
Sepeninggal Ayu yang pergi dari parkiran. Yoga, masih juga mematung. Sudah dua tahun tak melihat Ayu. Perempuan yang masih juga belum tergantikan baginya dan Sisil. Masih juga merindukan dan mengharap jika takdir masih bisa mempersatukan.
Yoga sudah banyak menemui orang yang mencari simpati dengan mendekati Sisil, namun belum bisa menaklukan hati putrinya apalagi dirinya.
Bukankah insting seorang anak kecil itu sangat tajam? Bisa tahu karakter seseorang hanya lewat tatapan dan sentuhan. Mungkin perempuan yang datang itu tak baik bagi mereka.
Bagi Yoga sudah tak perduli lagi cinta bagi dirinya sendiri. Rasa itu sudah terkubur beserta jasad Salma, sang istri, perempuan yang memberi putri cantik dan berpulang selamanya ketika bejuang melahirkan Sisil.
Ketika melihat Ayu dengan pakaian putih abu pertama kali. Hati yang mati itu seolah hidup lagi. Entah mengapa pesona Ayu sudah membiusnya.
Seorang yang sederhana penampilan dan gaya hidup, tapi begitu istimewa muatan kepala. Bukan gadis yang cantik fisik semata juga cantik sikap dan tindakan.
Sisil juga langsung jatuh cinta padanya. Itulah alasan Yoga ingin bersama Ayu. Merenda impian yang musnah karena sang istri tiada bersama Ayu lestari. Sayang, harapan tinggal angan. Ayu sudah menjadi milik orang.
Yoga melajukan mobilnya menuju rumah mantan mertuanya. Setiap hari yoga menitipkan sang putri di sana ketika bekerja. Lalu mengambil sepulangnya.
Mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah dengan gaya arsitektur minimalis. Sisil tampak sudah menunggu dengan mendekap boneka Teddy bear impiannya. Yoga membelikannya tadi pagi.
Sisil masuk mobil setelah pamit pada neneknya. Mendekap bahagia boneka besar itu. Maafkan papa, Sayang. Belum mampu memberimu dekapan seorang ibu. Hanya boneka beruang besar itu yang mendekapmu. Kamu juga tak pernah memberi ruang pada siapapun untuk masuk menggantikan posisi ibumu, kecuali Ayu.
"Pah, aku ingin ketemu mama Ayu. Kenapa nggak boleh?" tanyanya dengan menatap mata Yoga.
Yoga menarik napas dalam. Bingung. Mengapa selalu bertanya itu.
"Mama Ayu jauh, Sayang. Dia sudah pindah ke kota lain. Juga sangat sibuk. Bagaimana kita bisa menemuinya, jika tidak punya alamat lengkap."
Cecilia tampak kecewa. Mengerucutkan bibir mungilnya dan seketika menjadi pendiam, hilang keceriaannya.
Masih juga kau panggil Ayu dengan sebutan mama. Dia hanya orang lain. Semoga kamu bisa menerima kenyataan itu, sayang. Agar tidak berharap Ayu akan datang dan bersama kita lagi. Dia sudah bahagia tanpa kita. Seharusnya kita juga bahagia tanpanya.
******
Hari telah larut ketika Yudis dapati sang ayah tengah bermuram durja, duduk termenung di ruang keluarga. Dalam lampu yang temaram. Kerutan di wajah sang jendral kian kentara. Tatapan kosong dan tarikan napas berat pertanda beban berat tengah menghimpit.
"Pah, papa baik-baik saja? Kenapa melamun di tempat yang gelap begini?" ujar Yudis yang langsung merangkul pundak papanya.
"Dis, papa merasa kesepian. Mengapa kalian tidak coba membuat program kehamilan? Papa rindu suara tangisan anak kecil di rumah ini. Tangis anakmu. Tapi, mengapa itu lama sekali," suara jendral tua itu lirih dan sedih.
__ADS_1
Yudis mematung. Sedih melihat papanya seperti itu. Bagaimana jika tidak bisa memberi cucu padanya. Kesedihan itu pasti akan terus menghantui sepanjang sisa usianya.
"Tolong, bujuk Ayu supaya memeriksa kesehatan rahimnya."
"Pah, bagaimana jika bukan Ayu penyebab kami susah punya anak. Tolong jangan menekankan jika semua adalah salah Ayu," ujar Yudis sedih.
Entah mengapa selalu saja perempuan dijadikan kambing hitam, jika pasangan kesulitan punya keturunan.
"Papa tidak bermaksud seperti itu, Dis. Papa hanya bisa bicara sama kamu, karena kamu anak papa. Riskan bicara sama Ayu. Takut Ayu tersinggung. Bukan menitik beratkan semua padanya. Makanya papa menyuruh kalian memeriksa semuanya, bukan hanya pada Ayu saja"
Yudis tertegun, ucapan Papanya benar. Yudis yang terlalu sensitif. Padahal papanya tidak menyalahkan Ayu.
"Ayu terlalu baik, papa tak ingin menyakitinya. Tak pernah sekalipun, papa mengeluhkan sikap dan tindakannya. Dia terlalu sempurna. Pembawa indahnya surga dalam hidup kita. Hanya, manusiawi papa ingin dia memberi cucu. Pewaris nama besar Hadiwijaya ke rumah ini. Tapi, papa tak sanggup meminta langsung. Makanya, papa meminjam lidahmu."
Om Wijaya menatap Yudis yang terpukul.
Yudis bingung harus bicara apa pada istrinya. Takut salah bicara dan melukai Ayu. Tak tega jika Ayu terluka. Padahal Ayu terang-terangan sudah meminta Yudis berpoligami untuk meraih impian menimang buah hati. Mengutarakan dengan perasaan penuh luka.
Kami akan melakukan tes itu secepatnya. Yudis akan lakukan apapun asal papa bahagia. Papa tenang saja."
"Makasih, Nak. Papa rela kehilangan banyak harta asal kalian bisa memberi buah cinta."
Ayu merasa teramat bersalah. Merasa paling tidak berdaya. Menyedihkan menjadi wanita yang tidak sempurna.
Berjalan gontai menuju kamar dengan menyeka air mata yang tak jua mampu di bendung meluncur di ujung netra.
Mak Inah yang tak sengaja melintas di ruang keluarga tak sanggup menahan pilu. Tuhan, jangan beri cobaan Berat pada majikannya. Ayu teramat baik, maka berilah kebahagiaan sempurna padanya.
Sakit ketika tak di beri buah cinta, luka itu begitu menganga ketika melihat orang lain bercengkrama dengan anak-anaknya.
Bayangan suram hari tua tanpa buah hati menambah luka di hati. Nanti jika raga terbaring lemah tak berdaya. Tak ada anak yang mencintai dan menyayangi, memapah, menyuapi kala raga kian melemah. Memandikan jenazah ketika raga tak mampu berdiri sebagai penduduk bumi.
Melantunkan do'a sebagai teman sepi di dalam pekuburan. Mak inah terisak penuh sesak. Beruntung ada Ayu yang kini begitu menyayangi dan memperlakukan seperti ibunya sendiri. Tidak risih merawat babu hina ketika sakit. Makanya luka itu sedikit terobati. Ayu memperlakukan seperti ibunya sendiri.
Mak Inah selalu tengadah meminta Ayu tak bernasib seperti dirinya. Agar keceriaan akan hadir di rumah ini.
*****
__ADS_1
Ayu berdiri di balkon lantai empat. Melihat lurus kedepan. Hanya tembok beton penghalang yang mampu di lihatnya. Ingin rasanya menerobos menembus kokohnya. Hingga pulang ke rumah bambu miliknya di desa.
Sungguh hari ini sangat merindukan Emak dan bapak. Ingin rasanya pulang dan mengadukan gundah hati. Menangis merengek seperti anak kecil yang di ganggu temannya.
Sayang, Ayu tak pernah ingin mengadukan luka dan air matanya pada orang tua. Biarlah mereka hanya tahu kesenangan dan kebahagiaan. Bukan lara serta tetesan air mata.
Pesona indahnya alam Sumedang seakan memanggil pulang. Bau tanahnya, hembusan sang Bayu yang membawa aroma pegunungan serta gemericik air sungai Cipeles yang memanjakan telinga.
Kokok ayam, alarm di pagi buta. Gemericik pancuran yang bersahutan dengan kodok bernyanyi kala malam tiba. Sang elang mengangkasa mencari mangsa juga sangat di rindukannya. Betapa bebas bisa melenggang jadi raja angkasa. Tanpa beban perasaan.
Rindu berjalan kaki di antara rinai hujan, naik turun bukit tanpa lelah dan beban hati. Semasa sekolah hidup itu hanya petualangan yang asyik dan menarik.
Ketika hidup berumah tangga ternyata inilah dunia yang sebenarnya. Dimana harus di hadapi dengan penuh pertimbangan bukan asal-asalan. Bukan pula dengan senda gurau. Banyak tokoh yang tak bisa di ajak bercanda dalam peran rumah tangga.
Tidak seperti perannya sebagai pelajar. Kadang urakan dan sebatas kesenangan liar. Seumpama hidup dalam genggaman dan kesenangan semata. Tiada beban. Mau apa tinggal minta pada orang tua.
Berbeda sekarang, fungsi orang tua hanya menjadi saksi serta penyeimbang. Saatnya harus berdiri dengan topangan kaki dan kemampuan sendiri. Bukan mengandalkan orang tua.
"Kenapa berdiri di sini, malam begini. kita masuk, sayang." Yudis datang berdiri di samping Ayu. Membuyarkan angan dan lamunan.
"Ayu kangen sama orang di desa, Kak. Kangen ingin pulang ke Sumedang." jawab Ayu dengan mata yang menerawang.
"Pulanglah! Minta do'a serta restu Bapak sama Emak. Kita akan melakukan tes kesuburan rahim, semoga secepatnya kita bisa mewujudkan harapan orang tua kita untuk memberi cucu pada mereka."
"Ya, kak. Mari kita lakukan. Entah apapun hasilnya kita akan hadapi bersama. Ayu harap cinta kita takkan pernah berubah. Kita saling menerima keadaan kita, apa adanya jika ...."
Yudis membungkam mulut Ayu dengan jarinya. Menggeleng kepala. Seolah tahu arah ucapan Ayu yang tampak putus asa.
Menarik tubuh istrinya dalam pelukan.
"Aku tak perduli kita bisa punya anak atau tidak. Aku akan menerima kamu apa adanya. Karena kamu adalah syurgaku, cahaya mataku. Aku ingin bersamamu selamanya."
Ayu membenamkan tubuhnya dengan nyaman. Jika takdir mempersatukan dengan Yoga tentu tak harus pusing soal keturunan. Jika seandainya tak punya juga, toh sudah ada Sisil. Maka takan sesedih ini.
Berbeda dengan menikahi anak tunggal sang jendral. Memberi penerus itu harus, atau nama besar Hadi Wijaya akan terhapus.
Setiap orang ingin amalan tanpa terputus. Salah satunya keturunan shaleh dan shaleha. Semoga itu akan nyata dan terlaksana. Sehingga mendapat indahnya surga dunia dan hingga ke Jannah-Nya.
__ADS_1
...Bersambung~...