
Yudis bergegas menuju parkiran mobil. Seharian bekerja membuatnya letih. Rumah adalah tempat ternyaman untuk kembali. Selalu rindu bertemu sang istri.
"Dok, masih ingat saya?" tanya seorang perempuan dengan rambut sebahu dan berpakaian sangat fashionable. Cantik dengan riasan sederhana. Tidak berlebihan dan sangat elegan.
Yudis mengerutkan dahi. Mengingat kembali satu dari ratusan wajah yang ditemui beberapa hari terakhir. Masih juga memutar otak mencari tahu. Lupa. Maklumlah entah berapa ratus orang yang ditemui minggu ini.
"Saya perempuan korban penusukan itu, dok. Anda yang telah menyelamatkan nyawa saya. Jika tidak entah saya mungkin sudah menjadi Almarhum. Terima kasih."
"Ohhh, ya, saya ingat. Anda Risma? Apa kabarnya, teteh?" tanya Yudis. Usia Risma pasti tak jauh beda dari Ayu makanya Yudis menyebut teteh bukan ibu.
Yudis akhirnya bisa mengingat siapa lawan bicaranya. Tampak berbeda. Cantik. Wajah yang dulu di lihatnya pucat kini merona merah. Ah, tidak lagi menarik cantik fisik bagi Yudistira.
Secantik apapun gadis juga pernah menjadi pacarnya. Apalagi sudah ada Ayu yang tak hanya cantik fisik tapi cantik juga akhlaknya. Perempuan di luaran rumah tak lagi menggugah selera.
"Alhamdulillah baik, Dok. Ini berkat anda. Mohon maaf sebelumnya saya meminta anda menjadi saksi tanpa konfirmasi. Nama anda sudah di ajukan di kantor polisi. Mungkin sewaktu-waktu akan di periksa di sana. Maaf, ya, dok."
"Tak apa, teteh. In syaa Allah saya siap membantu. Sudah kewajiban saya menuntaskan pekerjaan yang belum kelar. Saya akan membuat pecundang yang tega menyakiti perempuan itu, tidur lama di penjara. Tak usah sungkan."
"Alhamdulillah, terima kasih. Maaf boleh saya meminta nomor ponsel anda? Ini untuk memudahkan saya berkomunikasi tentang masalah hukum saya, Dok."
"Ok, dengan senang hati. Maaf saya pamit sudah di nanti sama orang rumah. Ini kartu nama saya. Silakan hubungi jika ada perlu. In syaa Allah saya akan membantu." jawab Yudis sembari membuka mobilnya.
Pamit pulang dan melempar senyum penuh pesona pada Risma. Perempuan itu kian terpana. Wajah Yudis nan tampan kian membuatnya jatuh hati. Semoga akan hadir cinta dari orang yang benar-benar menghargai arti perempuan.
\*\*\*\*\*
Hari berlalu. Sudah beberapa kali Yudis harus di periksa sebagai saksi atas kasus KDRT Risma. Yudis senang bisa membantu. Jujur lelah tapi tak mengapa. Asal makhluk yang di takdirkan melahirkan insan kedunia bisa mendapatkan hak dan kehormatannya. Tidak diperlakukan semena-mena.
Yudis juga akhirnya menjadi saksi di pengadilan. Harus mendengarkan betapa kejamnya perlakuan kasar Angga, suami Risma.
Angga yang pencemburu acap kali memukul dan menendang. Dengan tega juga menodai kulit mulus istrinya dengan sundutan rokok. Tak bisa membayangkan alasan Risma tetap diam dengan perlakuan kejam itu.
Bodoh. Cinta buta. Entahlah. Hanya saja Yudis bahkan tak berani mengangkat suara kasar pada Ayu. Ini malah menyakiti dengan membabi buta. Sungguh biadab. Tak berperikemanusiaan. Bukankah mereka menikah karena cinta lantas mengapa harus menyakiti fisik dan psikis.
Risma kian kagum dengan pengorbanan tulus Yudistira. Berharap jika Yudis datang bukan karena kasihan semata.
Benih cinta itu mulai hadir tanpa bisa di usir. Jiwanya yang haus akan kasih sayang mendamba hadirnya sosok lembut nan santun. Sosok impian Seperti Yudistira Hadi Wijaya.
Sayang Yudis sudah tak bisa membagi hati pada siapapun. Hanya Ayu yang bertahta. Tak ada yang lain lagi.
Risma hanya memendam rasa sendirian. Menyimpan dalam diam. Berharap jika hatinya bisa singgah. Kemudian pasrah pada kenyataan yang ada. Cinta mungkin tabu baginya.
__ADS_1
\*\*\*\*\*
"Lepasin gua, please" jeritan Risma memecah keheningan malam. Dua orang laki-laki berperawakan kekar tengah mencoba menggagahinya.
"Hei, kalian. Hentikan itu!" teriak Yudis yang melihat peristiwa itu dan menghentikan laju mobilnya.
Salah satu pria itu maju dengan menyingsingkan lengan baju. Marah aktivitasnya terganggu.
"Ganteng, baiknya lu pulang saja atau gua bikin penyok muka licin lu jadi babak belur," ancamnya.
"Lu kira gua gila. Enak saja membiarkan perbuatan bejad kalian."
"Banyak bacot, hajar saja, bro." Kata satu orang lagi yang menghimpit tubuh Risma.
Secepat kilat pria itu melayangkan tinju. Eits, jangan remehkan gua. Ban hitam sudah di tangan. Gua jagonya beladiri walau gua nggak suka berkelahi.
Dengan beberapa kelitan dan pukulan balasan orang itu tumbang. Temannya melayangkan pukulan. Menyerang membabi buta. Yudis juga dengan mudah melumpuhkan. Mereka berdua akhirnya tunggang langgang. Meninggalkan Risma yang berpenampilan acak-acakan. Tertunduk lesu dengan isak tertahan.
Yudis menghampiri dan membuka kemeja putih kebesarannya. Menutupi tubuh Risma yang sudah hampir telanjang.
"Terima kasih, pak dokter. Hiks .... "
"Maaf, jangan begini, Teh. Takut jadi fitnah. Teteh tinggal di mana? Saya antar pulang," ujar Yudis risih.
"Saya tinggal di akhirat. Ingin mati saja. Kalau saya mati takan ada yang bersedih dan menangisi. Biarkan saja Risma Aprilia mati, ya, kan, dokter."
Risma melepas pelukannya dan meracau. Berusaha berdiri dan limbung. Yudis terpaksa memeluknya. Jika tidak maka Risma akan terjerembab di aspal.
Yudis akhirnya membawa Risma pulang ke rumah. Hari telah larut dan Risma dalam keadaan mabuk dan depresi. Tak mungkin mengantar ke hotel, takut bunuh diri. Tubuhnya juga masih gemetar ketakutan akibat perlakuan biadab dua lelaki tadi.
Malam kian larut dan hampir mencapai dini hari. Rumah tampak sepi. Yudis yakin semua penghuni sudah larut di alam mimpi.
Risma tampak terlelap. Yudis membopongnya masuk di kamar tamu.
Besok akan kujelaskan mengapa membawa seorang perempuan ke dalam rumah. Membangunkan penghuni hanya akan membuat kegaduhan.
Yudis masuk ke kamar yang gulita. Ayu pasti sudah tidur nyenyak. Istrinya memang sangat suka tidur dalam keadaan lampu padam.
Yudis langsung merebahkan diri di pembaringan. Hari ini dua jam berkutat di meja operasi menguras energi. Terlebih pertarungan dengan dua pria tadi juga membuat tubuhnya lelah.
Ketika asyik terbuai mimpi sebuah tangan membuka kancing kemejanya. Sebenarnya lelah tapi jika sang istri meminta haknya mengapa menolak.
__ADS_1
"Kangen ya, sayang. Aku juga kangen kamu."
Malam bergulir dengan mengendap. Menyaksikan sebuah keintiman. Membelai dua insan dalam penyatuan ragawi.
\*\*\*\*\*
"Asholatu khairum minanaum"
Lantunan suara adzan membangunkan Yudistira. Aneh, subuh sudah datang sang istri masih terlelap. Biasanya selalu bangun sebelum subuh tiba. Mungkin karena kecapean semalam. Yudis tersenyum. Terbayang pertarungan seru malam tadi.
Tangannya meraba saklar lampu di atas nakas. Biarkan saja kamu kesiangan hari ini. Aku akan bangunkan jika sudah mandi nanti. Kasihan.
Lampu temaram.
"Sayang, aku .... Astaghfirullah. Kamu, Risma. Kenapa ada di sini. Kamu tidur semalaman di ranjang ini," bentak Yudis.
Yudis meloncat dari ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Kaget melihat Risma yang bersamanya bukan Ayu.
"Kenapa kaget, Dok. Bukankah kita menikmatinya semalam?"
"Menikmati? Astaghfirullah. Kamu kenapa bisa ada di sini? Bukankah semalam kamu tidur di kamar tamu."
"Aku mengikuti kamu, dok" ucap Risma. Sedih melihat kemarahan Yudis. Padahal mereka menghabiskan malam bersama. Risma sangat bahagia tapi tidak dengan Yudistira.
"Pergi kau, enyah dari hadapanku. Aku tak mau melihat kau lagi. Pergiiii !" Bentak Yudis emosi bercampur sedih.
Risma mengenakan pakaiannya. Berlalu dengan sedih. Meninggalkan Yudis yang terduduk lesu. Kemana perginya Ayu dan semua penghuni rumah.
Ayu maafkan kakak, sayang. Kakak sudah menghianati meski tanpa sengaja.
Yudis mengacak rambutnya gemas. Tuhan, mengapa aku menghianati istriku? Di peraduan tempat kami berbagi kasih sayang. Sungguh tak pernah terlintas ingin menghianati atau berbagi hati.
Yudis mengambil ponselnya. Sebuah pesan masuk menjawab keberadaan Ayu, istrinya. Setelah Yudis menghidupkan ponsel yang dimatikan dari semalam.
[Kak, Ayu pergi melayat ke rumah Mak Inah. Kami pergi semua. Maaf bukan tak meminta ijin. Tapi ponsel kakak tak bisa di hubungi. Ayu pulang besok siang.]
Bodoh mengapa lupa mengaktifkan ponsel dari sore pasti Ayu berulang menghubungi. Yudis frustasi sendiri.
Dalam tengadah selepas shalat subuh Yudis menangis sejadinya. Meratapi takdir yang tak pernah bisa di hindari. Merasa menjadi orang paling hina.
...Bersambung~...
__ADS_1