Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup

Perjuangan Si Alter Ego Memperbaiki Hidup
Pertengkaran Lagi


__ADS_3

Di belahan dunia lain nampak seorang gadis yang sedang meminum cokelat hangat dengan pandangan sendu melihat salju yang sedang turun. Malam itu sudah turun salju di Perancis dan parahnya lagi Vina tidak merasakan hal yang menyenangkan. Justru ia merasa kalau ia sedang bersedih akhir-akhir ini. Hatinya begitu gundah dan gelisah. Vina tidak tahu apa yang sedang ia rasakan saat ini. Vina tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.


Vina adalah seorang beauty vlogger. Ia memang sering berjalan-jalan keliling Indonesia tapi tidak untuk ke luar negeri. Bagas adalah satu-satunya harapan Vina yang mampu mengangkat derajat Vina.


Vina tidak terlahir dalam keluarga yang kaya. Bahkan ia pernah akan dijual dengan ayahnya sebagai pemuas nafsu pria hidung belang yang untungnya Vina berhasil melarikan diri. Keesokan harinya kabar yang sangat mengejutkan menghampiri Vina bahwa ayahnya telah meninggal tertabrak mobil. Meskipun, Vina tahu bahwa itu bukan kecelakaan biasa. Vina tahu kalau itu kemungkinan ulah bandit-bandit yang sengaja membunuh Ayah Vina dan merekayasanya seperti kecelakaan mobil. Karena memang Ayah Vina sering terlilit utang dengan bandit-bandit yang menguasai daerah Jakarta. Bahkan, Vina akan dijualnya untuk membayar utang Ayahnya.


‘Aku selalu mengingat bagaimana dirimu datang kepadaku Mas. Kamu bagaikan malaikat penolong dalam hidupku. Aku tidak tahu lagi akan seperti apa kehidupanku saat kamu nggak ada.’


Seorang laki-laki blasteran Jerman dan Indonesia nampak menghampiri Vina yang sedang termenung. Bahkan Vina sampai tidak menyadari kehadiaran sosok lain di seberang mejanya.


Laki-laki itu berpawakan tinggi, lebih tinggi sedikit dibandingkan Bagas. Rambut berwarna kecokletan menggelombang, hidung mancung, dan bibir yang tipis. Alisnya begitu tebal sampai-sampai terlihat sedikit mengerikan memang. Tapi jika melihat wajahnya yang berbentuk bundar dengan pipi yang sedikit terisi, kesan garang tersebut hilang sepenuhnya.


“Hello? Are you Indonesian?”


Brian, panggil saja begitu. Melambaikan tangannya di hadapan Vina. Sehingga mampu membuat Vina tersadar dari lamunannya.


“Oh, yes, I’m. What can I do for you sir?”


Brian tertawa malahan. Brian kan sudah tahu Vina dari mana.


“Saya bisa Bahasa Indonesia kok!”


“O-oh,” Vina sedikit tergagap malu dan bingung.


“Ehm jadi … ada apa ya pak?”


“Oh nggak papa, saya cuman penasaran saja dengan kamu yang terlihat banyak pikiran,” Brian berucap dengan logat Jerman yang masih terasa kental.


“Ah, saya nggak mikir apa-apa kok!”


“Boleh saya tahu nama kamu?”


“Vina, anda sendiri?”


“Brian, panggil saja begitu.”


Vina mengangguk-angguk dan menyeruput cokelat hangatnya yang sudah mulai mendingin.

__ADS_1


“Anda tinggal di sini?”


“Ah, bukan, saya hanya sedang liburan di sini.”


Brian terlihat menganggukan kepala. “Jadi, kapan kamu akan pulang ke Indonesia?”


Vina tersenyum, “Kemungkinan besok.”


“Boleh kan kalau aku pake aku-kamu?”


Vina mengiyakan.


“Kalau begitu saya permisi, Brian.”


“Oh, mau kuantar? Malam sudah mulai larut.”


“Tidak perlu, terima kasih,” menggeleng pelan.


Vina melangkah menjauh dari Brian dan terlihat menyetop taxi malam itu. Brian memandang Vina dengan pandangan yang sulit diartikan.


...***...


“Ren, kamu besok di rumah aja ya?” ucap Bagas kepada Rena.


Saat ini mereka sedang duduk di ruang tamu. Rena yang sedang mengerjakan tugasnya di laptop sambil nyemil dan Bagas yang duduk di atas sofa.


“Maksudnya?”


“Besok ulang tahu perusahaan. Kamu nggak mau ke-ekspos kan?”


Rena langsung mengalihkan perhatiannya kepada Bagas.


“Oh kamu nggak mau ajak aku lagi kaya tahun kemaran?”


Bagas menghela napas. “Bukan gitu, aku cuman nggak mau kamu jadi bahan perbincangan aja di media.”


Rena langsung melengoskan wajahnya ke laptop lagi.

__ADS_1


‘Tahu gitu ngapain ngomong coba? Cuman buat laporan ke aku gitu?’ sebal Rena.


“Ren,” panggil Bagas.


“Rena,” panggil Bagas lagi.


“Rena Maharani! Aku ngomong baik-baik ya sama kamu!” tanpa sadar Bagas menaikkan nada bicaranya dan membentak Vina.


Vina yang memang notabennya sedang hamil menjadi lebih sensitife terhadap bentakan. Bahkan, matanya sudah berkaca-kaca sekarang.


‘Sialan! Kok aku jadi cengeng begini sih!’ mengedipkan mata dengan cepat.


“Mas, aku nggak peduli kamu nggak ngajak aku ke acara ulang tahun perusahaan. Aku juga nggak peduli kali ini kamu akan membawa siapa ke acara ulang tahun perusahaan. Aku cukup sadar diri,” ucap Rena pelan tanpa melihat ke arah Bagas.


Setelahnya Rena nampak membereskan barang-barangnya yang berserakan di ruang tamu dan melangkah pergi ke kamarnya.


Bagas menghembuskan napas lelah melihat itu. Sungguh Bagas tidak bermaksud seperti itu. Ia hanya tidak suka jika Rena tidak menghiraukan perkataannya. Sehingga tanpa sadar Bagas justru membentak Rena yang memang sedang sensitife belakangan ini.


Bagas melihat pintu kamar Rena dengan pandangan yang sulit diartikan. Lalu, beranjak untuk kembali ke kamarnya yang berada di lantai dua.


Waktu itu, masih menunjukkan pukul tujuh malam dan Bagas yang tidak pernah tidur di jam-jam itu, jelas tidak merasakan kantuk sama sekali. Sebelum Bagas mengingat, kalau Rena belum makan semenjak Bagas pulang. Kalau Rena terus mengurung diri di kamar maka Rena tidak akan makan sampai besok pagi.


Bagas bangkit dari ranjangnya dan melangkah menuruni tangga. Ia akan memesan makanan yang bisa dimakan oleh Rena karena memang saat ini tidak ada makanan apa-apa di rumah. Setelah memesan beberapa makanan siap saji dan menyiapkannya di meja makan, Bagas melangkahkan kakinya menuju ke depan kamar Rena.


Bagas ingin langsung membuka pintu itu karena Bagas yakin tidak terkunci. Hal itu terlihat karena pintu kamar Rena tidak tertutup rapat. Masih sedikit menyisakan celah. Tapi Bagas kembali meragu jika itu bukanlah tindakan yang baik. Sehingga Bagas hanya mengetuk pintu kamar Rena dan mengatakan untuk Rena jangan lupa makan. Makanan sudah ia pesan dan berada di meja makan. Lalu, setelahnya ia pergi, kembali ke kamarnya.


‘Aku harap kamu nggak lupa kalau masih ada janin yang butuh nutrisi di tubuhmu, Ren,’ batin Bagas.


Rena keluar setelah dirasa Bagas sudah pergi. Bohong kalau Rena tidak lapar. Jelas sekali kalau Rena lapar karena memang ia tidak makan apa-apa setelah pulang dari kuliah.


Rena melangkah ke ruang makan dan melihat banyaknya makanan yang tersedia di sana. Bahkan juga terdapat susu di sana. Mungkin itu susu ibu hamil.


Tanpa babibu lagi, Rena langsung menyantap makanan itu dengan lahap.


Tanpa disadari oleh Rena, Bagas melihat semua itu. Karena niatnya untuk kembali turun ingin mengambil minuman. Namun, ia urungkan karena takut membuat Rena terganggu dan malah tidak jadi makan.


‘Makanlah yang banyak agar kamu dan anak kita sehat.’

__ADS_1


__ADS_2