
Yudis tergesa membopong tubuh Ayu. Setengah berlari menuruni tangga. Otaknya seolah mati fungsi. Membawa sang istri menuju lantai satu dengan berjalan kaki.
"Dis, jangan lewat tangga," cegah Utari.
"Diem Luh, ini istri gue, jangan sok ngatur. Gua tahu yang terbaik buat dia. Jangan cegah gua."
"Sadar Yudistira!! Ini lantai sebelas lu mau bawa Ayu turun ke lantai satu. Ayu pingsan dan elu juga bernasib serupa," bentak Utari.
Yudis menghentikan langkahnya. Memutar badan masuk ke lift yang tak jauh di depan mereka. Utari secepat kilat menyambar kursi roda. Menyuruh Yudis menempatkannya di kursi roda.
Yudis tak bisa memeriksa dan menangani keadaan istrinya. Semua kemampuan medisnya lenyap seketika. Tangannya gemetar tak bisa berbuat apa-apa. Kakinya lemas, seolah tulang penopang sudah hilang dari raganya.
Utari maju menggantikan. Tangannya sigap membuka kancing gamis Ayu. Melonggarkan hijab panjang yang di pakainya. Membuat Ayu merasa senyaman mungkin.
Perlahan Ayu mulai membuka mata. Napasnya yang sesak sudah baikan dengan bantuan selang oksigen. Ayu menatap langit kamar rumah sakit.
"Aku di mana?" gumamnya lirih.
"Kamu di rumah sakit, Sayang. Alhamdulilah, akhirnya sadar juga. Maafkan aku," pinta Yudis menghiba.
Ayu memutar memori sebelum hilang kesadaran. Masih terngiang saat Utari bertanya 'apa lu sudah menghabiskan malam bersama dia' Saat itu langit seolah runtuh menimpa. Ayu seakan di hempaskan pada dasar kerak bumi. Hancur luluh lantak tiada bersisa.
"Pergi, jangan dekati aku. Jangan sentuh aku. Ayu tak mau melihatmu lagi." bentak Ayu dengan memalingkan muka.
Yudis berusaha memeluk Ayu. Utari mendorong tubuh Yudis. Menggeleng kepala. Menyuruh Yudis keluar. Mendorong tubuhnya menjauh dari Ayu yang terpuruk.
"Jangan ganggu dia dulu. Biarkan dia tenang. Gue yang temenin dia. Hanya perempuan yang bisa memahami perempuan. Pergilah!" Katanya pada Yudistira.
Yudis tak pergi, hanya menyandarkan tubuhnya di tembok rumah sakit. Seluruh tulang penyangga seolah remuk. Kakinya lemas tak kuasa berdiri.
Di sisi lain tembok penghalang Ayu mematung. Wajahnya tanpa ekspresi. Datar. Tak ada senyum atau tangisan. Tatapan matanya kosong. Ayu tertunduk dan menekuk lututnya.
Melihat ekspresi Ayu, Utari malah ketakutan. Ini adalah ekspresi orang yang depresi. Lebih berbahaya dari pada seseorang yang meronta dan menjerit histeris.
Yu, apa kamu baik-baik saja?" Pertanyaan konyol. Bagaimana bisa fine setelah tahu semua yang terjadi.
Ayu mematung tak menjawab.
"Jangan memendam. Jika ingin berteriak lakukanlah. Kalau ingin menjerit dan menangis jangan di tahan. Luapkan semua bebanmu. Aku di sini untukmu. Kamu tak sendiri."
"Kak Utari, hiks .... " hanya itu yang terucap.
Sisanya tangisan pilu. Semua beban sebulan Ayu tumpahkan hari ini. Hatinya bagai di sayat sembilu. Tak menyangka Yudis akan menghianati.
Segala beban Ayu simpan sendiri tanpa berbagi. Bagaimana bisa berbagi pada orang lain. Itu akan mengorek aib sendiri. Yudis pergi karena Ayu tak mampu memuaskan hasrat suami hingga mencari kepuasan di luar rumahnya. Sudah sebulan Ayu dan Yudis tidur terpisah. Yudis enggan menjamah. Ternyata servis Risma lebih memuaskan.
Yudis yang mendengar tangisan Ayu kian lemas. Tak lagi merasa malu dengan tatapan orang sekitar, menangis sesenggukan.
Yudis merebahkan dirinya di dinding rumah sakit. Kakinya sudah tak mampu berdiri. Kini terkulai lemas dan berbaring di lantai rumah sakit. Memegang kepalanya yang sakit seakan mau pecah.
"Pantas saja kak Yudis sudah tidak mau menyentuhku, ternyata ada Risma yang telah memuaskan hasratnya. Kenapa dia tidak menceraikan aku saja. Jangan membuat aku merasa hina Seperti ini."
Biadab kamu Yudis, Yudha suamiku pernah punya WIL tapi justru sikapnya begitu mesra karena merasa bersalah. Dia tak pernah berkurang kasih sayang pada keluarga. Malah lebih care pada kami semua.
__ADS_1
Utari menghela napas panjang, turut merasakan beban di hati Ayu.
"Yudha juga pernah punya WIL. Selingkuhannya datang menemui. Dengan bangga memproklamirkan diri. Aku damprat dia habis. Kumaki dan kutampar wajahnya biar sadar. Jadi simpanan kok bangga.
Tak hanya wanita itu, ku damprat dan seret juga Yudha. Aku katakan pilih siapa dia atau aku. Jika pilih aku, jangan temui dia. Lupakan dia. Tapi jika pilih dia, pergi sekarang juga. Lupakan pernah punya anak istri. Anaknya hanya milikku sendiri.
Aku tak mau alasan syurga untuk sekedar menghalalkan nafsu syahwatnya. Mengatakan ingin poligami. Cih, syurga itu banyak pintunya. Jika hanya poligami juga takan pernah aku pilih. Lebih baik hidup sendiri. Itu prinsipku, entah kamu, Ayu.
Yudha sangat mesra jadi aku curiga dia ada udang di balik batu. Makanya heran jika Yudis malah mengacuhkanmu"
Ayu terdiam. Pesona Risma begitu membius suaminya. Hingga lupa segalanya.
"Selamatkan keluarga kalian. Ingatlah betapa susah payahnya kalian bisa sampai ke titik ini. Jangan hancur karena kehadiran orang ketiga. Dia adalah badai yang datang, tapi kalian adalah karang kokoh yang siap menerjang badai. Berpikir jernih menghadapi semua ini. Boleh kamu marah, tapi rumah tangga adalah biduk yang penuh badai bukan hanya sesuatu yang datar saja. Kadang ibarat angin sepoi-sepoi atau juga topan yang sedia menghancurkan. Bicaralah pada Yudis baik-baik. Dengan kepala dingin."
"Aku benci dia, kak Tari. Tak ingin melihat wajahnya lagi. Seperti dia jijik melihat wajahku, aku juga jijik melihatnya."
Yudis kian lemas. Yudis menghindar dari Ayu karena merasa diri hina dina. Tak patut menyentuh Ayu yang suci. Tapi, sikapnya diartikan lain oleh Ayu. Hatinya teriris perih. Kian kentara jika sikapnya memang salah. Harusnya dia terbuka pada Ayu tentang semuanya.
"Kamu pengen tahu obat hati, labrak cewek itu. Maki sepuasnya. Jambak dan seret dia," ujar Utari berbisik. Tak ingin Yudis yang menguping mendengar. Takut jika Yudis akan menolong wanita itu.
"Aku save nomor dia. Curiga beberapa kali datang ke sini dan juga menelpon saat Yudis di meja operasi. Diam diam aku simpan nomornya. Tadinya akan aku tangani tanpa sepengetahuan kamu, Ayu. Tak dinyana malah ketahuan duluan."
Ayu mengangguk membenarkan ide Utari. Ingin bicara empat mata pada Risma. Jika bicara pada Yudis itu kurang Afdhal. Lelaki bisanya pandai berkelit. Banyak alasan apalagi Yudis orang dengan sejuta gombalan. Tak ingin Ayu terayu, rayuan mautnya.
\*\*\*\*\*
Risma Aprilia tengah tersedu. Apakah cinta haram baginya? Cinta pertama membuatnya hampir meregang nyawa. Nasib cintanya juga berakhir di palu pengadilan.
Putus sekolah karena MBA. Angga sang suami begitu di cintai hingga akhirnya menyerahkan segalanya. Menghancurkan masa depan. Harus putus sekolah karena berulah.
Kini cinta pada Yudistira hanya bertepuk sebelah tangan. Sebulan yang lalu Risma menguntit di belakang Yudis. Maklum pengaruh alkohol melumpuhkan separuh kesadarannya. Dia tidak berpikir ada istrinya atau tidak. Berbaring di ranjang yang sama.
Menikmati malam yang indah bersama Yudistira. Risma pikir Yudis juga menikmatinya. Sayang reaksi Yudis ketika subuh tiba, di luar perkiraan.
Yudis mengamuk dan mengusir paksa. Harga diri Risma kian hancur. Merasa diri hina dan tak di butuhkan.
Namun cinta membuat buta. Risma tak lelah mengejar Yudistira. Siang tadi menemui di sebuah Mall. Bukan perhatian dan kasih sayang yang di dapatkan. Namun, sikap kasar dan pengusiran.
Sama sekali tak ada kesan pada cinta semalam. Yudis mengusir merasa jijik dan berlalu pergi.
Mengapa tidak bisa menikmati cinta haram senyaman Intan, sahabat karibnya. Teman mencurahkan segala beban. Orang paling tahu setiap titik penyiksaan suaminya.
Orang pertama yang tahu betapa kasar perangai Angga. Namun, dia seumpama pagar makan tanaman. Menikung dari belakang. Bermain cinta dengan Angga dan menghancurkan biduk rumah tangga. Intan nyaman tanpa merasa bersalah.
Duhai hati, akhirnya engkau terluka lagi. Maaf, jika berdarah dan bernanah lagi. Sudah tahu Yudis beristri namun menerobos paksa tanpa permisi.
Padahal Risma dulu begitu shalihah. Tak pernah meninggalkan shalat lima waktu. Selalu berpakaian tertutup. Hingga Angga datang dan merubahnya.
Menikah dengan Angga yang di sangka bakal hidup di syurga ternyata malah neraka.
Sang buah hati yang membuatnya menikah dengan Angga meninggal ketika terlahir kedunia. Juga prilaku kasar dan semena-mena membuatnya melepas hijab yang di pakai selama ini.
Prustasi menyalahkan keadaan yang ada. Menyalahkan takdir Tuhan. Seolah suratan tak berpihak kepadanya.
__ADS_1
Kini dia menjadi seperti Intan. Menghancurkan masa depan seseorang. Risma memeluk lutut, menangis sejadinya. Bodoh. Di khianati itu sakit. Di ganggu orang ketiga itu luka. Mengapa melakukan hal yang sama. Rutuknya.
Bisakah kembali ke masa lalu? Takan kugadaikan makhota suci dan menghancurkan masa depan. Juga takan berbuat bodoh mengejar cinta sepihak pada Yudistira.
Malam kian larut Risma kian merana.
\*\*\*\*\*
Ayu gelisah. Sudah tiga puluh menit berlalu dari janji semula. Risma tak kunjung datang.
"Ayu lestari, kan?" Sapa ramah Risma saat tiba di kafe tempat janjian dengan Ayu.
Risma memeluk Ayu dan begitu bahagia bertemu sahabat lamanya. Namun, Ayu mematung. Tak ada reaksi apapun. Risma melepas pelukannya. Heran, seheran ketika sebuah pesan masuk ke ponsel yang tak di kenal untuk bertemu di tempat ini.
"Jadi berbeda sekarang, apa kabarmu? Kenapa mengirim pesan untuk bertemu di sini?" tanyanya bertubi.
Risma bertanya masih dengan perasaan bahagia karena berjumpa dengan sahabatnya.
"Aku istri dari Yudistira Hadi Wijaya."
Ayu berkata dengan gemetar, suaranya tercekat di tenggorokan. Sakit. Ingin rasanya melakukan hal yang sama dengan Utari. Menampar, menjambak rambut, menyeret bahkan menginjak-injak tubuh perempuan cantik di hadapannya.
Risma kaget bukan kepalang. Tubuhnya yang tengah berdiri di hempaskan kasar pada kursi kafe dengan kasar.
Merasakan sakit di dada. Ayu mendapat perlakuan yang sama seperti dirinya. Di khianati sahabat sendiri. Lemas lutut Risma mengetahui kenyataan yang ada.
Risma lebih tahu dari siapapun betapa sakitnya di khianati sahabat sendiri.
"Kenapa kamu jadi begini, Ima? Kemana hijabmu? Mengapa berpakaian seperti ini?"
Ayu menyayangkan penampilan Risma yang terbuka. Kumat lagi kebiasaan lama Yudistira. Suka dengan perempuan seksi dan terbuka. Ternyata pernyataan kagum atas penampilan syar'i sang istri bohong semata.
"Karena hidupku tak seindah hidup orang lain. Aku tak pernah bisa bahagia. Hidupku penuh luka. Bukan hidup yang mudah dan sempurna seperti orang lain."
"Lantas karena itu bisa di jadikan alasan berbuat seperti ini? Jika kamu tak bahagia lantas orang lain juga harus bernasib serupa?"
Risma diam.
"Mengapa kamu melakukan hal bodoh dengan suamiku?"
"Bukan hal bodoh, Yu. Itu ekspresi cintaku. Maaf, aku jatuh cinta pada suamimu, tak bisakah kamu berbagi sedikit kebahagiaanmu padaku? Aku juga ingin bahagia seperti yang lainnya," jawab Risma dengan tatapan kosong.
"Suamiku bukan sepotong roti yang bisa kubagi. Bukan minuman yang sekaleng bisa kita nikmati bersama. Dia manusia, Ima.
Dua tahun kami menikah, aku tidak akan memasungnya di sisi. Mempertahankan orang yang tak lagi mencintaiku. Mempertahankan seseorang yang tak lagi sayang. Jika kamu bisa berbahagia bersamanya aku ikut bahagia. Aku tak mau membuat dia hidup tanpa bernyawa. Ambillah! buat dia bahagia. Aku akan mengalah," kata Ayu seraya pergi meraih tas di meja.
Meninggalkan Risma yang kebingungan. Entah ada apa dengan Ayu dan Yudistira? Meraka Seperti ada kesalahpahaman. Sudah jelas Yudis sangat mencintai istri dan mengacuhkannya.
Ayu membanting pintu mobilnya dan menggas melajukan mobilnya tanpa arah tujuan.
Aku akan pergi kak Yudis. Takan aku mengemis cinta. Aku akan pergi jika kamu bersama Risma bisa bahagia dan punya banyak buah cinta. Aku akan mengalah. Karena tak lagi di butuhkan
...Bersambung~...
__ADS_1