PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.27


__ADS_3

Ayu duduk gelisah, celingukan sendiri. Setelah corong pengeras suara mengatakan sang mempelai lelaki dan rombongan datang, semua orang lari tunggang langgang. Seolah enggan melewatkan melihat wajah pengantin lelaki. Meninggalkan Ayu seorang diri.


Padahal Ayulah orang yang paling ingin menemui Yudistira. Bagaimana tidak. Sepuluh tahun lebih membayangkan wajah Yudis menjadi mempelainya. Kini wajah itu benar akan bersanding di pelaminan. Mimpi yang menjadi kenyataan.


Tapi, Ayu belum boleh menatap wajah cintanya hingga akad terlaksana. Ingin rasanya menepikan orang-orang dan menutup mata mereka satu persatu. Picik. Mereka leluasa memandang Yudistira, sedangkan Ayu merana sendiri di dalam dinding kamar.


Kamar itu sudah tak lagi sederhana. Ranjang tuanya berubah menjadi ranjang indah dengan hiasan bunga segar serta taburan Bunga. Siapa nyana jika ranjang reyot itu menjelma bak peraduan putri raja.


\*\*\*\*\*\*


Matahari bersinar indah di pagi itu. Seolah ikut tersenyum pada pasangan pengantin. Senyum bahagia tampak pada semua yang hadir.


Yudis kian tegang. Rangkaian acara mulus terlaksana. Pidato sambutan dari kedua belah pihak membuat Yudis emosi tingkat tinggi. Entah mengapa tak ada yang mengerti.


Kedua belah pihak saling membalas kata dengan bertele-tele. Padahal cukup pidato singkat, jelas dan padat. Tak harus saling menggoda sang pengantin. Belum bahasan mereka dengan bahasa Sunda yang halus. Entah apa artinya Yudis tak mengerti.


"Ini orang lama banget, gua kagak nahan, Ri. Kebelet nih," bisik Yudis pada Utari di sampingnya.


"Yudis!" bisik Utari dengan penekanan suara tanda tak suka.


"Tari, elu ngapa melototi gua. Beneran gue sudah tak tahan nih"


"Mesum bener nih bocah, yak. Turun wibawa kalau orang denger. Stt ... diem, sabar, bentar juga kelar," ujar Utari dengan mata yang mendelik tanda marah.


"Astaghfirullah, lu tuh yang mesum. Gua pengen ke ******, Utari Pringgadesa. Emang, lupikir gua kebelet apa?" kali ini Yudis yang berang.


"Ohh, gua kira lu ... " Utari tersipu sendiri. Mukanya memerah karena malu. Tadinya berpikir Yudis kebelet untuk .... Utari menggelengkan kepala. Merasa malu sendiri.


MC memanggil Yudis untuk ke depan. Acara akad nikah akan segera di laksanakan. Yudis menata pakaian, wajahnya yang tegang dan hati yang kian berdebar kencang. Berusaha senormal mungkin.


Yudis duduk di meja dengan enam kursi. Dua kursi saling berhadapan. Lain sisi satu kursi juga berhadapan.


Penghulu duduk di samping bapak. Yudis duduk di samping Om Wijaya. Dua saksi duduk di kanan kiri.


Yudistira Hadiwijaya menjabat tangan Bapak, dalam satu tarikan napas menghalalkan Ayu lestari binti Rahmat. Semua orang lantas berucap "Barakallahu laka wa barraka alaika wa jama'a bainakuma fi khair".


Pasukan empat sahabat berlari menjemput Ayu. Mereka tak sabar melihat istri Yudistira.


"Yu, Alhamdulillah. Selamat sekarang menjadi nyonya Yudistira Hadiwijaya" Thien Lutfie memeluk Ayu yang begitu haru.


"Semoga kalian samawa," ujar Eva.


"Selamat bersuamikan orang tampan, aih aku jadi meleleh melihat wajah kang Yudis. Yu, kalau bukan suamimu akan aku rebut kang Yudis ganteng," pekik Irniaty dengan pandangan menerawang. Terbayang gagah dan tampan suami sahabatnya.


"Ih, kalian bukan cepat membawa Ayu keluar malah menggodanya. Kasihan yang kangen. Sekarang sudah halal bagi Ayu pasti ingin segera bersanding bersama di pelaminan, ya kan, Ayu." Cerocos Nurasiah Jamilah yang langsung kena imbalan toyoran Ayu. Dih, sama saja.


Ayu berjalan keluar kamar. Hanya beberapa orang yang berhasil melihat wajahnya dengan riasan hari ini. Sudah barang tentu kehadirannya menjadi magnet bagi yang lain. Semua pandangan fokus pada perubahan wajahnya.


Begitu cantik dan anggun. Wajah polos jarang make up itu berubah drastis. Cantik luar biasa.


Ayu berjalan menunduk. Debar jantung kian tak menentu. Ingin rasanya berlari menghampiri Yudistira. Namun, gaun cantik dan higheel menyusahkan langkahnya.


Waktu seolah terhenti sesaat. Yudis menatap istrinya dari jauh. Wajahnya takjub akan keindahan ciptaan sang kuasa. Ayu juga terdiam mematung. Menatap Yudis yang tampan dengan Tuxedonya. Mereka menjadi pusat perhatian.


"Silahkan mempelai supaya duduk di pelaminan yang sudah di sediakan." Suara MC membuyarkan angan. Ayu dan Yudis tertunduk bersamaan.

__ADS_1


Ayu dan Yudis duduk berdampingan di pelaminan. Yudis melirik istrinya. Ayu masih juga menunduk malu. Si kucing cantik itu masih juga gemetar.


"Silahkan kalian boleh duduk berdampingan. Ayu boleh mencium tangan suaminya. Aih, komando belum selesai, sabar. Bisa ulangi lagi, jangan lepaskan dulu, tahan sebentar. Juru photo akan mengabadikan." Cerocos MC menggoda Ayu yang langsung mencium tangan Yudistira dan segera melepaskan. Ayu keki. Semua hadirin tertawa melihat polahnya.


Ayu perlahan memegang tangan Yudis, masih juga gemetaran. Perlahan di ciumnya dengan takjim. Tangan itu terasa hangat. Begitu membuat tentram dan nyaman.


"Dokter Yudis mangga elus kepala Ayu dengan kasih sayang."


Yudis mengelus kepala istrinya. Berasa mimpi bisa menyentuh tanpa ada yang protes lagi.


"Eits, sudah cukup jangan lama-lama nanti saja lanjutkan di kamar, ya." lagi si MC membuyarkan angan mempelai. Tawa membahana.


"Dokter Yudis silahkan mencium kening istrinya. Mohon di tahan supaya bisa di abadikan."


Yudis menatap lekat mata Ayu. Mengapa begitu tegang? Bukan pertama kalinya Yudis mencium perempuan. Hampir semua mantan Yudis cium pipinya. Tapi, melihat Ayu yang ketakutan membuat nyalinya ciut.


"Cium ... cium ... cium." riuh rendah suara hadirin membuat mempelai kian gemetar.


Yudis perlahan mencium istrinya. Ayu memejamkan mata. Air bening mengalir di ujung netra. Ini persembahan hanya untukmu, kak. Seorang yang benar menghalalkan. Raga ini tak pernah terjamah.


"Sudah cukup, pak dokter, jangan lama-lama. Kasihan bikin jealous para jofisa." MC nyengir kuda.


Gemes bener Yudis melihatnya. Belum pernah makan bakiak ini orang. Ingin rasanya membungkam orang itu dengan sepatu mahalnya.


Yudis akhirnya bisa duduk tenang bersanding di pelaminan. Acara belum usai tapi bahagia bisa bersama Ayu di sampingnya.


"Jangan malu lagi kita sudah sah," bisik Yudis di kuping Ayu. Hembusan napasnya meniup lembut pipi Ayu. Wangi aroma buble gum menyeruak. Yudis memang bukan perokok. Lebih suka makan permen karet daripada lintingan nikotin pembawa petaka.


Ayu kian tersipu. Yakin wajahnya sudah merona merah. Padahal fokus pandangan masih pada mereka Yudis masih juga mencari kesempatan.


Yudis menggenggam tangan Ayu. Spontan Ayu memelototi. Yudis terkekeh-kekeh.


"Sudah halal, Sayang. Tak perlu marah lagi. Kita sudah sah menjadi suami istri dalam kacamata agama dan negara. Kamu tidak mimpi. Ini nyata adanya."


"Awww," teriak Ayu tertahan. Tangan Yudis genit menyubit pinggang.


Ayu kini tak bisa marah dan melotot lagi. Yudis kian erat menggenggam tangan. Membuat iri ratusan pasang mata yang menyaksikannya.


MC memberi komando agar acara sungkeman di laksanakan. Kini Ayu bersimpuh pada kaki bapak. Memohon do'a restu lelaki yang menjadi cinta pertamanya.


"Pak, Ayu mohon maaf atas segala khilaf selama ini. Maaf belum bisa menjadi kebanggaan. Tak bisa membuat bapak bahagia. Mohon Sudi bapak melepas Ayu untuk bersama kak Yudistira. Restui kami, agar Allah merestui pula."


"Ayu, anakku. Bapak bangga ketika Allah titipkan makhluk hebat seperti kamu, nak. Ayu kebanggaan kami. Nak, pergilah bersama Yudis. Hari ini tongkat tanggung jawab ada di tangannya. Jangan membuat suamimu murka. Hormati, sayangi, dan cintai dia. Jagalah kehormatan dan nama baiknya. Selalu maafkan kesalahan suamimu. Bertoleransi atas khilapnya. Dia bukan makhluk tanpa cela. Jadi Bapak mohon Ayu selalu bisa bersama dengannya hingga maut memisahkan. Sayangi Papa mertuamu seperti kau menyayangi bapakmu." Bapak mengelus kepala putri tercintanya. Ayu mengangguk dan terisak.


Yudis juga bersimpuh di kaki papanya.


"Pah, terima kasih sudah membesarkan Yudis hingga dewasa. Papa berjuang sendirian. Mama sudah lama berpulang tapi papa tak mau mencari pengganti demi Yudis. Maaf selalu merepotkan selama ini." Yudis terisak. Mengingat jasa dan pengorbanan papanya.


"Dis, kamu sudah dewasa sekarang. Bahkan sudah menjadi imam dalam keluarga kecilmu. Hormati dan cintai istrimu dengan sepenuh hati. Buat dia selalu menjadi putri dalam kerajaan cintamu. Sekarang dia adalah istrimu, sebelumnya dia adalah putri dalam keluarganya. Dia di sanjung dan puji laksana intan permata. Mereka sepenuh jiwa menjaga fisik dan batinnya. Tak ingin satu nyamuk pun yang akan mendekati dan mengganggu. Berikan hak tetap bersama keluarganya. Jangan mengurung dalam istanamu tanpa memberi akses bersama keluarga yang bersamanya selagi dari buaian. Jangan biarkan dia lebih rendah darimu. Sejajarlah berjalan bersamanya. Agar kalian saling menopang dan menguatkan.


Jangan memonopoli, selalu saling diskusi. Jadilah bijak membimbing tulang bengkoknya. Berlemah lembutlah padanya. Jangan biarkan dia berair mata. Cintai pula orang tuanya sebesar kau mencintai dia."


Yudis mengangguk. Sebelum mencipta dunia baru bersamanya. Ayu sudah punya dunia indah bersama orang tuanya. Bukan haknya merebut apalagi memonopoli. Memang surganya ada dalam ridhonya kini, tapi Ayu bukan terlahir dari bongkahan batu sehingga harus di pisahkan dari orang tuanya. Mereka juga masih punya hak yang sama atas diri Ayu.


Acara penuh air mata akhirnya berakhir. Yudis dan Ayu menerima tetamu. Menyalami semua orang yang memberi restu.

__ADS_1


Yudis menggenggam erat tangan Ayu. Tak ingin melepaskan lagi. Jauh perjalanan hingga akhirnya bisa menghalalkan maka Yudis berjanji takan mudah untuk melepaskan.


"Kita akan selalu bersama seperti ini hingga akhir hayat. Aku janji takan pernah melepaskan."


"Insyaa Allah, semoga hingga tua kita akan saling menguatkan dan menopang. Raga telah rapuh tapi selalu bersama saling mencintai dan menyayangi. Aamiin." Balas Ayu dengan tersenyum.


\*\*\*\*\*


"Dy, katanya masih jauh loh rumah Ayu. Yakin kamu kuat jalan?"


"Yakin, ayo kita pergi. Aku kuat ko, Do." Jawab Cindy


Aldo begitu menghawatirkan istrinya. Kondisi fisik Cindy sekarang lemah. Proses rehabilitasi narkoba dan kehamilan membuat tubuhnya ringkih. Aldo selalu sabar mendampingi. Cindy masih juga bersikap dingin padanya.


Cindy berjalan dengan susah payah. Higheel membuat jalannya kian susah. Aldo membantu memapah. Cindy yang biasa enggan di dekati kini diam. Menatap Aldo dengan kasihan. Aldo begitu tulus dan perhatian. Namun, Cindy masih juga enggan membuka hati. Yudis masih juga bertahta di hati.


'maafkan aku, Do. Hanya sebatas memberi status suami tanpa bisa membuatmu menjadi raja di hati. Maaf, aku masih juga belum melupakan dia. Terima kasih atas cinta dan kasih sayangmu padaku. Aku akan berusaha menerima kenyataan. Semoga jika melihat Yudis bersanding di pelaminan maka aku akan sadar jika dia bukan untukku. Kamu adalah takdirku, Aldo.'


"Dy, lepaskan sepatu kamu, sudah tahu lagi isi paket heels segala sih," pinta Aldo.


Cindy menurut. Kakinya juga tak nyaman berjalan jauh dengan heels. Aldo berlutut dan membuka sepatunya.


"Aku bopong ya. Kamu nggak bawa sendal cadangan," ujar Aldo hendak merengkuh tubuh istrinya.


Cindy menggeleng. Aldo hanya diam. Hatinya sakit melihat Cindy lebih memilih bertelanjang kaki daripada menerima bantuannya.


Langkah Cindy kian mendekati rumah Ayu. Suara petikan kecapi dan suling kian terdengar di telinga. Menghipnotis diri kian jauh merana. Alunan nada lembut itu umpama sembilu menghujam dasar kalbu.


Melodi yang tercipta kian membuat luka. Jalanan ini pernah menjadi saksi kebersaman Ayu dan Yudistira. Mereka bergandengan tangan menyusuri jalan desa, sesaat sebelum Yudis pulang dari KKN.


Setiap pijakan kaki seolah menginjak onak duri. Langkah kian mendekat duri kian tajam menghujam. Cindy ingin menangis, menjerit sekuat tenaga. Tapi, ada Aldo yang harus di jaga perasaannya. Ada seorang suami yang juga punya hati selain dirinya.


"Dy, kakimu berdarah. Ya Allah, Dy. Kenapa kamu tidak bilang. Darahnya merembes ke kaos kaki," pekik Aldo kaget.


Jari kelingking kaki Cindy tampak mengeluarkan darah. Kaos kaki terlihat bercak darah. Aldo memaksa Cindy melepaskan kaos kakinya.


Tampak kelingking itu kukunya hampir copot. Cindy juga merasakan sakit, tapi lebih sakit saat tahu jika Yudis tengah bersanding dengan wanita lain selain dirinya.


"Ngeyel, sudah aku bilang aku bopong kamu. Ini akibatnya jika tak mendengar." Cerocos Aldo marah. Cindy hanya diam.


Tanpa aba-aba, Aldo merengkuh istrinya dalam gendongan. Cindy kaget tanpa sempat menolak. Wajah mereka begitu dekat. Cindy menatap lekat Aldo dengan intens. Tampan dan gagah juga perhatian.


Aldo selalu ada dan siaga kapanpun juga. Aldo tersenyum. Tampak deretan gigi putih nan rapi kian membuat pesona berbeda.


'I love you, Dy. Aku ingin bisa membahagiakan kamu dan si kecil.' batin Aldo.


Cindy dapat merasakan detak jantung Aldo yang tak beraturan. Tanpa sadar mengalungkan tangannya di leher Aldo. Cindy baru merasakan betapa nyamannya dada bidang Aldo. Betapa besar pengorbanan Aldo selama ini. Mengapa matanya selalu buta?


"Jangan menatap begitu atau kau akan benar jatuh cinta padaku, Dy."


Cindy gugup. Aldo tersenyum. Semoga cinta itu pada akhirnya akan datang. Tak mudah untuk menerima seseorang yang merenggut paksa mahkota berharga, apalagi untuk bisa jatuh cinta. Aku akan sabar hingga waktu itu tiba. Lirih Aldo di hati.


Cindy merasakan getaran halus di hati. Ini kali pertama mereka begitu dekat setelah akad. Cindy selalu menjaga jarak. Padahal setiap saat Aldo ada untuknya jika tak sedang bekerja.


Mereka saling bertatapan. Ogah memikirkan pandangan orang melihat heran. Tak ada lelah di wajah Aldo membopong jauh istrinya. Hanya perasaan senang melihat kemajuan sikap Cindy saat bersama dirinya. Semoga selamanya bisa bersama denganmu, Cindy Agustina.

__ADS_1


To be continue~


__ADS_2