
l
Cindy mengurung diri sesampainya di rumah. Suasana hening. Tak ada suara apapun yang menandakan aktivitas dari dalam kamarnya. Kamar megah dengan perabotan serba Lux itu seakan tanpa penghuni. Sepi.
Cindy menatap cermin. Sudah satu jam melihat pantulan kembaran di dalamnya. Nampak wajah cantiknya yang pucat. Tulang pipi yang menonjol. Kulitnya sedikit kusam.
Dulu wajah itu begitu fresh. Menjadi idola remaja. Wajah yang begitu di cari paparazi. Hanya sekadar tampil di TV atau majalah dan menebar pesona indah senyuman, sebuah produk yang di iklankan akan laris manis bak kacang goreng. Wajah cantiknya pembawa keberuntungan.
Kini seiring waktu. Kepopuleran dan wajah cantiknya memudar. Narkoba dan minuman keras juga pola hidup yang tak sehat merenggut kesegaran jasmani dan rohaninya.
Kini hanya wajah yang lusuh kurang energi yang tersisa. Sungguh tak ada yang abadi. Dulu dengan jumawa menolak mentah-mentah Yudistira. Merasa jika semua yang di banggakan abadi selamanya.
Hari ini betapa merindukan gombalan maut Yudis. Canda tawanya yang selalu membuatnya melayang tinggi. Tadi di depan mata Yudis merayu Ayu. Sakit terasa hingga ke inti jiwa.
Pantas Yudis memilih Ayu. Selain cantik juga berkepribadian menarik dan sangat baik hati. Berbeda dengannya yang bahkan tak bisa berbuat baik pada diri sendiri.
Apa kurangnya hidup Cindy, harta, paras rupa strata nomor satu. Kepopuleran juga dalam genggaman. Apa yang kurang. Seharusnya Cindy adalah orang paling bahagia di dunia.
Paras cantik dengan fisik paripurna adalah miliknya. Wajah oval dengan mata indah, bulu mata lentik tanpa maskara atau bulu mata palsu. Di hiasi deretan gigi putih dan bibir sensual yang sangat memabukkan yang memandang.
Harta yang tak akan habis di nikmati tujuh turunan. Setiap benda yang di inginkan asal tunjuk sudah di miliki. Semua ada dalam genggaman tangannya.
Hidup Cindy adalah impian semua orang. Begitu sempurna. Tapi, Cindy tak pernah bisa bahagia. Selalu di cari kebahagiaan yang hakiki. Tak jua di dapati dalam kemewahan harta. Di cari bahagia dalam indah paras rupa juga tak ada. Dalam gemerlap dunia showbiz juga tiada.
Cindy selalu merasa diri paling tidak bahagia. Selalu merasa sendiri dan sepi di tengah keramaian. Hidupnya hampa tanpa arah haluan.
Cindy beringsut mencari paperbag pemberian Yudis beberapa waktu lalu. Paper bag itu telah berdebu. Warnanya sudah memudar. Kotak kado di dalamnya sudah lusuh.
Cindy perlahan membuka setelah membersihkan debu yang menempel. Sebuah gamis indah dengan hijab merah muda di ambil dari dalamnya.
Beruntung gamis itu tidak rusak dan berdebu karena tertutup rapat. Baju itu di dekap di dada. Tangisan Cindy pecah. Hatinya bak di iris sembilu. Perih tiada terperi. Andai saat itu mengiyakan pinta Yudis. Mungkin hari ini benih di rahim adalah buah cinta mereka. Bukan benih di tanam dalam hubungan haram.
Cindy memakai gamis itu. Baju tanktop yang di kenakan tertutup sudah. Kini bagian kaki jenjangnya yang memakai rok mini juga luput dari pandangan. Rapi tubuhnya tertutup gamis panjang dan lebar.
Menatap lekat tubuh sexy dengan balutan rapi baju syar'i. Air mata jatuh di pipi. Dulu tanpa riskan orang menjamah raganya karena alasan profesionalisme. Desainer memakaikan pakaian. Melihat bagian tubuh tanpa riskan. Bahkan tak jarang menjamah raga tanpa busana. Semua di lakukan tanpa risih.
Hijab cantik di pegang dengan gemetaran. Kini rambut indah yang pernah menghiasi layar kaca sebagai iklan paling laris tertutup sudah.
Cindy melihat kembarannya begitu anggun dengan balutan pakaian syar'i. Bukan sekedar untuk cantik tapi keteduhan jiwa.
Baju gombrong yang pernah di hina sebagai pakaian alien melekat di tubuh Cindy. Jika dulu selalu bertanya mengapa orang memilih menutup raga yang indah dengan baju yang tak fashionable. Kini begitu nyaman dalam raganya.
Secantik apapun fisik jika akhlak bejad maka tiada berguna. Raga boleh tak menarik tapi kepribadian akan membuat orang nyaman menetap dan tinggal. Itulah Ayu. Jika menakar fisik Cindy lebih cantik dan menarik. Tapi, indahnya akhlak membuat Yudis tak bisa beranjak.
Kembali bulir air mata menyertai Cindy. Sesal menggelayuti. Andai waktu bisa di ulang kembali. Ingin mengembalikan ucapannya dulu. Menerima pinangan yudis dan bersama di sisinya.
\*\*\*\*\*
Suasana hening. Hanya detak jam berbunyi teratur. Suara air terjun buatan juga memanjakan pendengaran. Mira sedari tadi bingung melihat Cindy yang jadi pendiam. Kadang hatinya merasa itu lebih baik daripada melihat Cindy yang histeris. Apakah itu tanda perbaikan kondisi kejiwaan Cindy? Bagaimana jika tekanan jiwanya kian parah?
"Do, Tante kok malah jadi khawatir dengan sikap Cindy. Biasa histeris dan mengamuk sekarang malah diam dan tenang. Apa tidak apa-apa?
"Ehmm, maaf Tante dari tadi saya mau cerita. Tadi di rumah sakit Cindy melihat Ayu, tunangannya Yudistira. Apa karena itu Cindy mengurung diri di kamar?"
"Ya Allah, do. Kenapa baru cerita? Bagaimana jika Cindy melakukan hal bodoh lagi? Tante sangat takut kehilangannya. Hanya Cindy yang Tante punya. Jika dia meninggal Tante sama siapa?" Mira kian cemas
"Maaf, tapi saya kira sikap tenang Cindy lebih baik daripada histerisnya. Bahkan Cindy tadi melihat Ayu dan Yudis bersama. Cindy sedih tapi tak histeris. Makanya saya kira Cindy itu baik-baik saja." jawab Aldo.
"Ya kalau lebih baik, kalau lebih down bagaimana. Kamu tak mendengar gerakan atau suara apapun dari dalam kamar Cindy. Do, jangan-jangan Cindy sudah kaku tak bernyawa," ratap Mira dengan tersedu.
"Kita dobrak saja Tante, ayo!"
Belum lagi Aldo dan Mira beranjak menuju kamar Cindy, suara bel rumah memanggil.
__ADS_1
Ting tong .... Ting tong.
Mira membuka pintu. Tampak dua sejoli yang jadi topik pembicaraan tengah berada di depan pintu.
"Yudis, Ayu!" Pekik Aldo
"Ohh .... Ini Ayu, tunangan Yudis?" Mira menatap gadis manis di hadapan. Cantik, menarik, wajahnya begitu teduh dan menentramkan. Mira memperhatikan dengan seksama gadis berhijab yang menjadi pesaing Cindy.
Yudis dan Ayu hanya mematung. Merasa kalau kehadiran mereka tak di harapkan.
"Assalamualaikum, Bu. Ya, saya Ayu tunangan Yudistira."
"Kenapa kalian ke sini, Cindy sedang tidak dalam keadaan yang terbaik. Pulanglah! Tante takut cindy akan memburuk kondisinya jika melihat kalian. Tante mohon jangan membuat Cindy terluka lagi. Pergilah !"
Mira mengusir meski tak tega. Apalah daya semua demi kesehatan sang buah hati tercinta.
"Jangan pergi kalian, aku mohon," pinta Cindy. Suaranya mengagetkan semua orang.
"Cindy!"
Mata mereka malah lebih terbelalak saat melihat penampilan Cindy. Baju tanktop dan rok mini khasnya berganti gamis indah dan hijab rapi di kepala.
Mereka melongo tak percaya. Mira berhambur memeluk dan menangis sejadinya mendekap erat sang putri.
"Ya Allah, tenanan anakku wis gendeng. Sadar, Dy, mama mohon jangan seperti ini. Mama rela kehilangan seluruh harta asal kamu bisa waras lagi." Mira mengguncang keras tubuh Cindy.
"Astaghfirullah, mah. Cindy waras, sewaras warasnya. Mengapa mama menangis saat putrimu memakai pakaian yang benar. Mama malah menganggap Cindy gila. Dulu ketika berbusana seperti telanjang mama diam dan mendukung. Cindy tak malu memakai baju yang mengobral keindahan dan kemulusan tubuh mama bangga. Sekarang Cindy terbalut sempurna bilang Cindy gila. Bagaimana takaran kewarasan itu sebenarnya, Mah?"
Cindy memampah mamanya yang ketakutan. Mereka duduk di ruang tamu di susul tamu yang baru saja datang.
Yudis tak berkedip menatap ayunya wajah Cindy, sungguh berbeda. Teduh dan menyejukkan. Dulu dengan mengiba meminta baju itu di kenakan. Cindy berang dan melempar. Hari ini akhirnya jua di pakai tanpa paksaan.
Semoga satu hari nanti kamu kenakan pertama kali dan untuk selamanya tak di lepas lagi. Rasanya bagai mimpi melihat Cindy berhijab syar'i. Orang paling alergi dengan hijaber kini begitu anggun memakai pakaian yang di bencinya.
"Terima kasih kalian sudah berkenan datang. Silahkan duduk" pinta Cindy.
"Nak, apakah kamu tidak sedang sakit. Apa yang kamu rasakan. Mengapa berpenampilan begini ?"
Mira berkata sembari menangis. Bulir air mata tak jua berhenti. Sikap anaknya di rasa aneh. Bukankah Cindy benci dengan pakaian lebar nan panjang. Lantas apa alasan memakainya?
"Ma, hari ini Cindy bertemu Ayu di rumah sakit. Melihat jawaban tanya Cindy selama ini. Mengapa Yudis memilihnya. Malu merendahkan gadis yang begitu tinggi akhlaknya. Ayu begitu lembut dengan gadis kecil kumal yang tak dikenalnya. Aku bahkan tak bisa menjadi ibu bagi anakku sendiri. Dalam rahim ini ada nyawa yang harus aku buat bahagia, tapi aku tak bisa membuatnya bangga menjadi anakku. Hanya membuatnya akan malu terlahir dari raga ini. Aku menuntut mama selalu menjadi ibu sempurna. Meminta selalu ada dan berbuat yang terbaik. Mama sudah mencoba melakukan hal itu. Mencari rupiah demi aku sampai pergi pagi sebelum aku bangun, pulang malam setelah aku terlelap. Tapi, aku hanya menghamburkan harta hasil jerih payahnya. Tanpa pernah mengucap terima kasih. Menuntut tanpa pernah memberi. Aku orang paling egois di dunia. Saatnya memberi sekarang. Semoga bisa menjadi ibu yang baik untuk anakku. Kelak anakku akan bangga menyebut mama. Menjadi anak paling bahagia. Menjadi anak yang berbakti buat mama. Maafkan Cindy mah. Sejak kecil merepotkan dan membuat mama susah. Tolong kalian bantu aku untuk mewujudkannya."
"Tak pernah kamu jadi beban mama. Maafkan jika mama menganggap kamu cukup segalanya dengan memanjakan materi. Mama tak pernah berbicara dari hati ke hati. Merasa sudah mencukupi semua dengan rupiah. Nyatanya kamu tak bahagia. Maafkan Mama tak bisa menjadi ibu yang sempurna." Mira mendekap erat putrinya. Air mata meluncur tiada tertahan lagi.
"Alhamdulillah," pekik hamdalah mengisi seluruh ruangan tamu.
Ayu berhambur memeluk Cindy. Mereka menangis bersama. Larut dalam euforia haru dan bahagia. Mengucap syukur atas hidayah yang telah menyapa Cindy Agustina. Top model yang kini hijrah.
Yudis menatap Cindy lekat, seolah tak percaya jika orang yang pernah begitu dalam di cinta itu telah berubah. Tak ada lagi Cindy yang genit cipika cipiki dengan semua Ikhwan tanpa risih. Tiada top model yang senang berpose mengumbar aurat demi profesi. Hanya ada Cindy yang berusaha memperbaiki diri.
Aldo tersenyum bahagia. Sudah tergambar hari indah yang akan terangkai bersama buah hati tercinta. Aldo juga berniat ingin menjadi papa terbaik bagi buah cinta. Berusaha mempelajarinya agama. Pendidikan tinggi tenyata tak membuat hidup tenang tanpa di dasari indahnya pemahaman akan Tuhan.
"Terima kasih Ayu, Karena kamu Cindy berubah. Tante sudah frustasi. Begitu sedih kehilangan anak semata wayang. Kini Tante sudah lega, insyaa Allah tenang menghabiskan hari tua. Tak akan lagi sibuk ngantor. Akan sibuk mengurus anak cucu."
"Saya hanya wasilah, sebenarnya hidayah itu sudah lama datang, tante. Cindy sudah mulai mencari kebahagiaan sejati. Di saat itulah Allah beri hatinya kerinduan akan hadirnya Tuhan. Cindy mulai mencari hakikat hidup sebenarnya. Semoga saja istiqamah. Aamiin"
"Aamiin ya rabbal alamiin" jawab semua kompak.
"Dy, ijinkan aku merawat dan menjaga kalian. Aku ingin datang melamar kamu. Kita bisa hadapi semua bersama. Akan aku lakukan semua demi kamu Dan bayi kita. Mari belajar bersama menghadapi semuanya." Aldo berlutut di depan Cindy.
Cindy menatap Aldo dengan nanar. Masih ada benci teringat malam durjana itu. Tapi, tidak semua salah Aldo. Dirinya juga berperan dalam kejadian malam itu. Hatinya masih milik Yudistira. Bukan perkara mudah melupakan Yudis. Bahkan mungkin takan pernah melupakannya.
Yudis adalah pria teromantis yang pernah di kenal dalam hidupnya. Begitu manis gombalan dan kata cinta darinya. Seakan menjadi makhluk paling istimewa di dunia.
__ADS_1
Cindy menolak ketika Yudis meminta berubah dan ingin secepatnya menghalalkan. Tak pernah terlintas melepaskan karier cemerlang demi sebuah komitmen bersama.
Nikah muda dan harus melepas semua bagaikan mimpi buruk baginya. Tak mau melepas ketenaran dan harus sibuk mengurus suami dan direcoki rengekan anak-anak kecil.
Kini tragis, Cindy sudah kehilangan popularitas kebanggaan. Juga tengah berbadan dua tanpa di dampingi pendamping hidup.
"In syaa Allah, aku siap Do. Mari kita berusaha menjadi orang tua terbaik bagi anak kita," jawab Cindy dengan gemetar. Masih juga hatinya berperang dengan kenyataan. Namun, saatnya kini harus menerima takdir yang ada.
"Alhamdulillah, semoga kalian dapat menjadi orang tua terbaik." Do'a Yudis.
Mereka larut dalam bahagia. Selalu ada hikmah dalam setiap peristiwa. Sedih dan duka kadang merupakan panggilan Rabb untuk lebih dekat padanya. Semoga hati senantiasa peka atas panggilan cinta sang pencipta.
\*\*\*\*\*
Sebuah resepsi sederhana melengkapi acara pernikahan Cindy dan Aldo. Tak banyak tamu undangan yang hadir. Hanya keluarga dan sahabat terdekat yang memberi do'a restu.
Cindy cantik dengan balutan gaun syar'i putih. Tampak wajahnya segar. Aldo gagah nan tampan dengan setelan kemeja hitam dan peci. Mereka tampak serasi.
Senyum bahagia juga tampak pada wajah Mira. Bersyukur Allah masih memberi kesempatan kedua untuk menjaga putri semata wayangnya. Harta dan jabatan bukan lagi prioritas utama. Keluarga adalah harta paling berharga diatas segalanya.
Ayu dan Yudis datang bersama. Mereka memakai pakaian senada. Ayu berbalut gamis warna merah marun. Begitu anggun dan cantik. Yudis sampai terpana. Ingin rasanya hari bahagia mereka adalah hari ini. Bukan Cindy dan Aldo sang mempelai tapi Ayu dan Yudistira.
"Kences tuh seka! Dokter kok jorok amat," goda Utari yang nylonong nepok jidat sahabat sekaligus sepupunya.
Yudis mendelik. Ini bocah memang kagak tahu tempat. Aduh, hilang wibawa ini mah. Penampilan sudah cool begini kok malah kena bully.
Ayu tersenyum. Yudis yang marah jadi meleleh. Senyuman itu membuat es kutub Utara juga mencair sempurna. Syukur, dari tadi melotot tanpa berkedip ingin menelan. Rasain emang enak di ledek kak Utari. Ayu puas hati.
"Yudis sudah tak sabar jadi mempelai. Tak lama lagi kalian akan sah. Semoga lancar sampai ke akad nanti, aamiin" Mira tersenyum melihat polah konyol Yudistira.
"Ya Tante, padahal kenapa nggak bareng saja sama Cindy nikahannya hari ini," ujar Yudis sembari menggaruk kepalanya. Ayu tersipu dan mengalihkan topik pembicaraan.
"Kalian tidak bisa melaksanakan malam pertama lagi sampai bayi kalian lahir, ingat! Sudah halal bagi kalian bersentuhan tangan tapi tidak melakukan hubungan suami istri."
"Kenapa Ayu?" Tanya Aldo yang langsung lemas.
"Kalian sudah melakukan sebelum waktunya itulah hukumannya," celetuk Mira.
Cindy lega. Sungguh belum juga bisa memberi lebih pada Aldo. Hanya sebatas bisa memberi status suami tanpa bisa memberi hak seutuhnya pada Aldo. Hatinya masih milik Yudistira.
"Ini semata untuk kemurnian syariat dan juga kemurnian nasab. Di khawatirkan suatu hari ada tuntutan dari salah satu pihak maka akan mudah. Misalkan harus tes DNA maka tidak akan terkontaminasi oleh yang lain. Pernah mendengar jika ada dua orang anak kembar namun beda Ayah. Itu tidak mustahil. Makanya syariat membentengi hal itu. Biasanya perempuan hamil di luar nikah itu karena sebab yang tak biasa.
Maka ketetapan ini bisa mempermudah menyelesaikan masalah. Karena janin dalam rahim tidak tercampuri oleh benih lain. Itu sedikit pengetahuan saya. Entah mungkin ada madzhab yang mengatakan sebaliknya."
Aldo terdiam. Sedih harus bersama tanpa bisa menjamah istrinya. Aldo paham jika Cindy juga belum siap bersamanya seutuhnya. Tapi, sungguh itu membuatnya terluka.
"Sabar bang Yudis, kamu tinggal sebulan lagi, " goda tari lagi
"Hooh, masih lama. Sudah tak sabar Ri. Sekarang mah tak bisa berbuat apa-apa. Jangankan memegang melihat juga sudah loncat itu mata." Yudis melirik Ayu yang asyik melihat polah adiknya.
Ayu membawa serta adiknya sebagai syarat pergi bersama. Tak ingin Yudis mengambil kesempatan lagi. Risih meski hanya memandang atau iseng sesekali mencoba memegang tangan.
"Aih di kacangin. Emang enak pak dokter. Kalah tuh elu sama tiga bocah," ledek Utari melihat Yudis di anggurin Ayu.
"Bener, Ri, satu kurcaci saja padahal cukup buat jadi bodyguard. Ini bawa tiga. Aduh kapan bisa berduanya."
"Nanti jika halal," sambar Ayu terkekeh.
Yudis akhirnya juga tertawa. Saking takutnya berduaan dengannya Ayu membawa pasukan. Hari ini ingin bertemu sang calon mertua. Dengan terpaksa menginap di rumahnya.
Yudis kecewa tak bisa leluasa menggoda tunangannya.
Tak sabar menanti hari bahagia itu tiba. Di mana semua yang haram kelak menjadi halal. Semua kebersaman akan menjadi ibadah. Akan sempurna separuh agama.
__ADS_1
To be continue~