
*****
Part sebelumnya
https://m.facebook.com/groups/805799276260950?view\=permalink&id\=1528652127308991
Dengan sedikit gemetar Ayu mengetuk pintu gerbang dengan gembok yang menempel di sana. Hening. Tak ada suara. Setelah tiga kali mencoba, tergopoh kang Ismail Farid datang.
"Ieu deui, si ratu kesiangan. Jam berapa ini? Kenapa baru datang?"
Ismail Farid menggelengkan kepala dengan kesal. Membuka pintu dan menyuruh masuk. Ayu yang merasa salah, pasrah. Hanya menunduk menerima nasib. Entah hukuman apa yang akan di terimanya. Tangannya menggulung kaku ujung jilbabnya. Tegang. Seolah narapidana tengah di sidang.
"Astaghfirullah, eta baju kenapa Ayu. Hadeuh urusannya harus sama Pak Ajid ini mah."
Kang Ismail menatap aneh baju Ayu yang kotor. Tatapan penuh curiga. Sudah kesiangan, baju kotor acak - acakan.
"Jalan bebek saja kang. Saya mau dua puluh putaran juga, dari pada harus ke ruang BP menemui Pak Ajid. Please kang"
Ayu lemas mendengar Pak Ajid di sebut. Urusan BP kalau namanya di sebut. Cap anak nakal akan melekat padanya. Belum lagi surat panggilan orang tua akan menghampiri. Pak Abdurahman Ajid, bukan guru yang garang bak harimau menerjang. Tapi, kharisma Pak Ajid selalu membuat semua siswa tertunduk. Takluk.
"Nggak ada jalan bebek. Bosan saya menyuruh kamu melakukannya. Sekarang pergi segera menghadap. Sudah satu jam pelajaran kau terlewat."
Ayu menunduk lesu. Dengan gontai berjalan ke ruangan BP. Diketuknya perlahan.
"Ya siapa ?" suara kalem penuh kharisma terdengar menjawab.
"Assalamualaikum Pak, maaf saya mengganggu. Saya Ayu. Kang Ismail menyuruh saya menghadap Bapak"
"Waalaikumus salam. oh silahkan masuk !"
Pak Ajid tampak asyik menulis di buku agenda besar. Perlahan matanya menatap Ayu. Heran dengan penampilan anak didiknya. Bajunya Kumal dengan lumpur yang mengering. Sepatu tampak sisa tanah merah di pinggirannya. Habis nandur padi atau membajak sawah ini bocah.
Ayu hampir tak bisa menahan air mata melihat tatapan gurunya. Belum lagi di tanya dan di interogasi rasanya sudah menjadi terdakwa. Menunduk tak mampu menatap wajah orang kharismatik itu.
"Kesiangan ? rumahmu di mana ?"
"Rumah saya jauh Pak, dari daerah Cadas Pangeran. Saya berangkat pagi sekali tapi tetap kesiangan. Mobil angkotnya susah di dapat."
"Kenapa tidak kost atau mondok ?"
__ADS_1
"Emak, Bapak saya tak berkenan saya jauh dari mereka."
Suara Ayu sedikit parau menahan tangis. Pak Ajid yang sudah makan asam garam dalam menangani masalah siswa tahu, jika anak muridnya jujur berkata.
Rasa iba menyelinap di hati melihat penampilan mengenaskan muridnya. Salut juga masih mau sampai ke sekolah padahal sudah sangat terlambat. Mungkin jika anak lain akan bolos demi menghindari hukuman. Mencari jalan teraman. Tak masuk kelas dengan alasan malas.
"Baju kamu kenapa Ayu?"
"Jatuh pak, jalanan di guyur hujan semalaman. Tanahnya merah. Turunan tajam membuat saya hilang keseimbangan. Salah langkah, saya terjungkal. Alhamdulillah tidak masuk jurang. Bapak boleh sowan ke rumah saya jika tidak percaya."
Setitik embun dari ujung netra akhirnya luruh juga. Tak kuasa di bendung meski dengan sekuat tenaga ditahan. Seolah Ayu merasa sengaja lalai. Padahal dari pagi buta matahari menjadi saksi pergi menerobos embun yang masih enggan untuk terjun ke bumi. Betah menggelayut manja di daun. Tanpa hendak menyapa tanah yang merah.
Pak Ajid tak tega menatap. Sungguh gadis pintar itu adalah murid kesayangannya. Di kelas dia menjadi bintang. Dengan lantang menjawab pertanyaan. Selalu maju terdepan ketika soal di hantarkan. Tak ada cacat dan cela dalam perilaku. Hanya, catatan tentang jadwal masuk sekolah nodanya. Lainnya semua sempurna.
Late queen yang di sandangnya bukan alasan harus mencap negatif. Terlebih kini tahu alasan keterlambatannya. Baju lusuh dan sepatu penuh lumpur adalah jawaban setiap tanya. Saksi mata bisu jujurnya kata - kata.
Ayu menunduk dalam-dalam. Sekarang pasti pak Ajid tengah menulis surat peringatan bagi orang tua. Matanya terpejam dalam. Tak ingin namanya masuk list anak berandalan. Apalah di kata, sudah nasibnya harus diterima.
"Silahkan masuk kelas Ayu! Sudah sangat terlambat pelajaran kedua sudah di mulai. Besok usahakan tidak jatuh lagi. Penampilan kamu kacau. Bawa baju ganti kalau pergi sekolah. Silahkan meninggalkan ruangan!" perintah pak Ajid.
Gadis bertinggi badan 155 cm itu membelalak tak percaya. Mana surat buat orang tua? Apa aku tidak di ceramahi atau mendapat surat peringatan? Apa aku lolos hukuman?
"Menunggu apa? Silahkan pergi ke kelas!"
"Surat apa? Surat cinta? Jika kamu mau saya buatkan, tunggu!"
"Jangan pak, terima kasih"
Senyum di kulum di bibir. Sumringah nampak di wajah mendungnya. Ayu bergegas pergi setelah permisi. Paper bag di peluk di dada. Sungguh ingin segera di buka agar tahu isinya apa. Jangankan berpikir tentang bingkisan. Benaknya tadi penuh dengan hukuman.
Selepas ucapan salam yang dihaturkan. Ayu bergegas pergi dengan sumringah di wajah. Segala khawatir dan takut lenyap. Berganti bahagia. Sungguh hari yang menyenangkan. Berawal dari sebuah bingkisan berakhir dengan pengampunan atas hukuman.
Alhamdulillah. Ayu bernapas lega. Ruangan kelas kosong tanpa guru. Interogasi ketiga lolos sudah. Aman.
"Subhanallah, Ayu. Kenapa terlambat sekali? Untung pak Ali ada halangan. Ulangan di tunda Minggu depan. Pasti jatuh lagi. Bajumu itu kotor sekali." Thien Luthfi menyambut dengan cerososan.
"Aku lihat kamu masuk ruang BP. Dapat ceramah panjang lebar ya?" Eva menambah puyeng Ayu.
"Jangan-jangan panggilan orang tua. Bagaimana reaksi mereka jika anaknya dapat SP? Malang nian nasibmu, Yu." Irniaty membumbui.
__ADS_1
"Kalian ini, biarkan Ayu bernapas. Pasti tegangnya setengah mati di interogasi Pak Ajid. Eh, bener Yu apa tidak di ceramahi panjang lebar kamu?"
"Huhhh sama saja keponya." kompak tiga dara meledek Nurasiah Jamilah.
Nur tertawa. Matanya menangkap paper bag yang tak juga lepas dari genggaman. Apa isinya gerangan?
"Acie .... Ada yang dapet kado. Buka dong! Pasti dari orang istimewa. Sampai tak mau di lepaskan dari dada." Nurasiah Jamilah meledek Ayu.
"Pantesan nggak fokus menjawab pertanyaan. Gara-gara ini."
Sekilat paper bag berpindah di tangan Thien.
"Please, sini dong, kita buka bareng-bareng," bujuk Ayu.
Thien mengalah.
Mata mereka fokus pada kotak kado di hadapan. Perlahan ayu membuka tanpa merusak pembungkusnya. Sepatu. Ternyata isinya sepatu dengan brand ternama.
"Sepatu mahal ini mah, Yu. Siapa yang memberi kado ini? Harganya mahal sekali loh. Orang berduit yang bisa membelinya," seru Nur
"Beneran mahal, Nur?"
"Hooh, sepatu yang kamu pakai bisa beli sepuluh pasang jika barter dengan merk sepatu ini. Bukan KW juga ini original."
"Kak Yudis yang memberi," jawab Ayu pelan.
Rasanya bunga-bunga bermekaran di taman hati. Pelangi melengkung indah di tepi jiwanya yang mulai jatuh cinta. Warna-warni merah dan jingga tertebaran di kalbu.
"Orang kaya dia. Tapi ... dalam rangka apa dia beri kado? Ulang tahun kamu masih lama. Wuih, Ayu beneran di taksir orang tajir ini mah." Irniaty meledek.
"Bukannya gitu, Kak Yudis kemarin melihatku terluka kaki, ingat plester itu. Mungkin kasihan jadi dia memberi supaya tak terluka lagi. Hanya itu. Mana mungkin dia suka gadis kampung macam aku. Ilfeel iya. Aku jatuh persis di hadapannya tadi. Memalukan. Sudah gitu kena interogasi kang Isma. Pak Ajid juga. Hari yang melelahkan." Ayu membuang napas kesal
"Tapi kamu lolos dari hukuman, Yu. Baju kumal dan sepatu penuh lumpur saksi kejujuranmu. Bangku juga noh diantara semua siswa paling kotor dengan tanah. Petugas piket ngeluh semua." Eva menepuk pundak Ayu.
Ayu terkekeh. Duduk di baris terdepan tapi percaya diri meski bangku selalu di keluhkan teman menjadi sarang lumpur bekal dari perjalanan panjang ke sekolah. Tempat yang tersisa meski kesiangan saat hari pertama masuk sekolah dan memilih tempat duduk.
Siapa yang akan memilih tempat duduk persis di depan meja guru. Itu pilihan terakhir orang paling sial. Betapa tidak. Tak bisa bertanya pada teman jawaban jika ujian. Menjadi pusat pandangan guru saat menerangkan.
Sepatu mahal itu Ayu genggam erat. Terima kasih, Kak Yudistira. Semoga dengan sepatu ini aku tidak terjatuh dan luka kaki lagi. Aku akan pakai pulang dan pergi sekolah.
__ADS_1
Seutas senyum ceria Ayu lewatkan kini. Sudah hampir lupa cerita pilu dan memalukan beberapa jam lalu
To be continue~