
Matahari bersinar terik siang itu. Jalan setapak yang licin terkena hujan semalam sudah mulai mengering di terpa sinar matahari. Serombongan pemuda pemudi tampak mendaki tanjakan curam, ada yang tampak biasa, ada juga yang terengah-engah nafasnya.
"Yah payah lu pada, masa tanjakan segini sudah ngos-ngosan. Gimana kalau mendaki gunung maha meru. Bisa pingsan di tengah pendakian."
Yudistira Hadi Wijaya, sang ketua pasukan meledek sahabatnya. Bukan menimpali. Semua malah membaringkan diri di rumput di dekat pohon beringin kekar. Ada juga yang terlukai lemas bersantai di akar yang mengular. Lebih menikmati harmoni alam yang menyambut riang bak mengucap "Selamat Datang" daripada meladeni cibiran.
"Heran, ya, dengan orang kampung sini. Salut. Setiap ingin ke kota harus pergi dengan menuruni bukit pulang harus menanjak tajam. Katanya ini jalan pintas terdekat. Kalau jalan satunya kita bisa lewati dengan kendaraan. Itupun jalannya jelek. BMW lu nggak bisa di pamerin buat ngejiret cewek di sini, Dis. Keburu rontok baru sepuluh menit perjalanan. Jalanan yang lebih mirip dengan sungai dangkal yang kekurangan air. Parah bener." Utari membuka pembicaraan setelah sekian lama semua bungkam.
"Wah, masa ?" Yudha menatap tak percaya.
"Malam minggu nggak asyik dong, tak ada tempat konkow. Yang ada cuma pohon ama hutan rimbun. Paling jangkrik dan sebangsanya yang memainkan konser." Panji bicara dengan nada kecewa.
"Eh, lu mau jalan-jalan, apa ngerampungin tugas akhir? Sesekali bersahabat dengan alam ngapa. Jangan tahunya tongkrongan di klub malam doang, Ji. Sesekali kamu nongkrong di pohon beringin kayak gini. Jangan pikiran konser musik pavorit, sesekali coba dengerin suara konser katak dan mahluk hutan." Utari sewot. Payah Panji. Nyali kalah dengan fasilitas.
"Ya, Nyonya besar." Panji nyengir kuda.
"Udah, kita lanjut inget tanjakan ini baru separuh. Mau lu pada nginep di sini malam ini?" Yudis menengahi.
"Ogah gua mah, si Kunti entar datang ke mari." Yudha ngibrit duluan.
Pemandangan alam indah memukau mata mereka. Hamparan luas pesawahan dan jalan setapak yang meliuk terpampang di bawah sana. Samping kiri kanan tampak hutan pinus berjejer rapi. Seolah membentengi jalan itu. Jurang kadang-kadang membuat mereka bergidik ngeri.
Jika menatap lurus ke depan tampak gunung megah menjulang indah. Kebiruan. Lerengnya di penuhi oleh ladang tanaman palawija penduduk setempat. Seumpama lukisan alam nan megah lukisan sang pencipta. Arakan awan yang menaungi bagaikan sutera tipis yang mempermanis. Kian memanjakan indra penglihatan.
Sayup suara elang di langit mencari mangsa membuat mereka nyaman. Simponi alam dari gesekan pohon bambu di terpa angin membuat jiwa damai. Perlahan jiwa yang lelah dan penat dari kebisingan kota terobati. Meski lelah mereka jatuh cinta dengan tempat ini pada pandangan pertama.
\*\*\*\*\*
"Masyaa Allah, Pak dokter sudah pada datang," sambut ketua RW.
Sebuah senyuman menyambut mereka yang terengah-engah. Belum lagi napas teratur, Si Bapak sudah menyambut dengan penuh hormat.
"Belum jadi dokter, Pak, masih calon." jawab Yudis. Mesem.
"Kan nanti jadi dokter. Oh ya, kalian jadi datang mulai KKN Minggu depan?"
__ADS_1
"In syaa Allah, pak. Kami mau survey dulu tempat menginap. Jadi kami bisa tahu perlengkapan apa saja yang harus kami bawa," jawab Utari.
"Ya sudah, silahkan kalian istirahat. Saya pamit menghubungi orang yang bersedia menampung kalian selama di sini." Pak RW pergi.
Yudistira Hadi Wijaya terpana, kaget dengan pasilitas yang di sediakan buat mereka. Sebuah rumah panggung terbuat dari susunan bambu dan kayu. Hanya dua kamar. Sisanya sebuah ruang terbuka yang lumayan luas. Dapur terpisah dan tak ada kompor minyak tanah apalagi kompor gas atau listrik.
****** terdapat di samping rumah. Di atas sebuah kolam ikan. Jika ingin mandi tempatnya terpisah dengan tempat pup. Kaget, jika di rumahnya semua tinggal pencet. Tinggal panggil Mak Inah untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Di sini semua serba alami dan tanpa bantuan siapapun.
Back to nature. Kembali ke alam. Untungnya jiwa petualang sang pendaki sudah terbiasa hidup dalam rimba. Yudistira berkelana mendaki gunung terkenal seluruh wilayah Nusantara.
Panji tampak kelimpungan. Pria berkaca mata itu bingung jika harus jauh dari pasilitas wah dan mewah. Maklum dia anak emas mama dan papa.
"Ji, lu jangan nangis kalau malam. Entar gua ogah nganterin lu yang merengek minta pulang," goda Yudha.
"Dih apaan, emang lu pikir, gua anak kecil apa. Gua sudah bangkotan. Gua nggak akan merengek nangis minta pulang." Panji yang ciut nyalinya berkilah.
Utari dan Husna hanya mesem. Selalu Panji jadi bulan-bulanan. Anak mama sih. Anak manja yang selalu mengandalkan orang tua.
"Eh, guys, sini !!!" pekik Yudistira.
Semua dekat merapat. Yudis menunjuk sesosok gadis putih abu melintas di depan rumah yang akan menjadi penginapan mereka selama di desa.
"Kalian lihat, tidak ada anak sekolah yang lain melintas di depan rumah dari tadi?"
"Jujur, enggak lihat sepotong pun. Hanya, melihat seragam putih merah dari tadi. Putih abu atau putih biru tak ada satupun yang melintas. Hah !!! Berarti hanya gadis itu yang sekolah ke kota dari kampung ini." pekik Husna.
"Maa syaa Allah. Perempuan yang pemberani. Panji saja hampir menangis melihat tanjakan dan jurang. Ini cewek malah sendiri mendaki tiap hari. Tak takut Kuntilanak penghuni pohon beringin." Yudha menimpali.
"Sudah biasa ah, buat dia, apanya yang istimewa." Bagas acuh dengan kekaguman kawan-kawannya.
"Yang membuat lu takjub cuma cewek seksi, Gas. Dasar. Yang lainya buat lu nol besar." Utari kesal. Ih ni orang memang nggak pernah ada empati.
Yudistira menatap lekat gadis yang baru saja melintas. Tak pernah terbayang seorang diri pulang dan pergi menerobos hutan mencari ilmu. Ada getar aneh melihat sosoknya. Meski, tak menatap seperti apa rupa. Rasanya dia seseorang yang telah lama di kenalnya.
Malam menggantikan siang. Mengantar mahasiswa dari kota itu terlelap di kampung sunyi. Terlalu sore mereka datang. Dengan terpaksa harus menginap di kampung alami ini.
__ADS_1
Binatang khas malam menemani melewati malam sunyi. Membuat mereka terlelap dalam alunan melodi binatang malam. Mendamaikan jiwa hingga tentram.
Yudistira Hadi Wijaya dan sahabatnya. Harus melewati empat puluh malam di tempat itu. Mereka mahasiswa sebuah perguruan tinggi terkemuka dari kota Bandung. Jurusan kedokteran adalah fakultas mereka.
\*\*\*\*\*
Ayu gelisah terbangun dari tidurnya. Bayangan kejadian tadi siang terus menggangunya. Hadi sengaja menunggu di bawah pohon beringin.
"Kamu datang, Yu, mengapa kamu menolak lamaran keluarga kami? Kurang apa kami? Semua gadis bermimpi menjadi tunanganku. Mereka ingin menjadi menantu keluarga Herman. Bodoh kamu menolak tawaran menggiurkan." ujar Hadi gusar.
Hadi memang terpandang di kampung. Keluarga sukses sebagai perantau di kota. Parasnya juga lumayan. Maka dengan jumawa Hadi mencibir keputusan Ayu menolak dirinya.
"Aku mau sekolah bukan menikah. Sekolah bagiku lebih penting daripada memikirkan jodoh di masa depan. Toh, jika Allah berkehendak maka bukan tak mungkin kita bisa menikah di masa depan. Bukan menjalin hubungan mulai dari sekarang. Aku ingin menuntut ilmu tanpa beban. Sungguh aku mengucapkan terima kasih atas perhatian keluargamu." jawab Ayu tenang.
"Kamu sombong orang tak punya tapi sok belaga. Sekolah setinggi apapun kodratnya hanya mengurus keluarga."
"Terima kasih, ya kamu benar kodrat dan tahta wanita adalah keluarga. Aku malah ingin belajar banyak itu semua di sekolah. Silahkan mencari gadis lain yang siap untuk di khitbah dan menikah. Saya sedang belajar menjadi perempuan yang bisa mengurus keluarga."
"Omongan kamu bagus, hatimu busuk. Sialan kamu, Ayu."
Hadi berlalu dengan amarah yang memuncak. Betapa besar cintanya,sayang Ayu menolak dengan alasan sekolah. Sebenarnya Hadi juga tahu jika Ayu tak memendam rasa padanya. Itu kian menyulut emosinya.
Ya Allah, maafkan jika keputusan ini di rasa bagai penghinaan bagi orang lain. Aku sudah bertekad ingin sekolah semampuku. Mungkin kata-kata kasar orang kampung juga akan mencibir keluarga. Bapak ... semoga Bapak kuat mendengar semuanya. Terima kasih telah menerima dan mendukung keputusan Ayu.
Ayu terjaga. Dadanya sesak mimpi yang tadi datang seolah nyata Segera mengambil air wudhu melaksanakan shalat malam. Menghiba sang kuasa untuk menguatkan diri dari segala cobaan yang menghadang. Kemudian kantuk menghadang. Terlelap dalam balutan mukena di badan.
\*\*\*\*\*
Matahari mulai menampakan sinarnya di timur. Semburat indah mewarnai langit yang cerah. Yudistira meregangkan otot-otot tubuhnya. Sekedar joging selepas shalat subuh. Sahabatnya yang lain masih betah dengan selimut di tubuhnya. Hawa dingin khas pegunungan menusuk tubuh. Enggan mereka membuka mata.
Dari jauh Yudis melihat gadis putih abu tengah berjalan tergesa, setengah berlari. Rok panjang di singkap sehingga menampakan training panjangnya. Terlihat panik. Sayang, Yudis tak bisa melihat wajahnya. Jarak mereka terlampau jauh. Hanya setitik kagum menyelinap di jiwa. Gadis itu sungguh pemberani perjalanan menuju kota tidak mudah. Dia hanya sendiri.
Ayu berlari kecil. Hari ini bangun kesiangan karena terlambat tidur. Sudah di pastikan hukuman menanti di sekolah. Imbalan atas keterlambatannya.
Beruntung turunan tajam tidak akan membuatnya terjatuh. Malam tadi hujan tidak menguyur kampung.
__ADS_1
Tuhan, bantu hamba beri ketenangan. Sehingga kuat menerima cibiran dan gunjingan orang sekitar. Entah mengapa selalu menjadi aib jika menolak pinangan orang terpandang. Padahal hidup adalah pilihan. Jika tak berkenan pada seseorang karena satu alasan bukanlah suatu dosa. Entah mengapa pemikiran orang selalu berbeda. Semoga Emak, Bapak juga kuat menerima.
To be continue~