PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.12


__ADS_3

Pagi yang cerah, Ayu berjalan dengan susah payah. Tentengan tas di tangan membuatnya kesulitan berjalan. Bawaan banyak dan begitu berat. Hari ini ada PERJUSAMI dari gugus depannya. Sekolahnya menjadi salah satu peserta dalam kegiatan tersebut.


Susah payah Ayu meyakinkan orang tuanya untuk mengijinkan ikut serta. Pandangan Bapak dan Emak yang selalu takut jika anak gadisnya keluar rumah sendirian adalah penghalang. Mereka takut anak gadisnya salah dalam pergaulan.


Berulang kali Ayu meyakinkan jika ini adalah program sekolah. Di mana surat ijin orang tua yang harus di tanda tangani juga menjadi saksi, jika Ayu tak berdusta.


Banyak pelajar yang hanya ingin bermain bersama kawan memanipulasi kegiatan hanya untuk sekedar kesenangan bersama kawan. Orang tua Ayu takut anaknya melakukan demikian.


Terus terang kegiatan sekolah itu menguras energi dan melelahkan. Tapi, itu adalah gerbang kebebasan ekspresi bagi Ayu. Di mana dapat menyalurkan hoby dan berkawan dengan banyak siswa dari berbagai sekolah.


Tin Tiiiiin ...


Suara klakson motor mengagetkan Ayu. Hadi menghentikan motor tepat di sampingnya, dengan seutas senyum menyapa Ayu.


"Aku antar ayo .... " ajaknya. Tangannya menepuk jok belakang isyarat untuk duduk di belakangnya pada Ayu.


"Tidak, terima kasih," jawab Ayu seraya pergi menyeret bawaannya yang begitu berat.


"Kenapa menolakku? Tak asyik jika di bonceng motor tuaku. Lebih bagus motor Yudistira, sih, makanya kau tak mau bersamaku."


Langkah Ayu terhenti. Ya Tuhan, pikiran Hadi mengapa begitu picik dan dangkal. Karena cemburu membakar hati, Hadi emosi.


"Bukan karena itu Di, semalam aku harus ikut Kak Yudis karena terpaksa. Apa aku harus tidur di jalanan jika tak mendapat tumpangan kendaraan ? Aku akan menolak siapapun untuk membonceng jika menawarkan jasa. Aku tak nyaman bersama seorang Ikhwan. Mau itu kamu, kak Yudis atau yang lain. Kalian bukan mahramku. Itu alasannya bukan yang lain." jawab Ayu.


Hadi terdiam. Rasa tenang hinggapi hati. Memang sudah Azam Ayu untuk tidak mempunyai komitmen dengan siapapun. Ayu ingin fokus belajar. Hadi menghela napas. Masih ada kesempatan selama janur belum berdiri tegak di depan rumah, harapan takan musnah.


Yudis memperhatikan dari jauh. Gusar melihat Hadi berani mendekati si putih abu. Tak pernah ada seorang pemuda yang berani mendekati. Tapi, Hadi malah menggoda gadis gunung itu.


Suatu hari pernah melihat dua orang gadis lewat di depannya yang tengah berkumpul bersama pemuda kampung. Dengan leluasa mereka menggoda dan mencegat mereka.


"Neng, boleh ikut nggak? Aa boleh maen ke rumah ya, tar malam. Mau bawa pasukan buat ngelamar," goda Ade pada mereka.


Mereka hanya tertawa cekikikan. Berlalu begitu saja. Yudis menggelengkan kepala. Baju mereka yang nota bene orang kampung, tapi penampilan membuatnya menggelengkan kepala. Kalah Sepertinya orang kota. Cetar membahana.


Baju ketat dengan rok mini atau celana yang membentuk lekuk tubuhnya. Mengapa sekarang risih melihatnya. Bukankah itu penampilan favorit dan idealnya dulu untuk seorang gadis. Modis, trendy dan bergaya up to date. Pantas saja lelaki begitu senang menggoda.


Lantas mengapa melihatnya begitu risih dan tak nyaman di pandang mata. Apakah kriteria gadis pujaan kini sudah berubah. Ah, mengapa begitu cepat mengubah pemikiran. Belum setengah bulan terdampar di desa sunyi ini. Apakah Ayu yang membuatnya berubah?


Ketika kemudian Ayu lewat dan berada di depan mereka. Semua bungkam dan menunduk. Tak salah satupun yang mau menggoda atau sekedar menyapa. Mereka seolah tidak melihat keberadaan Ayu. Ayu lolos, melenggang tak mendapat godaan atau sekedar ucapan gurauan.


"Kenapa tak di goda? Dia lebih cantik dari yang dua tadi, loh." tanya Yudistira penasaran.


"Nggak ada yang berani mengganggu gadis itu. Semua orang segan, Kak, kalau mau dekati harus pintar ngaji. Nanti kalau melamar takut di tes baca Al-Qur'an. Makanya nggak usah ganggu pasti kalah semua. Kami tak pandai mengaji," jawab Hamdan terkekeh.

__ADS_1


Sungguh sesuatu yang terbungkus rapi takan pernah di kerubungi. Jika kemasan rusak maka dengan gampang lalat dan serangga akan hinggap. Itulah Ayu, menutup diri dengan pakaian syar'i dan juga akhlak budi pekerti. Maka, siapakah yang akan mau menggerumuti untuk menodai.


Di balik jendela yang terbuka tampak Bagas mengintip diam-diam. Ah, mengapa selalu ingin melihat gadis kuno itu. Yudistira juga mengapa selalu memperhatikan. Apakah kami berdua sudah terpanah pesona gadis gunung itu. Tak mungkin. Bukankah aku membencinya. Tolak hati Bagas. Menepis rasa yang hinggap, ingin tak menganggap.


\*\*\*\*\*


Hamparan bunga edelweis tampak mempesona mata. Dari kejauhan puncak gunung Tampomas seolah dalam dekapan. Betapa indah, mata di manjakan dengan birunya langit yang melatar belakangi kokohnya gunung tinggi nan menjulang.


Angin berhembus kencang khas pegunungan begitu syahdu menusuk kalbu. Lima gadis berseragam Pramuka tampak memisahkan diri. Sejenak mereka terpana, indah pesona alam yang memanjakan mata.


Jika saja menjadi seorang pelukis. Ingin rasanya menggoreskan kuas diatas kanvas untuk mengabadikan keindahan alam ciptaan Tuhan.


Andai menjadi pujangga akan di buatkan puisi untuk menyanjung ciptaan sang Maha Pencipta. Sungguh elok ciptaanMu, Tuhan. Begitu memanjakan indra penglihat.


Kicau burung beterbangan kian kemari menambah syahdu. Angin seolah berbisik mesra. Awan putih berarak seolah dalam jangkauan tangan. Ingin rasanya memetiknya.


Geng lima sekawan, merentangkan tangan seolah ingin memeluk lembah yang menghijau. Mendekap kokohnya gunung di hadapan.


"Aku minta maaf jika memperolok perasaan kalian. Ketika kalian mengeluh tentang perasaan, aku hanya menganggap enteng sebuah rasa. Mengapa harus terluka ketika jatuh cinta? Apalah cinta itu tak penting. Namun, aku terkena kutukan perasaan sekarang. Malah jatuh hati pada seseorang yang tak mungkin membalas rasa."


"Apa yang salah ketika jatuh hati? Kita tak pernah tahu kapan, siapa dan di mana perasaan kita akan kita labuhkan. Jangan mengutuknya, nikmati saja. Yang penting jangan jadi gila karenanya," jawab Nur


"Indahnya bunga edelweis ini, benarkah ini perlambang cinta sejati?" Mata Ayu dimanjakan dengan bunga khas pegunungan. Terhampar luas membentang sejauh mata memandang.


"Bener, diantara semua yang mendaki hanya segelintir orang yang mampu melanjutkan perjalanan sampai ke sini. Salah satunya kita." Thien menimpali.


"Lelah sudah terbayar melihat indahnya pemandangan." Eva tak mau ketinggalan membumbui.


"Bahagianya jika kita di khitbah dengan bunga ini, yayang mbeb berlutut di kaki, mau, kah, kau menjadi makmumku? Lalu ... aku akan katakan, ya, tolong bawa pasukan kemari. Jangan lupa sebentuk cincin dengan mata indah sebagai pengikat hati. Prikitiw deh," ujar Irniaty dengan tersipu di susul gelak tawa yang memecah keheningan puncak pegunungan.


"Apalagi kalau yang melamar babang Yudis. Beu klepek-klepek langsung gubrag pingsan ya kan, Yu?"


"Dih, jahara kalian, mimpi itu mah. Jangankan melamar, suka gadis gunung kayak aku juga cuma hayalan."


"Makanya setiap sehabis shalat berdo'a. Ya Allah, semoga jodohku nanti kakang Yudistira, jika dia tidak cinta padaku tolong buat dia jatuh cinta setengah gila dan bersujud di kakiku menghiba. Jika bukan jodohku buat dia menjadi pendamping hidupku, gitu."


"Dih, do'a kok maksa." Ayu tersenyum.


"Ayu muna nih, bilangnya aja kagak suka. Tengok tuh hati, bilangnya Aamiin. Deuh, aku, kan cenayang, bisa tahu pikiran orang." Irniaty terkekeh.


Nurasiah Jamilah hanya diam. Entah mengapa begitu terpana dengan keindahan panorama alam yang terlukis di hadapan. Matanya seolah enggan berkedip. Hingga lupa untuk sekedar berucap mengolok Ayu yang kasmaran.


Akhirnya semua hanya terdiam. Bisu tanpa kata. Membaringkan tubuh berjejer berlima. Menatap langit yang sama. Membawa angan dan harapan masing-masing.

__ADS_1


Sebuah perjalanan yang suatu saat akan mereka kenang. Kelak jika waktu memisahkan, semua akan menjadi satu memory indah tak terlupa. Menjadi kisah classic untuk masa depan.


\*\*\*\*\*


Yudis dan Bagas selalu asyik melihat ke jalanan depan rumah. Tiap waktu yang sama. Waktu biasa si putih abu pulang sekolah. Namun, tiga hari tak terlihat batang hidungnya.


"Kemana kau, Ayu?" tanya Yudis yang pura-pura asyik membaca novel di halaman.


Sedangkan Bagas mengintip di balik jendela kamar. Juga tengah menunggu si putih abu. Akhirnya kini mulai mengakui rasa. Ya, Bagas mengakui jatuh hati pada gadis yang mati-matian dihina dan di rendahkan.


Menepis, tapi tak mampu mengusir bisikan hati, ingin sekedar melihatnya dari jauh. Walau Bagas tahu jika Yudistira menyimpan rasa yang sama.


Juga sama mengelak dan menolak mengakui. Jika mereka telah terpasung pesona si gadis gunung. Gadis sederhana dengan kulit eksotis dan kemampuan otak di atas rata-rata.


Dari jauh Bagas melihat Ayu yang berjalan dengan lunglai. Bawaan di punggung dan tangan membuatnya kian lelah. Baju Pramuka terlihat lusuh. Sudah tiga hari baju itu tak di ganti.


"Ooh, kegiatan kemping pramuka ternyata," gumam Yudis.


Pantas tidak kelihatan pulang ke rumah. Ternyata ini alasannya. Yudis kembali menundukkan kepala dan pura-pura membaca. Padahal penjuru mata melihat Ayu lewat.


Persis di hadapan mereka, seorang nenek dengan tongkat di tangan, terseok-seok berjalan. Tubuh rentanya terlihat bergetar.


"Ya Allah, Nek, mau ke mana?"


Ayu spontan melempar tentengannya. Berlari menghampiri si Nenek. Tangannya sigap memapah. Perempuan renta yang sudah bungkuk dan berusia lewat kepala tujuh itu, hanya tersenyum tanpa menjawab. Mungkin Indra pendengaran sudah melemah. Sehingga tak bisa menangkap ucapan Ayu.


"Nuhun, Neng Ayu," kata si Nenek setelah sampai di rumahnya yang jaraknya memang tak berapa jauh.


"Sami, Nek, lain kali jangan pergi sendiri. Kalau Nenek jatuh bagaimana?"


Nenek hanya mengangguk. Usianya sudah renta sehingga untuk berjalan atau bicara juga kesulitan.


"Ayu pamit pulang, ya," bisik Ayu


Si nenek mengangguk. Dada rentanya terlihat naik turun. Terengah-engah.


Bagas dan Yudis melihat pemandangan itu dengan kagum. Tidak semua orang mau melakukan itu. Terlebih nenek tua itu tampak kumal tak terurus. Mungkin jika gadis lain akan jijik melihat apalagi mendekati.


Mereka akhirnya menemukan alasan mengapa menyukai Ayu. Bukan karena elok rupa tapi indahnya kepribadian. Bukan karena polesan bedak tapi indahnya akhlak.


Ayu kembali mengambil tentengannya yang tertinggal. Sedikit mengintip seorang Yudistira yang asyik membaca buku. Mengapa aku menyukaimu, kak, mustahil kau suka gadis desa sepertiku. Semoga jika kau nanti pulang, akan juga membawa serta rasaku. Kumohon jangan kau tinggalkan rasa ini hingga kian dalam. Bawa serta jika nanti kau akan pergi. Lirihnya.


Ayu pergi melanjutkan perjalanan pulang. Meninggalkan dua orang pemuda dengan perasan yang kian dalam.

__ADS_1


To be continue~


__ADS_2