PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG

PERJUANGAN PENDAKI GUNUNG
Eps.9


__ADS_3

*****


Part sebelumnya


https://m.facebook.com/groups/805799276260950?view\=permalink&id\=1531026397071564


Hujan mengguyur dengan deras siang itu. Ayu terpaksa membuka sepatu dan memasukannya kedalam tas. Mengambil kantong keresek hitam dan membungkus tasnya rangkap dua, berharap jika isinya tak akan basah kehujanan.


Tak ada tempat berteduh sepanjang perjalanan. Mengharuskan Ayu melangkah maju tanpa henti menerobos derasnya hujan.


Jalanan yang di lalui jika pulang adalah tanjakan tanpa ujung kecuali rumahnya. Semak belukar dan pohon sepanjang jalan yang di lalui. Tak ada rumah atau sekedar gubug petani tempat untuk berteduh.


Ayu melangkah meski dengan susah. Jalan tanah begitu licin terkena guyuran hujan. Ketika habis tanah, koral menanti. Susunan batu tak beraturan itu sering kali melukai kaki. Langkahnya tertatih. Merasakan sakit tajamnya pembangunan aspal yang telah terbengkalai tahunan lamanya.


Sebuah motor yang sangat bagus di depan rumah singgah Yudis menghentikan langkahnya. Motor bagus itu harus terkena derasnya hujan. Sayang sekali, gumam Ayu. Apa tidak rusak mesinnya jika terkena ganasnya pasukan langit.


Matanya mencoba mencari si pemberi sepatu. Sayang, pandangannya terhalang derasnya hujan dan kabut putih yang menutup mata.


Dari jendela sepasang mata memperhatikan gadis putih abu itu. Matanya fokus pada kaki yang telanjang. Kepalanya menggeleng. Mengapa masih telanjang kaki? Kemana sepatu pemberian dariku. Aneh, sepatu selalu lebih berharga dari pada kaki. Semoga tidak terluka kali ini. Harapnya.


Entah mengapa selalu mengkhawatirkan si putih abu. Selalu ingin melihatnya meski hanya dengan bersembunyi. Apakah jatuh hati? Tak mungkin bantahnya. Cindy kekasihnya kini sangat perfect. Cantik dan sangat populer. Cindy sang juara satu gadis sampul tahun 2000. Tinggi putih dengan penampilan paling trendy dan terkini.


Lalu seorang Ayu yang hanya gadis desa dengan penampilan sederhana, berbaju alien pula, akankah bisa menggoyahkan posisi Cindy. Ah, tak mungkin. Tsunami akan melanda. Gempa bumi mengguncang jagat raya jika Yudis sampai jatuh cinta.


Apa kata dunia jika semua orang melihat Yudis kesengsem pesona alien. Kriteria Yudis turun tahta. Jadi bahan bulyy pasti. Olok-olok iya. Yudis menepok pipinya. Sudah Dis, sadar jangan kesambet anak gunung.


Hujan masih deras Ayu sudah sampai rumah. Yudis masih termangu di jendela. Mencoba menepis rasa. Menatap motor kesayangan yang di guyur hujan beberapa jam. Mungkin otaknya akan dingin jika guyuran hujan juga menimpa tubuhnya. Panas otak karena gadis gunung akan menguap seperti panas mesin yang hilang di terjang derasnya hujan.


\*\*\*\*\*


Pagi menyapa. Matahari bergaya dengan pendar cahayanya. Seolah merasa paling digjaya, telah menang perang dengan sang hujan yang tersingkir pagi ini.


Ayu melangkahkan kaki dengan riang. Wajahnya mengulum senyum. Sesekali menatap sepatu baru yang di pakainya. Hatinya bahagia meski tahu alasan kado itu hanya rasa kasihan. Tapi ... terima kasih ini pemberian pertama dari orang yang di kasihi selain orang tua.


Ayu kini mulai menyadari jika perasaan pada Yudis adalah cinta. Cinta pertama baginya. Ayu dibuat senyum dan menangis dalam waktu yang sama. Ah, ternyata cinta itu menyiksa. Belum lagi jika rindu menyapa. Saat menatap apapun, bayangan wajah akan menari di depannya. Dalam mimpi juga terbawa.


Tin Tiiiiin.


Suara klakson motor mengganggu lamunannya. Hadi tampak di sampingnya dengan senyuman. Rambut rintit dengan warna merah kini berubah. Rambutnya klimis dengan warna asli. Ayu sempat mengucap Alhamdulillah di hati. Akhirnya gayanya berubah.


Hadi tampil dengan gaya yang lumayan di banding sebelumya. Ayu tak lagi melihat bajunya sobek sana sini.

__ADS_1


"Boleh aku antar, Yu?"


"Maaf saya lebih suka jalan kaki." jawab Ayu lembut di sertai senyuman. Tak ingin merusak suasana hati. Hari ini Hadi kecipratan mood baik Ayu.


Hadi terpana, kian jatuh cinta melihat senyum gadis manis di hadapan. Ayu membuatnya ingin berubah. Gadis yang berbeda dengan yang lain. Siapapun pasti suka padanya hanya tak punya nyali sekedar suka atau jatuh cinta. Ayu tak mudah untuk di jamah raga serta hatinya.


"Kenapa menolakku, Yu? Semua gadis menginginkan bisa bersamaku. Lantas mengapa kau tak menginginkanku?"


"Tak hanya menolakmu, tapi menolak semua yang mendekatiku. Aku ingin sekolah bukan menikah."


Hati Hadi bergetar. Rasanya tidak sepenuhnya kehilangan kesempatan. Masih ada peluang Ayu memang tak ingin punya beban. Semoga setelah lulus sekolah bisa menerima.


"Saya pamit takut kesiangan."


Ayu meninggalkan Hadi dengan harapan yang mulai lagi disemai. Senyum terkembang di bibirnya. Kepalan tangan ke udara tanda rasa syukurnya. Yes, pekik hatinya.


"Ayu tunggu!"


Suara Yudis menghentikan langkah gadis putih abu untuk kedua kali. Ayu sedikit salting dengan panggilan itu. Makhluk kece itu selalu membuat debar aneh di hatinya. Takut berbuat konyol lagi di hadapannya.


"Kamu itu memang ceroboh. Kamu akan terjatuh lagi."


Ayu diam, bingung dengan maksud ucapan Yudis.


"Tali sepatu jangan begitu mengikatnya. Kamu bisa terjungkal lagi dan jatuh jika terinjak."


Kaki Ayu sedikit gemetar tak menyangka akan perhatian Yudis padanya. Mematung tak dapat bergerak. Nih makhluk entah memasang lem apa hingga rasanya berat beban memasung ke tanah.


"Lusa kami ada acara temu wicara dengan masyakarat. Apa Ayu bisa menjadi moderator?"


"In syaa Allah bisa, kak, tapi temanya apa?"


"Penyuluhan tentang sanitasi masyarakat. Di sini masih kurang kebersihannya. Ayu tahu benar seluk beluk masyarakat jadi bisa membantu menjembatani kami dan mereka."


"Insya Allah saya coba."


Yudis bangkit dan berdiri hanya beberapa centimeter di hadapan Ayu. Mata mereka beradu pandang. Ayu menatap wajah tampan di hadapan. Lalu menunduk malu. Yudis juga melihat setiap titik wajah itu. Agak hitam terbakar matahari tapi sungguh manis. Wajah yang begitu familiar, padahal baru beberapa kali melihatnya.


"Maaf, Ayu harus pergi sekolah takut kesiangan."


Ayu pergi takut terlihat konyol lagi. Wajahnya sudah merona malu, jika banyak bicara bagaimana kalau pingsan jika melihat babang tampan itu beberapa saat lagi.

__ADS_1


"Ehmm .... Nah loh masih nggak ngaku sudah kesambet gadis gunung." Utari menyikut Yudis yang melongo melihat Ayu.


"Apaan lu, Tari, mana mungkin gua suka dia. Gua punya Cindy lu asal tuduh saja"


Yudis beranjak pergi. Tak mau mendengarkan ocehan Utari. Masih mengeles meski hati kecil membenarkan. Tsunami melanda, gempa menerpa, badai dahsyat akan menghujat jika benar Yudis menyukai Ayu.


Silahkan mengelak satu hari nanti kamu akan mencari gadis itu ke sini. Saat hatimu merasa jika dia adalah takdir hati. Aku yakin itu. Keyakinan Utari dalam hati.


\*\*\*\*


Sepuluh menit sebelum bel masuk berbunyi Ayu sampai di sekolah. Gengnya sudah sampai dan menunggu di depan pintu kelas. Segala rencana sudah di rancang. Senyum mereka disertai niat jail.


"Dia datang guys. Pura pura cuek dulu lalu serbu, ok !" Thien Luthfi sebagai komandan memberi perintah. Semua kompak mengiyakan.


"Yah, Ayu ... " suara kecewa Irniaty saat melihat Ayu datang dengan sepatu pantofel.


"Loh kok pada kecoa eh kecewa. Ada apa?" Ayu bingung dengan mimik muka sahabatnya.


"Kamu kemanakan itu sepatu baru?" Eva nampak merenggut.


"Di simpan di tempat yang aman." Ayu terkekeh merasa menang.


"Padahal sudah siap kaki kami berkenalan sama tuh sepatu" Nurasiah Jamilah merenggut kesal.


"Enak aja mau di injak sepatu mahal lagi bersejarah itu." Ayu sewot.


"Ahay beneran istimewa itu sepatu. Jadi pengen melihat yang memberi. Guys bener nggak?"


"Kita nginep di rumah Ayu malam Minggu nanti yuk!" ajak Nurasiah Jamilah.


"Setuju, ayo kita serbu babang tampan yang bikin Ayu gemetaran. "


"Ih, kalian ini bilang apaan. Dia hanya seorang mahasiswa nyasar awas jangan di sasar."


"Kagak di rebut neng, kita sudah punya kok yayang, ya, kan? hanya kamu yang masih belum punya gandengan atau pacar."


Pacar. Deg. Apa jika jatuh cinta itu harus pacaran. Ayu ingat ucapan Emak. Kalau Ayu terdengar pacaran maka Emak akan menyuruh menikah dan tak boleh bersekolah. Lutut Ayu lemas.


Belum lagi jika mengingat kalau pacaran seolah halal untuk sekedar memeluk atau menggenggam tangan. Ayu bergidig ngeri. Jika sebelum menikah mempunyai sepuluh orang pacar maka dengan pasrah sepuluh orang akan menjamah dengan alasan cinta.


Ya Allah, aku ingin seorang yang kelak menjadi pasangan lah yang bisa menyentuh untuk pertama kali. Bukan setiap orang yang tidak berhak menjamah.

__ADS_1


Ayu istighfar. Tidak akan aku ijinkan bukan yang halal menyentuhku. Aku akan berikan semua pada yang menghalalkan bukan sembarang orang.


To be continue~


__ADS_2