PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.26


__ADS_3

Panas terik menusuk kulit. Acara pernikahan Cindy dengan Aldo memang belum usai. Namun Yudis dan Ayu harus pamit pulang. Mereka harus menemui Om Wijaya. Sang jendral ingin bertemu calon mantu. Mengundang Ayu untuk datang ke rumah.


Yudis bisa tersenyum lega melihat tiga kurcaci dari kaca depan mobil. Mereka akhirnya bisa diam. Sogokan tiga kantong plastik makanan dan buku bacaan membuat diam. Kakak dan adik sama, hobi membaca. Sedari tadi jangankan bisa berbincang dengan Ayu. Berdekatan juga susah bukan kepalang.


Ayu tersenyum melihat polah tiga adiknya. Kentara kampungannya. Ayu tak pernah merasa malu dengan predikat itu. Toh, memang orang kampung, berpikiran sederhana dan berpenampilan sederhana serta hidup bergantung dari limpahan hasil alam.


Tiga kurcaci terhipnotis indahnya rumah Yudis. Mereka nylonong tanpa permisi melihat TV raksasa di ruang keluarga. Biasanya mereka melihat TV hitam putih usang di rumah, kecil pula. Ini besar dan beraneka warna. Dasar bocah, seolah menjadi magnet langsung duduk manis, mangap, asyik menyantap makanan yang tersisa.


"Assalamualaikum, dek jangan ke sana. Maaf, pak. Aduh adek saya bikin malu saja."


"Bagus lah, daripada kakaknya malu- malu melulu," goda Yudis yang mesem melihat mata tiga kurcaci yang tak berkedip melihat layar kaca.


Ayu melotot. Yudis tertawa. Om Wijaya tersenyum.


"Waalaikum salam, biarkan saja, namanya juga anak kecil. Anggap saja rumah sendiri, tak lama lagi ini akan jadi rumah Ayu juga. Jangan sungkan. Kok manggil pak lagi, bukan pak, Papa."


"Ya, Pah. Gitu aja kok malu," bisik Yudis di dekat pucuk telinga. Yudis berada di belakang Ayu. Ayu diam menahan diri tak menengok ke belakang. Napas Yudis berhembus kencang di pipinya. Jika saja Ayu membalik badan maka ....


Ya Tuhan. Makhluk ini sukses membuat rona merah di wajah. Degup jantung berdetak tak karuan. Selalu saja mencari kesempatan dalam kesempitan.


Om Wijaya tersenyum. Ayu tampak tegang. Yudis kian senang. Merasakan juga getaran jiwa yang kian kencang.


"Ehmmm, masuk nak! Kita ke ruang tamu saja. Ada yang harus kita bicarakan."


Suara Om Wijaya mampu membuat angan kedua sejoli itu kembali pulang ke asal. Mereka berjalan mengikuti. Duduk manis seakan hendak di sidang. Ada apa gerangan maksud singa tua? Bikin deg-degan saja.


"Maaf, Yu, kondisi Papa tak memungkinkan untuk datang membicarakan ini pada Bapak di rumah." Om Wijaya menatap Ayu.


Ayu jadi salah tingkah. Apa maksud ucapan calon mertuanya?


"Tak apa-apa, Pah. Maaf bapak tak bisa juga datang ke sini. Makanya saya yang datang sekalian kondangan ketempat Cindy."


"Ini tentang tempat resepsi pernikahan kalian nanti. Tamu saya banyak. Rumah Ayu kan jauh, Nak. Makanya, papa berencana menyewa ballroom hotel Kencana di jalan Asia Afrika untuk resepsi nanti. Akad bisa di Sumedang. Resepsi kedua kita adakan di sini. Tenang, kalian tinggal datang. Kalian juga akan nyaman tinggal di hotel selama acara. Semua biaya papa yang tanggung. Anak papa hanya Yudis. Makanya ingin yang terbaik."


Ayu menarik napas panjang. Hal itu sudah terbayang dalam benaknya. Tapi, mendengar hotel. Terbayang tumpukan rupiah yang akan terbuang untuk pesta. Sayang rasanya hanya habis dalam sehari demi sebuah walimah megah. Uang itu mungkin akan lebih bermanfaat, jika di gunakan untuk yang lain.


Ayu lama terdiam. Sudah pasti idenya dianggap aneh. Papa Yudis pasti ingin berbuat yang terbaik bagi putra kesayangannya. Bingung. Takut. Segan. Bagaimana mengutarakan keinginan hatinya.


"Nak, apakah keluargamu keberatan atau kamu punya ide lain," tanya Om Wijaya yang tahu Ayu segan mengatakan sesuatu.


"Mohon maaf sebelumnya. Keluarga Ayu mungkin tak keberatan, tapi ...." suara Ayu tertahan karena ragu.


"Tapi, kenapa, Nak?"


"Maaf, Pah. Bukan Ayu menolak kasih sayang Papa. Tapi, alangkah lebih baik jika kita hanya melaksanakan resepsi sederhana saja. Biar tidak mewah asal sah. Bukan pestanya yang harus meriah. Asal bahagia dan sakinah sesudah akad nikah. Menurut hemat saya, alangkah bijaknya jika uang itu kita gunakan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat. Misalnya membangun klinik khusus dhuafa impian kak Yudis."


Ayu menunduk. Takut ucapannya membuat sang mertua berang. Tapi, Om Wijaya malah tersenyum bangga. Sejuta manusia satu yang berpikiran seperti itu.


Orang dengan ekonomi pas-pasan bahkan rela berkorban demi moment sakral sehari. Ngutang sana-sini agar mewah dan megah bak raja dan ratu. Demi prestise bermodal uang pinjaman. Nanti setelah kelar walimah tinggal puyeng kepala. Tertekan oleh tagihan yang harus segera diselesaikan.


Yudis tertegun. Entah dari apa otak tunangannya. Selalu berpikiran berbeda dengan kebanyakan orang. Tapi, pikiran yang penuh motivasi dan inovasi positif.

__ADS_1


Ayu terbiasa hidup sederhana. Segala sikap dan tindakannya tercipta dari didikan baik keluarga di tambah pendidikan agama di sekolah. Sehingga Ayu menjadi sosok tangguh dalam pemikiran dan pemahaman.


"Yudis setuju, Pah, tak usah mewah dan megah yang penting sah. Bukan penting pesta meriah sehari. Namun, setelah pesta kemana arah biduk akan di kayuh. Banyak yang berpesta sampai berhutang tapi rumah tangga tak langgeng. Pesta mewah tapi hanya sekejap mata. Tak penting pestanya Pah, yang penting siapa mempelai wanitanya." Yudis menatap Ayu di depannya. Lagi bertambah kagum pada si gadis gunung.


Ayu malah asyik melihat ketiga adiknya yang berebutan makan pizza. Mereka takut tak kebagian makanan asing yang hanya di lihat di TV kini memanjakan lidah mereka.


"Ya, di cuekin. Atit. Makanya jangan dulu punya buntut Neng sebelum nikah, abang menangis di anggurin," umpat Yudis kesal. Ayu menoleh pada Yudis.


"Eh, apa?"


Yudis menatap Ayu. Mereka beradu pandang. Yudis bangga bisa bersama gadis langka. Selain cantik fisik juga cantik akhlak. Banyak yang sempurna penampilan meski kadang rekayasa dempulan. Namun, tak banyak cantik karena akhlak dan kepribadian.


Ayu melihat setiap titik tampan wajah Yudistira. Rasanya tak percaya akan besarnya cinta sang dokter. Banyak perempuan cantik di luar sana. Mengantri mencari simpati dan cinta. Mengapa malah memilih ANAK GUNUNG. Sosok yang bagai tanah dan langit. Berbeda strata sosial dan pendidikan.


"Ehmmm .... Sabar ini hanya ujian. Jaga dulu pandangan. Tenang tinggal sebulan," goda Om Wijaya yang sukses membuat dua sejoli salah tingkah.


"Baiklah, jika ini keputusan kalian. Papa tadinya ingin membuat pesta meriah untuk kalian. Semoga kalian jadi Pioner bagi yang lain. Teladan bagi pasangan berikutnya. Pencetus kebaikan bukan pengikut. Pioner bukan follower. Nanti ada banyak orang yang berpikir jika walimah itu tak usah megah asal sah. Tak sabar menunggu hadirmu di rumah ini, Ayu," ujarnya sedikit kecewa juga bangga. Kamu pembawa perubahan positif dalam rumah ini. Menjadikan Yudistira kebanggaan kami. Menularkan virus kebaikan dalam hatinya yang gersang.


Impian pesta mewah dan megah dengan ribuan tamu dan kolega lenyap sudah. Om Wijaya menatap bangga pada pilihan putranya. Sangat sulit mendapatkan berlian seperti Ayu.


\*\*\*\*\*


Yudis menggeleng kepala kebingungan. Harus dengan apa merayu yang merajuk. Bibir monyong lima centi itu tampak menggemaskan. Ingin rasanya membungkam mulut itu dengan .... Ah, Dis. Belum waktunya. Nanti jika sah semua halal untuk di lakukan. Tunggu hanya sebulan. Jangan lakukan sekarang. Ingin first kiss dengan aturan yang benar. Hanya mampu menelan ludah karena tenggorokan yang kering.


"Ayu, kita ini fitting baju. Tahu apa artinya? Mencoba baju yang ada dan mengepaskan ukuran di badan. Jika semua baju selalu Ayu bilang kekecilan, kesempitan. kita nggak usah ke sini, pesan saja mukena untuk akad kita. Longgar, tak pas di badan dan gombrong sesuai harapan Ayu, " tegas Yudis pelan dengan frustasi.


Sudah satu jam memilih setiap gaun yang di kenakan selalu tak cocok. Ayu bilang kekecilan dan kesempitan. Lah, masak buat walimah pengen gomrong seperti pakaian sehari-hari. Sia -sia rasanya fitting baju ke bridal stylish ternama. Cukup minta pakaian dengan ekstra size cukup tanpa harus fitting segala.


"Apa Kakak rela?"


"Rela apa?"


"Ayu mau memakai baju ukuran pas di badan nanti, tapi benar ikhlas ya."


Yudis matanya berbinar-binar. Akhirnya mau ngalah juga. Dari tadi kek. Nggak mumet ini kepala.


"Ya ikhlas dong, asal kamu tampil paripurna dalam pesta sehari kita." Jawab Yudis semangat 45.


"Nanti semua orang akan melihat lekuk tubuh Ayu secara percuma. Mereka akan kagum dengan keindahan tubuh Ayu. Menikmati juga mengagumi. Padahal Ayu ingin semua hanya untuk kakak bukan gratis bagi semua orang," lirih Ayu pelan disertai semburat rona memerah di pipi.


Makjleb. Yudis menganga. Untuk lalat tak masuk di mulutnya yang mangap lebar. Jawaban yang membuatnya terpukau. Ajib. Mempecundangi dan membuatnya juga merasa jadi bagian teristimewa Ayu lestari.


Yudis menggeleng kepala. Ayu menolak semua demi dirinya. Tapi, Yudis malah ingin keindahan Ayu di jadikan tontonan semua orang. Malu bukan kepalang.


Kak, aku ingin semua hanya untukmu. Raga ini bukan konsumsi publik tapi khusus untuk dirimu. Hanya kamu yang tahu aku utuh.


Yudis tersenyum, kagum. Terima kasih, Tuhan. Sungguh bangga memperoleh makhluk limited edition.


\*\*\*\*\*


"Menolak ????" Pekik empat sahabat baiknya. Mereka sengaja berkumpul untuk membahas rencana pernikahan Ayu dan Yudistira.

__ADS_1


Makanan dan minuman di meja menjadi tak menarik lagi. Lebih asyik dengan topik walimah di hotel mewah yang di tolak mentah-mentah.


"Bodoh kamu mah, Yu," sesal Irniaty.


"Hooh, setiap orang berangan dan bermimpi jadi ratu dan raja sehari. Duduk di singgasana indah dengan balutan pakaian paling istimewa. Dieluk-elukan. Ini malah di tolak. Andai aku bukan di tawari tapi minta pesta yang super megah. Ayu ... " Thien nyerocos menyayangkan.


"Padahal lumayan kalau kamu setuju. Kita berkumpul bersama dalam satu ruangan besar dalam satu waktu. Kamu minta jatah undangan yang banyak. Jadi kita kondangan sekaligus reunian. Bagus kan. Tempat bagus, makanan enak lagi, mana gratis. Pas buat ngumpul alumni seangkatan. Bilang papa Yudis ralat, ok. Ayolah yu, " bujuk Eva yang tumben kekanakan kali ini.


"Kalian ini ngaco semua. Nasi sudah jadi bubur. Kita naik gunung lagi nanti pas akad dan walimah. Jadi siapkan mental dan fisik kalian." Nurasiah terkekeh. Empat sahabatnya lemas sudah terbayang tanjakan tajam ketempat Ayu.


"Bukan pestanya yang penting. Tapi sahnya. Juga kehadiran kalian. Semegah apapun party semua tak ada arti tanpa ada kalian di sisi. Love you all. Kalian adalah pelengkap hidupku." lirih Ayu memeluk empat sahabatnya.


Mereka berangkulan bersama. Memang tak bisa selalu bersama. Tapi, hati mereka terpatri dalam jalinan persahabatan yang tak lekang oleh waktu.


******


"Pak, tolong pertimbangkan lagi. Keluarga Yudis sudah setuju dengan Ayu. Mereka membatalkan pesta pernikahan. Masak kita malah mengelar pesta. Sayang uangnya mendingan buat sekolah Ratna dan adek Ayu lainnya. Lebih bermanfaat," rengek Ayu yang tahu bapak ingin menggelar syukuran dengan cukup mewah bagi ukuran kampung.


"Kamu itu gadis neng. Bukan janda. Jadi pernikahan nanti harus meriah. Apalagi besan bapak, jendral dari kota. Masak mau menerima tamu dengan alakadarnya. Malu atuh" jawab bapak.


"Celengan kami banyak. Baru kali ini hajatan besar. Simpanan puluhan tahun bisa di ambil sekarang. Kamu tak usah khawatir kami tak minta calon mertuamu," tegas Emak.


Ayu diam, bingung. Adat desa memang seperti itu. Setiap tetangga atau handai taulan hajatan selalu menyimpan beras, telor, daging, minyak atau sayuran lain untuk pesta. Mereka akan menyimpan dan mengambil saat hajatan nanti.


Bapak sudah menyimpan sejak menikah. Belum sama sekali di ambil. Mereka tidak punya hajatan besar karena semua anaknya perempuan jadi tidak mengelar hajat khitanan.


Ayu juga paham simpanan bapak sudah sangat banyak. Tapi, Ayu tak mau merepotkan mereka. Uang itu akan lebih berguna jika di pakai buat pendidikan adik-adiknya.


"Kalian mampu buat pesta, mengapa tak mampu buat kuliah Ayu. Padahal Ayu mendapat beasiswa full. Tinggal ada uang saku. Semuanya gratis" Ayu menangis. Tragis.


Emak bapak terdiam. Mereka merasa bersalah pada putrinya. Namun, mereka lakukan semata karena tradisi yang ada. Malu ketika teman sebaya Ayu sudah menikah dan mempunyai anak. Sedangkan putri mereka tak laku dan lambat menikah. Apalagi jika harus kuliah. Mungkin saat ini juga Ayu masih sibuk mengejar pendidikan bukan melenggang ke pelaminan.


"Sudahlah, ini persembahan terakhir dari kami. Ijinkan kami menggelar pesta untuk membahagiakan kamu, neng"


Ayu terdiam. Protesnya tak laku. Meski enggan tak kuasa menolak juga.


****


Yudis tersenyum di ujung telpon. Ayu mengadu tentang pesta yang akan di gelar orang tuanya. Padahal sudah bisa meyakinkan dan menaklukkan sang jendral tapi harus kalah merayu orang tuanya sendiri.


"Ayu harus bagaimana, kak ?"


"Sudah pasrah saja. Mereka ingin yang terbaik bagi anaknya. Ayu tinggal duduk manis dan menunggu kakak menghalalkan. Kita ikuti saja kemauan mereka. Ok"


Ayu merenggut. Percuma mengadu, Yudis malah terkekeh. Pasti tengah tersenyum di sana.


"Nanti jika Ayu ingin kuliah kakak akan membiayai sepenuhnya. Juga adek Ayu. Makanya jangan protes pada bapak lagi. Pendidikan adek adek kakak takan lepas tangan. Percayalah." Suara Yudis bagai oase menyejukkan hati.


Ayu mengangguk membenarkan. Pasrah sudah. Semua sudah di putuskan hanya menunggu sang Arjuna datang menghalalkan. Menunggu waktu untuk bertemu di depan penghulu.


To be continue~.

__ADS_1


__ADS_2