
Ayu berjalan dengan tatapan heran. Apa yang salah dengan penampilannya. Mengapa tuan rumah menatap seolah ingin menelan bulat-bulat. Mungkin salah keputusan ikut Yudistira, tapi jika tidak maka harus bermalam di mana? Ayu duduk dengan kikuk. Tatapan mereka kok jadi menakutkan.
"Maaf, ada apa, ya?"
"Nggak Nak, nggak ada apa-apa, kamu mirip sama mama Yudis, almarhum. kami jadi terharu."
"Maaf pak, saya di suruh memakai baju ini sama Mak Inah. Saya sudah lancang."
"Oh, nggak sama sekali. Saya yang menyuruh, Mak memberi pakaian mama Yudis. Duduklah Nak, kita makan," ujar Om Wijaya mempersilakan tamunya duduk di ruang makan
"Kapan saya bisa ke rumah teh Tari? "
Om Wijaya menatap Yudis. Seolah berkata, ayo jawab! Tanggung jawab.
"Maaf, Yu, Utari sedang keluar kota. Dia berangkat tadi siang. Kamu menginap di sini saja. Insyaa Allah aman."
Yudis bingung sendiri. Dusta itu memang menyiksa. Jadi berbuah salah kata. Aman. Mengapa harus katakan itu. Toh rumahnya bukan sarang pemangsa. Hadeuh. Akhirnya kena batunya.
"Ya Allah, maaf jadi merepotkan kalian. Saya mengganggu."
"Tidak, Nak, jangan sungkan anggap rumah sendiri, " tutur Om Wijaya. Mulai kagum dengan pembawaan Ayu yang sopan. Wajahnya begitu mendamaikan jika di tatap.
Mereka berbincang. Bertukar kabar di desa. Malam sudah larut ketika semua mulai ke peraduan. Membaringkan tubuh yang letih setelah aktivitas seharian.
\*\*\*\*\*
Pagi menyapa. Jauh sebelum matahari menyinari bumi, Ayu sudah terjaga. Membantu Mak Inah memasak di dapur setelah menunaikan shalat malam.
"Nggak usah, Neng, istirahat saja," cegah Mak Inah saat Ayu membantu.
"Saya ini sudah biasa masak di tungku kalau subuh. Tak biasa duduk diam saja. Kita masak bersama ya, Mak."
Mak Inah diam. Ringan tangan gadis ini. Sangat pandai berbenah dan luwes dalam pekerjaan rumah. Mak Inah suka sekali gadis ramah dan cantik ini.
Hidangan sudah tersedia. Semua berkumpul untuk sarapan bersama, termasuk Mak Inah. Aturan di rumah ini tak ada sekat antara pembantu atau majikan. Semua sama rata. Makanan apapun di nikmati bersama.
"Enak sekali masakan Mak kali ini" puji Om Wijaya.
"Calon mantu bapak yang masak, bukan saya, "jawab Mak melirik Ayu.
Ayu yang tengah minum tersedak. Kaget dengan ucapan Mak tua itu. Gusti. Entah seperti apa penampakan muka ini. Pastinya mukanya seperti kepiting rebus, hidangan pagi di depan mukanya. Merona.
Yudis sigap menepuk tengkuk Ayu, menetralkan Ayu dengan memberi segelas air putih lagi. Kelihatan groginya. Ayu kamu membuatku bahagia. Kita menyimpan rasa yang sama.
"Aamiin ya rabbal alamiin, semoga jadi kenyataan, Mak. Itu yang saya harapkan," rapal Om Hadi Wijaya.
Ayu kian kikuk. Serasa masuk dalam lubang jebakan. Menjadi korban bully beramai-ramai. Tak berkutik. Ingin rasanya masuk kolong meja atau mengambil taplak untuk menutup wajahnya.
"Kalian setuju jika Ayu jadi mantu?"
tanya Yudis.
"Sangat setuju, kapan kita pergi melamar?" tanya Mak Ijah.
"Secepat mungkin, ya, kan, Dis," goda Om Hadiwijaya.
"Insyaa Allah." jawab Yudis. Penjuru matanya melirik gadis manis yang tampak begitu canggung.
Ayu hanya diam. Stop tolong hentikan. Jangan jadikan aku permainan. Menurut kalian ini lucu, tapi tidak bagiku. Tak tahukah, jika itu impian lama. Aku bahkan hanya mampu sekedar bermimpi. Takut jika setelah terjaga semua ternyata hanya angan dan mimpi semata. Sakit.
"Maaf, jika saya lancang meminta bantuan. Bisakah mengantar saya ke terminal terdekat? Saya harus segera pulang."
"Aku antar kamu pulang ke rumah. Takut jadi pertanyaan mengapa anak gadis bapak hilang satu malam. Aku akan bertanggung jawab." jawab Yudis.
Dih, seolah telah berbuat apa. Bertanggung jawab. Apa bapak atau Emak akan menggelar sidang. Yudis lebay. Bilang saja ingin mengantar. Om Hadiwijaya tersenyum. Ada saja alasan ini bocah.
"Nggak usah, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri. Nanti merepotkan," tolak Ayu halus.
"Saya hari ini cuti, nggak ada kegiatan. Sekalian ingin siaturahmi dengan warga desa. Sudah lama tak bertemu dengan mereka."
Ayu diam. Masak harus menolak kebaikan. Membalas jasa Yudis juga tak bisa. Tak ada alasan pula harus menolak.
"Kita selesaikan sarapan dan pulang ke rumah, Ayu"
Ayu melanjutkan sarapan dengan tak selera. Sudah hilang lapar karena bully rame rame. Apalagi sesekali tatapan teman semeja membuatnya tak nyaman.
\*\*\*\*\*
Perjalanan Bandung-Sumedang bukanlah sebentar. Ayu duduk di jok depan dengan diam. Kikuk. Selalu jantungnya berdetak tak normal.
Makhluk kece di samping juga bingung harus apa. Sudah habis membully hanya melirik dan tak mau menggoda lagi.
__ADS_1
Tegang. Bagaimana jika di hati Ayu ada Yoga. Sia-sia sudah perjuangannya. Haruskah kehilangan gadis manis itu. Ayu tampak kian jelita. Wajah gosongnya sudah berubah. Kulit putih alami dan penampilan sederhana itu akan tambah cantik jika di poles make up profesional.
Mobil berjalan dengan kecepatan sedang. Penghuninya hanya diam. Seolah tak ada tema untuk di bicarakan. Padahal hati di huni sejuta kata. Berkicau laksana burung tiada henti. Namun, mulut terkunci.
Jalan hotmik telah berganti. Aspal sederhana kini memperlambat laju mobil mewah itu. Ayu sudah memberi tahu jika mobil sudah bisa masuk dengan mudah. Jalan sudah di aspal. Maka Yudis membawa mobil mewah kesayangannya.
"Perubahan pesat, jalan sudah di aspal rapi sekarang. Listrik juga sudah terpasang. Wow hebat. Pangling. Hampir lima tahun saya tidak ke sini. Banyak berubah," tutur Yudis membuka suara.
"Alhamdulillah, sekarang pembangunan sudah mampir di desa kami. Semoga gelar desa tertinggal sebentar lagi akan hilang"
"Semoga begitu, Alhamdulillah akhirnya hampir sampai. Itu bukannya mobil Yoga ?" tanya Yudis melihat sebuah mobil terparkir di halaman rumah Ayu.
Waduh, si dosen sudah duluan datang. Semoga belum mengutarakan maksud untuk meminang. Yudis sedikit ketakutan. Benar-benar pesaing tangguh. Kelas berat.
Ayu turun dari mobil. Baru menginjakan kaki. Sambutan Sisil sudah datang. Gadis itu berlari menyambut dan memanggil Mama.
Ayu membopong tubuh mungil itu. Mencium pipi gembilnya. Suasana persaingan semakin kentara. Yoga dan Yudis saling menatap dengan pandangan tak suka.
Mereka masuk rumah di sambut bapak dan Emak yang kebingungan.
"Pak, dua orang ini seperti siap perang. Emak bingung jika mereka punya niat yang sama. Mau apalagi jika mendatangi rumah perawan kalau nggak melamar. Bingung harus milih yang mana. Keduanya sama berkualitas"
"Stt, jangan berisik. Diam. Nanti mereka dengar. Ambil minum sama makanan," sikut bapak.
Mereka akhirnya duduk berbincang ngalor ngidul. Tak ada ujung. Ayu masuk kamar. Enggan menyimak kaum Ikhwan berbicara. Memilih merebahkan diri di kasur.
Sisil asyik bermain dengan adik-adik Ayu. Mereka akrab meski baru pertama berjumpa.
Yudis jengah. Ingat ucapan Papanya. Maju, Dis. Hal baik jangan di tunda. Jangan jadi pengecut. Tunjukan kau mewarisi darah jendral. Jangan hanya diam. Perjuangkan Ayu dan bawa pulang sebagai mantu.
Yudis menarik nafas. Benar harus mengatakan maksud kedatangan atau tidak sama sekali dan menjadi pecundang.
"Maaf pak, sebenarnya maksud kedatangan saya kemari selain mengantar Ayu selamat sampai di rumah adalah ... "
Kringgggg
Suara handphone mengganggu ucapan Yudis. Panggilan masuk. Yudis matikan.
Kringgggg.
Lagi, panggilan kedua tiba. Yudis acuhkan
Ketiga, panggilan itu tak bosan.
Yudis hendak mematikan lagi tapi nama Utari kini membuatnya menatap layar monitor dengan bingung. Harus kah mengganggu di moment hidup dan mati. Utari tega kau mengganggu konsentrasi.
"Angkat dulu, dok, siapa tahu panggilan darurat, " saran Yoga
Yudis hanya diam. Bahagia kau pak dosen. Hampir saja aku mengatakan ingin meminang. Gangguan datang.
Semoga itu panggilan gawat darurat. Kau harus kembali dan aku bisa meminang Ayu. Harap yoga.
Panggilan berlalu. Yudis menarik napas hendak meneruskan ucapan yang tertunda
Kringgggg
Panggilan ke empat akhirnya berhasil membuatnya menekan gambar gagang telpon, pertanda panggilan di terima.
Yudis berjalan ke samping rumah.
"Ya, wa'alaikum salam. Ada apa Tari?"
"Elu harus balik sekarang. Ada kecelakaan beruntun di Bandung. Semua dokter sudah turun tangan. Kami kekurangan dokter bedah. Ada beberapa pasien yang harus di operasi segera."
"Ya Allah, emang nggak bisa di ganti dokter lain. Aku sedang cuti Tari, please. Sekali ini aku absen."
" Semua sudah turun tangan, Dokter Yudis, kami kekurangan tenaga medis. Gue tahu elu sedang di rumah Ayu, tapi pasien elu menunggu di sini. Mereka sekarat. Nyawanya ada di tangan elu. Makanya cepet balik, sekarang ! Ambang batas mereka bertahan paling tiga jam sebelum luka mereka infeksi. Cepet balik sekarang !" bentak Utari di seberang sana.
"Tari ini juga menyangkut hidup mati gue, hari ini ingin melamar Ayu pada orang tuanya. Jika tidak maka gue akan mati. Sekarat. Please, mungkin ada solusi lain. Ini menyangkut masa depan gue, Tari."
Nada suara Yudis menghiba. Mengapa bagai makan buah si malakama. Keputusan yang sangat sulit di rasa. Yudis ingin menjerit meminta waktu hanya sebentar agar urusannya kelar.
"Lu kayak orang nggak punya iman, Dis. Jodoh lu, udah Allah atur. Inget janji profesi. Sumpah jabatan lu. Nyawa manusia lebih berharga. Jika Ayu memang untuk lu. Dia takan lari ke mana. Pada akhirnya akan jadi pasangan. Tapi, nyawa di sini akan tumbang. Itu bakal lu sesali sepanjang hayat. Terserah. Itu hidup lu. Elu yang jalani. Gue hanya mengasih tahu sebagai kawan seprofesi." Utari menutup telpon dengan kasar.
Yudis lemas. Maafkan aku, Tuhan. Tari benar. Nyawa beberapa orang menunggu di selamatkan. Tapi, Yudis malah perang dengan hati. Sehingga melupakan sumpah profesi. Maafkan melatiku. Aku harus pulang. Aku titipkan kamu pada Tuhan. Jika engkau tercipta untukku, maka akan aku jemput dengan pasukan sebagai mempelai.
Ayu menguping di balik dinding bambu. Terisak. Ternyata cinta kami sama. Sayang, di saat terakhir malah harus terpisah karena panggilan tugas. Kak, ucapanmu tempo hari ingin menjadikan calon bukan candaan. Mengapa takdir seolah memisahkan. Apakah memang takdir tak berpihak pada kita.
Yudis akhirnya harus pamit. Meninggalkan Bapak yang masih bertanya lanjutan ucapannya.
Yudis pergi dengan menitipkan sang melati pada takdir. Berharap jika sang pujaan adalah perempuan yang tercipta dari tulang rusuknya. Sehingga akan menjadi jodoh di suatu hari. Mereka akan di persatukan dalam ikatan halal.
__ADS_1
Yoga mengutarakan niat meminang Ayu, sepeninggal Yudis. Ingin merenda hari bersama. Meminta ijin membawa Ayu ke pelaminan. Bapak tak menjawab. Meminta waktu sepuluh hari untuk berembug.
Keputusan akan di berikan sepuluh hari mendatang. Ayu harus istikharah dulu. Meminta petunjuk atas masa depannya.
Yoga di minta datang tanpa di dampingi keluarga dulu. Jika ya, maka satu hari di nanti membawa pasukan, resmi melamar.
Wajah yoga sumringah. Harapan seolah akan menjadi nyata. Pelaminan sudah menjadi bayangan di hadapan. Bunda untuk Sisil akan hadir tak lama lagi.
\*\*\*\*\*
Ayu termenung sendiri di bawah pohon beringin. Tatapannya kosong. Sesekali melihat jalan setapak yang mengular di bawah sana. Hamparan pesawahan yang sangat indah.
Ayu ingin menjerit kencang. Hari ini harus mengambil keputusan. Ingin berlari sejauh mungkin. Menunggu Yudis datang dan menjadi pilihan kedua untuk meminang juga tak kunjung hadir.
Entah kemana kau, kak Yudis. Apakah kau sudah menyerah karena tahu Yoga datang juga untuk meminang. Setidaknya, jika kau datang pada bapak aku bisa mendiskusikan namamu dalam istikharahku.
Aku merasa sendiri. Dulu ada sahabat tempat berbagi. Kini mereka entah bagaimana kabarnya. Sudah lama tak berjumpa.
"Guys, aku merindukan kalian. Aku membutuhkan kalian. Bantu aku di saat yang sulit ini."
"Ayu, kami di sini, " ujar Irniaty mendekap erat sahabatnya.
"Kalian, kapan datang? Bagaimana bisa tahu aku di sini?" tanya Ayu.
"Suratmu terlambat datang, aku langsung calling semua. Hari ini baru ada waktu luang jadi kami datang. Maaf telat. Tadi bapak memberi tahu jika kamu ada di sini. Kami langsung ke sini, " jawab Nurasiah.
"Kami ada untukmu, semoga keputusan yang kamu ambil adalah keputusan yang benar. Jangan di kalahkan perasaan. Yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Percayalah qadarullah yang terbaik." Eva mengelus pundak Ayu.
"Bagaimana hasil istikharah kamu, Yu?" Tanya Thien.
"Semua masih samar. Aku bingung, " ujar Ayu seraya menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah. Menutup mata dan membiarkan tangis mengikis sebagian bebannya.
Keempat sahabatnya bergeser menjauh. Yudis tiba-tiba datang dan jongkok di depan Ayu yang duduk di akar. Mereka membiarkan kedua sejoli itu menyelesaikan masalah mereka.
"Ayu!" panggilan Yudis lirih.
Tangis Ayu kian menjadi, bahkan saking rindu suaranya kini terdengar begitu dekat. Bisakah melupakanmu, Kak Yudis.
"Ayu, aku datang untuk kamu. Apakah masih ada kesempatan? Maaf jika membuatmu menunggu."
Ayu mendongakkan wajahnya. Yudis tengah bersimpuh di hadapan. Mengukir senyum manis hanya beberapa centimeter jaraknya.
"Kak Yudis, apakah ini benar-benar kamu?"
Ayu menatap tak percaya.
Yudis mengangguk dan tersenyum. Bahagianya bisa melihat kamu, Ayu. Maaf tak dapat datang secepatnya.
"Kakak sudah terlambat. Keputusan harus sudah di buat hari ini. Pak Yoga sudah meminang Ayu pada Bapak. Hari ini Ayu sudah mengambil keputusan. Kakak tidak bisa menjadi pilihan. Bapak hanya menyuruh Ayu memilih yoga atau tidak. Tak ada alasan menolak Yoga. Maaf kak, aku harus memilih yoga sesuai keinginan Bapak." Ayu menangis.
"Bapak berpesan, Ayu harus memilih antara yoga dan Yudistira. Mana di antara kami yang ada di hati. Bapak mendukung semua keputusan Ayu."
Ayu terperangah dengan ucapan Yudis. Sejak kapan Yudis masuk dalam list. Bukankah semalam bapak menekankan menerima pinangan Yoga.
"Sebelum datang ke tempat ini, aku menemui Bapak. Beliau tak bisa memutuskan apa-apa. Hanya, coba tanyakan langsung pada yang bersangkutan, itu katanya. Saat aku katakan ingin meminang"
"Apa benar itu ucapan Bapak ?" Ayu meyakinkan pendengarannya.
Yudis mengangguk. Tangannya merogoh sesuatu di jaket kulit miliknya. Sebentuk cincin dan seikat bunga edelweis dengan pita merah jambu di tangan.
"Ayu lestari, maukah menjadi makmum dan pendamping hidup saya? Jika ya, tolong ambil bunga. Juga pakai cincin ini."
Yudis berlutut dan mengulurkan kedua benda itu. Mata Ayu nanar. Bunga edelweis. Cita-cita di lamar dengan bunga perlambang cinta kini jadi nyata. Ayu terisak. Apakah ini hanya mimpi atau sungguh terjadi.
Sahabat Ayu mengangguk-anggukkan kepala. Pertanda setuju ayu menerima. Semua tersenyum dalam tangisan haru mereka. Impian Ayu di khitbah dengan bunga edelweis jadi kenyataan. So sweet.
Tangan Ayu gemetar. Perlahan di ambilnya cincin dan bunga edelweis, tanpa menyentuh tangan Yudis. Berlari menghampiri sahabatnya. Menangis bersama tawa dalam waktu yang sama.
Yudis mengelus dada. Di lewati begitu saja. Padahal ngarep pelukan itu akan di berikan padanya. Yudis tersenyum. Ini Ayu, Dis. Bukan gadis biasa. Mana mau bersentuhan sebelum halal.
Sepasang mata di balik kemudi melihat pemandangan itu dari jauh. Tangannya memukul kemudi dengan keras. Geram, marah, sedih bercampur aduk jadi satu. Netranya menjadi saksi kebahagiaan Ayu dan Yudistira.
Memang sudah seharusnya mundur. Matanya menjadi saksi binar cinta di antara Yudis dan Ayu. Tapi, ego menguasai. Tak mau mengakui. Kini suratan takdir jua yang menjawab semua tanya.
Selamat, aku memang menyusup diantara cerita kalian yang tertunda. Semoga bahagia dan mengakhiri cerita dengan pernikahan.
Yoga pergi dengan membawa luka. Sayap harapan patah sudah. Buket mawar merah di buang dengan amarah. Musnah harapan memberikan bunda pada anak tercinta. Maaf, nak, belum waktunya kau mendapatkan cinta bunda. Suatu saat akan datang bunda terbaik untukmu. Semoga.
To be continue~
__ADS_1