
Yudis memarkir mobilnya di sudut kantor polisi. Tempat itu yang masih kosong. Entah mengapa parkiran luas itu begitu penuh sesak.
Ayu susah payah membopong Sisil yang terlelap. Yudis membuka pintu mobil dan mencoba membantu Ayu. Gadis itu menggelengkan kepala. Enggan tangannya di sentuh Yudistira. Dokter tampan dengan jas kebesarannya itu gemas. Masih Ayu yang dulu. Tabu terjamah lelaki ajnabi. Padahal ingin sekali direngkuh dalam dekapan tanpa pernah melepaskan.
Jangan dekati, kak, kalau Ayu pingsan bagaimana? Cukup ucapanmu tadi membuat jantungku berhenti berdetak beberapa saat. Meski bercanda aku sudah bahagia. Sudahlah, candaannya saja sudah melambungkan harapan setinggi awan, jika ya, betapa bahagianya. Jangan bermimpi Ayu, jika terjaga akan terasa sakitnya.
Yudis mengalah. Mereka memasuki kantor polisi. Belum lagi melapor Yoga Haditama tergopoh datang setengah berlari. Menarik Sisil dari pelukan Ayu. Sisil terjaga dengan kagetnya.
"Papa, aku rindu papa, " lirihnya sembari menangis.
"Papa mencarimu, Nak, Alhamdulillah kamu pulang. Papa takut kehilanganmu seperti kehilangan Mama. Terima kasih padamu .... Ayu!"
Nada kaget tergambar jelas di wajahnya. Baru ngeh jika yang membopong anaknya adalah Ayu. Uporia atas pertemuan dengan putri semata wayangnya membuat Yoga tak mempedulikan apapun. Bahkan tak menyadari jika itu adalah Ayu. Perempuan yang pernah singgah dan menjadi raja meski coba dilupakan.
Tak hanya Yoga, Ayu dan Yudis juga terkejut dengan kenyataan jika anak cantik yang di temukan adalah putri Yoga.
"Ya, saya, Sisil putri pak Yoga?" jawab Ayu.
"Ya, sebelumya saya pernah bercerita jika punya putri cantik. Inilah dia Cecilia, nama panggilannya Sisil. Bagaimana kalian bisa menemukan Sisil?"
"Saya melihatnya sedang menangis di halte mencari dan memanggil Papanya. Tak di sangka ternyata anda papa Sisil."
"Saya terlambat pulang ke rumah. Pengasuhnya lengah. Sisil mencari sampai keluar komplek. Entah bagaimana caranya bisa sampai di halte bus. Terima kasih sudah mempertemukan kami lagi." Yoga mendekap erat Sisil.
Gadis kecil itu tak pernah tahu rupa ibunya. Sejak lahir sudah di tinggalkan sehabis persalinan. Hanya lewat photo bisa tahu rupa Mamanya.
Sebenarnya dulu Yoga ingin meminang Ayu. Namun, statusnya sebagai duda beranak satu membuatnya mundur.
Ayu masih teramat belia jika harus di ajak menanggung beban tanggung jawab putrinya. Yoga masih takut untuk membuka hati karena tak sendiri. Banyak perempuan yang mendekati dan mencoba masuk dalam hidupnya. Yoga tak bergeming. Takut hanya sayang padanya tak sayang Cecilia.
"Kita enaknya duduk, Pak, kasihan Sisil juga pegal di gendong terus." ajak Yudis.
Mereka duduk di bangku panjang. Sisil berhambur memeluk Ayu. Mereka bercanda dan bermain dengan bahagia. Sisil mengajak Ayu berjalan mencari makanan. Meninggalkan Yoga dan Yudis.
Yoga tersenyum. Ayu ternyata sangat pandai menarik perhatian anak kecil. Sisil teramat sulit beradaptasi dengan orang asing, langsung lengket dan manja padanya. Bahagianya jika pemandangan itu dapat di lihat seumur hidupnya. Semoga Ayu bisa menjadi ibumu, Nak. Rapal Yoga di hati.
Yudis geram melihat yoga memperhatikan Ayu tanpa berkedip. Woy boy, I'm here. Di kira dodol apa menclok kagak di anggap. Geram. Mata Yoga menyiratkan cinta. Nanar menatap penuh harap. Pesaing hebat ini mah. Harus singsingkan lengan baju.
"Bapak, sudah lama kenal Ayu?" Yudis membuka percakapan.
"Ya, sudah dua tahun lalu. Saya jadi dosen pembimbing yang KKN di desa dan Ayu selalu membantu kami. Semua jadi lancar berkat bantuannya. Perempuan hebat."
Yoga menjawab tanpa melihat lawan bicara. Matanya asyik memperhatikan Sisil yang bermain dengan Ayu. Seketika harapan lama kembali di semai. Mengapa harus mundur ketika status duda di sematkan. Toh, jika jodoh juga akhirnya di pertemukan. Kita berjumpa mungkin sudah takdir tuhan, Ayu.
Yudis keki abis. Lah, nih orang kagak sopan amat. Ini yang ngomong di anggap apa. Sekali coba lihat wajah ganteng gua. Tak sopan. Yudis geram.
"Ayu, aku antar pulang. Ini sudah jam lima sore. Nanti kamu bisa ke malaman," ajak Yudistira.
"Biar saya saja, Pak dokter. Saya ingin mengucap terima kasih pada Ayu," sela Yoga tak kalah.
Lah busyet, emang Ayu doang yang berjasa. Gue mau di taruh di mana. Emang tuh bocah jalan bisa sampe di mari. Gemes. Gondok. Geram. Campur cemburu membumbui. Ingin rasanya Yudis menoyor kepala Yoga.
"Sama Aku saja, Yu." Yudis menyambar.
"Sama saya saja." Yoga tak mau kalah
Ayu hanya melongo. Apaan ini mahluk dua. Apa ini berarti mereka sedang berebut perhatian. Tuhan, mimpi apa semalam. Harus jadi rebutan dua mahluk super kece. Bingung jadinya.
"Ayu pulang sendiri. Terima kasih atas tawarannya. Sisil, cantik. Tante pulang dulu ya."
Sisil merenggut. Mulutnya mengerucut. Sedih, marah ketika sahabat barunya harus pergi.
"Sisil boleh main ke rumah Tante. Papa tahu rumah Tante. Di sana ada Ratna, adek Tante yang seumur kamu. Bisa maen sama dia kalau ke rumah. Stt .... jangan nangis. Tante bisa kemalaman. Anak cantik itu banyak senyumnya bukan nangisnya." Ayu menyeka air mata gadis mungil itu
Sisil berusaha tersenyum.
"Boleh aku panggil .... Mama? Mama aku mirip sama Tante, dia cantik dan berhijab juga." retinanya berkaca
Ayu memeluk gadis piatu itu. Mengangguk mengiyakan. Tak sanggup menjawab. Sedih dan pilu jika membayangkan hidup tak pernah tahu belaian ibu.
"Makasih ... Mama," ucap Sisil. Setitik air mata hadir di penjuru matanya.
__ADS_1
Yoga terenyuh. Semoga benar bisa membuat Ayu menjadi bundamu, sayang.
Yudis naik pitam. Amarahnya naik ke ubun-ubun. Ingin rasanya menyeret paksa Ayu. Jangan menjadi istri dan ibu bagi siapapun, kecuali aku. Ingin berteriak itu sekencangnya. Hingga suaranya bisa menembus langit ketujuh. Nyatanya hanya kepalan tangan yang mampu di bulatkan. Bukan kata, hanya di simpan di hati.
Ayu pergi di iringi isakan Sisil. Sebuah pelukan dan ciuman Ayu hadiahkan sebagai tanda perpisahan. Dua lelaki yang sama menyimpan rasa berharap mereka juga mendapatkan. Mimpi. Ayu sudah melenggang pergi.
\*\*\*\*\*
Adzan Maghrib sudah menggema. Panggilan Illahi memanggil. Hari sudah hampir malam. Mobil berseliweran. Namun, mana angkot yang di tunggu sedari sejam tadi.
Ayu bingung sendiri. Hari beranjak malam. Tak satupun kendaraan umum lewat di depannya. Naik taksi bukan solusi. Dompetnya hanya isi selembar rupiah. Tak akan cukup membayar taksi yang ongkosnya wah.
Menyesal tak menerima jasa dua orang tadi. Tapi, jika memilih akan menyakiti salah satu dari mereka.
Apa tak salah dengan telinga. Yudis tadi mengatakan ingin menjadi calonnya. Ah, tak mungkin. Ayu menggelengkan kepalanya. Artinya Yudis menembaknya. Jangan menghalu, Ayu.
Bayangan perhatian yoga selama ini juga membayangi. Ah, benarkah juga Pak Yoga menyimpan hati.
Ayu memang belum menikah. Ibarat bunga sudah mekar namun enggan kumbang datang. Pendidikan penduduk desa yang hanya lulusan SD menjadi penghalang lamaran datang.
Semua seolah menutup diri dari pesona sang melati. Enggan mendekat meski harum semerbak. Bukan tak ingin. Mereka minder sendiri. Tak ingin istri lebih mapan pendidikan. Takut tak bisa di stir dan tak bisa di arahkan.
Berbeda jika pendamping sekufu atau bahkan tak sekolah. Pria akan mudah menjadikan mereka makmum yang taat, tanpa menuntut. Jika pintar maka susah untuk mengendalikan.
Pemahaman yang keliru. Perempuan sehebat apapun, sepintar apapun juga masih tetap menjadikan keluarga dan suami junjungan tertinggi. Mereka boleh berkarya di luar rumah. Ketika kembali tetaplah keluarga prioritas utama.
"Ini hasilnya kalau ngeyel," celetuk Yudis yang duduk di samping Ayu yang angannya entah ke mana.
"Kak Yudis?"
"Angkutan kota demo dari siang, besok baru ada. Hari sudah malam. Mau sampai kapan menunggu di sini?"
"Beneran angkotnya demo Kak?"
"Apa ayu lihat angkot sedari siang?"
"Nggak, sudah dari jam satu siang mencari tumpangan tapi tak menemukan satupun."
Ayu diam. Pulang sudah barang tentu larut baru tiba. Jika bermalam juga takut fitnah. Aku harus Apa?
"Hallo, pak Herman. Ini saya, Yudistira. Masih ingat. Alhamdulillah. Ini saya bertemu di jalan sama Ayu. Kebetulan saya tak bisa mengantar pulang. Saya mohon tolong kabari keluarganya jika Ayu akan menginap di rumah Utari. Oh, ya, terima kasih. Maaf merepotkan."
Ayu bengong. Yudis tanpa ijin menelpon pak Herman, ketua RW di desa. Orang yang punya handphone di desanya. Maksa benar ini orang. Aku belum mengiyakan. Caper. Carmuk. Kesal Ayu di buatnya.
"Ayo kita pergi. Ini sudah malam. Kita istirahat di rumah," ajak Yudis maksa.
Kembali tangannya hendak menuntun Ayu. Ayu menggeleng. Cari kesempatan. Maaf kali ini gagal. Bisik Ayu di hati.
Ayu masuk mobil dengan terpaksa. Tak ada pilihan. Dag Dig dug jantung tak bisa di ajak kompromi. Menangkan diri dengan berdiam diri.
"Ayu pasti kecewa karena bukan Yoga yang mengantar pulang. Makanya diam saja. Marah?"
Ya Allah, kok gitu pikiran kak Yudis. Andai bisa mengintip bilik hati. Hanya namamu yang ada di sana. Kenapa berpikir ada orang lain? Ayu mengelus dada. Sesak.
"Kakak ini bicara apa. Saya hanya bingung harus mengobrol apa makanya diam," jawab Ayu dengan sedih.
"Yoga itu memang tampan dan baik. Profesinya juga sangat mapan. Kamu akan bahagia jika bisa menikah dengannya," ujar Yudis ketir. Melihat Ayu baik pada anaknya mungkin karena sayang juga Papanya.
"Siapa yang mau pada saya, Kak, pak Yoga itu orang pintar. Mapan. Deretan mahasiswi atau koleganya banyak. Mana menarik gadis desa seperti saya."
"Kalian itu serasi, loh, bagus bila jadi pasangan."
Ayu terdiam. Enggan menjawab semua ucapan Yudis. Bodoh. Hatiku bukan untuknya tapi kamu. Tak peka.
Yudis juga terdiam. Entah mengapa pertemuan dengan Yoga membuatnya bad mood. Serba salah semua. Marah tak jelas.
Mobil memasuki halaman rumah megah dengan empat lantai. Ayu terkagum melihat rumah yang berdesain klasik itu. Rumah yang begitu besar. Dipercantik oleh taman indah di depan rumah. Gazebo mempercantik halaman.
Gazebo itu lebih bagus dari rumah kayu miliknya di desa. Ayu terpesona. Kagum dengan keelokan tata artistik bangunan yang begitu megah diantara rumah di sekitarnya.
"Ayo turun, ini rumah saya" ajak Yudis.
__ADS_1
Pintu di buka oleh seseorang dari dalam. Mak Inah membuka pintu. Senyum tersungging menyambut majikannya.
"Assalamualaikum." sapa Ayu. Rengkuh menyalami Mak tua itu.
Mak Inah terdiam. Sungguh sopan gadis manis ini. Sangat berbeda dengan teman Yudis yang lainnya.
"Waalaikum salam, mangga masuk Neng."
Ayu masuk terkesima dengan kemegahan isi rumah itu. Segala furniture begitu eksotis. Nuansa kuno dan modern berpadu seirama.
Cat putih di tembok berpadu dengan furniture yang bergaya Eropa klasik menambah kesan artistik. Lukisan di atas kanvas menghias setiap sudut ruangan. Rasanya bagai masuk ke galeri seni. Segala rupa aliran lukisan tersedia di sana.
"Tumben, Den Yudis bawa cewek keren. Cantik, sopan, shalihah. Emak suka gadis ini," bisik Mak Inah.
Yudis tersenyum. Apa reaksi papa juga akan sama. Beberapa kali membawa pacar ke rumah semua jadi grogi dan konyol di hadapan sang jendral. Semua ketakutan dan lari tunggang langgang.
Papa memang terlihat sangat sangar. Sorotan tajam matanya membuat bungkam. Suaranya membuat terkesima. Tak ada satu pacarnya yang bisa membuat papa menganggukkan kepala tanda setuju.
"Sudah pulang , Dis." Suara berwibawa mengagetkan Yudistira.
Om Wijaya melihat Ayu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Sangat berbeda dengan teman Yudis yang lainnya.
"Assalamualaikum, Pak. Mohon maaf saya mengganggu. Saya Ayu. Maaf jika saya bertamu di malam seperti ini," ujar Ayu.
Mendekap tangan di dada memperkenalkan diri. Merasa jika tuan rumah ingin tahu identitas dirinya. Tidak menyalami hanya rengkuh tanda hormat.
Hebat, cantik, elegan, berani menatap mata singa tua. Apakah ini Ayu si gadis gunung itu? Gadis yang merubah Yudistira.
"Ayu? Rasanya familiar nama ini. Apa ini Ayu yang di maksud, Dis?" tanya Om Wijaya memastikan.
"Ya, Pah, Ayu tampaknya sangat lelah. Biarkan membersihkan diri. Kita makan sehabis mandi ya, Ayu"
Yudis memotong ucapan Papanya. Takut banyak bicara. Sekarang berbeda. Sudah ada Yoga sang pesaing. Harus berhati-hati takut jika ternyata hati Ayu bukanlah untuknya. Yoga mungkin lebih pantas untuk Ayu.
Ayu menuju kamar di antar Mak Inah. Yudis dan Om Wijaya duduk di ruang keluarga.
"Kenapa bisa pulang sama Ayu, Dis?"
Om Wijaya menatap tajam putranya. Pasti ada alasan yang jelas, membawa pulang anak orang malam-malam.
Yudis menceritakan semuanya tanpa ada yang di tutupi. Dari awal pertemuan hingga membawa pulang Ayu ke rumah.
"Dasar kamu ini, pintar cari kesempatan. Padahal Utari sedang pergi."
"Kalau nggak gitu, kapan bisa ketemu sama papa. Alibi saya bener kan, pah? Alhamdulillah, Papa bisa tahu perempuan pilihan Yudis. Bagaimana menurut Papa?"
"Cantik, menarik dan berkepribadian. Seorang yang teguh pendirian dan sangat memegang teguh prinsip hidup seperti Mama. Tak salah pilih kamu, Dis." Om Wijaya mengacungkan jempol.
Yudis tersenyum. Pertama kalinya sang papa memuji seorang gadis yang di bawa pulang ke rumah. Senyum itu berubah kecut saat ingat pada Yoga.
"Kamu itu sepertinya sedang perang batin. Kenapa?"
"Aku ragu dengan perasaannya, Pah, tadi aku sudah nembak dia tapi tak di respon. Belum lagi bertemu dengan Yoga, dosen itu. Sepertinya juga memandang rasa pada Ayu. Mungkin Ayu suka padanya."
"Walah, katanya play boy kelas wahid. Masa sudah nyerah sebelum perang. Malu dong anak jendral kok mlempem."
Yudis tersipu. Papanya benar. Dulu juga tanpa memastikan malah pulang dan hampir kehilangan sang pujaan.
"Ayu itu bukan barang tak bertuan. Kalau ingin Ayu, jangan kejar Ayu. Tembak orang tuanya. Dapatkan restu baru bisa rebut anaknya. Tipikal orang desa biasanya begitu. Makanya jangan harapkan jawaban Ayu. Sampai lebaran kuda juga tak akan mengucapkan ya."
"Pantesan malah diam dia," ujar Yudistira.
"Kamu itu entah bodoh atau tak pandai. Antar pulang besok. Minta baik-baik pada kedua orang tuanya. Jika ada lampu hijau kita akan lamar dan bawa pasukan, ok!"
"Papa ini, bodoh dan tak pandai itu sama. Ah, bisa saja"
"Kalau bodoh itu menyangkut IQ tapi kalau pandai itu kemampuan memanage keadaan dan kondisi. Masyaa Allah, Ayu?" Pekik Om Wijaya terpana melihat Ayu yang berjalan menuruni tangga.
Ayu tampak anggun memakai gamis milik mama Yudis. Begitu serasi dengan hijab warna peach. Sekilas dua anak dan bapak itu melihat orang tercinta yang telah berpulang.
Mereka hampir menitikan air mata. Semoga si wajah teduh itu juga akan melengkapi rumah ini. Mengembalikan senyum dan keceriaan yang telah hilang. Seperti Mama dulu.
__ADS_1
To be continue~