
Waktu bergulir, sudah hitungan tahun berjalan. Ayu tak larut dalam kesedihan. Hanya sesekali menagis. Kemudian bangkit berdiri dengan sejumlah aktivitas yang padat.
Setiap hari tak pernah kosong aktivitas. Selain belajar Ayu juga selalu menyibukkan diri dengan kegiatan ekstrakurikuler. Pramuka, LDKS, OSIS, ROHIS, dan semua rutinitas lainnya.
Tak ada kata lelah baginya. Sekolah adalah ruang kebebasan ekspresi dan menggali potensi diri. Hanya ketika sekolah, Ayu dapat menyalurkan semua kemampuan diri. Kelak mungkin takan bisa terus menempuh pendidikan.
Nilai akademik Ayu masih nomor satu. Sudah tak ada lagi jalan bebek di lapangan. Ayu berangkat lebih giat. Kadang jika telat hanya seperempat jam kang Ismail akan mempersilakan masuk tanpa hisab. Maksudnya tanpa interogasi. Siswa menyebut sebagai hisab sekolah. Di mana jalan bebek atau penghormatan pada bendera adalah hukumannya. Satu jam pelajaran penuh menghormat bendera dan jadi bahan tontonan seluruh penduduk sekolah.
Ayu melangkah maju menepati Azam di hati. Boleh kalah dari satu sisi tapi akan menang dalam sisi lain. Kekalahan bukan alasan untuk mundur selangkah. Tapi, alasan untuk berlari seribu kaki. Ayu buktikan semua dengan prestasi gemilang.
\*\*\*\*\*
Cindy ....
Seorang gadis berperawakan tinggi semampai. Terlahir dari orang tua yang kaya raya. Ibunya seorang eksekutif di perusahaan proferty. Ayahnya adalah seorang manager di perusahaan BUMN.
Jangan sebut soal rupiah atau harta kekayaan. Berbagai fasilitas mewah nan wah menjadi barang keseharian. Beberapa lembar kartu ATM memenuhi dompetnya. Hidupnya laksana putri. Tak pernah kurang satu apapun. Hanya, kasih sayang dan perhatian orang tua minus dari tangan Cindy.
Uang atau barang branded tak pernah terlewat di tangan, jika di inginkan. Tinggal jentik jari semua akan menjadi koleksi.
Cindy tumbuh di asuh uang bukan kasih sayang sedari lahir. Jika mengenal cinta, pangkuan dan belaian hanya dari Mbok Darmi sang pengasuh yang setia melayani sedari ibunya balita hingga kini telah berkeluarga dan mempunyai anak gadis. Mbok menyayangi seumpama putri sendiri.
Lewat tangan wanita paruh baya itu, Cindy tahu jika dirinya berharga tanpa di nilai rupiah. Karena kasih sayang bagi orang tuanya adalah gepokan dolar. Namun, tidak bagi Mbok Darmi. Janda tua tanpa anak itu bahkan tak meminta gaji atas semua bakti. Cukup baginya mempunyai tempat tinggal dan bisa merawat Cindy dengan kasih sayang.
Bagi orang tua Cindy jika ATM penuh maka semua akan teratasi. Tak pernah tahu jika anaknya juga rindu belaian kasih sayang. Bukan selalu uang dan uang.
Cindy mencari panggung di luar rumah. Ketika ada kesempatan menjadi gadis sampul. Dengan mudah menjadi salah satu kontestan unggulan. Melejit menjadi nomor Wahid. Akhirnya dengan mulus melenggang menjadi juara pertama.
Paras yang cantik dan perawakan tinggi semampai. Adalah bekal lolos segala tes. Dengan cepat semua sorot mata tertuju padanya. Dalam sekejap namanya sudah membahana.
Fans yang berjibun selalu mengerubuti ke mana pergi. Mantan pacar seperti pakaian gonta ganti. Semua menyembah sujud seumpama Cindy berhala, mereka adalah pemujanya. Memuja Cindy bak orang gila.
Semua berubah ketika berjumpa Yudistira. Seorang pemuda calon dokter, putra tunggal dari seorang pensiunan jendral. Pembawaan yang cool dan kalem. Tidak seperti pemuda lainya dengan mudah menyatakan cinta meski baru beberapa kali berjumpa. Yudis berbeda. Membuatnya terpana.
Siang itu dalam satu jadwal pemotretan.
"Hayo ngelemong apa sih," tegur Mince sang make up artist.
Gayanya yang gemulai menyoel pipi cindy. Sedari tadi Cindy sudah tak fokus. Selalu mencari Yudistira yang berjanji akan datang menemani sesi pemotretan di hari ini.
"Nggak lihat Yudis,Ce?" ujarnya seraya membetulkan kemben di dadanya. Mince atau mincreung hanya menggelengkan kepala.
"Paling ada pasien gawat darurat lagi. Sudah, jangan melemong aja. Fokus sama photographer tar ngamuk noh, katanya ada party malam ini. Cepetan berangkat. Cus. Jangan banyak cincong. Kelar langsung go to part," jawab Mince seraya membenahi kemben Cindy supaya tidak melorot.
Yudistira melihat dari jauh. Sudah berulang kali mengingatkan Cindy. Jika dia tak suka melihatnya di pegang laki-laki lain.
"Tapi, inikan Mince, Kak. Bukan laki-laki sejati kok. Sepertinya sudah tak berhasrat lagi pada perempuan. Ayolah, kenapa jadi aneh sekarang? Sepulang dari kampung itu, kok jadi berubah. Aku juga tak marah sedari dulu, jika kakak cipika cipiki dengan gadis lain. Sekarang kok melarang ini itu. Jangan pegangan tanganlah, kita bukan mahram lah dan banyak aturan kuno lainnya. Kita hidup di jaman modern, kak, jangan berpikiran kolot lagi." Omel Cindy ketika Yudis mengingatkan.
Sesi pemotretan kali ini adalah couple. Cindy di pasangkan dengan cover boy tampan jebolan terbaru. Mereka berpose saling peluk dan pose mesra lainnya.
Tak ada canggung. Semua berjalan sesuai prosedur yang seharusnya. Yudis mengurut dada. Karena alasan profesionalisme, Cindy di jamah dan berpose mesra laki laki bukan mahramnya. Seperti hal dirinya yang boleh memeluk atau mencium pipinya karena alasan cinta. Tuhan, betapa naif menghalalkan segala demi sebuah kata modern atau gaul. Hingga kadang lupa etika dalam melangkah.
Sudah sejak pulang dari gunung semua rutinitas bersentuhan dengan alasan apapun Yudis hentikan. Entah mengapa risih jika berkhalwat dengan Cindy. Padahal sebelumnya menyentuh atau menciumnya adalah hal wajar. Bahkan wajib. Sayang jika hanya memandang. Jarang bertemu kok di antepin mulu. Itu pikirnya dulu, sebelum bertemu Ayu. Gadis yang menjaga kehormatan diri dan tubuhnya dari jamahan laki-laki ajnabi.
Bukan seperti pasangan lain. Senakalnya Yudis hanya berani menyentuh pipi dan menciumnya tidak pernah melewati batas.
__ADS_1
Kembali terbayang si putih abu. Mukanya yang tegang saat di bonceng. Tangan gemetar ketika tanpa sengaja harus memeluknya untuk menyeret ke atas tebing. Seolah memegang bara api kepanasan saat bersentuhan.
Juga muka kuyup saat di bonceng di waktu malam.
"Ayu boleh pegangan baju kakak, takut jatuh nanti. Peluk yang erat pinggang juga tak apa. Hanya, darurat kan boleh dalam Islam." pintanya ngarep saat terpaksa di bonceng ketika kecelakaan beruntun dan hampir kemalaman.
"Masih ada besi untuk ayu pegang kak, tak perlu peluk kakak. Kita bukan mahram. Hati-hati saja bawa motor, fokuskan pandangan. Insya Allah kita aman dan selamat sampai tujuan." jawaban Ayu makjleb membuat Yudis bungkam.
Sungguh Ayu membuat Yudis berubah. Bagaimana kabarmu, gadis gunungku. Apakah kau baik-baik saja di sana. Dua tahun telah berlalu mungkin kini kau hampir lulus sekolah.
Tuhan, lulus sekolah. Pasti tak lama lagi akan menikah. Perih hati membayangkan jika janur kuning melambai di depan rumah Ayu. Akan datang sepucuk undangan dengan tinta emas bukan atas namanya.
Sungguh gadis seperti itu hanya ada seribu satu di dunia. Tak pernah terjamah. Tak ridho terusik jika bukan yang seharusnya. Eksklusif. Bukan barang pasaran yang dapat dengan mudah di jamah dan di temui di jalanan.
"Kenapa telat beib? Aku kangen kamu." Cindy membuyarkan angan Yudis.
Tangannya menggelayut manja. Pipinya sudah nyosor cipika cipiki. Yudis terdiam. Risih. Malu sendiri.
"Melamun apa, sayang. Serius amat. Semua sudah menunggu kita di party. Kita berangkat yuk!" ajaknya.
"Kita pulang. Ini sudah malam. Tak baik masih berada di luar malam begini."
"Hanya kali ini, please. Bukankah besok kakak akan cuti. Ayolah, kakak tak pernah mau aku ajak hang out bareng. Hanya kali ini, ok."
Yudis terpaksa mengiyakan. Ingin tahu seperti apa teman-teman kekasihnya. Yudis tak pernah mau keluar rumah jika hanya sekedar nongkrong tanpa ada kepentingan yang mendasar.
Lebih asyik main game ketimbang nongkrong tak tahu juntrungannya. Unfaedah. Apalagi setelah pulang dari desa. Entah mengapa semua berubah dengan sendirinya. Lebih asyik dengan bacaan dari pada tongkrongan. Ketularan Ayu. Si kutu buku.
\*\*\*\*\*
DJ asyik dengan piringan hitam di tangan. Tubuh meliuk menari mengikuti irama musik. Aroma minuman menyeruak di hidung.
Semua berpesta pora. Tak terkecuali Cindy. Beberapa gelas minuman tumbang di perut. Yudis melarang. Namun, Cindy lebih garang.
Sungguh ini pengalaman pertama Yudis hadir di pesta yang di rasa sadis. Tanpa malu semua bergoyang berganti pasangan. Berjingkrak dengan kondisi setengah sadar.
Yudis menyeret paksa Cindy pulang dalam keadaan setengah sadar. Tuhan, sungguh dunia Cindy adalah dunia yang membuatnya bergidig ngeri.
Cindy mulai meracau. Yudis membiarkan gadis itu. Melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dunia showbiz ternyata dunia penuh dengan maksiat. Banyak orang yang kehilangan harga diri dan kehormatan karenanya.
Yudis kian merindu pada si putih abu. Seorang gadis yang masih belum terjamah. Masih murni dengan kehidupan yang bersahaja. Tak pernah terkontaminasi oleh paparan lingkungan yang kena polusi jaman.
\*\*\*\*\*
Tok ... Tok ... Tok.
Yudis mengetuk pintu rumah Cindy.
Si Mbok tergopoh membuka. Mimik mukanya tak terkejut melihat Cindy yang seperti itu. Sudah bosan melihatnya pulang dalam keadaan fly.
"Mas Yudis, Alhamdulillah. Saya khawatir jika melihat non Cindy selalu begini. Berulang kali saya ingatkan untuk menjauhi teman yang kurang baik."
"Ya, Mbok, Cindy salah pergaulan. Keliru memilih teman. Apa orang tuanya tahu Cindy Seperti ini?"
"Tahu, den, tapi mereka terlalu sibuk dengan urusan bisnis mereka. Neng Cindy begini karena mencari perhatian. Kasihan hanya uang yang mereka beri bukan kasih sayang dan perhatian."
__ADS_1
"Itulah manusia, Mbok, uang bagi sebagian orang adalah segalanya. Seolah semua beres jika rupiah di tangan. Saya pamit, besok saya ke sini
Lagi"
"Makasih, Den, jangan tinggalkan Non Cindy sendiri, dia butuh teman yang baik seperti Den Yudis."
Yudis melangkah pergi. Gamang memang terus menyelimuti hati. Ingin menghindar dan menghilang dari kehidupan Cindy. Tapi, naluri kemanusiaan mengatakan tidak.
Tak manusiawi meninggalkan Cindy dalam keterpurukan. Bukan manusia jika tidak mau membantu seorang untuk berubah. Terlebih bukankah Yudis mencintai Cindy.
Entahlah, perasaan pada si jelita di rasa perlahan sirna. Deretan wajah rupawan baginya tak menarik lagi. Paras jelita tak lagi menawan hati.
Percuma paras indah tapi akhlak bejad. Jika kelak menjadi istri bukan paras rupawan yang di butuhkan anak-anak buah cinta. Melainkan seorang yang akan menjadi panutan.
Menjadi madrasah pertama bagi mereka. Tanpa memandang paras rupa. Mendamba juga seorang mantu yang akan juga menyayangi Papa yang renta. Mencintai dan menghormati layaknya orang tua sendiri. Semua itu takan mungkin di penuhi oleh Cindy.
Yudis mengacak rambutnya, kesal. Mengapa harus dilema? Mengapa mulai ragu dengan perasaannya?
\*\*\*\*\*
Om Hadiwijaya, sang pengsiunan Jendral terjaga saat jam dinding tepat menunjuk di angka tiga malam.
Terdengar sayup lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Bibirnya mengukir senyum. Sungguh damai mendengar putra tunggalnya melantunkan Kalamullah. Pasti mengaji setelah tahajud lagi.
Benar berubah kau, Nak. Sungguh ingin melihat gadis yang membuatmu jadi seperti ini. Ingin mengucap terima kasih.
"Om, Yudis bertemu seorang gadis desa sederhana dan bersahaja. Om akan lihat Yudis sekarang berubah. Gadis itu mampu membuat Yudis memaknai hidup dari sisi yang berbeda. Hanya, Yudis belum sepenuhnya menyadari perasaan pada gadis itu. Ayu, bukan seorang yang cantik seperti deretan kekasihnya selama ini. Penampilan juga sangat bersahaja dan sederhana. Yudis masih gamang dengan perasaannya. Ayu bukanlah gadis yang menjadi standarnya selama ini. Saya hanya takut dia terlambat menyadari. Gadis kampung itu sudah keburu di pinang orang. Mungkin sebentar lagi akan menikah. Rasanya sulit bagi Ayu untuk kuliah. Seperti nasib gadis lain, Ayu akan segera di pinang dan menikah jika tidak sekolah atau kuliah. Saat itu tiba Yudis hanya bisa mengurut dada, kecewa." Utari panjang lebar menjawab perubahan sikap Yudis yang di tanyakan padanya.
"Selesai, Nak?"
"Papa! Sudah selesai juga shalat malamnya?"
Om Hadiwijaya mengangguk. Melihat anaknya dengan baju koko, peci dan sarung. Adem rasanya. Sejuk di mata. Apalagi pancaran air wudhu di wajah itu selalu memancarkan sinar indah.
"Nak, Papa senang melihat kamu seperti ini. Semoga istiqamah. Jujur ingin bertemu dengan seseorang yang mampu mengubahmu, seorang yang mampu mengetuk pintu hati yang terkunci. Karat hatimu perlahan hilang. Orang hebat itu yang mengikis sikap brutalmu. Prestasi akademik juga melejit. Bisakah kau bawa pulang orang itu ke rumah ini?"
"Papa ini bilang apa?"
Yudis menggaruk kepala tak gatal. Cukup mengerti maksud Papanya. Seorang cerdas tak mungkin akan tidak memahami arah ucapan sang pensiunan Jendral.
"Bawa pulang gadis gunung itu. Cepatlah bertindak. Jangan terlambat. Gadis itu tak hanya istri ideal tapi juga mantu impian Papa. Bagi si renta ini butuh anak, menantu dan cucu shaleh dan shaleha yang akan menemani hingga akhir hayat nanti. Bisakah kamu wujudkan keinginan Papa?"
"Pah ... "
Suara Yudis tertahan. Semua yang di katakan Papa benar. Hanya, sebagai lelaki kewajibannya pula membuat Cindy berubah. Cindy juga membutuhkan. Sisi humanis menggelitik hati untuk menjadikan Cindy lebih baik.
Cindy ibarat pasien yang harus di tangani eksklusif. Terlepas dari semua perasaan. Tak mungkin harus pergi dan meninggalkan Cindy sendiri.
"Do'akan yang terbaik bagi Yudis pah, in Syaa Allah. Do'a orang tua itu mustajabah."
Hanya kata itu terucap.Ya, mari kita melihat ke mana takdir akan membawa cerita. Toh akhirnya jua kita harus siap menerima segala ketentuan dari-Nya.
"Takdir itu bisa kita ubah lewat usaha dan do'a, Dis. Mari berdo'a yang terbaik. Tapi, kejarlah dia. Sebelum penyesalan diakhir tidak berguna, " ujar Papa yudis lirih.
Hanya pelan tapi begitu mengusik jiwa Yudistira. Semua akan berakhir jika janur kuning melambai indah di depan rumah. Semua rasa sesal sudah tak lagi bermakna. Haruskah hanya berdiri dan berpaku tangan?
__ADS_1
To be continue~