
Keesokan harinya, Rena memulai kegiatan utamanya, yaitu kuliah. Rena sekarang sudah bersiap-siap untuk pergi kuliah. Kebetulan kelasnya dimulai siang sehingga Rena tidak perlu bertemu dengan Bagas terlebih dahulu.
Setelah Bagas mengucapkan kata-kata yang merujuk untuk tetap mempertahankan pernikahan ini. Tapi, Rena sendiri tidak ingin berharap terlalu jauh. Rena tidak mau lagi terlalu menaruh harapan yang begitu tinggi sehingga mengalami sakit hati karena kecewa.
Rena berangkat ke kampus menggunakan mobil kali ini. Rena ingin pergi ke suatu tempat nanti sepulang kuliah. Sehingga ia memilih mengendarai mobil sendiri.
Begitu Rena sampai di parkiran mobil Rena sudah disambut dengan tatapan yang tidak mengenakkan dari seluruh penghuni kampus. Mereka terlihat menatap tajam ke arah Rena. Sedangkan Rena tidak tahu apa yang salah dengan dirinya.
Rena yang merasa bahwa tidak melakukan kesalahan apa pun melangkah dengan pasti ke arah gedung fakultasnya. Namun, belum sampai, di sana Rena sudah dicegat dengan beberapa cewek yang menjadi pentolan di kampus itu.
“Hei! Kamu yang namanya Rena kan?” ucap salah satu mahasiswi yang menggunakan pakaian sangat ketat.
Mereka terdiri dari lima orang. Dandanan mereka begitu gaul dan seksi. Bahkan rasanya mereka tidak cocok untuk disebut sebagai seorang mahasiswa. Seorang perempuan yang berada di tengah terlihat yang paling dominan diantara perempuan yang lain.
“Iya …?”
Rena yang tidak berpikir aneh-aneh jelas menjawab dengan pertanyaan karena bingung.
Seorang perempuan yang paling pojok mendorong bahu kiri Rena dengan keras. “Kamu itu nggak tahu diri ya! Dasar ayam kampus!”
Rena semakin bingung saat ia dikatakan sebagai ayam kampus.
‘Apakah aku membuat sebuah kesalahan?’
Seorang perempuan lain mendekat dan berkacak pinggan di depan Rena. “Kamu itu pasti akan dibuang dengan Bagas! Nggak usah sok deh, palingan kamu juga jual tubuhmu buat harta kan?”
Rena yang mendengar kata-kata jika dirinya matre langsung naik pitam. “Kamu jangan asal bicara ya!”
“Jangan asal bicara?” seorang perempuan yang terlihat seperti pemimpin kelompok itu mendekat ke arah Rena.
__ADS_1
Rena kali ini dikepung di berbagai posisi dengan perempuan-perempua itu. Tentu saja Rena tidak mengenal mereka. Rena kan juga baru beberapa bulan berada di tubuh Rena Maharani.
“Ehm … maksudnya apa ya?”
Perempuan tadi menjambak rambut Rena dan menyodorkan layar hp yang berisi artikel Rena sedang digendong dengan Bagas. Dalam artikel itu, begitu jelas berisi foto wajah Rena yang sedang digendong dengan Bagas. Belum lagi dengan judul artikelnya yang berbunyi Kekasih Tersembunyi Pebisnis Bagas Adijaya.
Rena melototkan matanya melihat hal itu. ‘Jadi, kejadian malam itu menjadi berita hangat di internet? Kenapa aku sampai tidak tahu?’
Jambakan di rambut Rena yang awalnya pelan berubah menjadi jambakan yang lebih kuat lagi. Sehingga Rena merasa jika rambutnya akan lepas dari kepalanya.
Sebenarnya mereka bahkan sudah berada di depan gedung fakultas. Tapi, entah kenapa tidak ada yang berani membantu Rena sama sekali. Mereka hanya menonton saja tanpa melakukan apa-apa.
Rena mengeratkan rahangnya. Ia tidak suka menjadi yang tertindas. Rena meraih tangan perempuan yang menjambaknya itu dan memelintir tangan itu. Sehingga mampu membuat perempuan itu menjerit kesakitan.
“Aaaa!”
Teman-temannya bahkan hanya menonton saja tidak membantu pemimpinnya.
Rena mendekatkan mulutnya ke telinga perempuan itu. Posisinya sebenarnya Rena lebih tinggi dari perempuan yang membulinya.
“Kamu itu nggak tahu apa-apa. Jadi, jaga mulut dan perilaku kamu sebelum aku mematahkan mereka!” ancam Rena sambil menguatkan tekanan tangannya.
“A-aa awsh!” perempuan itu merintih kesakitan.
Rena beralih ke arah teman-teman dari perempuan itu. Menatap mereka tajam satu-satu sehingga nyali perempuan-perempuan itu nampak ciut.
“Kalau kalian tidak mau berakhir sama dengan perempuan ini! Maka jangan ganggu aku lagi!” ucap Rena sambil mendorong peremuan itu dengan kasar.
Setelah itu Rena nampak melangkah pergi dengan pandangan lurus ke depan. Benar-benar terlihat bukan seperti korban bullying.
__ADS_1
Mira berlari dari jauh dan memanggil-manggil nama Rena.
“Rena! Rena!”
“Kamu baik-baik aja kan?” Mira nampak khawatir.
“Iya kok aku nggak papa!” ucap Rena diiringi dengan senyum manis.
Padahal dalam hatinya ia sangat kesal setengah mati. ‘Tikus-tikus tidak diri! Sudah tahu aku mempunyai hubungan dengan Mas Bagas tapi masih berani berurusan denganku?!’
“Kamu yakin?”
“Iya, aku nggak papa kok!”
Mira yang tidak percaya membolak-balikan tubuh Rena bahkan sampai meminta tubuh Rena memutar. Barulah setelah melihat tidak ada hal-hal yang serius Mira menghembuskan napas lega.
“Syukurlah!”
“Lebay deh! Aku nggak selemah itu tahu!” hibur Rena kepada Mira.
Mira yang dihibur justru menatap Rena dengan pandangan yang sulit diartikan.
Rena yang mendapatkan pandangan seperti itu juga merasa canggung sehingga langsung menggandeng lengan Mira dan mengajak Mira untuk masuk ke gedung fakultas.
“Udah yuk, kita masuk ke fakultas aja!”
Mereka berjalan beriringan menuju fakultas. Sedangkan perempuan-perempun yang membuli Rena tadi nampak begitu kesal. Mereka merasa dipermalukan oleh Rena. Terlebih pemimpinnya, dia yang terlihat paling kesal dan terus menatap Rena dengan pandangan yang sarat kebencian sampai Rena menjauh tak terlihat.
‘Aku pasti akan membalasmu!’
__ADS_1
Sedangkan sebelumnya, sebenarnya sudah ada seseorang yang memfoto kejadian tadi dan langsung mengirimnya kepada Bagas. Bagas yang mengetahui hal itu jelas langsung marah dan meminta kepada Sagala untuk memberikan pelajaran kepada perempuan-perempuan tukang buli itu.
‘Beraninya kalian menganggu istriku!’ Bagas mengepalkan tangannya dengan erat sambil melihat foto-foto manusia yang membuli Rena.