PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.32


__ADS_3

Pagi buta Yudis sudah berada di pembakaran sampah. Asap membumbung tinggi ke angkasa. Menghitam. Sehitam hatinya yang lara.


Bad cover dan seprei yang di pakainya semalam sudah hangus di lalap api. Jika tak ingat dosa ingin rasanya juga masuk pada api pembakaran sampah. Supaya hangus semua kotoran di tubuhnya.


Mata Yudis sembab. Selalu menangis mengingat kejadian semalam. Bodoh. Mengapa tak mampu mengenali siapa yang ditiduri semalam.


Jika tak malu ingin rasanya menjerit-jerit meluapkan amarahnya di hati. Namun apa kata tetangga jika melakukan hal itu di pagi buta. Masa bodoh jika di katakan sebagai lelaki cengeng. Apakah lelaki tak boleh menangisi dosa?


Berulang kali masuk dan keluar kamar mandi menggosok kasar tubuhnya dengan sabun mandi. Merasa najis dan kotoran menempel di badan. Tetap saja merasa badan berlumur kotoran dan noda.


\*\*\*\*\*\*


Hari sudah siang. Yudis belum juga beranjak dari tempat pembakaran sampah. Berjam hanya menatap onggokan abu di hadapannya. Seolah ingin bayangan semalam juga menjadi puing yang hilang.


"Assalamualaikum, kak. Maaf Ayu tak pamit langsung dan hanya mengirim SMS. Kemarin ponsel kakak mati, jadi Ayu tak bisa menghubungi. Kakak rajin amat, bakar apa ?"


"Eh, ini bakar sampah" jawab Yudis memalingkan wajahnya. Tak sanggup menatap wajah sang istri.


"Ohh, kakak lupa jawab salam loh." Ayu mendaratkan ciuman di pipi Yudis. Yudis terkejut. Merasa jika pipinya sudah penuh najis tak pantas jika di sentuh Ayu.


"Aih, baru semalam di tinggal sudah melamun saja. Sudah jangan bengong. Ayu ganti baju ke kamar ya" goda Ayu yang pergi ke kamar.


Kamar. Tuhan. Mendengar kata itu Yudis gemetar. Masih terbayang kejadian tadi pagi saat melihat Risma tanpa busana di sampingnya. Syok dan juga malu. Lagi-lagi sebuah air bening mengalir di ujung netra. Lama kemudian menjadi guncangan hebat tanda tangis tertahan.


*****


Ayu kaget melihat kasurnya tanpa seprei dan bedcover. Kemana benda yang kemarin menutup ranjangnya. Baru juga di ganti. Tak biasa ranjang itu tanpa penutup. Apakah yudis yang mengganti. Tapi, baru kemarin di ganti mana mungkin bisa kotor dalam semalam.


"Kak, seprei sama bed cover kemana ? Ayu baru ganti loh, kok ganti lagi."


"Eh, itu. Anu. kotor jadi kakak kirim ke laundry." Lagi Yudis menghindar. Mencoba menjauhi Ayu.


" Ooh, ya sudah, Mata kakak sembab, kenapa kak ?" tanya Ayu heran.


"Ini kenapa asap jadi merah."


Yudis berlalu, bergegas ke kamar. Ayu hanya menggelengkan kepalanya. Heran. Ada apa dengan kak Yudis hari ini. Aneh.


Langkah Yudis tertahan di daun pintu. Semerbak wangi pewangi ruangan memanjakan hidungnya. Kamar itu tampak rapi. Begitu nyaman jika membaringkan badan. Tempat memadu kasih dengan sang istri. Tempat paling indah di rumah ini.


Kini tiada lagi. Yudis benci melihat pembaringan yang rapi dengan seprei dan selimut lembut itu. Ingin rasanya membakar semua benda yang pernah di sentuh oleh perempuan binal itu.


Membakar ranjang yang menjadi saksi perbuatan terkutuk tadi malam. Yudis mempercepat aktivitas di dalam kamar yang membuatnya jadi pecundang. Tempat kerja sudah menunggu.


"Yu, kakak pergi. Ada operasi. Assalamualaikum," ujar Yudis tanpa menunggu jawaban salam atau mencium istrinya. Hal wajib yang di lakukan sebelum berangkat kerja.


"Kakak belum makan siang, ya Allah, sudah pergi. Wa'alaikum salam," jawab Ayu heran.

__ADS_1


Semoga tidak ada masalah besar yang tengah menghantuimu, kak. Kamu membuatku khawatir saja.


\*\*\*\*\*


Ayu berguling kanan dan kiri. Gelisah tak bisa memejamkan mata. Tangannya memeluk guling yang selalu setia. Matanya menatap pembaringan dengan bantal kosong. Tak ada lagi Yudistira yang terlelap di sampingnya.


Sudah sebulan pembaringan itu kosong. Yudis selalu sibuk beraktivitas di ruang perpustakaan. Terlelap di sofa di sana.


Kreeek.


Ayu membuka perlahan pintu perpustakaan. Tak ingin mengganggu Yudistira yang terlelap dengan wajah yang lelah.


Ayu duduk di lantai. Menyapu lembut wajah Yudis yang sebulan ini masih dekat di sampingnya, namun merasa begitu jauh. Sudah lama tak mencium mesra wajah ini.


Layar laptop masih menyala. Yudis pasti kecapean dan ketiduran tanpa menonaktifkan laptopnya.


Ayu memandang pilu. Bulir air mata perlahan menetes menjebol ketegaran hati yang di sembunyikan. Dalam diam Ayu menangis. Meratapi perubahan sikap suami yang dingin dan selalu menghindar.


Tesis atau orang ketiga kah yang telah merampas kebersamaan kita? Tak inginkah kamu menyentuhku. Bagaimana impian papa bisa terwujud jika kamu menghindar dan tak mau menyentuh ragaku?


Tak sudikah kini kau tidur bersamaku? Apakah aku ini najis yang perlu kau jauhi dan hindari? Tak berarti lagi diri ini untukmu? Apa ada orang lain di hatimu sehingga aku tak lagi berarti dan kau mengacuhkanku?


Apakah kau begini karena aku tak mampu memberi keturunan? Bukan inginku, bukan Mauku. Aku orang yang paling mendamba lahirnya buah cinta.


Jika memang kau ingin berpoligami mengapa tak kau katakan. Sudah berulang kali ku bilang. Aku ridho jika itu bisa membuatmu bahagia. Namun, jangan kau acuhkan aku. Sungguh diri merasa tak berarti,lebih hina dari seonggok sampah.


Ayu pergi kuliah tanpa pamit. Membawa luka yang menganga. Bukan tak ingin mendekat lagi. Tapi aku juga masih punya harga diri. Jika kau menghindar aku juga takan menghiba meminta belas kasihan.


\*\*\*\*\*


Ayu bersyukur kini bisa kuliah. Berjumpa teman di sana. Setidaknya sejenak lupa pada beban hati yang tengah menghimpitnya. Suasana kampus yang ramai sejenak membuat penatnya hilang.


"Yu, tahu nggak? Kita punya dosen baru. Duren. Aih, pasti ganteng dia. Semoga bisa jadi gebetan gua." Cerocos Linda. Sahabat Ayu di fakultas yang sama.


"Ah, kamu mah, mau duren ok, perjaka iya," ledek Ayu.


"Yah, Ayu. Nggak peka. Aku ini jomblo akut. Wajar saja pengen cepet punya gandengan kayak kamu." jawabnya tersipu.


"Ikut nggak?"


"Mau, kemana tapi ... "


" Aku lagi pengen makan di tempat biasa. Aku traktir kali ini," jawab Ayu seraya pergi.


Linda si tukang makan, girang menguntit di belakang.


Mereka masuk di sebuah mall besar di kota Bandung. Menaiki eskalator menuju lantai empat.

__ADS_1


"Yu, apa itu Yudis bukan?" Linda menunjuk pada sosok laki-laki dengan perawakan seperti Yudistira. Juga jas putih kebesarannya.


Deg.


Jantung Ayu seakan copot dari pangkalnya. Sesak. Tak mungkin itu Yudis. Pria itu tengah di peluk seorang perempuan. Cantik. Sayang wajahnya terbenam di tubuh pasangannya. Sekilas wajah pria dan wanita itu seolah di kenalnya.


"Bukan, ayo nanti kehabisan. Nggak jadi traktirannya loh." Jawab Ayu menghindar. Namun tak bisa memungkiri hatinya yang tak karuan


Ayu berusaha menelan makanan yang baginya seumpama kerikil tajam yang melukai mulut dan tenggorokan. Perih. Sakit. Membuatnya bahkan susah untuk menelan ludah.


"Yu, semoga itu bukan Yudis. Sabar ya," lirih Linda menghibur. Linda tahu jika Ayu terluka. Dia yakin pria yang dilihatnya adalah Yudistira.


Ayu mengangguk. Mempercepat makan untuk memastikan itu Yudis atau bukan.


\*\*\*\*\*


Ayu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ingin segera mengkonfirmasi penglihatannya. Jelas tadi adalah Yudis, suaminya. Bersama Risma. Teman saat SMA.


Risma adalah pesaing terhebat. Cantik. Berperawakan tinggi dan berbadan atletis. Hobynya bermain voli. Orangnya sangat supel.


Sangat fashionable. Entah apa profesi ayahnya. Yang jelas dia orang yang cukup terpandang. Terlihat dari penampilan yang sangat up to date. Pakaian selalu rapi dengan model terkini.


Risma orang yang sangat populer diantara kawan lainnya. Cantik dan murah senyum. Selalu menjadi primadona bagi kaum Ikhwan satu sekolah.


Bertahun tak berjumpa kini malah terlihat memeluk suaminya. Ini alasan kau mengacuhkanku. Sebab ini kau menjadi dingin padaku. Dia memang lebih cantik dariku. Ah, Kak Yudis jika kamu bilang ingin mendua aku tak akan sesakit ini.


Bukankah sudah ku katakan untuk mencari maduku. Aku rela asal dengan ijinku. Bukan main di belakang.


Ayu memarkir mobilnya di lantai basement. Menutup kasar pintu mobilnya. Dengan cepat mencari keberadaan Yudistira.


"Tadi ada sama dokter Utari. Mungkin lagi di lantai paling atas atau atap rumah sakit. Bisanya itu tempat pavorit mereka." Seorang perawat memberi tahu keberadaan Yudistira.


Ayu naik lift dan memijit tombol angka sebelas. Lantai sebelas adalah lantai terakhir rumah sakit.


Ayu menepi saat terdengar Utari histeris membentak Yudistira. Mereka tampak dalam pertengkaran hebat.


Plakkkkk


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yudis. Ayu meringis ikut menahan rasa sakit yang di rasa suaminya. Tapi, hanya diam terpaku. Sungguh dia juga ingin melakukan hal yang sama.


Menampar, menyeret dan menjambak rambut Yudistira. Meluapkan emosi yang sebulan yang memuncak hari ini.


"Lu nggak usah ngeles lagi. Gue udah curiga, lu ada main sama itu cewek. Bukan kata orang, gua lihat dia bolak balik nyari lu. Nelpon lu. Bahkan tadi di mall gue lihat dia peluk mesra lu. Memang lu nggak bales, mungkin karena lagi marahan. Ngaku lu! Lu sudah menghabiskan malam sama dia? Tega lu, Dis. Kurang apa Ayu? Lu tega mengkhianati .... Ayu !!!"


Utari berhambur memburu tubuh Ayu yang limbung dan jatuh di atas tembok beton. Ayu pingsan.


Yudis berlari bak di kejar syetan memburu tubuh istrinya. Menangis sejadinya karena perasaan bersalah.

__ADS_1


...Bersambung~...


__ADS_2