PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.35


__ADS_3

"Assalamualaikum, selamat malam. Maaf bertamu di malam hari. Mungkin saya mengganggu."


Penuh rengkuh dan suara nan satu tamu malam itu menyapa siempunya rumah.


"Wa'alaikum salam," jawab Ayu yang masih syok dengan kehadiran Risma.


Ayu menatap sahabatnya yang masih selalu fashionable. Cantik dengan celana jeans dan kaos panjang yang menutupi separuh tubuhnya. Sepatu sket mempercantik penampilannya. Berbeda dengan Risma yang di temui beberapa hari lalu. Saat itu hanya memakai tanktop dan rok mini juga higheels. Kali ini penampilannya sangat elegan dan santun.


Yudis melihat Risma dengan pandangan yang berdebar. Teringat kejadian malam itu. Kehadiran Risma. Mungkin akan membawa badai yang lebih dahsyat lagi dalam biduk rumah tangga. Menyapu angan dan impian yang baru beberapa menit lalu di semai kembali. Meruntuhkan bangunan cinta yang kokoh hingga menjadi puing tanpa sisa.


Ayu gemetar melihat senyum penuh arti dari Risma. Mungkinkah dia akan membawa petaka baginya dan kabar bahagia bagi Om Wijaya. Hatinya bergemuruh tak menentu saat Risma memeluk erat.


Risma menangis sesenggukan di pelukan Ayu. Membuat Ayu dan Yudis kebingungan. Ada apakah gerangan?


"Duduklah! Katakan apa maksud kedatangan kamu, Ima?"


Ayu berusaha mengendalikan diri dengan mempersilakan tamunya duduk kembali.


Risma terdiam. Menatap photo pernikahan Ayu dan Yudis. Di pajang dengan bingkai indah. Dalam photo jumbo itu, Yudis dan Ayu bergandengan mesra. Tersenyum simpul. Bergandeng mesra dan membuat iri seisi dunia.


Sungguh pasangan yang sangat serasi. Mereka tersenyum manis, seolah memperolok dirinya. Memproklamirkan keteguhan cinta mereka. Seakan mengusir Risma supaya menjauh.


Risma menarik napas dalam.


"Terima kasih dokter atas bantuannya selama ini. Anda selalu menjadi dewa penolong yang datang di saat genting."


Suasana hening. Ayu dan Yudis diam tanpa menyela. Mencoba menerka ke mana arah ucapan tamunya.


"Yu, seusai pertemuan kita di kafe tempo hari, aku tahu ada yang salah dari kalian. Pemikiran Ayu keliru tentang dokter Yudis."


Risma menatap tuan rumah yang kian bingung arah ucapannya.


"Hidupku hancur, Yu. Aku harus menikah karena MBA. Aku kira akan bahagia bersama Angga hingga aku korbankan semua demi dia. Sayang, aku keliru. Dia bukan memberi surga tapi neraka dunia. Kami kehilangan bayi saat di lahirkan. Dia pencemburu dan ringan tangan. Tak segan memukul, menendang bahkan menyundut rokok pada tubuhku."


Risma kembali menangis. Bahunya terguncang hebat. Tangis kian menjadi seolah menayangkan kembali kisah kelam di masa lalu. Ayu mengelus punggung Risma.


"Sahabat baikku ternyata menusuk dari belakang. Berselingkuh dengan Angga di belakang."


Ayu dan Yudis terdiam. Pilu membayangkan jika menjadi seorang Risma.


"Dia orang pertama yang tahu Setiap lebam di tubuhku, bekas pukulan atau tendangan Angga. Dia juga yang tahu bekas luka bakar akibat sundutan rokok sebelum orang lain."


"Lantas mengapa kamu juga melakukan hal yang sama?"


Emosi Ayu terpancing mendengar cerita Risma.


"Yudis adalah dewa penolongku dari jurang kematian. Sejak pertama kali melihatnya aku sudah jatuh hati karena kelembutan dan kesantunannya. Yudismu berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan Angga suamiku. Aku mulai berandai jika Yudis akan menjadi pelindungku.


Malam itu ketika aku kalut pikiran. Aku habiskan sebotol minuman di kafe langganan. Ketika hendak pulang aku di cegat oleh dua berandalan. Di seret ke tempat sepi dan hendak di gagahi. Lagi, Yudis datang menyelamatkan nyawaku. Jika tidak, entah aku akan mati bunuh diri. Dia membawaku ke sini.


Hampa jiwaku haus akan kasih sayang, serta serta separuh kesadaran yang tersisa membuatku ingin menghabiskan malam bersamanya tanpa perduli halal atau haram.


Aku menguntit Yudis masuk kamar yang gulita dan tanpa pernah berpikir ada istrinya atau tidak. Aku tertidur di sampingnya. Syetan memang selalu mendukung manusia berbuat durjana.


Malam itu sesuatu terjadi. Entahlah Yudis juga seolah hilang akal tak bisa membedakan antara istrinya atau orang lain. Kami menghabiskan malam bersama.


Yudis mengamuk dan mengusir saat terbangun dan tahu aku bukan kamu. Hancur perasaanku saat itu. Merasa begitu tak di inginkan di dunia. Seolah semua menolak kehadiranku."


Risma kembali menangis menyesali perbuatannya.


"Maafkan aku, Yu, sudah membuat masalah dalam hidup kalian."


"Kamu sukses membuat kami dalam masalah besar. Aku merasa jijik pada diriku sendiri. Pergilah! Jangan ganggu hidup kami lagi. Kami sudah tenang sekarang." usir Yudis yang tak ingin melihat Risma lama-lama.


"Karena itu aku datang untuk minta maaf pada kalian. Angga sudah mendapatkan ganjaran yang pantas atas kelakuannya. Aku akan kembali ke Jember. Tapi, aku akan pergi setelah meluruskan kesalahpahaman di antara kalian. Syukur Alhamdulillah aku rasa kalian sudah baikan. Itu akan membuatku tenang jika pulang." Risma tersenyum.


Ayu terpaku dan diam seakan tak percaya jika Risma malam membawa pesan perdamaian dan menuntaskan masalah seketika.


Risma berhambur memeluk Ayu.


"Aku selalu mencari bahagia dengan jalan yang salah. Dunia malam dan minuman menjadi pelampiasan. Do'akan aku istiqamah, Yu. Karena aku ingin bahagia lagi ketika dekat dengan Tuhanku."


"Aamiin. Aku akan selalu mendo'akanmu. Jangan jadikan khamer sebagai teman. Itu hanya jebakan syetan. Kamu akan jadi budaknya. Khamer adalah umul khabaits. Induk dari kejahatan. Kamu bukan dirimu sendiri ketika dalam pengaruh alkohol. Jadilah tuan bagi dirimu sendiri.


Jadilah Risma yang dulu kukenal. Jauhi maksiat, dekat dengan syariat. Aku tahu hidayah telah datang memanggil kamu. Istiqamah lah meski susah. Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan menjadi sahabatmu selamanya."

__ADS_1


Risma terkesima. Sungguh begitu baik hatimu. Jika saja orang lain mungkin sudah mencaci maki dan mengusir ke luar rumah setelah apa yang terjadi tapi Ayu malah merengkuh dan menyambutnya.


Ayu dan Yudis mengantar pulang Risma sampai pintu gerbang. Berdoa semoga Risma bisa istiqamah.


Ayu berjanji akan selalu istikharah dan musyawarah dalam menghadapi masalah. Menilai sesuatu setelah tabayun. Sehingga tidak ada sak wasangka yang tak berguna.


Tak pernah ada manusia yang jahat hanya ada makhluk Tuhan yang tersesat. Jangan selalu menghakimi tanpa tahu yang sebenarnya terjadi. Kita bukan orang yang mengalami dan merasakan satu peristiwa hanya melihat dan mampu berkomentar saja.


"Berjanjilah akan selalu bersama. Bergandeng tangan menghadapi badai. Jangan menghindar lagi dan membuat masalah baru. Kakak janji." ujar Ayu memandang sang suami.


Yudis memeluk Ayu mengiyakan. Mereka akhirnya dapat tersenyum bersama.


Badai sudah berlalu. Jika nanti tsunami tiba semoga bisa juga di lewati bersama.


\*\*\*\*\*


Semua kembali seperti semula. Ayu sibuk dengan kegiatan kuliah di kampusnya. Yudis asyik dengan pekerjaan dan penyelesaian tesisnya.


Tinggallah si singa tua yang merana sendiri. Om Wijaya mendamba seorang pewaris nama. Namun, tanda kehadirannya tak kunjung tiba. Cinta dan sayang pada anak menantu membuatnya bungkam.


Tak ada satu noda yang Ayu buat. Ayu terlalu sempurna sebagai mantu. Begitu santun dan hormat pada orang tua. Tak sekalipun berbuat cela. Hanya satu kurangnya belum bisa menghadiahkan pewaris tahta nama besar Hadi Wijaya.


Dalam diam om Wijaya memendam. Tengadah dalam pinta semoga penerus itu hadir dengan segera.


\*\*\*\*\*\*


Sesosok pria muda nan tampan berjalan tegap memasuki area kampus. Beberapa buah buku tebal dalam dekapan. Pakaiannya sangat stylish.


Tampak gagah dengan kaca mata hitam. Membuatnya kian kharismatik. Beberapa mahasiswi tampak mematung, terhipnotis oleh pesonanya.


"Hei, itu Yoga Haditama. Dosen baru kita loh. Keren. Cool abis. Stt .... Dia itu seorang duren." bisik salah satu mahasiswi pada temannya.


Yoga berjalan dengan santai, tak perduli tatapan kagum terus menguntitnya. Lorong kampus yang di lewati akan membuat mata akhwat tak berhenti menatap. Para mahasiswa sampai di buat jealous karenanya.


Ruang kelas terdengar riuh sebelum Yoga masuk. Seketika menjadi hening. Mahasiswa tampak serius menata posisi duduknya. Selentingan jika ada dosen killer membuat mereka mingkem.


Mahasiswi yang tahu dari katanya berita yang merajalela, sang dosen baru seorang duda muda, gagah tampan dan keren, mulai pasang aksi.


Berpose mencari perhatian sang dosen baru. Berharap seandainya dosen itu bisa menjadikannya istri pengganti.


Semua terhipnotis habis.


"Ehmmm .... " Suara deheman membuat sang mahasiswi terkejut. Wajahnya yang tengah di tutupi hijab tersingkap.


"Pak Yoga Haditama," pekik Ayu kaget saat melihat orang di depan kelas.


Semua temannya heran. Si pendiam dan kutu buku, kok bisa tahu dengan dosen baru.


Sejenak kedua mata mereka beradu pandangan. Ayu masih juga tak percaya akan menjadi murid seseorang yang hampir menjadi suaminya.


Yoga masih juga terpana melihat wajah Ayu, Ayu lestari. Kian cantik dengan balutan pakaian yang tak lagi sederhana. Penampilan yang fashionable. Berbeda dari Ayu yang dulu di kenalnya. Seorang gadis gunung kumal sederhana nan bersahaja namun pembawaan yang luar biasa di isi kepala.


Sekarang Ayu sudah menjadi istri dokter bedah terkemuka di kota Bandung. Menantu seorang jendral besar.


Hanya satu yang tak berubah. Lembut tatapan yang menentramkan jiwa. Teduhnya wajah pancaran keimanan. Maka ketika memandang hati menjadi tenang.


"Ehmmm .... " Si comel Linda membuyarkan angan kedua insan itu.


Ayu terkejut dan salah tingkah. Hingga buku tebal itu jatuh menimpa kakinya. Dengan tatapan heran seluruh kelas Ayu memungut bukunya. Meringis kesakitan karena buku itu sangat tebal. Tak bisa mengaduh meski sangat linu.


Yoga kembali ke asal. Berusaha bersikap innocent dan cool. Mengembalikan kharisma yang tadi sedikit jatuh di mata mahasiswanya.


Dengan lugas memulai aktivitas kelas. Sehingga mahasiswa lupa dengan kejadian tadi. Memulai kelas seolah tak pernah terjadi apapun pada mukadimah pelajaran hari itu.


"Kamu hutang penjelasan pada semua orang. Aku curiga pada kalian. Pokoknya nanti kamu harus cerita segala-galanya," bisik Linda pada Ayu di sebelahnya.


"Ya, nanti aku cerita semuanya," jawab Ayu berbisik.


"Maaf tolong jangan mengobrol, silahkan keluar jika tidak ingin mengikuti kelas saya," kata Yoga menyemprot Linda dan Ayu.


Dih, galak benar pak dosen. Serem juga ternyata Yoga Haditama. Padahal dia seseorang yang sangat ramah dan bersahabat. Ternyata kalau di kelas sangat tegas.


Ayu dan Linda diam. Mereka merasa di permalukan. Fokus pandangan kembali pada Ayu.


Yoga menahan tawa melihat Ayu kikuk di marahi. Namun, kharismanya harus di selamatkan. Cukup tadi kelihatan konyol dan tak berwibawa karena terpengaruh suasana.

__ADS_1


Kelas terasa lama berakhir bagi Ayu. Sesekali di lihatnya Yoga melempar pandangan. Sungguh membuat tak nyaman.


Bagi Yoga kelas kali ini teramat cepat. Padahal ingin terus menatap Ayu meski diam-diam. Desir hati bagi si hijab lebar belum bisa kelar.


Di hatinya masih ada. Belum bisa menjadikan seseorang bertahta selain dirinya. Banyak yang cantik melirik. Yang seksi menggoda. Entah hatinya masih juga tak bisa berpaling.


Yoga meninggalkan kelas setelah pamit dan mengucap salam.


Linda si comel masih juga penasaran menguntit Ayu meminta penjelasan. Merasa Ayu dan Yoga memiliki rahasia.


"Ayolah, Yu. Ayo cerita. Penasaran nih. Kamu seneng teman kamu mati berdiri karena penasaran," tuturnya memelas.


Yoga adalah target Linda yang jomblowati. Berharap jika bisa masuk ke dalam hatinya. Sayang malah seperti ada sesuatu dengan sahabatnya.


"Dih, lebay. Ya, nanti aku cerita. Tapi, tak di sini. Takut di dengar orang," bisik Ayu.


Linda akhirnya diam. Pasrah dan makin curiga. Berjalan tergesa menuju parkiran mobil.


"Assalamualaikum, Ayu!"


"Wa'alaikum salam," jawab Ayu kaget saat mau masuk mobil, suara Yoga mengagetkannya.


"Alhamdulillah bawa mobil sendiri sekarang. Apa kabarnya?"


"Alhamdulillah baik, Pak." jawab Ayu kikuk.


"Akhirnya cita-cita kamu kuliah jadi nyata. Semoga kamu bisa jadi guru ya, Ayu. Apa kabar keluarga di desa?"


"Aamiin ya rabbal alamiin, Alhamdulillah keluarga saya sehat semua. Bagaimana Sisil sekarang? Pasti sudah besar, ya?" tanya Ayu yang mulai rindu comelnya anak Yoga.


"Alhamdulillah, sekarang dia sudah TK. Alhamdulillah kami baik-baik saja."


Ucapan terakhir Yoga membuat Ayu kian merasa bersalah. Kata baik-baik saja malah menyiratkan jika Yoga sebaliknya. Dosen barunya itu ternyata belum melupakannya. Mengapa pak Yoga? Kamu membuat beban di hati kian bertambah. Banyak perempuan yang mengantri mencari simpati. Jangan jalan di tempat dan membuatku kian merasa bersalah.


Yoga menunduk. Sisil juga belum bisa move on masih mengharapkan Ayu jadi ibunya. Sering meminta bertemu Ayu. Tapi, bagaimana bisa mempertemukan jika Yudis takan berkenan.


Linda tambah yakin jika Ayu dan Yoga Haditama memiliki satu rahasia. Tapi, apa? Aduh, pak Yoga jangan bilang sayang sama Ayu. Dia sudah menikah, punya pasangan. Ada aku jomblo sejati yang menanti. Batinnya.


"Maaf pak, saya pergi duluan. Ada janji sama teman. Assalamualaikum."


Ayu pergi dan membuka pintu mobil tanpa menunggu jawaban salam. Ya, Tuhan. Kenapa masih juga kau mencintaiku seperti dulu. Itu menyakiti dan melukai dirimu dan aku pak Yoga. Seandainya jika aku bisa membagi hati ini untukmu juga. Tapi, hati ini milik Yudistira seutuhnya.


Yoga mematung.


Linda masuk mobil masih dengan seribu tanya. Ada apa sebenarnya antara Yoga dan Ayu lestari.


Blug.


Ayu membanting kasar pintu mobilnya.


Membenturkan kepalanya pada kemudi. Kepalanya berdenyut. Pusing.


"Mengapa harus di pertemukan lagi dengan dia. Melihatnya membuatku selalu terluka," lirihnya.


"Wah bener dugaanku. You have something. Keren bener mantan kamu, Ayu. Pilihan yang sulit antara Yoga dan Yudis. Sama kerennya. Jika jadi kamu, akupun bingung harus milih yang mana." Ujar Linda menyimpulkan hubungan antara Yoga dan Ayu.


"Bukan mantan, Lin. Dia orang yang hampir menjadi suamiku."


Linda bengong. Lah itu namanya mantan. Apa maksudnya Ayu ini.


"Ya, itu namanya mantan, Neng Ayu."


"Kami tidak pernah memiliki hubungan apapun. Yoga dan Yudis datang di hari yang sama untuk meminang. Yudis gagal mengutarakan niatnya karena ada panggilan darurat pada saat itu. Lalu Yoga meminangku.


Aku hampir berkata ya pada Yoga. Namun, Yudis datang dan melamar tepat di hari aku akan memberi jawaban pada Yoga. Aku di tempatkan pada pilihan yang sulit tapi aku memilih Yudis karena aku juga mencintainya dan dia orang yang pertama berniat melamar, hanya karena satu hal dia harus gagal mengutarakan.


Hari itu Yoga melihat Yudis melamarku dengan sebentuk cincin dan seikat bunga edelweis. Lalu pergi tanpa kata dan hanya meninggalkan selembar surat juga satu set perhiasan dalam paper bag.


Sampai saat ini juga masih belum menikah. Aku selalu sakit melihatnya. Mengapa dia seakan belum move on.


Aku masih bisa melihat binar cinta dari matanya. Itu membuatku sesak napas dan merasa bersalah."


Ayu menjawab panjang lebar. Linda hanya menganga tak percaya. Hebat benar Ayu di perebutkan oleh dua orang yang sangat high quality dalam waktu yang sama.


"Sudahlah bukan salahmu. Jangan merasa bersalah begitu. Semua takdir Illahi. Kamu, yudis, serta yoga hanya sekedar menjalani.

__ADS_1


Ayu menarik napas dalam. Entah cerita apa yang menyebabkan kami dipertemukan kembali hanya Tuhan yang tahu alasan pasti.


...Bersambung~...


__ADS_2