
Hari masih pagi, Ayu sudah kembali dari sekolah. Kepala sekolahnya meninggal dunia. Seluruh siswa di liburkan sebagai ungkapan belasungkawa.
Gadis berbaju putih abu berjalan dengan perlahan. Sebuah novel karya Helvy Tiana Rosa berada di tangannya. Asyik membaca sembari berjalan. Itulah kehebatan Ayu, kakinya seolah telah tahu kemana harus melangkah. Padahal matanya begitu fokus pada lembaran di tangan. Namun, tak pernah terjatuh karena hobinya. Seolah kaki sudah tahu kemana harus berpijak dengan aman.
Di sebuah batu besar Ayu mengistirahatkan tubuhnya. Lumayan jauh berjalan, kakinya penat. Seteguk air putih di botol berpindah ke tenggorokan.
Serasa mengalir memenuhi aliran darah. Peluh di sekanya dengan saputangan. Cuaca tampak cerah. Ayu melihat dari jauh petani sedang mengusir pasukan burung Pipit yang asyik menikmati bulir padi yang meranum. Gerombolan hama pengganggu itu terbang ketakutan. Mereka berlari kesana-kemari takut menjadi sasaran pukul pak tani.
Kadang lucu melihat orang-orangan sawah yang bergaya di tengah menguning tanaman Dewi Sri. Tampak begitu lucu. Caping bekas di bagian atas sebagai kepala. Baju usang tak terpakai menjadi kostumnya. Usaha hebat petani mengusir pasukan hama pemangsa. Cara sederhana yang lumayan ampuh mengusir pasukan yang tak pernah kenyang.
"Aduuuh .... Tolong!"
Rintihan seseorang terdengar samar. Ayu memegang tengkuknya. Merinding. Suara manusia atau ...? Mendadak keringat dingin membanjiri raganya. Jantungnya berdegup dengan kencang. Ayu bergidig ngeri. Sudah terkenal jika Cadas Pangeran adalah tempat angker. Mungkin itu penunggu yang biasa disebut dalam cerita orang tua. Atau korban begal yang di buang di jurang. Entah berapa kali penemuan mayat sudah terjadi. Koran lokal sudah sering memberitakan ada mayat dalam karung di Cadas Pangeran. Mungkin kah jika itu suara korban begal juga?
"Tolooong ....!"
Suara itu kian kentara di telinga. Ayu mencoba menepis rasa takutnya. Bagaimana jika itu orang yang sedang terluka dan sangat butuh pertolongan? Nyawanya mungkin tengah terancam. Perlahan Ayu mendekati sumber suara.
Matanya membulat sempurna. Kaki tanpa dikomando berlari sekuat tenaga. Saat tahu siapa yang merintih begitu perih dan didera lara di tepi jurang sana.
"Kak Yudis, Astaghfirullah," pekiknya.
Ayu segera mungkin menghampiri Yudis yang berada di tebing. Terbaring tiada berdaya. Rintihan kesakitan kian terdengar, seiring Ayu mendekat.
Dengan hati-hati Ayu menuruni tebing. Susah payah akhirnya bisa sampai juga. Ayu terkejut melihat wajah tampan Yudis yang kini tak berbentuk lagi. Benjolan bekas gigitan binatang memenuhi setiap inci wajahnya. Bibir mungil, merah nan tipis itu bengkak tak berbentuk. Mata tajam dengan bulu mata lebatnya juga sebam di gigit binatang.
Tak hanya wajah, seluruh tubuh Yudis juga penuh benjolan. Pantas saja rintihan kesakitan terdengar menyayat hati.
Ayu langsung memeriksa kesadaran Yudistira. Tampak pemuda itu matanya terpejam. Ayu bimbang antara menyentuh atau tidak pemuda itu. Bukan mahram Ayu, jangan menyentuhnya! Tapi, ini darurat tak mengapa. Perang batin melanda.
Ayu melihat ke atas tempat jalan setapak di lewati orang-orang. Sangat curam, jika Yudis sadar pun akan sulit mendaki tanpa menyeretnya dalam pelukan. Apalagi jika kondisinya setengah pingsan.
"Bismillah," ujar Ayu memapah Yudis. Tangannya memeluk pinggang dan tangan Yudis berada di pundaknya.
Yudis yang sebenarnya sadar datang akal bulusnya. Pura-pura pingsan. Deg. Jantung yang begitu berdekatan itu seolah berhenti berdetak. Aliran listrik sintetis menyetrum raga keduanya hingga terpaku tanpa suara. Jantung berdegup menjadi satu irama dalam raga yang bersatu dalam pelukan tanpa sengaja. Yudis dan Ayu sesaat terdiam. Seolah putaran waktu berhenti sesaat.
__ADS_1
Tubuh Yudis hampir terlepas saat Ayu bisa menguasai kesadaran. Secepat kilat didekap dengan erat. Takut jatuh terjungkal ke jurang yang dalam.
Tanpa sengaja Ayu harus memeluk Yudistira. Tubuhnya bergetar, panas dingin sekujur badan. Keringat dingin keluar dari pori-pori kulit. Ini kali pertama begitu dekat tanpa jarak dengan seorang ikhwan yang bukan mahramnya. Pantas Ayu begitu kaku.
Yudis sebenarnya geli dan bahagia melihat Ayu yang tampak canggung. Sungguh baru pertama kali melihat gadis itu dari jarak yang teramat dekat.
Sangat manis. Kulitnya yang menghitam itu begitu eksotis. Tubuhnya sebenarnya sangat ramping. Hanya, pakaian yang longgar membuat badan tampak berisi. Kini saat tangannya bisa berpegangan pada pinggangnya. Baru ngeh jika Ayu cenderung kurus.
Ayu menyeret tubuh Yudis yang pura-pura pingsan dengan perlahan. Selang beberapa waktu tumbang tak kuat menopang. Ayu meletakan kepala Yudis di pangkuannya.
Menatap wajah itu lekat. Ya Allah, tolong jangan pingsan. Pemuda dambaannya kini ada dalam pangkuan. Tangan Ayu gemetar menyentuh wajah penuh benjolan itu.
"Kasihan kamu, Kak, pasti sengatan lebah ini menyakitkan. Nanti malam kamu akan meriang. Bagaimana ini? Semoga Ayu kuat menyeret ke atas. Di sana kita akan mudah menemukan orang yang dapat menolong."
Setelah beberapa saat Ayu melanjutkan langkahnya. Yudis kecewa karena tidak bisa lama dalam pangkuan Ayu. Matanya sesekali mengintip Ayu yang tampak mencemaskan dirinya. Sungguh ingin menghentikan waktu. Biarkan moment ini untuk sesaat. Jangan ganggu rasa nyaman yang didapat.
Akhirnya Ayu berhasil sampai di jalan setapak. Mengedar pandangan mencari orang yang bisa menolong. Yudis di letakan kembali di pangkuan.
"Semoga tak ada orang lewat ke sini, sehingga aku bisa berduaan dengan Ayu." harap Yudis
"Alhamdulillah, pak, akhirnya ada yang bisa menolong juga. Tolong bantu saya. Kak Yudis tersengat lebah. Bisa bantu saya bawa ke kampung," pinta Ayu pada seorang Pria tua yang lewat di depan mereka.
"Ya Allah pak dokter, kasihan Neng. Tapi, bapak tak bisa membawa pak dokter sendirian. Bapak panggil dulu bantuan. Tunggu sini dulu ya," ujar pak tua itu.
Ayu mengangguk. Ya Allah, semoga cepat bantuan datang. Kasihan kak Yudis.
Yang lama pak, jangan ganggu kami. Pinta Yudis di hati. Berharap bahkan tak ada orang yang akan datang. Rela Yudistira menahan sakit di badan. Asal bisa berdekatan dengan pujaan.
Setengah jam berlalu, Yudis begitu nyaman dalam pangkuan Ayu. Entah mengapa rasa sakitnya jauh berkurang saat Ayu di dekatnya. Padahal ratusan benjolan di sekujur tubuhnya itu membuat rasa sakit tak tertahankan.
"Alhamdulillah kak, orang-orang sudah datang. Kita bisa pulang"
Yudis kecewa. Pengganggu. Tak tahu apa nyaman sekali dekat dengan kamu, Ayu. Ini malah datang sepasukan.
Penduduk desa menggotong Yudis. Membawanya ke kampung. Yudis meringis. Serasa jadi bahan tontonan ketika tiba. Setiap orang berduyun-duyun datang melihat keadaannya.
__ADS_1
Anak matanya tak lagi dapat melihat Ayu. Ke mana kamu, Ayu. Sudah menolong lalu pergi tanpa pamit. Aku sudah mulai merindu, padahal baru beberapa menit berlalu.
Ayu bergegas pulang. Masih dengan debar di dada. Seumur hidup moment tadi takan pernah di lupakan. Entah mau di taruh di mana ini muka. Bagaimana jika tadi Yudis tidak pingsan. Pasti melihat wajah konyolku saat bersama tadi. Muka kepiting rebus di kuali. Tuhan, aku tak punya lagi muka bertemu dengannya. Entah begitu malu berhadapan langsung dengannya.
Bagaimana jika dia tahu perasaanku. Konyol. Rasa yang sepihak dan tak mungkin bersambut. Sungguh aku akan menghindarinya mulai dari sekarang.
Biar kutepis rasa, semoga saja bisa sirna. Karena jika selalu melihat, sulit rasanya untuk sekejap melupakan, apalagi menghilangkan perasaan. Azam Ayu di hati.
\*\*\*\*\*\*
Malam kian larut. Begitu sunyi. Simponi alam tengah berpentas. Suara jangkrik dan binatang malam lain bersahutan. Menemani purnama yang bersinar dengan indahnya.
Deru angin terdengar berbisik. Gesekan pohon bambu yang beradu menambah syahdu. Gemericik air pancuran membuat melodi yang indah. Aliran air di selokan juga menambah pesona di malam buta.
Malam di desa sunyi, tanpa bisa memejamkan mata itu mengasyikan. Berteman suara alam membawa lamunan dan angan melayang terbang. Begitupun Yudistira.
Yudistira meriang. Sepanjang malam tak bisa memejamkan mata. Apalagi kejadian tadi siang membuatnya tak bisa lena.
Selalu terbayang gadis gunung yang kaku dan gemetar saat berdekatan dengannya. Selalu mengukir senyum di bibir. Yudis yakin itu kali pertama, Ayu bersentuhan dengan laki-laki.
Wajahnya tegang dengan mimik lucu selalu menari di pelupuk mata. Yudis si plamboyan baru kali pertama melihat seorang yang begitu ketakutan saat berdekatan dengannya.
Sungguh, kau berbeda dari semua gadis yang ada di hidupnya. Semua perempuan berebut mendekati Yudis. Mencari panggung di hati. Bahkan tak segan melupakan rasa malu untuk sekedar ingin dekat dengannya.
Ah, putih abu. Mengapa aku benar jatuh hati padamu. Lantas, mau aku simpan di mana Cindy.
Cindy si cover girls majalah ternama yang selama ini mati-matian di kejarnya. Setelah berjuang cukup keras, bersaing dengan fans fanatiknya. Haruskah di lepaskan. Yudis meremas gemas kepalanya yang tak luput dari serangan lebah siang tadi. Terasa ngilu.
Ke isengan berbuah petaka. Ingin melihat sarang lebah yang gagah bertengger di pohon, malah membuat mereka murka dan menyerang membabi buta. Sekujur badan menjadi sasaran.
Perlahan matanya mulai terpejam. Seiring efek obat yang menjalar di tubuh. Yudis berharap esok pagi segera datang.
Membawa sang mentari mengantar pagi. Sehingga dapat bertemu si putih abu. Aku menunggu kau menjengukku, Ayu.
To be continue~
__ADS_1