
Malam sudah larut. Bagas gelisah. Matanya tak bisa di pejamkan. Masih terngiang kata-kata sahabatnya tadi siang. Tatapan mereka seolah mengejeknya. Memang salah begitu menyepelekan penampilan fisik dan pakaian Ayu. Sehingga memandang rendah intelektualitas gadis gunung itu.
Bagas tak pernah menyangka kualitas otak begitu brilian. Gadis pendiam bisa beretorika luar biasa. Tangan begitu lihai berperan ketika mulut beraksi. Matanya hidup dan berapi-api.
Pakaian begitu sederhana malah cenderung nggak up to date. Lebih pantas di pakai emak-emak daripada anak muda. Kulit wajah dan tangannya menghitam terkena sinar matahari. Lumayan manis di banding yang lain. Bagas tak menampikkan itu. Jika kayu Ayu umpama bongkahan belum di ampelas dan di pernis, masih alami. Polesan sedikit saja maka eksotiknya akan keluar.
Orangnya sangat pendiam. Tapi, apa salah penglihatan, jika tadi berkoar-koar penuh energi. Sungguh tak salah banyak rekannya begitu mengagumi. Apa salah gadis itu jika hati tak suka. Ah, mengapa selalu juga memikirkan gadis itu. Jidatnya akhirnya jadi sasaran tepokan.
"Aduh, sakit," rintihnya.
"Kenapa lu, Gas?" tanya Panji yang terjaga mendengar suara Bagas.
"Nyamuk nih, gila jidat gua jadi sasaran. Di tepok kekencangan jadi sakit," jawabnya nyengir kuda.
Andai Yudis tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pasti jadi bahan sasaran ejekan.
"Kirain apaan, udah malem tidur yuk besok kita mudik dulu," ajak Panji.
Bagas mengangguk. Gadis gunung, ini gara-gara Elu. Ih pergi ngapa jangan datang di mata gua Mulu, usirnya. Bayangan Ayu hadir seolah mencibir. Mengolok-olok dirinya.
\*\*\*\*\*
Pagi itu nasib apek menimpa Ayu. Mobil yang ditumpangi mogok di tengah jalan. Uang ongkos tetap harus di bayar. Tega pak supir, gerutu Ayu. Merogoh kantong bajunya. Alamat nggak ada jatah uang jajan. Uang sisa hanya cukup untuk ongkos sekarang dan untuk pulang.
Ayu akhirnya sampai ke sekolah meski kesiangan. Muka kang Ismail sudah tak segarang dulu lagi. Entah ada instruksi dari Pak Ajid atau sudah bosan memberikan hukuman. Ayu hanya menulis di buku agenda dan melenggang masuk tanpa jalan bebek lagi.
Langkah Ayu masuk kelas terhenti di tengah jalan. Seruan gennya untuk masuk perpustakaan membelokkan langkahnya. Pelajaran kosong. Gurunya tak masuk hari ini
Ruang perpustakaan yang biasanya seram bagi setiap pelajar tidak bagi siswa di sekolah Ayu. Ruangannya memang sepi. Hanya saja di sana juga di sediakan makanan untuk menemani siswa ketika membaca. Selain mencari pengetahuan juga mencari makanan.
Ayu hanya diam melihat sahabatnya menikmati jajanan. Tangannya merogoh saku. Tinggal selembar uang di sana. Mana cukup buat jajan.
"Kenapa tidak jajan, Ayu?" tanya Thien
"Sedang asyik membaca, nanti saja." jawab Ayu dengan tersenyum hambar. Padahal gorengan berbumbu saos yang di pegang Thien begitu menggoda. Hanya bisa mengurut dada.
Di tunjukannya buku karya Buya Hamka di tangan. Padahal ludahnya berkali-kali di telan. Perut juga keroncongan, tadi Emak repot membantu yang hajatan tak sempat membuatkan bekal. Nurasiah melihat mimik Ayu. Kasihan kau, Yu.
__ADS_1
"Hari ini hari istimewaku. Kalian akan aku traktir. Ayo Ayu ambil semau kamu. Kalian juga itu juga kalau perut kalian muat. Sepertinya kelaparan semua. Eits, hanya sekarang yang masuk hitungan loh. Itu yang masuk perut bayar sendiri." Nurasiah Jamilah si anak bos terkekeh.
Nur tahu alasan Ayu tak jajan. Perut ayu sudah terdengar bunyi sedari tadi. Nur duduk di dekatnya juga melihat Ayu yang sesekali menelan ludah melihat yang lain asyik makan.
Itulah sebabnya mengatakan itu. Mentraktir tanpa ingin menyinggung perasaan sahabatnya. Semua orang tak tahu kondisi Ayu. Tak enak hati jika hanya Mentraktirnya tanpa yang lain. Jika yang lain tentu sudah kenyang dengan jajanan yang seabreg di embatnya dari tadi.
Ayu hanya diam. Entah mengapa merasa jika Nur mengasihani dirinya. Sungguh tak biasa meminta belas kasihan. Pantang baginya untuk menghiba pada siapapun meski dirinya papa.
"Nur, kenapa melakukan ini?" bisik Ayu
"Cacing di perutmu itu bernyanyi dari tadi. Jangan lama-lama, pingsan tahu rasa." balas Nur juga dengan berbisik.
Ayu menutup matanya. Membuat ekspresi lucu di wajahnya. Duh cacing, kau tak bisa di ajak kompromi. Selalu mempercundangi.
"Ayo cepetan mau di tarik lagi penawarannya? Perut kamu tuh kasihan." ancam Nur
Ayu tertawa, sahabatnya yang satu ini memang doyan ngocol tapi paling peka dan tajir diantara mereka.
Perut Ayu sudah kenyang. Alhamdulillah ada juga sahabat yang mengerti hati juga isi perutnya.
"Terima kasih, Nur," bisiknya di kuping Nurasiah.
\*\*\*\*\*
Apek kembali di rasakan Ayu. Sudah dua jam lamanya menunggu kemacetan terurai. Entah apa yang terjadi. Mobil arah ke barat macet total. Arah ke timur lenggang tanpa penghuni.
"Kecelakaan beruntun, Kang, mendingan putar balik," seru seorang pengendara motor dari arah berlawanan.
Ayu kembali menarik napas. Adzan Maghrib terdengar sayup. Sesal di hati tidak berguna. Harusnya mengiyakan ketika Irniaty menawarkan menginap di rumahnya. Hari itu Ayu ada ekstra kulikuler, Pramuka. Pulang sehabis shalat ashar.
Biasanya bapak akan menjemputnya di Cadas Pangeran. Tapi, semalam bapak bilang supaya menginap saja di rumah teman yang dekat sekolah rumahnya. Bapak ada di rumah saudara yang hajatan.
"Maaf, ya, semuanya, macet parah. Saya mau putar balik silahkan turun saja tak usah bayar ongkosnya." kata pak supir.
Alamat menginap di jalanan ini mah. Ayu bingung. Uang ongkos di remas gemas. Percuma ada uang jika angkutan kota tak lewat satupun. Semua penumpang sama bingungnya setelah turun.
"Ayo naik! Kita pulang bersama," seseorang dibalik helm full face mengajak Ayu dan berhenti tepat di samping. Menepuk jok belakang, isyarat untuk mempersilakan Ayu dibonceng di sana.
__ADS_1
Ayu terdiam. Siapa orang ini? Suaranya juga kurang jelas efek helm di kepala. Bagaimana jika orang ini penculik? Ayu bergidig. Sekarang banyak penculikan dan pemerkosaan. Mungkin si pemilik motor ini adalah salah satunya.
"Ayo ... nunggu apa lagi? Nggak kenal?" tanyanya.
Ayu masih mematung. Orang itu membuka helmnya.
"Kak Yudis!" Pekik Ayu
"Ya, ini aku. Ayo kita pulang. Hari sudah beranjak malam." ajaknya.
Ayu masih bingung. Haruskah pulang dengan Yudistira. Apa kata dunia jika pulang bersama. Jika tidak, apa harus tidur di jalanan? Gamang sendiri.
Yudis kesal menunggu. Rintik hujan mulai turun. Kenapa banyak pertimbangan Ayu. Di Bandung setiap orang berebut menjadi kekasihnya atau sekedar mencari perhatian. Ini sudah di perhatikan malah ketakutan.
Yudis menarik tangan Ayu. Gadis itu seolah terhipnotis. Hanya diam dan menurut saja. Duduk manis di belakang Yudistira.
Yudis tersenyum. Pasti ini kali pertama Ayu di bonceng seorang pemuda. Mukanya terlihat tegang dan ketakutan. Sungguh polos kamu, Ayu.
Motor itu melaju dengan kecepatan sedang. Ayu hanya berpegang pada besi di motor. Entah mengapa,Yudis ingin jika tangan Ayu itu melingkar di pinggangnya. Tubuh Ayu merapat memeluk tubuhnya yang dingin kehujanan.
Sayangnya, kau bukan Cindy. Jika Cindy maka akan merapat dan memeluk erat. Ayu memang berbeda. Usianya mungkin lebih muda dari kekasihnya. Tapi, lebih dewasa. Yudis sesekali menatap kaca spion. Melihat wajah Ayu yang tegang. Lucu. Angin menerpa wajahnya dan memainkan hijab yang di pakainya. Wajah itu begitu teduh, namun tegas di terpa banyak beban kehidupan.
Jalanan yang di lalui kini bukan aspal hitam. Jalan berbatu yang lebih layak di sebut sungai kecil. Batu licin bercampur tanah merah itu kian memperlambat laju motor. Sesekali motor terseok hampir jatuh.
"Ayu pegangan saja, jalan licin sekarang takut kamu akan terjatuh," pinta Yudis.
"Tidak apa-apa, kak, Ayu sudah biasa."
Yudis hanya diam. Padahal besar harapannya Ayu akan memeluk pinggangnya. Lupakan Dis, dia bukan gadis kota yang mudah terpesona dengan wajah tampanmu. Terbius oleh hartamu. Ini Ayu lestari gadis yang tak mudah di jamah raga dan hatinya.
Hari sudah malam ketika motor mereka sampai. Semua orang tampak kaget melihat dua orang itu bisa bersama. Namun, sedikit penjelasan semua mengerti dan menerima. Ayu bukan gadis dengan akhlak tercela. Pun Yudis bukan pemuda serampangan. Seketika prasangka buruk lenyap sudah.
Hadi yang juga melihat geram gadis pujaannya di bonceng orang. Terlebih Yudistira, mahasiswa paling keren sepasukan. Sudah jelas kalah kualitas di banding dirinya. Hadi kalah telak. Bagaimana jika Ayu jatuh hati padanya? Kepalan tangan membulat sempurna. Giginya gemeletuk menahan amarah.
Malam kian larut. Ayu akhirnya terlelap setelah membersihkan tubuhnya yang kuyup. Senyum tersungging di bibirnya mengantar terlelap. Bayangan Yudistira menari di pelupuk mata.
Yudis memandang lekat langit-langit kamarnya. Wajah tegang Ayu terpampang di sana. Bukan wajah cantik Cindy yang tadi siang di temui. Si putih abu dengan wajah tegang dan ketakutan yang membayang.
__ADS_1
To be continue~