru.


Pileuleuyan pileuleuyan, sapu nyere pegat simpay, pileuleuyan pileuleuyan paturay patepang deui, amit mundur, amit mundur, amit ka jalma nu rea, hayu batur, hayu batur, orang kumpul salerea, pileuleuyan pileuleuyan da abdi bade ngumbara.


Satu persatu menyalami guru dan di sematkan sebuah medali tanda alumnus sekolah. Semua menangis terisak. Terbayang semua perjalan tiga tahun lamanya.


Awal datang tanpa saling mengenal. Bersama berbahagia, berbagi tawa canda. Kadang pertengkaran membumbui. Gaduh berkelahi. Bersama melakukan kenakalan ala remaja. Menjahili teman atau sekedar bolos sekolah. Saling contek tugas yang tidak kelar. Kadang saling bully. Semua tergambar dalam ingatan.


"Kita akan berpisah hari ini. Tetap berjanji tak ada jarak yang mengikis sialturahmi," ujar Nurasiah setelah usai acara dan berkumpul di gerbang sekolah.


"Siapapun kita. Mungkin kelak ada yang menjadi pejabat atau hanya rakyat. Orang kaya atau papa kita akan lupakan status itu. Yang kita ingat bukan saat itu. Kita ingat hari hari selama tiga tahun bersama." timpal Ayu.


"Kita akan bersama selamanya meski jarak jadi pemisah." tangan Thien menjulur dalam lingkaran.


"Sebulan sekali atau hanya setahun sekali kita kumpul untuk berbagi semua. Harus bisa. Ok!" Irniaty tak kalah aksi. Tangannya di tumpuk di atas Thien.


"Sabisa- bisa kudu bisa, pasti bisa."


Eva tertawa dan menambah tumpukan tangan di susul Ayu dan Nurasiah. Kelima sahabat itu membuat formasi tangan dalam lingkaran.


"Allahu Akbar." pekik mereka keras.


Semua siswa sudah pulang. Hanya tinggal mereka yang sengaja ingin memisahkan diri. Bercengkrama lebih lama sebelum berpisah.

__ADS_1


"Jangan lupakan aku, kawan. Hal yang paling menyedihkan adalah kehilangan kalian, bukan keluar dari sekolah ini. Sahabat terbaik dalam hidupku," kata Ayu berkaca


"Bukankah kita sudah berjanji. Jadi apapun kita di masa depan. Kita selamanya adalah lima sahabat takan berubah." Thien mengelus pundak Ayu.


Semua akhirnya harus berpisah. Beberapa jepretan Kodak menandai kenangan mereka hari itu. Nur berjanji jika sudah di cuci, maka semua akan di bagi rata. Hasil jepretan kamera akan menjadi satu kenangan kebersaman mereka.


\*\*\*\*\*\*


Rimbun pohon beringin tua di bukit sebelah utara begitu sejuk membelai Ayu. Sebuah buku di tangan tak jadi bacaan. Angannya melayang entah ke mana.


Sejauh pandang di lihat begitu indah biru langit. Sekumpulan burung yang tengah bermigrasi tampak menari di udara. Sesekali sang raja angkasa datang menggangu mereka. Elang. Suaranya begitu membahana. Menakuti para kawanan tikus yang berlari kian kemari di bawahnya. Takut menjadi mangsa.


Desir angin semilir meniup baju dan hijab yang di kenakan Ayu. Akar tua yang melingkar bagai ular menjadi tempat duduknya. Perempuan berkulit bersih dengan hijab lebar dan buku ditangan asyik menjelajah dunia dengan berkawan pesona alam yang membentang memanjakan mata.


Di depannya lapangan bola dengan ukuran besar tampak di kelilingi rumpun ilalang. Sang beringin seolah menjadi tempat persinggahan setiap orang yang letih berolah raga di sana.


"Boleh saya duduk di sini?" Yoga datang dan meminta ijin duduk di samping Ayu.


"Silahkan, Pak, kebetulan saya sudah mau pulang," jawab Ayu berdiri dan berniat pergi.


"Tidak mau menemani saya?"


"Maaf, saya tidak bisa berkhalwat dengan non mahram tanpa ada orang ketiga."


"Ooh, ya, baiklah. Katanya Ayu sekarang mengajar di SD sebagai guru honorer ya?"


"Ya, pak, mulai Senin kemarin. Hanya bantu sedikit, ilmu saya tidak mumpuni jika mengajar, saya hanya lulusan SMA. Sekolah itu kekurangan tenaga pengajar dua orang. Lumayan saya bisa sedikit membantu. Maaf, saya harus pamit," kata Ayu seraya pergi.


Yoga termenung sendiri sepeninggal Ayu. Besok harus meninggalkan desa ini. Mengapa terasa berat. Sungguh tak ingin pergi. Sudah terpasung kaki dan hati di desa nan asri. Terpesona pada si gadis manis. Pemudi desa dengan pesona yang berbeda.


Kau umpama burung merpati. Jinak tapi susah di dapat. Terlihat lembut namun keras hati. Selalu memegang teguh prinsip.


\*\*\*\*\*\*


Yudistira Hadi Wijaya. Dokter muda nan tampan gila kerja. Frustasi karena kehilangan di tebus oleh pengabdian. Seluruh waktunya hanya untuk mengabdikan diri pada profesi.


Siang dan malam hari, hampir dua puluh empat jam berada di Rumah sakit. Entah mengapa tak tertarik mencari pasangan. Meski, setiap hari menjadi bully rekan kerja. Tampan tapi jomblo. Ganteng tapi tak laku.


Tak ingin menggubris. Terserah orang bilang apa. Aku yang jalani mengapa harus mendengar apa kata orang. Rasanya sulit mendapat seorang gadis seperti Ayu. Cindy berulang kali menghubungi. Menyesal ingin balikan. Tak ada lagi hati untuk kembali. Satu kesempatan cukup. Ludah yang di keluarkan tabu di jilat lagi.


Sebuah halte bis menarik perhatiannya. Seorang gadis dengan perawakan seperti Ayu tampak sedang menenangkan gadis kecil yang menangis. Apakah itu benar kamu Ayu?


Dari jauh tampak beda dengan Ayu si ANAK GUNUNG. Gadis ini lebih putih dan terawat juga tidak hitam seperti Ayu lestari.


Ckiiiit. Rem dipaksa menghentikan mobil. Bukan hayalan atau halusinasi. Gadis itu Ayu. Tampak anggun dengan pakaian gamis modern dan riasan wajah. Begitu cantik. Kulitnya bersih dan putih.


"Ayu ...!!!" panggilnya dengan suara yang gemetar menahan rindu.


Masih rasa itu ada. Tak hilang oleh kenyataan meski mungkin Ayu kini sudah jadi milik orang. Pasti mendapat jodoh lelaki yang cukup mapan ekonomi sehingga Ayu bisa merawat diri. Bukan Ayu culun yang bahkan tak mengenal bedak atau riasan wajah. Sekarang terlihat Ayu gadis yang bisa merawat diri.


Ayu terdiam. Ah, mengapa suara itu masih selalu terngiang di telinga? Menggangu. Sudah hampir lima tahun tak bertemu, masih tak jemu mengganggu. Sehingga berhalusinasi memanggil namanya.


"Ternyata benar ini kamu, saya kira salah orang."


"Kak Yudis." pekik Ayu tak percaya.


Ayu membalikan badan. Terlihat di depannya seorang dokter tampan yang mengganggunya siang dan malam. Lelaki dengan jas putih kebesarannya. Tampak gagah dan menatap tajam seolah tak ingin melepaskan pandangannya.


Keduanya terdiam. Lupa jika di dunia ini tak hanya ada mereka. Sejenak larut dalam pandangan yang memabukkan.


"Papa, Sisil pengen pulang." teriakan gadis kecil yang bersama Ayu mengagetkan keduanya.


"Ya, Nak, kita cari Papa, ya?"


"Anakmu, Yu?" tanya Yudis


"Bukan, kak, saya menemukan anak ini di sini"


"Ohh, jadi ini anak hilang ya. Dek siapa namanya?"


Sabit tergambar di wajah Yudis. Lengkung itu tak bisa disembunyikan. Ingin rasanya koprol dan bersorak sorai. Selebrasi atas status anak kecil yang semula disangka anaknya Ayu.


"Sisil, Om. Aku kangen papa. Pengen pulang ... huaaa." tangisan anak itu kembali pecah.

__ADS_1


"Kita harus membawa anak ini ke kantor polisi. Sangat susah mencari orang tuanya jika tak menghubungi pihak yang berwajib. Ayo kita berangkat ke sana sekarang! " ajak Yudis.


"Ya tapi ..." jawab Ayu ragu.


Selalu menghindar, hari ini mengapa harus bertemu dengannya. Harus juga menemani ke kantor polisi. Tidakkah! Pekik Ayu di hati.


Susah payah menata hati agar tak lagi berdarah memikirkannya, mengapa harus berjumpa. Melihatnya membuat sakit. Bersamanya menyesakkan. Tapi, menghindar tak bisa. Gadis kecil itu menempelnya erat.


"Tapi ... kita akan kemalaman." Samber Yudis yang langsung menarik tangan Ayu masuk. Setelah Sisil juga masuk mobil.


Muka Ayu merona merah. Tangannya gemetar. Aliran darahnya mengalir tak biasa. Panas dingin sekujur badan.


Yudis tersenyum merasakan getaran halus di tangan Ayu. Masih dengan rasa yang sama. Ternyata kau tetap memendam rasa.


Ayu terdiam tanpa kata. Masih syok jika berdekatan dengan Yudistira. Menghindari pandangan pemuda itu dengan mengelus lembut Sisil yang tampak kelelahan, mengantuk dan terlelap.


Yudis mengintip lewat kaca spion. Kagum dengan perubahan Ayu. Kini tampak putih dan terawat. Wajahnya begitu cantik dengan polesan make up sederhana.


Ayu kikuk, merasa jika Yudis memperhatikan. Di ambil buku di tas. Seolah buku itu di baca. Padahal buku itu hanya di tatap tanpa satu katapun di bacanya.


"Hebat, baru pertama kali melihat seseorang membaca buku dengan terbalik. Ohhhh, saya lupa kalau kamu si kutu buku. Jika sambil koprol juga pasti mampu membaca."


"Astaghfirullah, aduh." celetuk Ayu.


Pasti mukaku konyol lagi di hadapannya. Mengapa selalu ceroboh jika dekat Yudis. Ayu menggigit keras bibir bawahnya.


"Awas berdarah, Yu,"


"Hah ...." Lagi-lagi Ayu membuat Yudis terpingkal.


"Sudah menikah pun masih juga konyol seperti dulu dan ketakutan jika berdekatan dengan Ikhwan. Kamu itu sungguh lucu."


"Siapa yang menikah? Saya?"


"Ya, dua tahun lalu saya melihat kamu jalan sama tunanganmu. Kalian serasi. Saya kira sudah punya anak."


Ayu tersenyum. Yudis kian terpana melihat wajah cantik dengan senyuman menawan. Sungguh di sayangkan milik orang.


"Saya menikah? dengan siapa? Lalat pun tak mau hinggap. Kak Yudis sudah punya anak berapa?" tanya Ayu dengan ketir. Sakit di hati menanyakan itu.


"Beneran kamu belum menikah. Lalu siapa yang waktu itu membonceng kamu. Saya lihat saat itu kamu memakai kebaya dan rapi mungkin acara perpisahan sekolah."


"Ohhhh. Itu Pak Yoga. Alhamdulillah dia menolong saya untuk mengantar ke sekolah jika tidak saya akan kesiangan di hari perpisahan.


"Bodoh," rutuk Yudis.


"Siapa? saya?"


"Bukan kamu. Maaf saya tadi salah kata."


Yudis tertawa sendiri. Tuhan ternyata salah paham. Bertahun menyimpan lara ternyata sang mawar belum menikah. Semoga masih ada secercah harapan. Kembali semangatnya menggebu.


"Kakak menikah kok tidak mengundang?"


"Saya menikah dengan siapa?"


"Cindy"


"Jika menikah dengannya pasti ada berita di surat kabar, saya jomblo. Nggak laku" jawab Yudis tersenyum.


Ayu juga tersenyum. Entah mengapa bahagia mendengar Yudis masih melajang.


"Kak Yudis merendah. Pasti sudah siap ke pelaminan dengan calonnya. Jangan lupa undang saya jika menikah." Kata itu meluncur mulus di lidah tapi pahit di hati.


"Saya belum punya calon. Mau Ayu jadi calon saya ?"


Bleppp. Muka Ayu bak tomat matang. Merah merona. Kak, mengapa bercanda. Bagiku candamu tak lucu. Jangan bercanda soal hati. Jika terluka, sakitnya tak seindah stand up comedy.


"Kak, itu kantor polisinya di depan."


Ayu menunjuk kantor polisi tiga puluh meter di depan. Mengalihkan perhatian dan menenangkan hati yang seolah lari dari posisi.


Mobil melambat memasuki parkiran. Membawa dua hati dengan debar tak karuan.

__ADS_1


To be continue~


__ADS_2