PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.23


__ADS_3

Yudis memarkir mobil dengan tergesa. Beberapa panggilan masuk tak terjawab. Entah siapa yang turut membuat emosi memuncak. Panggilan itu seolah memperolok dirinya. Jangankan ingin mengangkat. Melihat pun enggan.


Cindy, aku benci kamu. Betapa rendah pikiranmu. Memfitnah kejam menanam benih dalam rahimmu. Sebejad akhlak Yudis dulu tak pernah berbuat asusila. Jangankan berjina menjamah raga selain tangan dan pelukan juga tak pernah dilakukan. Mengapa tega memfitnah menanam benih haram.


[Assalamualaikum, Dis. Tolong datang segera ke ruanganku jika pesan ini sampai. Urgent.]


Yudis berjalan setengah berlari. Hari ini saatnya cuti. Namun, panggilan gawat darurat selalu membuatnya mengabdikan diri. Sadar jika ada banyak nyawa bergantung pada dedikasinya.


"Ada apa, Kamu?" tanya Yudis dengan terengah-engah. Napasnya ngos-ngosan.


"Duduk dulu, Dis. Tenangkan diri."


"Walah kamu malah bikin aku tambah nggak tenang. Ayo katakan panggilanmu tak bisa kujawab. Maaf."


"Minta bantuan kamu lagi buat pasien spesial, ku mohon jangan menolaknya."


"Pasien spesial, maksudnya?"


"Minta bantuan untuk penyembuhan Cindy," jawab Eka ragu.


Sudah jadi rahasia bersama jika Cindy adalah mantan Yudistira. Maka tak heran jika menyebutnya pasien istimewa.


"Ogah, ah, Ka. Mendengar namanya juga sudah bikin naik pitam," sambar Yudis dengan muka tak nyaman.


"Tapi ... dia itu sangat membutuhkan support kamu, Dis. Ayolah lupakan perasaan pribadi, sebentar saja."


"Dia memfitnah aku, Ka. Sekarang hubunganku di ujung tanduk dengan Ayu. Ini semua karena dia."


"Ya, aku tahu tapi kamu lebih paham kondisi fisik dan psikis Cindy. Sekarang dia masuk rumah sakit lagi, Dis. Tolong bantu dia, setidaknya pandang sebagai pasien bukan sebagai Cindy mantan kamu."


"Cindy ngamar lagi?"


"Ya, masuk hari ini. Bantu dia, Dis. Kita harus profesional, jangan pandang dia sebagai mantan. Pandanglah sebagai pasien, sudah tanggung jawab profesi kita harus membantu kesembuhan. Ingat sumpah profesi kita bahkan harus menolong musuh kita sekalipun dalam medan perang. Kamu itu terkenal paling sabar dan telaten menjaga pasien. Mana Yudistira yang penyabar itu? Ketuklah hati cindy, biarkan hatinya yang akan menerima benar dan salah. Semoga secercah cahaya hidayah akan menyapanya. Itu bisa lewat perantara kamu. Semoga Allah mempermudah segala jalanmu, Dis."


Yudis termenung. Bingung. Antara menolong dan meninggalkan. Satu sisi membenci. Sisi lain mengatakan harus perduli.


"Astaghfirullah, kamu benar, Ka. Aku terlalu lelah dengan semua sampai buntu otak. Lupa jika Allah maha membolak-balikkan hati. Terima kasih, sahabatku."


Yudis membuang napas perlahan. Eka tersenyum. Yudistira, sahabat seprofesi yang selalu saling mendukung dan memperingatkan akan kebaikan.


\*\*\*\*\*


"Lepaskan ..." teriak Cindy dengan meronta-ronta. Tangan dan kakinya di ikat kain pada ranjang Rumah sakit.


"Dy, mama mohon jangan begini, maafkan Mama. Tak mungkin melepaskan ikatan itu. Jika di lepas kamu akan menyakiti diri dan bayimu. Tenang sayang jangan meronta terus. Kamu sudah berjam-jam begini. Kamu akan letih, kasihan bayimu," pinta Mira terisak.


"Yudis pasti akan menghukum kalian jika melihat aku diperlakukan seperti ini. Aku bukan orang gila. Lepaskaaaan."


Aldo menahan tubuh Cindy, Mamanya hanya menangis tak bisa berbuat apa-apa. Menunduk lesu meratapi anak tunggalnya yang sekarang menderita gangguan kejiwaan.


"Lepaskan, Do!" Perintah Yudis.


Yudis datang segera setelah mendengar jeritan Cindy. Aldo menatap tajam Yudis dengan pandangan tak suka.


"Kalian lihat, yudisku datang. Dia akan menghukum kalian semua, ya kan, Dis," Cindy tersenyum.


"Aku datang untukmu, Dy. Apa kabarnya hari ini?" Yudis duduk di sebelah Cindy


"Tolong lepaskan aku, Dis! Lihat aku di ikat seperti ini. Mereka jahat, menganggap aku orang gila. Mengikat tangan dan kaki. Aku hanya bilang ingin ketemu kamu." Cindy menangis tersedu seumpama anak kecil.

__ADS_1


Yudis menatap dengan kasihan. Wajah oval dengan mata indah itu kini hanya pasien yang begitu menyedihkan. Bibir tipis nan sensual itu sekarang begitu dan kering, kurang nutrisi.


Sosok yang pernah begitu lelah di perjuangan. Berebut untuk di jadikan pacar dengan jutaan fans, sekarang hanya raga lemah tak ada daya. Entah kemana rasa cinta padanya yang dulu begitu menggelora. Hilang lenyap tiada bersisa, tergantikan sosok Ayu yang mengisi rongga jiwa.


Kualitas fisik Cindy memang lebih daripada Ayu. Tapi, kualitas otak dan akhlak Ayu sang juara.


Cindy umpama bunga di taman, siapapun dapat melihat dan menggenggam. Ayu umpama bunga di tepi jurang. Hanya yang bernyali dapat melihat dan memegang.


"Aku lepaskan ya, Dy. Janji jangan meronta atau berteriak lagi. Hanya orang gila yang berteriak-teriak. Cindy sehat, kan?"


"Ya, aku sehat, siapa bilang sakit. Aku hanya berteriak kalau marah. Sudah ada kamu di sini, aku tak marah lagi."


Yudis melepas ikatan.


"Dis, jangan," cegah Mira dan Aldo bersamaan.


Yudis hanya menganggukkan kepala. Sebagai isyarat. Mira dan Aldo diam. Mereka percaya jika Yudis dapat mengendalikan Cindy.


"Kita sudah lama tak mengobrol, ya. Dulu kamu sering bercerita banyak hal. Sekarang juga boleh, katakan semua masalahmu. Bagaimana kamu sekarang?"


"Aku sakit tanpamu, aku merindukan kamu."


"Jangan sakit, ingat kamu sekarang tak sendiri. Ada si junior di dalam sini." Yudis memeriksa perut Cindy.


"Ada bayinya, ya, Dis. Aku akan jadi Mama."


"Ya, kamu akan menjaga dan menyayangi bayimu, Dy. Kamu harus sehat. Jagalah dia baik-baik!"


"Tentu saja dia segalanya untukku. Aku tak akan membiarkan dia sendiri. Kamu tahu, bagaimana rasanya tak mendapat kasih sayang orang tua? Orang tuaku begitu kaya, apa yang tak bisa di beli oleh mereka. Semua bisa, kecuali membeli waktu luang untuk anaknya. Aku hidup di dunia penuh gempita tapi selalu merasa sepi. Dunia hingar bingar modeling hanya pelampiasan. Alkohol dan narkoba pelarian. Aku ingin mereka ada, Dis. Aku akan menyayangi anakku, takan kubiarkan sendiri dan tanpa kasih sayang."


Cindy menggenggam tangan Yudis dan meletakkannya di perutnya yang telah membuncit.


"Ini papamu, Nak. Kamu tak akan kekurangan kasih sayang. Papamu orang yang sangat bertanggung jawab. Kami akan menjaga kamu bak permata berharga takan pernah tersia-sia."


"Siapa yang mau papa bejad kayak kamu. Aku ingin Yudis bukan kamu. Yudis orang yang pantas jadi ayah bayi." Cindy mendelik, masih segar dalam ingatan ketika Aldo merenggut mahkota suci malam itu. Memanfaatkan kesempatan dalam kesadaran yang terpengaruh alkohol dan narkoba.


"Aku salah, maafkan aku. Jangan menghukum anak kita karena kesalahanku. Aku lebih tahu dari siapapun bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang papa. Papa sudah tiada sejak aku kecil. Tak ingin anakku merasakan hal yang serupa. Aku mohon Dy, biarkan anak kita merasakan kasih sayang yang utuh," ujar Aldo memelas. Sendu mendengar suaranya.


"Gue sama dedek nggak butuh Lu, hanya butuh Yudis. Titik!" Cindy kembali mendelik. Matanya liar menatap tajam Aldo seolah ingin menerkam.


"Ok ... Kamu butuh aku, Dy. Lantas bagaimana keinginan bayimu?" tanya Yudis dengan tenang.


Menatap intens mata indah Cindy. Ingin mengetuk nurani keibuannya. Mata itu kembali redup dan berembun. Setitik air meluncur deras dari sudutnya.


"Kamu akan jadi ibu, Dy. Puncak sebuah profesi seorang perempuan. Status paling berharga. Tak semua orang bisa menjadi ibu meski meronta meminta. Syukur dengan mudah kau mengembannya. Orang lain bahkan harus menangis menghiba menunggu lama sang buah cinta. Ingat kamu tak sendiri sekarang. Jangan egois hanya memikirkan diri sendiri, ada bayimu."


Yudis memegang tangan Cindy, mengelusnya perlahan. Eka benar menghadapi Cindy bukan harus menghindar. Mata liar itu kini redup dan melunak. Tubuh yang meronta terdiam lesu. Hatinya seolah telah di masuki tetesan embun penyejuk hingga melunakkan anggota tubuh yang lain.


"Aku hanya cinta kamu. Ingin bersamamu. Mengapa kau memilih Ayu. Apa istimewanya dia. Kembalilah padaku, Dis. Aku membutuhkan kamu bukan Aldo," lirih Cindy dengan terisak.


"Kamu memang membutuhkan aku, Dy. Bayimu membutuhkan papa biologisnya, bukan yang lain. Ada dedek kecil yang akan menjadi pengikat kalian. Meski bukan cinta, aku yakin pada akhirnya kalian akan rela berkorban demi makhluk yang tak berdosa. Jangan arogan, kamu lebih tahu dari siapapun, bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang orang tua. Apakah kamu ingin bayi tak berdosa merasakan hal yang sama?


Cindy dan Aldo menunduk dan diam. Seorang makhluk tak berdosa pada akhirnya menjadi korban tindakan bejad mereka.


"Maaf, aku tak bisa mencintaimu seperti dulu. Aku jatuh cinta pada Ayu sejak pandangan pertama. Allah tautkan hati kami dalam satu irama. Bukan karena paras rupa atau apapun. Mungkin dia adalah tulang rusukku. Aku memandangnya bukan karena syahwat semata. Hati kami telah Allah condongkan untuk bersama dan berbagi sehidup semati. Maaf, tapi inilah perasaanku. Aku tak ingin memberi harapan palsu."


Cindy kian membisu. Hatinya teriris perih. Jika saja dulu tak menolak dan mengabaikan pinangan yudis, hari ini pasti sudah bahagia bersamanya. Ah, andai waktu bisa di ulang.


"Mulailah berpikir dewasa. Berpikirlah sebagai seorang ibu. Kamu yang paling menuntut idealisme seorang ibu. Kamu menuntut lebih pada orang tuamu. Mereka tak pernah bisa mewujudkannya. I believe you can be the best mother in the world. Do it."

__ADS_1


Cindy menangis kencang. Semua ucapan Yudis benar adanya. Cindy memang egois, hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan makhluk mungil pengisi rahimnya. Apa bedanya dengan sang mama. Cindy ingin bahagia sendiri tanpa berpikir kebutuhan dan kebahagiaan anaknya.


'Tuhan, bantu Cindy, luruhkan hatinya. Berilah secercah hidayah di hati. Jangan biarkan hatinya di selimuti kabut gelap. Biarkan Cindy mendapatkan kebahagian sesungguhnya, meski tanpa kehadiranku.' pinta Yudis di hati.


Suasana kian haru, Mira memeluk erat putrinya. Maafkan Mama, Dy. Inilah akibat mementingkan mencari rupiah daripada memperhatikan kamu. Kamu salah langkah dan terjebak pergaulan durjana.


"Aku harus memeriksa pasien lain. Maaf, Dy, aku harus pergi."


Cindy menatap Yudis sendu. Tahu jika mereka tak mungkin lagi bersama.


"Makasih, Dis. Jangan lupa sering-sering kemari menjenguk Cindy," pinta Mira.


"Tentu saja Tante, pastinya akan selalu datang buat adikku. Maaf saya pamit."


Yudis pergi meninggalkan Cindy. Perempuan yang pernah membuat kisah meski sekedar singgah. Kini mereka sudah harus memilih jalan berbeda. Menjalani takdir yang pada akhirnya memisahkan.


\*\*\*\*\*


Ayu tergesa masuk lorong rumah sakit. Pergi ke Bandung untuk menjenguk Nurasiah Jamilah yang kecelakaan tadi pagi.


Waktu besuk tinggal empat puluh menit lagi. Waktu yang singkat untuk sekedar menemukan keberadaan sahabatnya.


"Sudah Nak, jangan menangis. Ibu susah membawa banyak bawaan. Jalan sendiri, ya! Nanti kita jajan kalau di rumah. Ibu tak punya uang lagi. Hanya ada buat ongkos," keluh seorang ibu yang sangat kerepotan dengan sejumlah tentengan khas rumah sakit.


Tangan kanan dan kiri membawa termos dan kantong kresek hitam besar. Di gendongnya juga balita di dada dengan kain panjang. Sedangkan di sampingnya seorang anak balita merengek menuntut perhatian lebih.


Gadis kecil dengan perawakan kurus dan kumal tak terawat. Bajunya tampak begitu lusuh dan kotor. Ingus kemana-mana tanpa sempat di seka ibunya.


Sejumlah pengunjung rumah sakit merasakan jijik dan mual melihatnya. Mereka tampak habis membesuk keluarga. Sang ibu berjalan dengan gontai, raut sedih menggelayut di wajahnya yang lebih renta dari usia sebenarnya.


Deraan kehidupan sudah merenggut keceriaan dan tawa serta wajah bahagianya.


"Ade mau kakak gendong? jangan menangis ya, Sayang. Kasihan ibumu. Ayo sama kakak," rayu Ayu.


Gadis kecil itu menatap Ayu. Naluri batinnya mulai mengidentifikasi lawan bicaranya. Tangannya mulai diangkat tanda sedia di gendong.


"Jangan neng, nanti bajunya kotor. Biarkan saja, nanti juga berhenti sendiri," cegah si ibu.


Ayu tak menggubris. Di rengkuhnya gadis kumal itu di dada. Mengambil selampeh di tas dan menyeka ingus dengan tanpa risih dan jijik. Ayu mendekap erat gadis kecil yang tampak nyaman dalam gendongannya. Si ibu tersenyum ternyata masih ada orang yang menghargai mereka di tengah kondisi yang begitu di pandang sebelah mata. Salut.


"Aduh neng, maaf. Saya ada yang ketinggalan bisa saya titip bawaan sama anak saya?"


Entah mengapa si ibu begitu percaya menitipkan anaknya pada Ayu. Orang yang baru ditemuinya. Melangkah pergi tergesa masuk lagi ke lorong rumah sakit.


"Ya, Bu Silahkan tak apa-apa. Saya tunggu di bangku depan saja. Ayu melangkah ke deretan bangku dalam lobi rumah sakit.


Sepasang mata tak henti melihatnya. Seorang perempuan dengan masker di wajah memperhatikan semenjak Ayu datang. Mual mendadak menggelitik perutnya. Bagaimana bisa menggendong dan menyeka ingus gadis kumal itu. Jangankan mendekat melihatnya juga ingin muntah rasanya.


Cindy melirik gadis di sampingnya. Cantik, menarik dan berwajah teduh. Ayu melempar senyum pada Cindy. Sadar jika seseorang tengah memperhatikannya. Senyumnya begitu manis dan tulus.


"Permisi, maaf saya duduk di sini. Semoga tak keberatan," ujarnya dengan suara yang begitu lembut.


Pantas Yudis jatuh hati padanya. Bukan gadis sembarang, serampangan. Gadis dengan kelembutan dan pesona keramahan desa. Sudah termasyhur betapa ramah dan santun tutur kata orang-orang desa.


Tanpa sadar Cindy membalas senyum manis itu. Masih juga netranya memperhatikan wajah yang begitu menentramkan jiwa. Inilah alasan Yudis tak dapat berpaling dari Ayu. Berada di dekatnya membuat nyaman.


Ayu asyik bermain dan bercanda dengan gadis kecil lusuh. Tak ada rasa jijik mengelus rambutnya, menyeka ingus yang seolah tak berhenti mengalir dari hidungnya.


Cindy mengelus perut. Jangankan perduli dan menyayangi orang lain. Perduli pada diri sendiri juga tidak. Merusak tubuh dan otak menggunakan minuman keras dan narkoba. Membiarkan diri hancur karena pergaulan bebas. Pantas Yudis tak Sudi menjadikannya ibu bagi anak-anaknya.

__ADS_1


Inilah istimewanya kamu, Ayu. Bagaikan oase di tengah kerontangnya kasih Yudistira. Yudis butuh pelabuhan ternyaman. Kaulah orangnya. Semoga aku juga bisa menjadi pelabuhan ternyaman anak-anak kelak. Aku akan berikan perhatian dan cinta yang tak pernah di rasakan.


To be continue~.


__ADS_2