
Mobil Yudis masuk pekarangan rumah. Sepi. Rumah itu seolah tak berpenghuni. Ayu sering pulang terlambat dengan alasan kegiatan kampus. Padahal Yudis tahu ingin menghindar dan melupakan lara hati.
Gazebo yang biasanya ramai dengan anak tetangga kini kosong melompong. Tak ada canda tawa atau riuh teriakan bocah yang main di sana.
Biasanya tiap hari, jika Ayu ada maka tetangga berkumpul bercengkrama. Sekedar hanya mengasuh anak di depan rumah. Beberapa waktu lalu rumah itu seperti rumah singgah tak pernah sepi. Ayu senang menjamu mereka walau hanya dengan makanan kecil sederhana dan air teh tawar yang disuguhkan secara percuma.
Kolam renang di samping rumah tampak lengang. Biasanya Ayu duduk membaca buku di tepian sambil membawa makanan. Menunggu Yudis pulang. Tak ada lagi secangkir kopi dan cemilan terhidang di meja. Hanya riak air dan sampah mengambang menghiasi sudut sana.
Ruang tamu yang biasanya di jadikan tempat bermanja juga tak lagi ada siapa-siapa.
Ruang keluarga tempat menonton TV dan berdebat berebut Chanel pavorit juga lengang. Tanpa ada TV menyala.
Rasa haus mengantarkan Yudis kedapur. Tempat pavorit Ayu menyiapkan makanan untuknya. Kadang masak bersama. Biasanya Mak Inah akan berteriak kesal saat bahan makanan jadi guyonan. Tepung dan telur tumpah di mana-mana. Kini dapur itu tampak teramat rapi dan bersih, persis seperti sebelum Ayu menjadi penghuni rumah.
Sayup Yudis mendengar suara kecapi suling. Musik mistis khas Sunda yang begitu menyayat hati. Suara dentingnya seakan mengoyak hati.
Yudis berjalan mendekati sumber suara. Kamar Yudis dan Ayu yang sudah lebih dari sebulan di tinggalkan.
Yudis mematung di ambang pintu. Terdengar suara tangis Ayu di sela suara dentingan kecapi. Ayu tengah melihat video pernikahan mereka. Tangisnya kian menjadi, saat video sedang memutar akad nikah. Terdengar suara sah.
Yudis berlari memeluk istrinya.
"Maafkan aku, sayang."
Ayu hanya diam. Tak berontak atau mendorong tubuh Yudis. Tatapan matanya kosong. Air mata mengalir di pipi.
"Jangan diam begini, marahi aku. Bentak aku. Pukul, sayang. Cakar atau seret juga tak apa. Tapi tolong jangan diam membisu."
Yudis mengambil tangan Ayu. Memukulkan ke wajahnya sekeras mungkin. Wajahnya memerah juga tangan Ayu. Ayu masih tanpa reaksi.
Yudis membingkai wajah istrinya dengan kedua tangannya. Menatap matanya. Mengusap air mata yang mengalir deras meluncur di pipi yang terlihat sangat tirus. Ayu membalas tatapan itu. Sebulan mereka tidak bisa begitu dekat seperti ini. Kali ini mata mereka beradu pandang.
Bersama dalam satu atap tapi begitu terhalang sekat. Seolah ada jurang pemisah diantara keduanya. Tebing curam menjadi penghalang komunikasi.
Dua bulir air bening kembali mengalir di ujung netra. Seolah Mata Ayu berkata, mengapa?
"Kita akhiri semua. Cerai saja. Sudah cukup kita saling mencintai. Cukup saling menyakiti."
Yudis tak terkejut dengan permintaan istrinya. Mengambil napas yang dalam. Dadanya sesak.
"Yakin ingin melakukan hal itu?"
Ayu diam.
Mengapa berkata demikian, kak? Bukannya menolak. Apa kamu tak tahu, jika aku tak sanggup berpisah dari kamu sedetik saja. Bagaimana jika berpisah selamanya?
"Aku tahu kamu tak yakin, karena di hatimu aku masih bertahta. Kamu tak ingin kehilangan aku, Ayu."
Ayu membenarkan dalam hati. Tak terucap di lisan.
"Kita tak bisa terus seperti ini, semuanya harus kita akhiri sampai di sini. Sudah cukup. Lebih dari sebulan kakak menganggap aku tak ada. Jangan menambah dosa, pergilah! Menikahlah dengannya. Cukup berpetualangnya. Apa kakak tidak lelah berpetualang cinta sedari bujang? Cukup Ayu lestari jadi korbannya jangan ada orang lain lagi yang terluka."
Yudis menarik napas panjang.
__ADS_1
"Kita pernah melewati masa sulit bersama sebelum menikah. Kakak mohon kita bisa bergandengan tangan bersama menghadapi masalah ini."
"Beda, Kak. Jika dulu Ayu maju di garda terdepan karena kakak tak melakukan. Kini, mata Ayu menjadi saksi kakak dan Risma di mall bersama. Telinga Ayu mendengar langsung, kakak menghabiskan malam bersamanya. Raga ini juga jadi saksi betapa dinginnya sikap Kakak. Sudahlah, jangan banyak alasan." Ayu membuang muka. Muak.
Yudis mengelus dada yang sakit.
"Kamu tahu siapa perempuan korban KDRT yang kakak tolong selama ini?"
Bodoh amat siapapun dia tak ada urusan. Jangankan memikirkan masalah orang lain. Masalah sendiri juga sudah banyak. Gerutu Ayu di hati.
"Risma adalah perempuan itu, lalu ..."
"Jatuh cinta dan melakukan hubungan terlarang," potong Ayu.
Yudis mengelus dada. Berusaha tenang.
"Suatu hari aku pulang dinas dan mendapati Risma hendak di gagahi oleh dua orang berandalan di jalan. Qadarullah, harus menolongnya lagi.
Dia syok berat juga dalam pengaruh alkohol. Defresi dan meracau ingin bunuh diri karena kenyataan hidup yang tak sesuai ekspektasi.
Aku bingung harus bagaimana. Tak mungkin aku membiarkan dia meregang nyawa. Bagaimana jika dia bertindak bodoh?"
Yudis terhenti bicaranya. Melihat Ayu yang mulai fokus mendengar ucapannya. Matanya mencoba menerka kemana arah ucapan sang suami.
"Hari sudah larut, malam itu. Rumah sudah biasa gelap gulita. Hanya temaram. Aku tak tahu jika kalian tak ada di rumah. Seharian aku sibuk di meja operasi, tanpa mencek ponsel yang kumatikan. Makanya tak tahu jika rumah dalam keadaan kosong." lagi Yudis terhenti. Seolah tak sanggup meneruskan kata.
Ayu hanya diam tanpa menyela. Bingung ke mana arah cerita suaminya.
"Risma kutempatkan di kamar tamu. Sengaja tak membangunkan kalian. Takut membuat kehebohan. Niatnya, besok pagi akan memberi tahu dan menjelaskan semuanya. Namun, dia menguntit di belakang dan terjadilah hal yang tidak di inginkan itu."
"Sejak kapan kakak jadi pemabuk?"
"Apa?! Aku pemabuk?"
"Ya, hanya seseorang yang tengah dalam pengaruh alkohol yang tidak mengenali istrinya sendiri. Bodoh!!!" ujar Ayu geram.
"Aku merindukan kamu. Sudah lama kamu tidak kuberi nafkah batin, jadi aku melakukannya. Entahlah setan apa yang merasuki saat itu. Jujur tak pernah, aku ingin menghianati. Hanya kamu yang di hati dulu, sekarang dan selamanya."
Ayu memalingkan muka muak.
"Maafkan aku, itulah mengapa aku tak mau masuk peraduan kita sejak saat itu. Bukan karena aku tak mencintaimu, atau juga aku membenci dirimu. Hanya aku merasa diri ini begitu hina. Makanya aku tak lagi menyentuh kamu yang begitu suci. Bagaimana bisa aku tidur di peraduan kita jika bayang kejadian malam itu terus menghantui."
Yudis mulai terisak. Ini adalah jalan terakhir, usaha terakhir untuk menyelamatkan keluarganya. Entah berhasil atau tidak. Yudis tak perduli. Asalkan Ayu tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Yudis bersujud mencium kaki istrinya, perempuan satu-satunya yang Yudis kasihi dan cintai.
Ayu tak sanggup melihat suaminya mencium kaki.
"Jangan lakukan itu, kak!"
Ayu mengangkat wajah Yudis dengan kedua telapak tangannya. Melihat dari dekat wajah yang begitu kurus dan tak terawat. Ayu baru menyadari jika wajah Yudis kumal tak terurus. Melihat jika Yudis tak berdusta dan sangat tersiksa.
"Tempatmu bukan di sana, tapi di sini, dihatiku."
Perlahan Ayu mendekap kepala Yudis di dada. Tempatmu bukan di kaki, tapi di hati. Mungkin kita akan berpisah, namamu takan terganti. Mungkin takdir akan menghadirkan nama lain, tapi tahtamu takan tergantikan.
__ADS_1
Mereka berpelukan. Ayu teringat pesan bapak semalam sebelum hari pernikahan.
"Neng rumah tangga teu saendah ciptaan. Hirup bakal mendak lungkrang Jeung jurang. Kadang paketrok Jeung batur sakasur, dulurku, Oge papada batur. Omat tong talobeh. Tong ngarasa bener sorangan. Peupeujeuh caroge sanes maha dewa tanpa dosa. Cing asak hampura. Supaya langgeng salawasna. Geuing Mun salah supaya mulang ka asalna. Lain hartosna cicing anjeun Oge kudu bisa nangtukeun sikep.
Translate:
Neng, hidup rumah tangga tidak seindah impian. Akan menemui banyak halangan dan rintangan. Kadang bertengkar dengan teman sekasur, saudara atau tetangga. Banyaklah mengalah. Jangan merasa benar sendiri. Suami bukan maha dewa tanpa dosa. Banyak memaafkan supaya abadi selamanya. Ingatkan jika salah supaya pulang ke asal. Bukan berarti juga selalu diam. Kamu juga harus bisa mengambil sikap.
Ayu memang tak mempercayai Yudistira seratus persen. Tapi, juga tak pernah melihat suaminya berdusta selagi berumah tangga. Hidupnya selama ini semanis madu. Hingga harus mengecap pahitnya empedu ketika Risma datang bagai kilat yang menghancurkan. Makanya Ayu percaya.
"Mengapa kau menganggap aku jatuh cinta pada Risma. Kamu juga tahu betapa cantik dan sempurna penampilan Cindy. Dia jauh lebih sempurna di bandingkan dengan Risma. Kamu lihat aku lebih memilih kamu. Karena aku sudah tidak bisa pindah ke lain hati. Aku cinta mati padamu."
"Bagaimana jika Ayu tak bisa memberimu anak." suara Ayu terdengar begitu pilu.
"Dengan atau tanpa si kecil tak pernah terlintas niat membagi cinta. Kita bisa bahagia tanpa anak, yu. Aku akan pastikan itu."
"Bagaimana dengan Papa? Kamu adalah satu-satunya pewaris nama besar Hadi Wijaya. Jika kamu tidak punya keturunan, maka nama besar Hadi Wijaya akan berakhir. Aku rela di madu, Kak. Asal jangan bermain di belakangku. Kamu bisa menikah dengan wanita pilihan, siapapun. Dengan Risma juga. Dia sahabatku sewaktu SMA."
Yudis terperanjat dan melepas pelukannya. Kaget jika ternyata Risma adalah sahabat Ayu.
"Risma sahabatmu?"
"Ya, dia sahabatku saat Aliyah. Jika kamu tidak melihat Risma pada resepsi kita. Itu karena dia sudah lebih dulu menikah karena MBA. Makanya saya tidak mengundang dia."
Yudis diam.
"Risma sangat wara saat SMA. Populer, supel, ramah. Entah mengapa bisa berubah dan melakukan kesalahan fatal. Bahkan kini melepas hijabnya."
"Sudah, jangan sebut namanya lagi. Kakak benci. Bicara yang lain saja. Jangan banyak berpikir yang lain lagi. Kita akan di beri banyak buah cinta, hanya kita harus bersabar. Saat itu akan tiba kita hanya harus sabar dan ikhtiar."
Tok tok tok.
Suara panggilan menyusul suara ketukan pintu. Mak Inah memanggil Ayu.
"Ayu, maaf ada tamu menunggu di ruang tamu. Katanya temennya, Ayu," ucap Mak Inah di balik pintu.
"Ya, Mak. Sebentar lagi Ayu datang. Bilang tunggu," jawab Ayu.
Langkah kaki Mak Inah terdengar menjauh.
"Sebaiknya kakak temui dulu. Ayu mau merapikan penampilan. Malu acak-acakan."
Yudis bergegas menuju ruang tamu setelah Merapikan penampilannya.
\*\*\*\*\*
Yudis tertegun melihat seorang perempuan dengan hijab dan celana panjang tengah duduk di ruang tamu.
Tampak fashionable. Begitu serasi dengan baju panjang dan celana jeans-nya.
"Risma ?!" pekik Ayu kaget saat melihat tamu yang datang.
...Apa yang terjadi selanjutnya. Coba tebak hayo. Penasaran. Kita lihat part depan. ...
__ADS_1
...Bersambung~...