PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.38


__ADS_3

Tangan Yudis gemetar, deretan angka dan prosentase membuatnya lemas tiada daya. Tak perlu penjelasan dokter Yulia yang menatap dengan rasa kasihan.


Sebagai praktisi kesehatan, Yudis tahu benar apa yang terjadi pada istrinya. Salah satu indung telurnya terkena infeksi dan harus segera mungkin di angkat.


Itu artinya peluang Ayu untuk memiliki anak sangat tipis. Bukan mustahil Ayu bisa hamil, tapi hanya keajaiban Tuhan yang akan mengubah keadaan.


Program bayi tabung pun sangat kecil membuahkan hasil. Yudis sudah membayangkan bagaimana reaksi Ayu atas hasil tes ini.


"Sabar, Dok, tak ada yang tak mungkin ketika Tuhan berkehendak. Sabar dan ikhtiar. Keajaiban itu ada. Segeralah beri tahu Ayu. Jika terlambat sel indung telur satunya bisa terkena infeksi juga. Itu akan membuat impian kalian punya anak hanya angan semata."


Yulia menepuk pundak Yudis yang masih bergetar hebat karena tangisannya.


Bagaimana cara memberi tahu Ayu? Betapa hancurnya hati sang istri jika tahu yang terjadi. Yudis mengacak kacau rambutnya. Merasa begitu tak berdaya.


******


Ruang operasi begitu hening. Ruang antara hidup dan mati itu terkenal begitu seram. Lampu menyorot di tengah ruangan, persis menuju titik luka menganga akibat sobekan pisau bedah.


Yudis tampak konsentrasi mengoperasi pasien. Darah menggenang memenuhi rongga perut. Mungkin jika bukan ahli akan membuat nyali ciut. Mesin pemompa darah bekerja cepat agar darah tak menghalangi pandangan. Sehingga organ tubuh terlihat jelas ketika operasi dilakukan.


"Stop, dokter. Jangan potong!" Cegah Utari saat gunting hampir memotong sesuatu.


Yudis terkejut bukan main. Tangannya gemetar melihat apa yang hampir di potongnya. Usus dua belas jari, padahal Yudis tengah mengoperasi pasien usus buntu.


Tubuhnya limbung dan hampir hilang keseimbangan. Utari segera menangkap tubuhnya, sehingga tidak sampai terjungkal.


Utari memberi kode pada dokter Yudha untuk menggantikan posisi Yudis di meja operasi. Yudha langsung melaksanakan tugas Yudis yang tertunda.


Dengan pelan Utari memapah tubuh lunglai Yudis menuju bangku di taman rumah sakit.


Yudis duduk dengan tatapan kosong. Hampir saja tangannya membuat pasien kehilangan nyawa. Masih dengan tubuh gemetaran, air mata Yudis membanjiri pipi. Merutuki kebodohan diri.


Taman lengang dan tampak basah akibat guyuran hujan sedari sore. Air hujan meninggalkan sisa genangan air di atas dedaunan yang berkerlip di terpa lampu. Memberi pantulan indah. Terlebih sang rembulan mulai menampakkan dirinya. Malu-malu mengintip di sela-sela awan yang masih sedikit menghitam.


Malam telah larut ketika operasi darurat dilakukan. Penat, lelah dan harus ekstra kerja disisa tenaga.


Utari hanya diam sejenak dan membiarkan Yudis menangis bak anak kecil kehilangan mainan. Pilu dan sendu bak anak kecil ditinggal sang ibu.


"Dis, ada apa? Kamu punya masalah?"


Utari bertanya tapi bukan menjawab Yudis malah menangis. Utari kian bingung.


"Katakan padaku ada apa! Kamu tidak konsentrasi tadi di meja operasi. Pisau bedah kita itu mempunyai dua mata pisau. Menjadi penyelamat nyawa jika kita melakukan prosedur yang benar. Juga menjadi pembunuh yang kejam. Menjadi pisau jagal pengambil nyawa tak berdosa. Walau hanya dengan satu sayatan. Jika kamu tidak siap dan bukan dalam keadaan yang terbaik, kamu bisa meminta dokter lain untuk menggantikanmu. Bukan malah membahayakan pasien akibat keteledoran kamu."


Utari menatap tajam Yudis geram.


Yudis tak menjawab. Menundukan wajahnya dalam. Menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya terguncang hebat. Seumpama anak kecil menangis kencang tanpa malu.


Utari kian bingung.


"Dis, ada apa? Katakanlah! jangan membuatku semakin bingung," pinta Utari dengan berlutut di depan Yudis yang duduk di bangku taman.

__ADS_1


Yudis merogok saku jas putihnya. Selembar kertas di ulurkan.


Utari menutup mulut dengan kedua tangannya. Mulutnya menganga tak percaya membaca hasil laporan tes kesehatan Ayu dan Yudistira. Air mata luruh tak tertahan dipipinya.


Pantas seorang Yudis yang terkenal dengan kepiawaian di meja operasi hampir melakukan kesalahan fatal. Kertas ini membuat jiwanya terguncang hebat.


Utari tak sanggup membayangkan reaksi Ayu dan Om Hadiwijaya saat melihat hasil tes ini. Akhirnya ikut juga menangis kencang di sisi Yudis yang tak jua berhenti menangis.


*****


Malam telah larut, Ayu gelisah. Hilir mudik di halaman rumah. Menunggu sang suami yang terlambat pulang ke rumah. Padahal kehadirannya begitu di nanti.


Hari ini Ayu ingin secepatnya melihat hasil rekap medis kesehatan kandungan. Entah mengapa Yudis tak kunjung datang.


Hari sudah lewat tengah malam ketika Yudis datang dengan lunglai.


Ayu mengambilkan tas peralatan medis. Membukakan sepatu dan jas kebesarannya.


"Kak, sudah makan?"


"Sudah tadi di rumah sakit," jawab Yudis berdusta. Tak sebutir nasi atau seteguk air mampir di mulutnya.


"Alhamdulillaah, Ayu kira belum makan. Kakak tampak lemas begitu."


"Capek, Sayang. Hari ini jadwal operasi padat. Kamu sudah makan?"


"S-ssudah," jawab Ayu gelagapan karena sama sekali makanan tak di senggolnya sedari pagi.


"Kak, mana hasil tes kesehatan kita?"


Yudis pura-pura tak mendengar.


"Kak ....?"


"Dr Yulia pergi ke luar kota hari ini. Hasil tesnya dia yang simpan. Begini kalau diperiksa sama teman sendiri. Hasil lab bukan di simpan di tempat seharusnya, malah disimpan sama dokternya. Mana Yulia pikun. Lupa memberi sebelum pergi."


Yudis berkilah. Ayu terlalu pintar untuk di bodohi jika tes itu belum keluar. Yudis bisa mengulur waktu dengan berkata Jika Yulia membawa hasil tesnya.


Pihak rumah sakit harus melakukan prosedur seharusnya. Hasil tes seharusnya diambil oleh pasien. Bukan dokter atau yang lain. Maka dia berkilah karena alasan teman Yulia akan menjadi lumrah menyimpan hasil tesnya.


"Padahal Ayu pengen secepatnya tahu," ujar Ayu lirih.


"Kasih tahu perlahan, Dis. Takutnya dia syok. Tak mampu menerima kenyataan jika kamu memberi tahu mendadak." terngiang nasihat Utari tadi.


"Sayang, sudah lama kita tidak pergi liburan ya?"


Ayu bingung mendengar ucapan Yudis. Apa tidak salah. Di saat tegang menunggu hasil tes malah membicarakan liburan.


"Ada apa? Ada masalah?"


Yudis menarik napas dalam dan merengkuh Ayu dalam pelukan.

__ADS_1


"Masalahnya ... kita terlalu tegang akhir-akhir ini. Makanya kita butuh refreshing. Juga butuh waktu berdua. Jangan bilang mau mengajak pasukan lagi saat second honeymoon. Hanya kita, tak ada yang lain. Kebetulan mulai hari Senin aku bisa cuti seminggu."


Yudis mencubit hidung Ayu yang tersipu.


Teringat saat bulan madunya dulu. Mengajak semua anggota keluarga dari desa. Kasihan mereka juga ingin tahu Bali. Begitu pintanya memelas. Masih tergambar wajah Yudis yang aneh saat itu, namun tak mampu menolak keinginan sang istri. Meski terpaksa Yudis mengatakan ya.


"Baiklah, mandi dulu gih. Badanmu bau kecut." tangan Ayu sigap mendorong tubuh Yudis ke kamar mandi. Niat Yudis mencium sang istri kandas.


Kringgggg


Dering ponsel Yudis terdengar saat suara shower terdengar dari kamar mandi. Yudis tengah membersihkan diri.


Bagas! Mengapa menelpon malam begini? Ayu memencet tombol menerima panggilan.


"Dis, aku turut prihatin. Semoga sabar menghadapi ujian itu. Memang kalian tak cocok pada dasarnya dalam hal apapun. Kamu hanya memilih dia karena terpaksa. Papamu sangat menyukainya. Kamu lihat, Ayu tak bisa memberikan keturunan. Kalau kamu memilih yang lain pasti sudah punya anak dari yang lain. Hallo, Dis. Kamu masih di situ kan?"


Hening.


Ayu menggigit ujung bibirnya. Sakit terasa, lebih sakit hatinya.


"Masih ingat Stevy? Itu mantan kamu. Dia masih menanyakan kabarmu. Bentaran aku kirim nomornya lewat SMS. Siapa tahu masih rindu pada cinta pertamamu. Dia masih lajang loh. He he he. Masih layak diperjuangkan."


Terdengar suara Bagas terkekeh di seberang sana. Ayu menangis tertahan. Tawa Bagas seolah menertawakan kelemahan Ayu.


Mengapa kamu menyembunyikannya keadaanku yang sebenarnya? Sampai kapan kamu akan berdusta.


"Dia sedang liburan di Indonesia. Kalian bisa ketemu, Dis. Maaf aku tutup telponnya ada pasien nih."


Bagas mengakhiri panggilan. Dia memang selalu menatap tak suka pada Ayu. Mungkin karena aku hanya Upik abu dan Yudis pangeran tampan. Tak sekufu dalam hal apapun.


Ayu menyeka air mata. Ingin melihat sampai kapan Yudis bungkam. Tuhan, benarkah Yudis memilihku hanya karena papa. Papa ternyata salah pilih. Aku melukainya. Perempuan pilihan ternyata mandul. Tak mampu memberi keturunan. Juga menyiksa batin Yudis yang terpaksa bersama meski tanpa cinta. Demi membahagiakan papa.


Baiklah kalian sudah memberi. Saatnya kini akan menerima. Kalian sudah banyak berkorban. Saatnya aku berkorban untuk kalian. Biarlah hati ini tercabik asal kalian tersenyum bahagia. Apapun akan aku lakukan. Ayu menyeka air mata. Ini tetesan air mata yang kuperlihatkan. Aku takan membiarkan mereka melihat lelehan air mataku. Aku akan menangis kala sendiri dalam sunyi dan sepi.


******


Ayu berjalan bagai tak menapak di atas tanah. Beban jiwanya hanya disimpan sendiri tanpa berbagi. Jiwanya sunyi. Ingin berteriak memanggil pasukan sahabatnya. Tapi, kini mereka juga sudah berkeluarga. Mereka punya masalah sendiri. Tak ingin menambah beban mereka.


Bercerita pada orang tua juga tabu bagi Ayu. Tak ingin membuat mereka sedih mendengar masalah anaknya.


Ayu merasa sendiri ditengah hilir mudik orang yang berjalan. Rinai membasahi tubuhnya. Tak mampu memadamkan bara di hati. Tubuhnya sudah kuyup. Orang-orang menepi saat rintik hujan datang. Tapi Ayu membiarkan hujan menerpa tubuhnya yang letih. Berharap dapat mengobati hatinya yang perih.


Sepasang mata memperhatikan keadaan Ayu dengan seksama. Menguntit di belakang dengan khawatir. Melihat Ayu sudah berjalan sempoyongan.


Ayu berjalan dengan tatapan kosong. Orang akan mengira hidup Ayu begitu Sempurna. Harta yang melimpah takan habis tujuh turunan. Nama besar yang membuat orang segan. Tapi harta tak bisa membeli bahagia. Ayu rela kehilangan semua harta asal bahagia. Tak punya nama besarpun tak mengapa. Asal bisa di temani riuhnya tangis dan tawa anak kecil bersamanya.


Ayu menyebrang jalan tanpa melihat kiri kanan. Sebuah mobil meluncur kencang kearahnya.


"Awas Ayu!"


Sebuah tangan kekar menarik tubuh Ayu dalam pelukannya. Ayu gelap mata, pingsan seketika.

__ADS_1


...Bersambung~...


__ADS_2