
*****
Part sebelumnya
https://m.facebook.com/groups/805799276260950?view\=permalink&id\=1525885154252355
Sore menjelang. Yudis asyik menatap orang yang lalu lalang. Matanya tak dapat menemukan sosok yang di tunggu. Entah mengapa jam segini si putih abu belum kelihatan batang hidungnya.
"Nunggu siapa, Dis, kok gelisah?" tanya Utari
"Kagak nunggu siapa-siapa, lagi inget sama Papa di rumah. Emang di sangka nunggu siapa?" kilah Yudis dengan muka memerah. Padahal menunggu si putih abu sedari tadi tak kelihatan, khawatir dengan kakinya yang luka. Ih, kenapa harus khawatir. Mungkin karena rasa empati di hati. Tak mungkin Yudistira akan suka gadis itu. Gadis berpenampilan bak alien yang sangat di bencinya.
Yudis selalu menganggap mereka itu seperti *******. Menakutkan. Alergi sungguh dengan penampilan mereka. Sama sekali bukan tipe gadis impiannya.
Apa coba, mukena kok di pakai ke mana-mana. Baju gombrong dengan model simple hanya lurus tanpa membentuk lekuk. Sangat tidak eksotis. Tak ada nilai seninya. Atau sebuah rok lebar dengan baju panjang dan kerudung mukena yang simple tanpa model, seperti Husna kawan sejawatnya.
Dari jauh dibalik kabut tebal yang menyelimuti. Seorang tampak berjalan tergesa mengejar waktu. Seolah tak menghiraukan apapun di samping kiri kanan. Fokus kedepan.
Ayu tampak berjalan tertatih di seberang sana. Pantofel kini di pakaiannya. Mungkin takut kakinya terluka lagi. Biasanya dia memakai sendal jepit atau sendalnya putus. Aneh, pergi turun gunung tak memakai alas kaki karena hujan. Lalu menanjak pulang sendal jepit di pakai. Harga sendal mengalahkan harga kakinya.
"Wah, Yudis kesambet gadis gunung, ngedip bentaran tuh mata. Jangan melotot terus tar nggak bisa ngedip lagi." sikut Utari.
"Gua hanya kagum lihat dia, Tari."
"Kagum itu awal dari memendam rasa. Lu liat dia akan hadir dalam benak lu, terus datang dalam mimpi, menggoda ketika terjaga. Kemudian hadirlah cinta." Utari menggerakkan tangan seolah sedang musikalisasi puisi.
"Ngaco lu ah, dia bukan tipe gue. Plamboyan kayak gue, lu tahu sendiri gimana kriterianya. Harus cantik, tinggi semampai, putih, seksi. Ini gadis gunung nggak ada satupun yang masuk kriteria gua."
"Yang bener? dia itu kalau lu ajak ke salon terus lu permak nggak kalah cantik dari mantan lu yang kemarin. Hanya wajahnya memang gosong kena matahari, aktif mulu di sekolahan sih. Coba lu antar jemput tiap hari wajahnya pasti cling nggak hitam gosong lagi."
"Sudah ah, tambah ngaco omongan lu, gua cabut Tari."
Yudis berlalu pergi, semua ucapan Utari memang ada benarnya. Tapi, harus suka sama ANAK GUNUNG itu tak mungkin rasanya.
"Pergilah, toh sudah melihat si putih abu lewat, buat apa bengong di sini," teriak Utari di sertai tawa cekikikan. Nah loh Dis, lu kesambet gadis lereng gunung.
\*
Ayu berjalan dengan tersenyum. Masih terbayang ledekan sahabatnya tadi pagi. Ayu membuka sepatu di dalam kelas. Cenut -cenut di rasakannya. Kelingkingnya ternyata benar berdarah lagi.
"Ini ganti sama plester baru !" Thien Lutfi mengulurkan plester di tangannya.
__ADS_1
"Nggak usah, makasih Thien. Biarkan saja."
Ayu tak menoleh pada lawan bicara. Matanya asyik membayangkan wajah sang pemberi plester. Senyum sendiri. Pasti kak Yudis menertawakan dirinya yang jalan pincang di depannya.
"Ada something dengan plester itu kayaknya?" sikut Irniaty yang menangkap glagat aneh sahabatnya.
"kakimu kenapa Ayu?"
"Hheuhhh ... " ayu mendongak kelimpungan. Angannya entah kemana dengan plester di kakinya.
"Kaki kamu kenapa, Sayang, dihhh kayaknya ada yang jatuh cinta. Menatap plester inget sama si empunya." Nurasiah Jamilah terkekeh dengan sikap aneh Ayu.
"Ih kalian ini aneh, ini hanya plester apanya yang beda. Apa hubungannya dengan jatuh cinta. Plester ini di kasih kak Yudistira. Aku kesandung jadi dia kasih ini buat luka kaki. Hanya itu, tak ada yang istimewa."
"Oo, Yudistira namanya orang yang mampu membuat Ayu lestari tersipu malu, siapa dia?"
Eva menatap wajah Ayu yang tampak bersemu merah.
"Ih, kalian ini, Kak Yudis itu mahasiswa kedokteran yang KKN di kampung aku. Kenapa sih seneng ngeledekin." Ayu merenggut.
"Kami hanya senang ternyata kamu normal, kirain nggak akan suka sama seseorang," tukas Thien Lutfi.
Mata Ayu melotot, sejurus kemudian mengejar Thien yang ngacir takut dengan kemarahan sahabatnya. Keduanya berkejaran dengan tawa cekikikan. Ayu tampak kalah. Berhenti mengejar dengan memijit kaki yang kian sakit.
"Entar kita yang nungguin kamu kencan, kita jadi kambing congeknya ya, guys. Biasanya kamu yang lihat kami kencan. Sekarang giliran kamu," ledek Nurasiah Jamilah.
Gaya pacaran anak 2000 an memang lucu. Kencan tapi di temani oleh beberapa teman yang jadi penonton di balik layar. Kambing congek yang asyik melihat pasangan kencan. Tak ada sentuhan badan pada pasangan kencan biasanya hanya saling berbicara dengan tertunduk malu. Bagaimana bisa macam-macam jika sang kambing menjadi saksi dan wasit dari kejauhan.
\*
"Ayu tunggu!"
Panggilan seseorang membuyarkan lamunan. Ayu menoleh. Maa syaa Allah. Makhluk itu kenapa memanggilku. Ayu mulai salah tingkah. Ayu tertunduk menatap bajunya yang kotor dengan tanah.
Pasti Kak Yudis melihat kejadian memalukan tadi. Aduh, hendak di taruh di mana ini muka. Seluncuran salju pasti mengasyikan. Tapi, meluncur karena jatuh di tanah merah karena hilang ke seimbangan adalah hal memalukan.
Mengapa dia selalu ada di saat yang tidak tepat. Hadir di momen memalukan. Il feel. Pasti geli. Bagaimana bisa suka dengan gadis ceroboh seperti dirinya. Ayu tertunduk menggigit bibirnya gemas. Terdengar langkah Yudis mendekat.
"Kamu tidak apa-apa?"
"T-tidak Kak, saya baik - baik saja. Alhamdulillah."
__ADS_1
Suara Ayu gagap karena malu. Aku baik-baik saja. Hanya, mukaku rasanya ingin aku masukan tas sekolah tak ingin kamu melihatnya. Pasti aku seperti tikus masuk got. Kotor, bau, menjijikan.
"Tidak ada yang luka?"
"Tidak, silahkan kakak duluan! Saya mau membersihkan diri dulu di sungai."
"Ah, iya, saya mau pergi ke Bandung. Ada sedikit keperluan. Ini buat kamu. Jangan lupa pakai tiap hari ya." Yudis memberikan paper bag yang di tentengnya.
"Ini apa?"
"Sesuatu yang akan membuatmu tidak jatuh lagi saat menuruni jalan licin. Tidak membuat kaki kamu luka kena batu lagi."
Ayu dengan bingung menerima paper bag itu. Di tengoknya sebuah kotak di dalamnya terbungkus kertas kado. Dag Dig Dig jantungnya memegang. Ini kali pertama seorang laki-laki memberi kado padanya. Mana makhluk yang akhir ini menganggu lamunan.
"Saya duluan, ingat pakai itu setiap hari! juga jangan lupa bersihkan lumpur di hidung kamu, " ujarnya sambil tersenyum
Ayu melotot. Aduh bener-bener kacau penampilanku. Payah. Jangankan akan jatuh cinta tuh makhluk kece. Geli yang ada. Ayu mengigit bibirnya keras - keras. Aduh ... Sakit pekiknya. Bodoh. Tepokan tangan hinggap di jidat. Alamat kesiangan juga. Selamat Ayu hari ini jalan bebek lagi.
Baju di lap dengan kain basah. Ayu bergegas melanjutkan perjalanan ke sekolah. Paper bag di dekap di dada. Entah apa isinya. Ayu tak perduli. Bahagia menerima kado istimewa itu. Semoga bukan kotak kejutan berisi boneka badut untuk mengagetkan di dalamnya.
Yudistira naik angkutan kota menuju ke kota Bandung. Senyum kini tersungging di bibir. Ada rasa lucu melihat Ayu meluncur jatuh terguling, gadis itu terjerembab dengan keras. Jauh di lubuk hati rasa empati dan kagum menyelinap mengalahkan rasa lucu di hatinya.
Dua orang gadis SMA di pojok angkutan kota tersenyum melihat Yudis. Mereka terpesona dengan ketampanannya. Menatap aneh pria ganteng yang tampak tersenyum sendiri.
" Aneh, ganteng tapi mesam-mesem sendiri. Kenapa dengan pemuda itu?" kata salah satu diantaranya.
Pelan, tapi Yudis mendengarnya. Busyet di kira gua gila. ANAK GUNUNG, kenapa kamu selalu ada dalam benakku. Jatuh cinta padanya? Ah, tak mungkin. Yudis menggelengkan kepalanya. Berharap pikiran akan gadis gunung itu menghilang dari benaknya.
Kriteria gadis pujaannya adalah seorang berkulit putih mulus, tinggi semampai, seksi dan trendy dengan gaya terkini. Bukan gadis dengan baju mukena, kulit gosong menghitam terkena paparan sinar matahari. Memang Ayu cantik juga, hanya penampilan dengan baju gombrong dan kerudungnya membuat tampak tua. Yudistira alergi melihatnya.
Dua gadis kian tertawa cekikikan. Waduh, dua bocah malah tambah ngeledek. Apa mimik muka gua aneh ya? Yudis menatap kaca di depan dekat supir. Cakep seperti biasanya. Masih dengan tampilan paripurna.
"Kenapa, Neng?" tanyanya.
"Nggak ada apa-apa, kak."
"Mau kenalan sama saya?"
Yudis sang Playboy kelas wahid kembali tebar pesona. Lu pada sudah nyangka gua gila, saatnya gua bikin tergila-gila. Yudis mengajak bicara keduanya. Sejuta jurus dia keluarkan. Mereka tampak terpana. Nah, gua menang. Lu berdua semua tumbang.
Apakah gua juga tumbang dalam bayang seorang gadis gunung. Semoga karena simpati gua memikirkannya, bukan karena menyimpan hati.
To be continue~
__ADS_1