
Cindy mengacak kacau rambutnya. Frustasi. Segala rencana dan harapan dalam benaknya tak bisa terwujud. Pupolaritasnya kini memudar seiring waktu.
Tak ada lagi jadwal padat. Kiprahnya dalam dunia modeling tak lagi di perhitungkan. Semua terganti dengan pendatang baru yang lebih fresh.
Kabar pertunangan dan rencana pernikahan Yudis dan Ayu membuatnya kian merana. Berganti kekasih berulang kali setelah putus dengan Yudis, tapi tak bisa temukan orang sebaik Yudistira.
Semua kekasihnya dengan tanpa risih mudah menjamah raganya. Entah mengapa rindu dengan Yudistira yang mulai berubah. Sikapnya yang seolah mengacuhkan dan segan hanya sekedar menggenggam tangan begitu merenyuhkan kalbu. Membuatnya merasa di hargai.
Mengapa baru sekarang menyadari setelah Yudistira pergi. Bahkan tiga bulan lagi menjadi milik orang. Mengapa Yudis tak kembali padahal dia sudah yakin jika hati lelaki yang pernah begitu mendamba dirinya kini sudah tak lagi memuja.
Mengapa kau pilih dia? Apa istimewanya gadis itu? Siapa yang tidak akan memuji keelokan rupa dan kemolekan tubuhku? Berkali di hubungi kau abaikan. Berulang aku datang, kau menghindar.
Cindy mengerang, dia tengah berada di puncak kemarahan. Ponsel mahal keluaran terbaru di lemparnya ke lantai. Hancur berkeping. Bantal, Guling dan benda di sekitar juga jadi sasaran. Semua di banting membabi buta.
Cindy merasa di percundangi gadis gunung. Andai saja jika Yudis memilih model atau artis papan atas, atau juga seorang gadis dari keluarga ternama. Hati Cindy takan sesakit ini.
Cindy melihat bagaimana sederhana dan bersahaja gadis yang kini jadi calon istri Yudistira. Sakit bukan kepalang. Kalah telak dari makhluk berpenampilan bak alien. Memakai baju longgar, kerudung panjang seperti mukenah. Mending kalau stylish. Ini sama sekali tak fashionable. Jauh dari penampilan dirinya yang dicap sebagai fashionista.
"Yudiiiiisss!"
Cindy berteriak sekencang-kencangnya. Ingin rasanya menembus angkasa. Meruntuhkan kokohnya takdir yang Kuasa. Semoga menghapus takdir mereka. Menggantikan posisi Ayu dengannya.
"Cindy! Ya Tuhan, kenapa dengan kamarmu? Kenapa seperti kapal pecah begini? Stres kamu? Ini sudah jam berapa. Berisi!" teriak Tante Mira yang melihat kamar putrinya berantakan.
"Yudis mau nika, Mah, dia meninggalkanku demi seorang gadis desa. Apa kurang Cindy? Mengapa harus memilih gadis itu? Hiks ..."
Tangisan Cindy pecah. Meratap pilu saat memorinya memutar ulang kenangan bahagia bersama Yudistira.
"Sudahlah, Dy, Mengapa kamu menyiksa diri? Yudis tak perduli lagi. Mengapa harus bodoh mengejar dia? Kamu itu begitu sempurna. Mau mendapatkan yang bagaimana juga bisa. Tak perlu meratapi orang yang tak lagi perduli. Seolah manusia itu hanya ada satu di dunia. Mau yang seperti apa? Mama siap bantu Carikan buat kamu. Sudahlah, Mama ini sibuk seharian, ini sudah malam. Mama ingin rehat. Pergilah tidur lagi. Biarkan Mama istirahat," ujar Tante Mira dengan menguap. Lelah tubuhnya baru pulang kerja.
"Selalu Mama begitu, pekerjaan lebih penting buat Mama di banding Cindy, dulu Yudis selalu perduli sama aku. Makanya, ketika kehilangan dia, aku begitu merana. Rasanya hanya si mbok dan Yudis yang selalu ada dalam masa sulitku bukan Mama dan Papa."
Cindy tertunduk. Tangisnya kian pecah. Orang tuanya seolah sudah melakukan tanggung jawabnya setelah memberi sejumlah materi. Padahal tak selalu soal uang.
Cindy juga butuh mereka saat sedih dan bahagia. Hanya pada Yudis dan Si Mbok, Cindy bisa berkeluh kesah semua. Namun, Yudis sudah tak perduli dan menghilang. Sungguh Cindy merasa sepi sendiri.
Cindy kaya harta, namun miskin kasih sayang. Berlimpah materi, tapi kurang perhatian. Sehingga mencari itu di jalanan. Mencari bahagia di dunia hingar bingar. Klub malam dan diskotik jadi sasaran.
"Kenapa kamu jadi cengeng, Dy?"
"Ini saat tersulit bagiku, Mah. Bisakah Mama duduk sebentar saja? Temani aku saat ini. Aku membutuhkan Mama. Hanya satu jam saja. Biarkan Mama menjadi Mamaku. Aku mohon Mah." Cindy menatap dengan berlinang air mata.
"Ini sudah malam, Dy. Mama sudah lelah. Baru pulang. Kita bicara besok saja, ya, sekarang kita berdua istirahat." Mira mengelus punggung Cindy. Berlalu pergi
"Memang selalu begitu, buat Mama karier adalah segalanya. Aku tak pernah berarti. Mama baru bisa bahagia jika aku tiada. Tak ada lagi yang mengganggu. Menghabiskan rupiah lagi. Aku lebih baik mati. Toh, tak ada yang perduli aku hidup atau mati," teriak Cindy.
Pisau di piring buah-buahan, secepat kilat kilat berada di tangan. Cindy mengiris urat nadinya. Darah mengucur deras. Cindy tersenyum sinis melihat Mamanya yang berteriak histeris. Semua penghuni rumah panik. Cindy segera di larikan ke rumah sakit.
\*\*\*\*\*
Yudis tergesa masuk kedalam ICU. Kabar percobaan bunuh diri Cindy mengagetkannya. Walau bagaimana gadis itu pernah bertahta dalam jiwanya. Rasa itu pernah tinggal meski kini telah lenyap. Beberapa kali
Cindy menghubungi, mencari tapi Yudis menghindar.
Tak ingin menabur asa dan memberi mimpi. Sudah tak ada lagi Cindy di hati. Ayu kini memenuhi ruang hati. Ada Ayu yang harus di jaga perasaannya. Makanya Yudis menjaga jarak dengan siapapun. Tak terkecuali Cindy.
__ADS_1
Yudis melihat Cindy yang pucat pasi. Tubuhnya begitu lemah karena kehabisan banyak darah. Mamanya tampak tak henti menangis di samping.
Perempuan berbadan langsing berusia hampir 50 tahun itu. Tak henti menyeka air mata penyesalan. Hatinya hancur melihat anaknya hampir terbujur.
Yudis bernapas lega saat melihat Cindy perlahan membuka mata.
"Dy, Alhamdulillah kamu sudah sadar." Yudis mencoba mengecek kondisi Cindy.
"Kamu sudah melewati masa kritis. Insyaa Allah kamu baik-baik saja."
Cindy mengenggam erat tangan Yudis yang telah menyelesaikan tugas memeriksa raganya. Erat. Enggan melepaskan.
"Masih ingat namaku? Mengapa kamu menghindar? Menjauh dan tak memperdulikan aku lagi. Aku masih seperti yang dulu begitu mencintai kamu."
Yudis tak menepis meski ingin tak dilakukan. Itu akan membuat Cindy histeris. Tak baik untuk kesehatannya.
"Kamu itu sudah seperti adikku sendiri. Hubungan kita sudah usai tapi silaturahmi takan pernah berakhir. Kita akan selalu jadi saudara."
"Bohong! Kamu menghindar ketika di hubungi. Mengapa memilih dia? Apa kurangnya aku? Menjijikan kah diriku? Hingga kau lebih memilih alien gunung di bandingkan aku."
"Sebelum pergi sudah ku katakan agar kau berubah. Tapi, saat itu lebih memilih karier dan sahabatmu. Bukankah kau punya Aldo. Kalian sudah bahagia. Mengapa masih ingin bersamaku"
"Aku masih mencintaimu. aku melakukan ini semua karena kamu. Lebih baik aku mati daripada harus melihat kalian menikah. Jangan tinggalkan aku. Temani aku di sini."
Cindy menatap. Meratap. Memelas meminta Yudis untuk tetap tinggal.
"Aku tak bisa terus di sini, banyak orang yang juga membutuhkanku. Bukan hanya dirimu. Aku akan menjenguk jika rest time. In syaa Allah."
"Kamu janji?"
Yudis tak ingin menjadi penyebab kematian seseorang. Masih lekat dalam ingatan, ketika pertama kali kehilangan pasiennya di meja operasi. Bukan karena kesalahan prosedur tapi memang kondisi pasien yang sudah sangat lemah karena telat masuk meja operasi.
Saat itu Yudis sampai tak bisa makan dan tidur berhari-hari. Terbayang wajah pasien yang penuh harap dan percaya akan kemampuan tangannya. Sayang, ajal menjemput. Hembusan napas terakhir ada di tangannya. Merasa Yudis lah yang membuatnya meregang nyawa.
Trauma, jika itu terjadi pada Cindy. Yudis harus bisa menjaga Cindy agar tak berbuat bodoh lagi.
\*\*\*\*\*
Yudis bagai di pasung. Langkahnya seolah terhenti. Pergi lebih pagi pulang juga terlambat semua karena merawat Cindy. Takluk, tunduk. Kakinya seolah telah di rantai. Tak bisa bergerak bebas.
Semua akibat ketakutan Cindy melakukan hal buruk lagi. Jiwa humanis yang ada pada Yudis mendorong untuk menjaga pasiennya. Bukan alasan cinta. Rasa itu telah lama sirna. Hanya jiwa penolong yang membuatnya berbuat demikian.
Utari geram dengan sikap Yudis yang berlebihan. Care boleh tapi jangan seolah memberi kesempatan. Perduli harus tapi jangan memberi harapan.
"Dis, jauhi Cindy. Inget lu udah tunangan. Kalau Ayu tahu ini akan melukai hatinya. Jangan mau jadi boneka Cindy sadar, Dis," pinta Utari.
"Gue nggak pernah lupa punya Ayu, tapi bagaimana jika Cindy berbuat konyol lagi. Apa yang bakal gue rasakan jika melihat Cindy menggorok leher di hadapan. Gue hanya mencegah itu terjadi. Bukan karena cinta Cindy," kilah Yudis.
"Ok, gue tahu itu. Jangan beri harapan dia lagi. Jangan seolah beri kesempatan. Biarkan dia sadar akan posisinya di hati Lu. Sekarang seolah dia Lu angkat tinggi, tapi jika tahu Lu hempaskan dia jatuh pada kerak dasar bumi. Lebih baik Lu sakiti dengan kenyataan dari pada di bohongi dengan sejuta harapan palsu."
"Terus gue mesti gimana? Otak gue beku tak bisa berpikir jernih lagi."
"Buat dia merasa jika dirinya berharga meski nggak Lu beri cinta. Tunjukan jika dia di butuhkan, tanpa harus mengabaikan status Ayu. Biarkan dia sadar seperti apa hubungan kalian sekarang. Dia hanya bagian masa lalu takan jadi masa depan Elu"
"Gue tahu, tapi bagaimana caranya. Tolong kasih solusi!"
__ADS_1
"Hubungi psikolog, minta sarannya. Mungkin itu salah satu jalan."
"Baiklah, gue coba, beberapa hari tak mengabari Ayu. Gue rindu sama dia. Sampai lupa Dia. Pusing kepala," teriak Yudis mengacak kacau rambutnya yang klimis.
\*\*\*\*
Seminggu telah berlalu. Kondisi kesehatan Cindy telah pulih benar. Tubuhnya tampak segar, wajahnya sumringah. Betapa tidak, tak ada lagi begadang dan hang out malam bareng teman. Minuman alkohol tak lagi di pegang.
Cindy merasa bahagia. Mama selalu di sampingnya. Tak pernah meninggalkan karena pekerjaan. Seminggu merasa menjadi prioritas utama. Baru merasakan ini seumur hidupnya.
"Mama sudah bereskan urusan administrasi. Kita berkemas. Sore nanti kita pulang, sayang," Mira mengelus punggung tangan anaknya dengan raut bahagia.
Sudah terbayang setumpuk kerjaan kantor yang menunggu. Semua akan kembali normal lagi. Sudah lelah energi terkuras demi putrinya. Saatnya membereskan pekerjaan kantor yang terbengkalai.
"Aku nggak mau pulang," jawab Cindy memasang muka kecut.
"Lah, sudah sembuh masak harus menginap lagi di sini. Yang bener saja Dy"
"Aku mau tinggal di sini selamanya. Kalau aku sakit Mama baru care, punya waktu buat aku. Papa, Mama, Yudis memanjakan dan selalu ada kalau aku sakit. Saat sehat kalian tak pernah menganggap aku ada"
"Ngaco kamu ini, Dy. Mama pergi pagi pulang malam buat siapa. Mama ingin kamu hidup tak kekurangan. Ingin hidup kita layak. Semua pasilitas mewah itu tak datang dengan sendirinya. Mama harus mencari rupiah untuk mewujudkan. Kamu bisa meminta apapun sama Mama. Apa yang tidak bisa Mama berikan. Hidup kamu adalah impian setiap orang. Semua ada dalam genggaman.
Mama sudah memberikan semua untukmu."
"Mama belum memberikan segalanya untuk Cindy, Mama tak bisa memberikan segalanya"
"Everything for you my sweet heart. Mama akan berikan segalanya. Katakan kamu ingin apa?"
"Tolong kembalikan lagi ke dua puluh dua tahun lalu. Lahirkan lagi Cindy Mah, susui dan rawat Cindy. Jangan seperti dulu. Air susu sapi yang Cindy nikmati. Perawatan baby sitter Cindy dapatkan. Lakukan sendiri tanpa bantuan orang lain. Aku ingin seperti anak lain. Mama Mereka tahu ketika anaknya sedih atau bahagia, tahu apa yang di suka atau tidak. Ingin menghabiskan waktu shopping bareng ke Mall, nyalon bareng. Mama hanya memberi Cindy materi. Bagi Mama jika ada uang semua cukup. Cindy tak butuh uang Mama. Cindy butuh Mama. Biarlah tidak hidup mewah dan wah, asalkan kita bisa bersama. Itu cukup."
Cindy menangis tersedu meluahkan beban yang bertahun di simpan di rongga dada.
Mira terkejut bukan kepalang. Kesuksesan karir selama ini ternyata nol besar. Ketika di hadapkan pada kenyataan, jika anaknya yang di sangka paling bahagia ternyata merasa paling menderita.
"Aku ingin mati karena merasa tak berharga bagi siapapun. Bagi Mama hanya di jadikan alasan mencari rupiah. Aku ini bahkan manusia paling tak berguna. Sampah saja masih ada yang memungut, lantas aku ini apa? Tak ada guna aku hidup, Mah. Aku tak berharga." isakan Cindy kian pilu.
"Maafkan Mama, jika bisa di ulang Mama ingin ke waktu itu, Nak. Tapi, Mama janji mulai saat ini akan selalu ada buat kamu. Kau adalah permata paling berharga kami. Mama rela kehilangan seluruh harta dan karier asal kamu selalu ada. Jangan bilang kau sampah. Cindy lihat! Mama sudah seminggu menemani kamu. Tender melayang dan kerjaan terbengkalai Mama tak urusi demi kamu. Berhenti berpikir berbuat bodoh lagi. Mama janji akan selalu ada untukmu. Jangan pernah berpikir meninggalkan Mama lagi. Mama mohon, Nak."
Mira tersedu dan memeluk erat Cindy. Sungguh baru menyadari betapa besar cintanya pada Cindy. Semua harta yang di kumpulan buat siapa jika Cindy tiada. Bukankah demi Cindy mencari rupiah. Apalah gunanya jika anak semata wayangnya meninggal dunia.
Yudis turut berlinang air mata. Bahagia. Melihat Cindy akhirnya mendapatkan cinta sang Mama.
"Selamat, Dy. Semoga kau juga menemukan cinta sejatimu, meski bukan aku. Maaf aku hanya bisa jadi kakak atau sahabat. Sudah ada orang lain yang bertahta mengantikan kamu."
\*\*\*\*\*
Ayu membolak-balik gawai di tangan. Sepi, sudah lebih dari seminggu tak ada pesan atau panggilan datang.
Untuk apa kau beri gawai ini, kak. Apakah hanya hiasan tangan semata? Berhari menunggu pesanmu datang, namun entah kemana. Aku merindukan tulisanmu, suaramu.
Haruskah aku yang memulai bertanya kabarmu. Aku malu. Aku ingin kau peka dengan kerinduan ini. Apakah sebegitu sibuknya, sehingga tak ada waktu beberapa detik untuk menyapa dan mengetik, "apa kabarmu, di sana?"
Ayu meracau sendiri karena rindu. Betapa ingin bersua tapi tak bisa. Kemanakah gerangan sang pujaan. Apa kabarnya di sana. Ah, andai saja dia tahu kekasihnya tengah dilema.
To be continue~
__ADS_1