
Kokok ayam membangunkan Emak. Si Jalu pasti menandai waktu sudah jam 04.00 WIB. Perempuan berusia 40 tahun lebih itu tergopoh ke dapur. Langkahnya terhenti, sejenak menguping di balik pintu. Suara nyaring Ayu yang tengah mengaji menyebabkan senyum simpul di wajahnya.
Emak tak lagi harus membangunkan perawannya, setiap jam 03.00 Ayu shalat tahajud dan mengaji. Kemudian Ayu akan belajar. Tumben, masih mengaji jam segini. Biasanya sudah anteng membaca buku pelajaran. Mengulang pelajaran yang telah lewat dan membaca pelajaran yang akan di bahas guru nanti siang.
"Masak apa Mak hari ini?"
"Emak punya bakakak ayam, ada yang munjung salam tadi, Ayu tolong bantu Mak potong dan rebus. Bumbunya sekalian uleg ya, Neng," pintanya tanpa menoleh. Mak asyik mengaron nasi di atas tungku.
Cekatan Ayu membantu Mak. Semua masukan selesai. Ayu bergegas mandi dan berpatut diri. Sudah cepat sekarang memakai kerudungnya. Dulu hampir sejam waktu terbuang untuk mengenakannya. Gadis manis bertinggi 140cm itu tersenyum saat teringat Lina yang selalu mengajarinya memakai kerudung.
"Awalnya gerah Ayu, panas bukan main. Lagian nggak asyik dan trendy rasanya. Melihat sahabat kita yang SMP bisa pamer rambut indah dengan aksesoris rambut warna - warni, rasanya iri. Tapi, kata Bapak biar gerah sekarang asal jangan kepanasan di akhirat juga terhindar dari gangguan orang iseng."
"Maksudnya?"
"Nanti juga kamu akan lihat sendiri," jawabnya kala itu
"Ayu berangkat Mak, Bapak, assalamu'alaikum."
Ayu pamit. Tas di punggungnya penuh dengan buku dan seragam sekolah. Hari ini Ayu memakai training panjang lengkap dengan kaos olah raganya. Setumpuk buku di dekap dengan tangan kanan di dada.
Ayu telah terbiasa membaca buku dalam perjalanan. Turunan tajam yang di lalui bukanlah halangan melanjutkan membaca. Mengulang pelajaran jika ulangan atau sekedar membaca buku atau majalah pinjaman dari sahabatnya.
45 menit perjalanan Ayu selesaikan. Jalan raya masih lenggang. Hanya satu dua mobil yang lewat. Angkutan kota juga telah sarat dengan penumpang. Ayu menunggu lama.
"Alhamdulillah, akhirnya ada juga," bisiknya lirih.
"Masuk, Bu haji!" canda sang kernet memberi jalan Ayu masuk.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Lima menit kemudian terhenti seorang penumpang perempuan dengan rok mini dan baju yang ketat menyetop kendaraan.
"Sendirian saja, Cantik, boleh Aa temani." mukanya menggoda dengan mengedip mata dan senyum menjijikan. Tangannya tak kalah nakal menepuk pantat yang padat berisi.
Gadis itu menunjukan mimik tak suka. Muka memerah karena menahan marah.
"Nggak sopan si akang, jangan gitu kang!" cerocosnya murka.
"Lah, makanya pake baju juga yang bener Neng. Apa nggak masuk angin bajunya kayak gitu?"
Seorang Bapak bukannya membela gadis itu malah menyalahkan pakaiannya.
"Anak ini coba lihat masih kecil sudah rapi berjilbab, siapa yang akan mau menggoda jika dengan pakaian tertutup seperti ini, pakaian itu identitas. Meski, akhlakmu baik tapi jika tampilan luar seperti ini, jangan salahkan orang salah menafsirkan. Orang akan menilai pertama kali dari penampilan luar, kemudian akan melihat tutur kata dan perangai. Jadi tolong perbaiki dandanan luarmu, maka in syaa Allah orang akan memandangmu dengan segan. Pakaianmu adalah perisai dan pelindung pertamamu dari gangguan. Eh, kang kondektur, kamu juga tolong hargai setiap penumpang. Perbuatanmu bisa melanggar pasal pelecehan seksual, loh. Mau kamu di laporkan dan di penjara? Coba bayangkan jika gadis ini adalah ibumu, adik perempuanmu, bibimu atau orang spesialmu. Bagaimana rasanya jika diperlakukan demikian?"
Bapak itu tampak gusar, tangannya mengelus kepala Ayu. Salut hanya Ayu dalam angkot itu berkerudung.
Kondektur dan sang gadis tertunduk.
__ADS_1
Ohh ... Ini jawaban ucapan Lina. Benar, sungguh merasa menjadi perisai jilbab ini, tak ada kata yang melecehkan terlontar apalagi perbuatan tak pantas yang di dapati Ayu setelah berhijab. Paling hanya ucapan salam yang terdengar menggangunya dari para pemuda iseng.
Kala itu jilbab hanya di pakai anak madrasah. Anak SMP biasa tidak memakaianya. Sungguh jilbab identitas ketaatan bukan asal trendy dengan mode masa kini. Model hijab tak ada. Hanya kerudung segi empat atau bergo tanpa model.
\*\*\*\*
Ayu melangkah memasuki kelas. Hampir tiga tahun melalui pendidikan di bangku sekolah menengah pertama. Hanya tinggal dua bulan akan ujian. Ayu kembali di Landa murung. Bukan takut menghadapi ujian yang akan datang.
Bayangan jika hanya tinggal menghitung waktu menjadi pelajar. Bangku SMA mungkin hanya bayangan semata. Selalu menggangu dan menghilangkan keceriaan di wajahnya.
Prestasi Ayu selalu menjadi yang terbaik. Nilai-nilai akademik bukan lah alasan untuk berhenti sekolah. Lagi-lagi restu Bapak dan Emak jadi penghalang. Teman-temannya satu persatu telah menikah dan mempunyai anak di usia belasan. Sedangkan Ayu masih tetap berangan untuk melanjutkan pendidikan. Langkahnya kian terjal. Di usianya gadis desa seumpama setangkai bunga yang ranum yang siap di petik. Siap menyambut lamaran dan menjadi mempelai di pelaminan.
"Neng, cukup sampai SMP saja sekolahnya, ya. Nur dan teman yang lain sudah menikah dan punya anak. Jika sekolahmu tinggi siapa yang mau melamar. Sekarang usiamu sudah 15 tahun. Jadi Bapak rasa sedikit banyak sudah mengerti tradisi. Tak baik jika anak gadis menikah telat. Apa kata orang."
"Apa yang di katakan orang lebih penting dari pada masa depan Ayu, pak?"
"Bukan gitu, Nak. Presiden sudah ada, Menteri sudah ada, polisi, tentara juga ada. Untuk apa kita harus belajar yang tinggi. Kita hanya orang kecil maka harapan kita juga kecil. Jangan terlalu tinggi berangan."
"Ayu tahu bukan biaya alasan Bapak menolak Ayu sekolah, juga bukan karena akhlak Ayu yang jadi penyebabnya. Tapi karena malu jika Ayu telat nikah jika sekolah. Hanya tinggal Ayu anak perempuan yang belum di pinang orang. Pak, jodoh itu urusan Allah. Suatu saat yang tepat Ayu akan bertemu seseorang yang jadi imam. Ada seseorang yang Allah peruntukan buat Ayu. Cepat atau lambat dia akan mengetuk pintu rumah untuk mengkhitbah."
"Emak tahu itu, tapi untuk apa Ayu sekolah tinggi-tinggi. Lebih baik bantu Emak di rumah mengurus adik. Sudah saja cukup sampai SMP." Emak nyerocos kayak petasan mercon yang di sulut.
Pandangannya selalu sempit. Ayu sedih jika ternyata perempuanlah yang tak mau mengubah nasib. Seharusnya kaumnya menolak dan mendobrak pemahaman itu. Bukan menjadi penganut dan pengikut setia.
"Woi melamun apa Yu, bengong saja." Lina menepuk pundaknya
"Kamu meneruskan kemana, Lin ?" Ayu bukan menjawab malah balik bertanya.
"In sya Allah ke Aliyah, hanya aku pindah rumah nanti, Yu." Raut wajah Lina tampak mendung.
Lina harus jauh dari sahabatnya. Tiga tahun bersama kini harus berpisah karena Lina harus pindah domisili. Lina pindah ke Jepara.
Wajah Ayu kian redup. Harus jugalah kehilangan sahabat baiknya. Tempat mencurahkan perasaan saat dalam masalah. Berbagi suka dan duka.
"Aku sepertinya tidak akan melanjutkan pendidikan. Bapak tidak mengijinkan."
"Kenapa?"
"Tradisi, itu halangan dan musuh kemajuan kita. Aku kalah melawan itu."
"Kamu akan menyerah, yu?"
"Maksudnya?"
"Protes keras akan mengalahkan tradisi dan hati orang tuamu."
__ADS_1
"Caranya?"
"Itu harus kamu cari tahu sendiri, kamu lebih tahu bagaimana orang tuamu. Hanya jangan kalah dan menyerah. Jika hanya air mata itu percuma. Gigih berjuang pantang menyerah itulah Ayu lestari. Bukan tumbang dan menangis di balik derita."
Ting.... Lina mengedipkan mata.
Ayu akhirnya tersenyum. Lina benar protes keras harus di lakukan. Pendidikan bukan hal haram. Itu kewajiban. Anak bukan beban orang tuanya. Jadi, ketika meminta hak pendidikan sama halnya meminta nafkah primer lainnya.
Sandang, pangan dan papan haknya, Pendidikan juga. Tapi, berkata keras meminta rasanya itu percuma. Suara Emak lebih menyeramkan di banding gelegar petir yang menyambar. Nada tinggi bagi orang tua juga dosa. Lantas harus berbuat apa?
\*\*\*\*\*\*
Ujian sekolah usai. Ayu optimis hasilnya memuaskan. Bukankah usaha takan menipu hasil? Sudah dari catur Wulan pertama Ayu mengulang pelajaran kelas satu, catur Wulan kedua belajar pelajaran kelas dua, ketiga Ayu ulang pelajaran kelas tiga.
Usaha sudah maksimal hasilnya in sya Allah akan baik. Ayu percaya itu. Tapi, restu Bapak untuk sekolah tetap masih belum di genggaman.
"Mulai hari ini aku akan mogok makan," tekad Ayu di hati. Protes keras tanpa harus mengatakan hal kasar, memaksa dengan nada tinggi. Tapi, Ayu tahu Emak Bapak teramat mencintai. Takan mungkin mau melihat anaknya sengsara.
Jika memang Bapak tak mampu dalam ekonomi Ayu takan memaksa. Bapak cukup Mampu membiayai maka jika alasan tradisi Ayu akan mendobrak dengan caranya. Lina benar, Ayu akan berjuang melawan.
"Ayolah Neng, makanlah ! Jangan merajuk seperti ini. Kita sudah banyak berdiskusi. Ayu sudah mau tamat SMP jadi sudah selesai sekolah sampai di sini. Kita sudah membahas berulang kali," tegas Bapak kali ini dengan nada agak tinggi.
"Ayu ingin sekolah, Pak, biarkan Ayu, tidak mau makan pokoknya. Kalau Ayu sakit juga tak apa."
"Sudah, Pak, gertak sambel ini bocah. Kalau lapar juga nanti makan," kata Emak yang tak yakin dengan keseriusan demo Ayu.
Bapak akhirnya diam. Kehawatiran menyelinap di hati. Tekad Gadisnya kuat. Ayu kepala batu. Jika di rasa itu hal baik maka Takan pernah mau menyerah kalah dan mengalah.
Seharian tak ada makanan masuk Ayu masih kuat. Hanya, air putih di minumnya. Sehari bagi Ayu seumpama puasa Senin kamis. Hal yang kecil. Hari kedua badannya mulai lemas. Menjelang malam tubuhnya terasa dingin. Kemudian menggigil dan demam melanda.
Bapak dan Emak panik melihat kondisi anak gadisnya. Muka pucat, kuku jari membiru, bibir gemeletuk karena demam tinggi. Ayu mengigau. Tapi, masih keukeuh enggan makan dan minum obat.
"Ya, Neng, Bapak ijinkan Ayu sekolah. Tapi ... jaga kehormatan dan nama baik keluarga. Jika mampu buat Bapak sama Emak bangga. Kalau tidak, jangan coreng arang di muka orang tua. Bapak rasa Ayu tahu maksudnya."
"Kalau mendengar Ayu punya pacar maka seketika itu harus berhenti sekolah dan menikah," cerosos Emak.
"Emak ini bagaimana, Ayu itu sudah bilang ingin sekolah bukan mencari pacar. Masa Ayu malah pacaran bukan belajar di sekolah. Jika itu terjadi Ayu langsung berhenti sekolah. Emak harus ingat janji Ayu," ucap Ayu yang terbaring lemah.
"Sudah, jangan banyak bicara! makanlah yang banyak. Ayu harus minum obat. Lusa daftar sekolah tapi harus ke Madrasah Aliyah. Nggak boleh sekolah umum."
Ayu mengangguk, sesuap nasi masuk ke mulut setelah dua hari perutnya kosong. Bapak menyuapi dengan penuh kasih sayang. Kepalanya menggeleng. Keras kepala. Kepala batu. Seutas senyum di kulum. Itulah Ayu, gadis yang tak mudah menyerah. Anak kebanggaan keluarga.
Ayu kini bisa bernafas. Maafkan Ayu, Pak. Bukan ingin membuat khawatir. Tapi, hanya ini cara untuk merubah nasib Ayu. Inilah cara Ayu memperjuangkan hak pendidikan. Setitik air mata mengalir di pipinya.
Akan Ayu tunjukkan kalau Ayu akan membuat kalian bangga. Prestasi Ayu adalah hadiah buat kalian. Tekad kuat mengukir prestasi menggebu di kalbu gadis kecil itu. Semoga segala cita tercapai semua.
__ADS_1
To be continue~