
Cindy terbangun, kepalanya pusing tujuh keliling. Perutnya sakit, melilit. Segelas air putih dan susu sudah tersedia di meja kecil. Mbok Darmi pasti menyiapkan untuknya.
"Mbok ...!" panggil Cindy
"Sudah bangun, Non. Alhamdulillah, si Mbok sangat bersyukur, Mas Yudis semalam yang mengantar pulang. Jika yang lain takutnya berbuat jahat sama Non. Mas Yudis itu orang baik berbeda dengan teman yang lainnya. Si Mbok mohon, Non, jangan minum alkohol lagi. Itu tidak baik buat kesehatan. Takut Non ada apa-apa jika sedang mabuk. Tidak semua teman Non baik. Bagaimana kalau ... "
Mbok Darmi tak sanggup melanjutkan ucapannya. Takut membayangkan jika nanti Cindy jadi korban kejahatan. Bahkan pemerkosaan.
"Alah .... Mbok, temanku baik semua, kok, kenapa Mbok sama Yudis kuno semua? Kalian jadi sok mengatur. Aku tahu semua kawanku. Jadi, jangan urusi hidupku. Orang tuaku juga tak pernah mengurusi dengan siapa berkawan. Party itu sudah biasa. Sedikit minum juga nggak apa-apa. Toh, tidak setiap hari ini."
Mbok Darmi terdiam. Niat baiknya tak direspon positif. Si Mbok teramat mencintai Cindy. Takut hal buruk menimpa gadis cantik itu. Makanya selalu cerewet menasehati.
"Kami perduli padamu. Bukan hendak mengaturmu."
Suara Yudis membuat si Mbok senang. Berharap jika pemuda itu dapat merubah sikap Cindy. Percuma mengadu pada orangtuanya. Toh, mereka yang mengajarkan apa itu party. Bukan dukungan malah cibiran yang akan di dapatkan.
"Mbok itu kuno. Biarkan saja. Kita hidup di jaman modern. Harus bisa mengikuti perkembangan zaman."
Mira hanya mencibir saat Mbok Darmi mengadu akan sikap Cindy yang hoby party. Bukan menasehati anaknya malah mendukung anaknya menjadi penggila pesta.
Yudis duduk di ranjang Cindy. Sudah tak perlu lagi permisi. Rumah ini sudah seperti rumah keduanya. Dengan mudah Yudis masuk dan keluar.
"Kenapa kakak berubah? Dulu tak pernah ada yang salah dengan gaya hidupku. Semua baik-baik saja. Pemikiran kakak mundur selangkah sekarang. Semua di bilang salah. Kesambet apa, Kak?" tanya Cindy cemberut.
"Pernahkah kamu kesulitan ketika ingin sekolah? Sekali saja bayangkan perutmu lapar karena kurang makanan. Kakimu luka ketika harus sekolah dengan bertelanjang kaki. Harus berebut makanan dengan saudaramu yang lebih dari satu."
Cindy mengernyitkan dahi. Bingung. Entah kemana arah ucapan kekasihnya.
"Ada seorang gadis seusiamu. Dia harus berjuang sekedar ingin sekolah. Bertelanjang kaki dan luka ketika pergi ke sekolah. Hidupmu terlalu sempurna. Apakah kamu sudah bersyukur?Nilai akademik kamu hancur. Hidupmu hanya di gunakan untuk hura-hura, party sana-sini. Sementara ada banyak di luar sana yang tak seberuntung kamu. Apa ada faedahnya jika minum alkohol dan party sana-sini?"
"Kak, kenapa sekarang sok mengatur hidupku?"
"Karena aku mencintaimu. Bolehkan mengharap jika pendamping hidupku adalah wanita yang shaleha?Menutup auratnya. Pandai menjaga dirinya. Aku ingin seorang pendamping yang eksklusif hanya untukku. Tak ingin semua orang bisa menyentuh, hanya aku. Hanya jadi milikku utuh. Berhijablah, Dy. ku ingin melihatmu dengan pakaian tertutup dan berhenti di dunia modeling."
"Hahhhh, berhijab? Aku? Pakai baju alien? Kakak ingin aku meninggalkan dunia yang membesarkan namaku? Never, if you don't like it. You please leave. Leave me alone. Don't disturb my life anymore. Ok!"
"Ok, That is your choice. Aku berharap hubungan kita akan berlanjut hingga ke pelaminan. Ok. Usiamu memang belum cukup untuk kita menikah. Tapi, aku harap jika kelak matang usiamu kita bisa menikah dan kamu sudah berubah lebih baik."
"Menikah? Jangan bercanda. Aku tak mau hidup di atur siapapun. ingin bebas. Silahkan pergi. Mulai saat ini kita putus."
"Ok, deal. Aku punya satu kado terakhir untukmu. Semoga satu hari nanti, hidayah akan mengetuk pintu hatimu. Jika hari itu datang. Pakai ini untuk selamanya tanpa pernah melepaskan lagi. Jadikan pilihan hidupmu sampai akhir hayat, " ujar Yudis menaruh sebuah paper bag di lemari Cindy. Sebuah kotak dengan bungkus warna hijau dan seutas pita merah jambu sebagai aksesorisnya.
Cindy enggan melihat apalagi membuka. Maka Yudis menyimpan. Dengan harapan suatu saat akan di buka oleh Cindy.
Yudis pergi meninggalkan Cindy yang penuh emosi. Langkahnya begitu ringan. Tak ada luka, sedih atau air mata menyertai perpisahan. Hatinya lega. Beban yang menghimpit seolah lenyap seketika.
__ADS_1
Aku sudah berusaha merubah. Tapi, semua adalah pilihanmu Dy. Semoga suatu hari hidayah menghampiri. Aku pergi karena kau membuatku undur diri. Aku lepaskan karena kau ingin menghempaskan.
Bukan tak berjuang, namun kau tak layak untuk diperjuangkan. Bagimu dunia showbiz lebih penting dari menggapai asa bersama. Pernikahan bukan impian tapi belenggu yang akan merantaimu. Semoga kau bahagia atas pilihanmu. Akhirnya takdir Tuhan jua yang mengharuskan kita berpisah dipersimpangan jalan.
Cindy membanting tubuhnya. Aku ingin lihat seberapa lama kau pergi, Yudis. Pesonaku akan membawamu kembali tak lama lagi. Kau akan bertekuk lutut meminta kembali. Senyum sinis tergambar di bibir sensualnya. Yakin jika Yudis hanya menggertak dan akan kembali sesaat lagi.
\*\*\*\*\*
Ayu mondar-mandir di depan kaca. Penampilan dirasa sudah paripurna. Tampak cantik dengan balutan kebaya warna biru muda. Kain samping sudah di tata serapi mungkin. Kerudung warna senada juga sudah di tata sedemikian rupa.
Hari ini, perpisahan sekolah. Ayu harap dapat datang tepat waktu. Seharusnya sudah datang dari tadi tukang ojeg pesanan. Sudah lima belas menit tak kunjung tiba. Padahal hari ini begitu istimewa.
Tak elok rasanya jika kesiangan di hari terakhir hadir di sekolah. Semoga julukan late queen tak di sematkan di hari perpisahan.
"Maaf, Pak, motor saya mogok. Sepertinya tidak bisa mengantar Ayu. Punten pisan. Teu sengaja."
Samar suara kang Maman datang mengucap maaf. Bapak terdengar berbincang di halaman dan sayup suaranya terdengar ke kamar.
Ayu tergopoh keluar dengan langkah yang susah. Sepatu highheel dan samping yang dipakai menyusahkan langkah. Si telanjang kaki susah payah sampai di halaman rumah.
"Aduh, pak, terus Ayu bagaimana?"
"Kita cari ojeg lain ya, Neng. Sabar dulu. Semoga bisa secepatnya," hibur bapak yang sebenarnya juga bingung.
Ayu hanya diam, pasrah. Harus bagaimana lagi. Menjerit juga tiada guna. Padahal bisa di hitung dengan jari ojeg yang mampir di kampung sunyi ini. Tak mungkin harus berjalan dengan pakaian seperti ini. Jangankan kiloan meter jarak tempuh. Beberapa langkahpun sulit.
"Pak dosen! Ya, pak, ini Ayu." jawab Ayu sedikit tersipu. Mungkinkah make up di wajahnya terlalu berlebihan. Maklum bukan make up profesional. Hanya dandanan sederhana karya Bi Sumi yang memoles diri.
"Pangling, cantik sekali." pujinya. Bukan menghina atau meledek. Sungguh gadis gunung itu tampak berbeda. Begitu anggun dan cantik.
"Terima kasih. Alhamdulillah."
"Mau ke mana?"
"Acara perpisahan sekolah, pak dosen. Tapi, ojeg pesanan mogok. Ini lagi bingung mencari kendaraan," samber Emak kayak api menjilat bensin. Kilat.
"Ya sudah, saya antar saja, kebetulan saya harus pergi ke Sumedang. Bukankah Ayu sekolah di sana? Biar sekalian berangkatnya." Dosen tampan bernama Yoga Haditama itu menawarkan jasa.
"Alhamdulillah. Terima kasih, pak Dosen. Ayo Nak, naik! Akhirnya kamu dapat tumpangan." lagi jawab Emak mendorong Ayu untuk ikut Yoga.
Ayu terpaksa mengiyakan. Tak ada pilihan. Hanya ini solusi. Jika menolak maka sudah barang tentu kesiangan.
Motor melaju dengan kecepatan sedang. Meninggalkan Emak yang tersenyum. Berharap jika sang dosen menjadi jodoh Ayu. Naga naganya duda muda anak satu itu, menaruh hati pada sang putri. Semoga saja berjodoh mereka.
Ayu kikuk. Kaku. Tegang. Sesekali berpegangan erat pada besi. Sudah lama menghindar. Mengapa hari ini malah harus berboncengan dengan Yoga.
__ADS_1
Ayu tahu dari tatapan dosen pembimbing mahasiswa yang tengah KKN itu menyimpan rasa. Ayu selau di cari untuk membantu semua program kerja selama di desa. Itu membuat Yoga mengenal Ayu dekat.
Perlahan mulai mengagumi kepribadian si putih abu. Melihat jika Ayu berbeda. Deretan mahasiswi didiknya yang mencari panggung di hati tak menarik lagi. Kalah dengan pesona ANAK GUNUNG.
"Ayu pegangan! Duduk menyamping itu sangat beresiko. Pegangan pada baju saya saja," pinta Yoga. Sesekali mencuri pandang di kaca spion. Lucu melihat Ayu yang mimik mukanya kaku.
Ayu tak menjawab. Hanya menggelengkan kepalanya.
Jalanan mulai bersahabat. Sudah setahun di aspal. Waktu tempuh kini bisa di pangkas beberapa menit lebih cepat dari biasanya. Ayu juga tak melihat debu beterbangan saat kemarau tiba. Tanah becek dan licin saat hujan kini tak ada lagi.
"Ya, pak, in syaa Allah aman. Saya sudah biasa." jawab Ayu.
Menjawab telat karena malah membayangkan seseorang yang masih bertahta meski sudah berapa lama terlewat masa. Yudistira Hadi Wijaya. Bayangan kebersamaan saat dibonceng di tengah rinai menari dalam ingatan.
"Ya sudah, jika tak nyaman tolong bilang. Jangan sungkan pegangan."
Yoga sedikit kecewa. Mungkin sebuah pelukan akan di dapat, harapnya. Yoga tersenyum kecut. Ini Ayu yang bahkan jika di tanya menundukkan pandangan. Mimpi jika berharap mendapatkan pelukan.
Ayu sesak. Bayangan melaju dengan di bonceng Yudis saat rintik hujan menari di mata. Entah kapan dapat melupakan wajah dokter muda itu. Masih juga enggan beranjak. Selalu mengganggu pikiran.
Aspal kampung sudah berubah jalan hotmik. Ayu tengah melaju di jalan protokol kini. Laju motor mulai pelan.
Yoga berhati-hati karena Ayu tak memakai helm. Rasanya juga tak ingin sampai ke tujuan. Ingin asyik berdekatan dan mencuri pandang si gadis manis.
\*\*\*\*\*
Sebuah mobil BMW berwarna merah melaju dengan kecepatan sedang. Seorang pemuda tampan di dalamnya. Terukir senyum penuh pengharapan. Dia hendak mencari bunga mawar putih dari lereng gunung.
Berharap belum di petik orang dan menjadi hiasan jambangan. Semoga belum terlambat. Perlu sedikit waktu untuk meyakinkan diri tentang perasaannya. Mencoba juga bermain dengan takdir karena tak ingin mengabaikan sifat manusiawi dalam diri.
Setelah putus dengan Cindy dan berusaha mengajaknya hijrah, namun di tolak mentah-mentah. Ini jawaban takdir. Aku harus mencari si putih abu yang selalu menghantui angan dan pikiran.
Yudis melihat dengan jelas tatapan cinta juga dari anak mata Ayu. Cinta pertama gadis gunung pada lawan jenisnya. Bukankah cinta pertama takan pernah sirna? Semoga rasa itu masih bermuara. Aku datang untukmu, Ayu. Semoga takdir akan mempertemukan kita. Gumam Yudistira sembari asyik melajukan kereta besi.
Laju mobil melambat, lesu. Lemas seperti pengemudinya. Tepat di depan mata Ayu tengah di bonceng oleh seorang lelaki. Tampan, kharismatik, juga terlihat berpendidikan tinggi. Penampilan menarik dengan fostur gagah.
Tampak Ayu masih kikuk dan tegang seperti dulu. Wajahnya masih ketakutan berdekatan dengan Ikhwan. Mungkin itu lelaki pilihan orang tuanya. Bukan rahasia jika di desa perjodohan adalah hal lumrah.
Lelaki itu tampak bahagia dan mengukir senyum tanpa henti. Terlihat mengajak Ayu berbincang. Ayu menjawab meski terlihat enggan.
Ya Allah, bunga mawarku telah di genggaman orang. Padahal hari ini terlihat begitu cantik dengan kebaya dan make up sederhana. Sungguh berbeda dengan si putih abu tanpa alas kaki.
Yudis memutar balik mobilnya. Angan dan harapan musnah. Benar penyesalan datang belakangan. Andai tak ragu, mungkin kau kini di sampingku. Sayap harapan yang patah di bawa kembali.
Papa ... maaf tak dapat memenuhi janji membawa pulang menantu impian. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Membawa harapan yang telah mati.
__ADS_1
To be continue~