PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.24


__ADS_3

l


Lama menunggu Ayu jadi gelisah. Sudah jauh datang ingin menjenguk sahabatnya. Namun, waktu membesuk tinggal dua puluh menit lagi. Si ibu terlihat tergopoh datang. Berkali meminta maaf pada Ayu.


"Tak apa, Bu. Bagaimana keadaan bapak sekarang?"


"Sudah lebih baik, Neng. Alhamdulillah. Terima kasih atas bantuannya. Semoga Allah membalasnya. Waktu besuk sudah mau habis. Maaf menyita waktunya hanya untuk membantu saya."


"Bantuan alakadarnya, Bu. Alhamdulillah senang bisa membantu."


"Ibu pamit, Neng. Terima kasih."


"Ini buat tambahan ongkos, maaf tak bisa memberi banyak. Lumayan buat ongkos angkot," ujar Ayu mengepalkan selembar uang rupiah di tangan si anak kecil.


Cindy membelalakan mata. Dengan mata kepala sendiri melihat hanya dua lembar uang di dompet gadis gunung itu, buat ongkos juga mungkin kurang. Tapi ... masih juga Ayu berikan pada orang lain.


Aldo heran melihat Cindy yang tak berkedip memperhatikan gadis di sampingnya. Seolah mengenal gadis itu. Padahal rasanya tak mungkin Cindy berteman dengan gadis seperti Ayu. Semua sahabatnya adalah top model dan berpenampilan glamor. Gadis di hadapannya jelas jauh berbeda dengan semua kawannya.


Si ibu pamit dan pergi. Ayu mengantar dengan senyuman. Meraba tas dan dompet yang isinya tinggal selembar. Ayu tersenyum hambar. Sesal menghinggapi. Bukan karena memberi, tapi karena hanya bisa memberi sedikit pada si ibu.


Bocah kecil yang di gendongnya berceloteh jika dia menangis meminta uang jajan. "Ibu bilang jangan, nggak ada buat jajan. Ada juga buat ongkos entar di pake jajan tak bisa pulang"


Teriris hati, andai Ayu punya banyak uang ingin juga menyumbang dana untuk membayar biaya rumah sakit. Ini untuk ongkos juga sudah korat- karit. Ayu harus mendaki gunung lagi. Uang untuk ojeg melenggang di bawa pulang ibu dan bocah Kumal. Tak apa, mendaki adalah hal biasa. Lumayan uang tadi buat jajan atau ganjal perut mereka.


Ayu berlalu mencari kamar perawatan Nurasiah Jamilah. Tinggal hitungan menit, semoga masih sempat menjenguk sang sahabat.


"Siapa dia, Dy?" tanya Aldo


"Ayu, tunangannya Yudistira," jawab Cindy datar.


Aldo heran dengan sikap tenang Cindy. Tak ada lagi mata liar penuh amarah, padahal biasanya selalu mengamuk karena hal yang tak jelas. Ayu adalah sumber beban perasaan dan hatinya, tapi melihatnya dari dekat Cindy bisa mengendalikan diri. Heran.


Semoga ini adalah progres perkembangan kesehatan jiwanya. Semenjak Yudis datang dan menasehati Cindy tampak tenang, tak histeris lagi.


Cindy hari ini akan pulang ke rumah. Tengah menanti mamanya menebus obat dan menunggu di lobi rumah sakit.


Ayu masih kebingungan mencari. Akhirnya harus kembali ke lobi dan bertanya pada satpam tentang pasien yang masuk rumah sakit tadi pagi.


Cindy dan Aldo tak juga mengerti untuk apa Ayu bertanya pada satpam. Mereka mengira Ayu akan menemui tunangannya. Tinggal telpon dan mereka bisa bertemu.


"Ayu!" Panggil Yudis.


"Kak Yudis?" ujar Ayu yang kaget melihat kekasihnya di depan mata.


Sejenak mereka beradu pandang. Ayu menunduk malu. Yudis gemas ingin mencubit wajah yang merona di hadapannya. Lucu. Masih juga tersipu. Pasti jika memegang tangannya juga masih gemetar.


"Ayu mencari siapa?"


"Nur, kecelakaan tadi pagi. Ayu ingin menjenguknya," jawabnya tanpa menatap si lawan bicara.


"Kenapa tidak telpon atau sms. Ayu tahu kakak dinas di sini. Masih juga bilang malu, nggak mau merepotkan, padahal kakak ingin Ayu merepotkan. Seneng bisa di repotkan kamu, sayang." ujar Yudis mengeluarkan jurus gombalan mautnya.


Ayu kian menunduk. Aih, jangan bikin ayu semaput dong. Melihat dan mendengar suaramu yang sedari tadi juga aku cari sudah bikin gemetaran. Apalagi dibilang sayang.


"Dih, ayu tersipu malu. Aku kangen kamu, Sayang." Yudis kian senang menggoda Ayu yang salah tingkah.


Aldo dan Cindy melihat dengan bingung. Tak ada pelukan, ciuman atau sekedar genggaman tangan. Pertemuan dua insan itu terkesan garing tanpa ada sentuhan. Monoton.


Aldo kembali merasa tenang. Cindy tampak melihat dengan sedih tapi tanpa histeris lagi. Semoga ini adalah awal yang baik bagi kesehatan jiwanya.


"Kakak tahu kamar perawatan Nur, ayo." Tangan nakal Yudis kembali ingin menyentuh tangan Ayu.


Ayu menggeleng kepala dan menjauh. Berjalan setengah berlari meninggalkan Yudistira.


"Nah, mulai lagi. Woy ! Ayu emang tahu kalau kamar perawatan Nur? Ya Allah, merpatiku kabur lagi. Liar bener ya," ujar Yudis dengan tersenyum. Lucu melihat Ayu yang selalu konyol jika bersamanya.


Aldo sedikit merasa lucu melihat pemandangan itu. Pacaran model apa? Jangankan pegangan atau bersentuhan fisik, memandang juga begitu tegang. Aneh.


Cindy akhirnya pulang. Mamanya sudah membereskan resep obat dan mereka bisa kembali ke rumah.


\*\*\*\*

__ADS_1


"Hey, kelewat lagi. Tunggu. Jalan kamu itu kayak puyuh, tahu."


Yudis berhasil menangkap tangan Ayu yang berjalan tak tahu arah. Hanya lurus ke depan tanpa tahu harus ke mana.


Yudis kembali merasakan tangan Ayu yang gemetar. Seolah ada setrum listrik menjalar dari tangannya, kontak juga mengaliri tangan Ayu.


"I Miss you so, Ayu"


'I Miss you too,' jawab Ayu di hati.


"Kakak antar ke ruangan Nur, ya."


Ayu bagai kerbau di cocok hidung. Hanya diam. Seolah terhipnotis oleh pesona Yudis. Semua pengunjung rumah sakit tampak memandang takjub dua sejoli itu. Perawat kasak kusuk patah hati melihat dokter pujaan mereka menggandeng tangan gadis cantik dengan tampilan sederhana.


Sudah rahasia umum tentang kabar pernikahan Yudis yang tinggal menunggu waktu. Tapi ... tak ada seorangpun tahu, seperti apa sosok perempuan yang akan menjadi nyonya Yudistira.


Mereka iri dengan serasinya pasangan itu dalam paras rupa. Tapi, merasa janggal dengan penampilan. Yudis begitu elegan dan berkelas. Sedangkan Ayu sangat sederhana dan bersahaja.


"Assalamualaikum, Nur. Ini kawanmu tersesat. Sedari tadi hanya muter-muter mencari kamu." goda Yudis pada gadis di belakangnya.


"Ehmmm, waalaikum salam, tangannya anteng amat. Apa di lem ya? Lengket bak permen karet," goda Nur. Kebetulan lukanya tak begitu parah. Meski terbaring lemah masih juga bisa menggoda Ayu dan Yudis.


Kedua sejoli itu tersipu. Wajah mereka memerah. Yudis kian merasakan getaran di tangan Ayu.


"Astaghfirullah," gumam Ayu. Segera melepaskan tangan.


Nur tertawa sembari meringis. Luka di kepalanya terasa ngilu.


"Jangan banyak bergerak, Nur. Kamu baru saja melewati masa kritis. Insyaa Allah beberapa hari di rawat sudah bisa kembali pulang. Tak ada luka serius."


"Alhamdulillah, akhirnya bisa menemukan kamu. Lekas sembuh Nur. Geng kita tak bisa datang sekarang. In syaa Allah mereka menyusul."


"Mohon maaf bagi yang membesuk silahkan meninggalkan pasien, kecuali penunggu. Waktu besuk sudah habis." Suara berat suster Ani memperingatkan pembesuk akan waktu yang sudah habis.


"Nur, maaf tak bisa lama. Aku pulang ya. Cepet sembuh. In sya Allah, nanti aku datang lagi ke sini."


Nur hanya mengangguk. Kepalanya kian berat. Mengantuk efek obat yang belum lama di minumnya.


"Nur itu baik-baik saja. Jangan khawatir," ujar Yudis yang tahu Ayu khawatir.


Ayu mengangguk.


"Jangan pulang dulu, Yu. Aku masih kangen."


Deg.


Aduh jangan keluarin lagi jurus gombal, kak. Ayu mana tahan.


"Ayu harus cepat pulang takut kemalaman."


"Nginep saja di rumah. Papa pasti senang. Tenang, di jamin aman. Ayu pulang utuh kok. Yudistira bukan pemangsa manusia."


"Dih, mulai lagi. Nggak lagi, Ayu nggak mau nginap di rumah kakak, kecuali nanti jika sudah halal," jawab Ayu lirih


"Apa? Nggak bisa dengar, kuping pasti bermasalah. Aih, sudah lama tak di bersihkan." Yudis tertawa melihat Ayu tersipu malu.


Tangannya menyambar tangan Ayu untuk masuk ke kantin rumah sakit. Ayu kembali terkesima. Hanya menurut dan diam.


Mereka duduk di pojok dekat jendela. Pemandangan taman di balik jendela memanjakan mata. Bunga bergoyang di tiup semilir angin. Hembusan angin juga menerobos masuk menerpa hijab lebar Ayu.


"Mau makan apa? Makan yang banyak. Jangan sampai orang bilang calon istri dokter kurus kurang nutrisi."


"Terserah kakak, Ayu ikut saja."


"Ok! Makanan paling enak di sini adalah bakso. Kita pesan bakso. Ayu tunggu sebentar, ya."


Ayu celingukan di tinggal sendiri. Merasa risih dengan tatapan penghuni kantin yang memandang pada Ayu dan Yudistira. Mereka sangat ingin tahu rupa gadis yang di gandeng dokter populer satu rumah sakit.


Heran untuk pertama kali melihat Yudis bersama seorang gadis. Berpenampilan sangat sederhana dan bersahaja pula. Kontras sekali.


"Kita tunggu baksonya ya. Semoga datangnya dua jam lagi. Jadi kita bisa mengobrol lama," ujarnya terkekeh.

__ADS_1


"Dih, emangnya kakak nggak dinas hari ini?"


"Sudah menyogok Utari untuk menggantikan. Dia seneng mendengar aku sama kamu sekarang. Dengan senang hati membiarkan kita bersama."


Ayu tersenyum. Tuhan, dari apa di buat ini makhluk. Selalu bisa membuatnya melambung tinggi. Lucu. Gombal dan lebay.


"Tersenyumlah, Ayu. Jangan menangis lagi. Aku tak ingin melihatmu menitikan air mata."


"In Syaa Allah. Bagaimana kabar Cindy kak?"


"Alhamdulillah sudah baik, Allah menjawab do'a kita. Aldo adalah ayah biologis bayi Cindy. Sekarang tinggal berdo'a semoga Cindy bisa menerima kenyataan itu. Sehingga kita dengan mulus melaksanakan pernikahan kita."


"Aamiin, Ayu masih takut jika Cindy akan melakukan hal bodoh lagi."


"Hanya Allah yang dapat mengubah hati. Mari kita sujudkan kening kita pada titik terendah. Kita bisikan harapan kita hingga mengguncang singgasana tertinggi sang pencipta. Aku ke toilet dulu ya, sebentar. Jangan nangis tidak akan kutinggalkan selamanya," goda Yudis memicingkan mata.


Ayu terkekeh. Gombalan Yudis yang selalu membuat senyumnya merekah. Kak, kamu memang penyebab tawa dan tangisku.


Kringgggg.


Panggilan masuk. Cindy. Demikian tertera di layar monitor. Ayu sebenarnya ingin mengangkat telpon. Namun, tak sopan rasanya menerima panggilan tanpa ijin si empunya. Panggilan terlewat.


Kringgggg


Panggilan kedua tiba. Ayu acuhkan.


Kringgggg


Panggilan ketiga akhirnya membuat Ayu mengambil gawai di meja.


"Hallo, Dis. Ini aku. Secepatnya ke sini. Aku menunggu kamu dan Ayu sekarang juga. Cepat datang. Aku tahu Ayu sedang bersamamu. Jangan banyak alasan. Aku menunggu di sini. Datanglah bersama dia ... Tuttttt." Panggilan terputus.


Ayu meletakan gawai di tempat semula. Yudis tampak datang dengan senyuman.


"Kenapa menatap begitu? Baru Lima menit sudah rindu. Jadi nggak sabar menghalalkan," godanya lagi.


Ayu tak tersenyum kali ini. Lidahnya kelu ingin mengatakan tentang telpon tapi susah. Jantungnya berdetak tak menentu, takut dan khawatir Cindy melakukan hal bodoh lagi.


Tingggg


Sebuah notifikasi masuk. Ayu melihat sekilas Cindy sipengirim pesan. Yudis menarik napas. Pesan itu mengatakan harus datang ke tempat Cindy bersama Ayu. Yudis menelpon dengan muka kesal.


"Assalamualaikum, maaf aku tak bisa. Aku datang sendiri lain kali. Tidak sekarang. Tidak. Aku bilang tidak. Sudah aku sedang sibuk. Nanti kuhubungi lagi," ujar Yudis menutup telpon dan mematikannya. Enggan panggilan itu datang lagi.


"Siapa yang menelpon, kak?"


"Ehmm, Utari. Menyebalkan. Tadi bilang ok, sekarang suruh datang secepatnya. Sudah abaikan saja. Kita nikmati saja baksonya. Ehmm, tuh sudah datang." Yudis berbohong dan mengalihkan pembicaraan.


"Ayu tak mau makan, kak. Kita harus pergi sekarang."


Yudis yang pura-pura bernafsu dengan bakso menghentikan makannya.


" Kenapa? Kita harus pergi kemana?"


"Kita temui Cindy, maaf Ayu lancang menerima panggilan tadi. Cindy meminta kita datang bukan?"


Yudis menatap tajam Ayu. Mengapa mau menemui cewek gila itu, Yu? Bagaimana jika Cindy nekad mengakhiri hidup di depanmu? Seumur hidup kamu tak akan memaafkan diri sendiri, jika menyaksikan itu. Aku juga takut kamu akan menjauh.


"Aku akan datang sendiri. Kamu pulang saja, tapi habiskan makananmu," pinta Yudis.


"Bagaimana bisa aku makan. Cindy mungkin tengah berbuat bodoh di sana. Kita pergi Sekarang, kak. Ayu mohon"


"Karena itu Ayu jangan pergi. Kakak tak ingin Ayu bertemu Cindy. Dia bisa berbuat nekad. Akan aku hadapi sendiri. Jangan libatkan diri."


Yudis memohon dan menatap mata Ayu. Berharap Ayu mengerti ketakutannya.


"Kakak harus percaya Ayu. Hanya perempuan yang akan mengerti hati perempuan. Ijinkanlah Ayu ikut. Kita hadapi bersama. Bukankah kakak ingin Ayu dan Yudistira menjadi kita. Ya, kak, ini ujian buat kita. Jangan hadapi sendiri tapi kita hadapi bersama. Agar kita saling menopang dan menguatkan. Ayu tak selemah itu. Ayu akan mempertahankan kakak untuk bersama Ayu selamanya. In Syaa Allah"


Yudis berkaca. Inilah perempuan hebat pilihannya. Selalu jadi penguat dan penyemangat. Bukan akhwat lemah yang hanya bisa merengek dan menangis. Tapi ... seorang pejuang sejati yang gigih memperjuangkan hal yang diyakini.


Terima kasih, Ayuku. Kau menjadi penyebab bahagia dan tawaku. Mari kita berjuang menghadapi semua aral dan rintangan semoga hingga nanti maut memisahkan

__ADS_1


To be continue~.


__ADS_2